
Langit meletakkan tubuh Neeha di ranjang UGD. Tirai ditutup, seorang Dokter datang sesaat kemudian bersama Ajeng.
Langit berdiri di samping ranjang. Lengan kanannya tak dilepas oleh Neeha.
Apa dia benar-benar percaya kalau kakinya harus di operasi?. Dia memegang lengan saya erat sekali.
Dokter itu dengan telaten menyentuh pergelangan kaki kiri Neeha. Beberapa kali Neeha meringis menahan sakit. Setelah melihat dengan saksama lalu Dokter itu mengangguk.
"Apa kaki saya benar-benar harus dioperasi Dok?" Raut wajah Neeha sangat menyedihkan, antara pasrah dan tak terima.
Dokter laki-laki dan terlihat paruh baya tersebut tersenyum "Kaki kamu hanya terkilir"
Mendengar jawaban sang Dokter. Neeha langsung menatap Langit. Perasaan kesalnya karena dibohongi sungguh amat menyebalkan.
"Jadi gimana Pak?" Ajeng ikut melihat kaki kiri Neeha.
"Ajeng, kamu kenal mahasiswi ini?"
"Eh enggak Pak, dia bukan mahasiswi. Dia istrinya Langit Pak, Dosen disini, sahabat suami saya juga" terang Ajeng.
Dokter itu membenarkan kacamatanya. Melihat lelaki tinggi yang berdiri di samping ranjang. Ia juga melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis Neeha.
"Oo begitu" Dokter itu mulai mencoba meluruskan kaki Neeha.
"Eeh Dokter tunggu, gak sakit kan Dok?" tanya Neeha mengehentikan proses memperbaiki kaki yang akan berlangsung.
"Tidak sakit, kalau sakit kan ada suami kamu"
Ucapan Dokter tersebut membuat Neeha dan Langit saling melirik. Memang apa hubungannya?.
"Aaaa" Neeha menggigit lengan Langit sehingga Langit ikutan merasa sakit.
Dia ini perempuan atau seekor hewan?. Gigitannya sakit sekali. Bisa-bisa lengan saya yang ikutan robek.
Benar Saja perkataan dokter kalau sakit ada suaminya. Maksudnya lebih tepat bahwa mereka akan sama-sama merasakan sakit.
Setelah Kaki Neeha selesai diobati dan bagian yang memerah sudah mereda. Neeha harus memakai Gips Luar dan memakai kruk.
"Mungkin nanti akan terasa sakit lagi. Tapi tenang saja, itu hanya akan berlangsung paling lama 2 hari" ujar sang Dokter menjelaskan.
Dokter itu memberikan beberapa resep obat untuk membantu penyembuhan. Usai berterima kasih, Langit menggendong tubuh istrinya ke mobil.
Ajeng membantu membawakan Kruk. Langit tak berbicara apapun sampai mereka setengah perjalanan.
Neeha ingin mengatakan perihal Jordi "Mass aku mau ngomongin soal...."
"Nanti saja bahas ketika kita sudah sampai di rumah!"
"Baik Mas"
__ADS_1
***
Setibanya di Gerbang... Neeha melihat mobil ya g tidak asing dengan 2 raut wajah yang dikenalnya.
Ternyata Orangtua Neeha datang.
"Neeha" Mamanya Syok melihat kaki putrinya
Langit menggendong Neeha masuk ke dalam rumah. Mereka semua duduk di sofa ruang Tamu.
Langit mengambilkan minuman untuk kedua mertuanya tersebut. Lalu ia ikut duduk di samping Neeha, berhadapan dengan kedua mertuanya.
"Kenapa kaki putri Saya bisa begini?" Tanya Nyonya Rinto, Mama Neeha.
Nyonya Rinto menatap Langit penuh selidik.Tatapanny penuh makna, seperti berani- beraninya kamu bikin anak saya sampai kaya gini.
"Mah aku..."
"Syutt, diam kamu Nee!. Mama nanya sama suami kamu"
"Neeha jatuh dari tangga " jawab Langit singkat sembari menatap Ibu mertuanya itu.
"Kok bisa?. Langit jelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Kamu ngelakuin apa ke putri saya?" Nada Nyonya Rinto terdengar meninggi seolah marah.
"Mama biar aku yang jelasin" Neeha menyentuh tangan Langit berharap lelaki itu berhenti dan memberinya kesempatan.
"Selama Nee hidup dengan kita. Belum pernah sekalipun Nee terluka sampai harus pakai Kruk Pa" Nafas Nyonya Rinto memburu.
"Iya Papa Tahu. Tapi dalam kehidupan juga ada istilah pertama kali kan Ma" Ujar Suaminya.
"Pertama kali kok buat hal yang kayak gitu Pa"
"Udah Maa, dengerin dulu penjelasan Nee. Jangan menuduh Langit!"
"Tadi aku mau nemuin Mas Langit Ma, Pa. Gak sengaja jatuh karena aku pakai High heels"
"Kan kamu dijemput sama Suami kamu. Kenapa kamu datang kesana?" Nyonya Rinto masih penasaran dan marah.
"Aku tadi kebetulan pulang cepat Ma, jadi inisiatif buat nyusul Mas Langit"
"Bagus sekali, Papa senang kalian bisa semakin dekat" Wajah Tuan Rinto berbinar-binar, tak sia-sia ia menjodohkan Putrinya dengan Langit.
Usai makan malam, Mertua Langit pamit undur diri. Sebelum pulang, Langit mendapat 2 nasehat.
Pertama dari Tuan Rinto, Jaga Putrinya baik-baik. Jadikan Putrinya lebih dewasa dan memahami kehidupan nyata sebagai seorang Istri.
Sementara itu dari Nyonya Rinto, Langit cukup kaget. Pasalnya, Ibu mertuanya itu tahu perihal Neeha tidur di ruang tamu. Ia tahu kalau ada yang berusaha disembunyikan Putrinya.
"Maaf Maa," Neeha tertunduk.
__ADS_1
"Pokoknya mulai saat ini kalian harus tidur seranjang!" perintah Nyonya Rinto.
"Tapi Maa..." Neeha berusaha Menolak.
"Baik Maa.." Sementara Langit langsung mengiyakan.
"Oke kalau begitu, Mama akan simpan rahasia ini. Setelah kami pergi cepat pindahkan barang kmu Neeha!"
"Ta tapi Maa..." Neeha masih berusaha.
"Nggak ada tapi-tapi Nee, Kami merenovasi rumah ini bukan buat bikin kamu tidur di kamar tamu yang kecil tapi di kamar utama!" Ucapan Mamanya membuat Neeha terdiam.
dan Langit menyetujui hal tersebut, bahkan Langit berjanji dengan Ibu mertuanya akan segera memindahkan barang Neeha agar mereka tidur di kamar yang sama, seranjang yang sama.
Bukan itu saja yang sama, tapi Ekspresi wajah Langit juga selalu sama. Kaku dan datar seolah semua itu bukanlah hal penting dan mengganggu.
"Mas, buruan kita pulang!" Tuan Rinto sudah lelah berdiri di pintu menunggu istrinya.
"Iya Paa sebentar"
****
Tanpa pikir panjang Langit memindahkan barang-barang Neeha. Tanpa aba-aba, tanpa sepatah katapun.
"Mas, kamu benar-benar mau mindahin barang aku ke kamar utama?"
"Iya, saya kan sudah janji Sama mama kamu" Langit berbicara sambil bekerja.
"Tapi Maasss"
"Kita hanya tidur kan, saya tidak akan menyentuh kamu. Eh salah, mungkin menyentuh bisa tanpa sengaja. Lebih tepatnya saya tidak akan berbuat sesuatu hal pada kamu"
"Sesuatu hal?" Neeha membelalakkan matanya.
"Iya, kamu tahu kan. Sepertinya tidak perlu saya perjelas" Langit masih terus memindahkan barang Neeha.
"Tapi kan Mass aku masih bisa tidur di kamar tamu. Besok-besok aku bakal minta Mama ngasih tahu dulu kalau mau datang"
"Saya bukan tipe yang ingkar janji. Lagipula, bisa jadi hal seperti ini terjadi lagi tanpa diduga. Bisa jadi Orangtua saya yang tiba-tiba datang mendadak saat kita baru pulang. Sama seperti kejadian tadi"
"Terus Mas?"
"Lebih baik ambil jalan mudah saja. Kita tidur sekamar dan seranjang. Hanya Tidur, jangan sampai kamu berharap lebih!" Langit berlalu.
"Eeh siapa yang berharap lebih Sih Mass" Neeha berteriak karena Langit sudah berada di lantai atas.
Hah hanya tidur?. Iya iyalah ... lagian aku juga nggak mau lebih dari tidur biasa.
Bersambung....
__ADS_1