
Baru saja Aca mulai duduk, Neeha sudah tampak serius.
"Kamu mikirin apa sih Nee, serius sekali"
"Aca menurut kamu hadiah buat laki-laki cocoknya apa?" Neeha langsung menanyai sahabatnya
"Baru juga aku duduk, belum sempat nafas kali Nee"
"Ya udah kalo gitu kamu nafas dulu!"
Aca tampak berpikir dengan mengerutkan dahinya. Neeha ikut mengerutkan dahi terbawa suasana.
Aca mendapatkan ide "Sesuai kebutuhan mereka lah"
Neeha menghela nafasnya "Hadeeh itu juga aku udah tahu"
"Ya udah gampang itu mah tinggal kamu beli"
"Masalahnya aku nggak tahu apa kebutuhannya"
"Kalo gitu sesuai keinginan mereka aja"
"Masalahnya juga nggak ada"
"Emangnya kamu udah nanya Nee?"
"Udah Acaa"
Sebelum berangkat Neeha berulang kali memancing Langit dengan pertanyaan dadakan. Tapi Langit hanya menjawab "Apa yang saya mau, nanti akan saya beli sendiri"
"Dia bakal jawab dengan ekspresi kayak taplak mejanya yang super datar dan kaku, Terus bilang Mengapa kamu harus tahu Nee"
"Ooh hadiah buat suami kamu toh"
"Iya"
"Cieee"
"Jangan cie-cie dulu Ca, bantu aku mikir"
"Kamu tenangkan diri, terus pikir sesuatu yang bisa bikin dia teringat kamu terus"
"Misalnya?" Neeha melempar tatapan mata yang bingung.
"Boleh yang semangat dan Awwh"
"Apa sih Ca, Gak jelas"
Aca berbisik pelan "Hadiah kenikmatan di tempat tidur" Aca mengedipkan mata menggoda sahabatnya.
"Iih Acaa" Neeha merasa ngeri memikirkannya saja.
"Kenapa, itu adalah hadiah terbaik dari istri Nee, Memuaskan suami"
"Tapii" Neeha kali ini yang berbisik "Kamu tahu kan kita nggak saling cinta"
"Iya sih, tapi mau sampai kapan kalian hidup bak orang asing di satu rumah?"
"Ya sesuai kesepakatan kita. Sampai menemukan alasan yang tepat dan kita bercerai, seperti aku memiliki seorang yang dicintai"
Karena Mas Langit bilang dia nggak akan pernah bisa jatuh cinta lagi
Akhirnya ia memilih untuk membeli Parfum. Karena Neeha tidak mendapat saran yang tepat dari Aca.
Apalagi saat Neeha mencari di situs internet, parfum termasuk hadiah yang cocok diberikan kepada laki-laki.
Tapi aku nggak boleh beli parfum yang biasa. Mas Langit bahkan milih sendiri dan memesan bagaimana meja rias di kamar.
Neeha akhirnya pergi ke tempat langganannya. Parfum yang bisa diracik sendiri sesuai komposisi yang diinginkan. Sehingga aroma yang kita miliki sudah pasti berbeda dengan orang lain.
__ADS_1
Tempatnya tidak terkenal, tapi Neeha menyukai tempat tersebut. Bahkan meskipun ia juga pernah meracik parfum untuk Azkal disana.
....
"Waah sudah lama sekali Mbak Neeha tidak datang kesini" Seorang pelayan wanita mendekat
"Iya" Neeha tersenyum.
"Mau membuat parfum buat pacarnya lagi ya Mbak?"
"Mmm buat suami aku"
"Ooh pacar Mbak yang waktu itu sudah jadi suami?"
"Enggak, Pacar aku yang waktu itu sudah putus"
"Maaf ya Mbak, aku nggak sengaja"
"Nggak apa-apa kok, nama kamu Zizi kan?"
"Iya Mbak, Mbak Neeha ingat ya"
"Iya dong, kamu aja ingat nama aku"
"Iya kan Mbak adalah jantungnya toko Ini Kata Ibu"
"Iya juga ya"
Karena Zizi begitu penasaran dengan cerita pernikahan Neeha dan penyebab ia putus. Akhirnya Neeha bercerita, tentunya tanpa menjelaskan kesepakatan akan berpisah dengan Langit.
"Waah pasti suami Mbak ini baik sekali ya?"
"Baiiik bisa dibilang iya"
Walaupun kadang sikapnya aneh dan tidak mudah ditebak. Atau sikapnya juga sering dingin, kaku dan berwajah datar. Tapi dia memang lelaki yang baik.
"Mbak Neeha?"
"Mbak Neeha langsung mikirin suaminya ya?"
"Ah kamu bisa saja" Neeha celingak-celinguk mencari seseorang.
"Mbak Neeha mencari Ibuk ya?"
"Iya, apa Ibu masih sakit Zi?"
"Ibu sudah nggak ada Mbak. Kini toko ini dipegang anaknya yang balik dari London. Pak Aron"
Neeha mendapatkan informasi tempat pemakaman sang pemilik. Selesai meracik dua parfum. Neeha pamit untuk pulang.
Aron, Pemilik baru toko itu melihat Neeha. "Siapa wanita itu?"
"Ooh dia adalah langganan toko ini Pak"
"Langganan?"
"Iya, semenjak ibu masih hidup dia sudah sering bolak-balik ke tempat ini. Dia adalah jantung yang membuat toko ini bertahan Pak kata Ibu"
"Jadi dia wanita yang sering diceritakan Ibu?"
"Hehe, Bapak juga mengenalnya ya?"
"Iya, Namanya Neeha kan?"
"Benar Pak"
Semenjak kuliah, Neeha sudah sering kesana. Neeha mengenal baik pemilik toko yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.
Aron melihat foto yang pernah dikirim Ibunya dahulu semasa hidup. Gadis yang sangat bersemangat dan terus membuat Ibunya senang dan merasa memiliki teman.
__ADS_1
*****
Neeha merapikan semuanya, sadar bahwa ada parfum untuk laki-laki, Neeha segera memasukkannya kembali ke dalam tas tapi kalah cepat sehingga Langit mengambil Parfum itu.
“Mengapa kamu membawa dua parfum?” Langit menyadari itu masih baru.
“Salah beli” Neeha jawab asal saja.
“ Ada 2 buah tapi Salah beli ? ”
Langit memutar kursi yang diduduki Neeha menghadap ke arahnya. Langit mendekat ke wajah Neeha. Neeha yang segera ingin memutar kursi kembali tidak bisa karena Langit menahan dengan tangannya.
Karena wajah mereka semakin menipiskan jarak membuat Neeha langsung berkata jujur. “Oke aku jujur” Neeha melihat Langit berhenti mendekat tapi masih menunggu penjelasan tambahan.
“Sebenarnya itu buat mas Langit” Neeha membuat Langit yang tadinya merunduk kembali berdiri.
“Buat saya?”
“Iya aku mau kasih parfum yang aku pilih dan aku racik sendiri” Neeha menjelaskan dan memberikan parfum itu ke Langit.
Langit menekan kening Neeha dengan telunjuknya. "Mengapa kamu membelikan saya parfum. Apa kamu mau minta sesuatu lagi?. Jadi kamu memberikan saya sogokan"
"Enggak Mas, ini sebagai wujud terimakasih karena Mas Langit udah beliin aku meja rias"
"Ooh begitu"
Langit langsung menyemprotkan parfum itu ke hadapannya. Lalu mengipas dengan tangan sehingga tercium aromanya.
"Gimana Mas, wangi nggak?"
"Wangi, tapi aromanya cukup unik"
"Iya dong, sengaja aku beli di tempat langganan aku dimana kita bisa racik sendiri. Buat Mas Langit, aku campur wangi buah dan bunga, nggak akan ada yang memiliki aroma yang sama dengan Mas Langit"terang Neeha.
"Bukannya aroma parfum memang akan berbeda tiap orang?. Karena ada aroma asli tubuh mereka yang khas"
Auh sial, kok Mas Langit bisa tahu hal itu
"Ya meskipun begitu, tetap aja aku udah nunjukin Ketulusan aku didalamnya Mas, aku racik dengan pertimbangan matang. Kalo Mas Langit nggak senang biar aku buang"
Neeha mencoba mengambil parfum itu kembali. Tetapi Langit justru meletakkan di sekitar barangnya. Meja rias itu mereka pakai berdua, walaupun Langit hanya kebagian tempat meletakkan barang-barangnya saja.
"Apa kamu pernah memberikan hadiah yang sama buat orang lain?"
"Kok mas Langit nanya kek gitu?"
"Enggak, karena kamu bilang sudah langganan jadii..."
Auh Sial lagiii, kok Mas Langit bisa kepikiran nanyain itu
"Pokoknya kalau Mas Langit nggak mau biar aku..."
Langit kembali memegang botol parfum agar tak disentuh Neeha "Bukannya saya nggak mau, tapi saya penasaran, udah dikasih nggak boleh diambil lagi Neeha kamu tahu etika memberi kan?"
Etika memberi segala disinggung
"Aku pernah kasih buat Aca, sampai Aca kini meracik milik dia sendiri"
"Buat laki-laki?"
Neeha tampak tidak mau menjawab, tapi karena Langit menunggu, terpaksa ia menyebutkan nama itu lagi "Ada, buat Azkal"
"Ooh begitu" Langit merasa bersalah membuat Neeha menyebut nama mantannya. "Maaf saya nggak maksud"
"Nggak apa apa kok Mas Langit, aku udah biasa aja"
"Kalau gitu saya akan buatkan kamu susu hangat"
Langit segera keluar kamar dan turun.
__ADS_1
Mas Langit kenapa kayak gitu sih. Lagipula aku biasa aja kok. Aku cuma masih kesal aja sama Azkal kalau ketemu langsung.
Bersambung...