Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Operasi dan Investasi!!


__ADS_3

Berkat Wiliam suami Aca, Neeha mengetahui bahwa bisa jadi balas Budi yang dikatakan Aron adalah berusaha membuatnya membutuhkan Aron.


Tidak, tidak bisa, aku tidak boleh terikat balas Budi dengan orang seperti itu. Cukup berurusan dengan lelaki berengsek seperti Azkal satu kali dan terakhir kalinya.


Akhirnya, Neeha memutuskan untuk menjual semua barang-barang mewah yang ia miliki. Bahkan termasuk mobil yang sudah lama nyantol di garasi.


Iya, semua yang bisa dijadikan sumber dana harus Dia relakan. Demi Perusahaan Papanya dan Ibu pemilik toko parfum sekaligus Ibunya Aron yang sudah tiada.


Tidak hanya itu saja, Neeha juga menjual tas-tas yang sangat ia sukai. Entah apa lagi yang ada dalam pikiran wanita yang biasanya mengembangkan gaya hidup hedonisme tersebut.


"Kenapa tiba-tiba kamu menjual semuanya Nee?" tanya Langit terheran heran.


"Aku udah bosan dan lagi kalau nggak kepakai ngapain juga kan mas. Menuhin tempat aja" Neeha tersenyum manis.


Apa yang terjadi?. tidak mungkin dia berubah 180 derajat. Kecuali besok kiamat atau dia sekarat? pikir Langit menerka apa yang terjadi pada istrinya.


Langit mengajak istrinya duduk face to face di sofa. Dengan wajah kaku yang sendu Langit memegang kedua bahu istrinya.


"Mari kita bicara sebentar Nee!"


"Serius amat Mas" Neeha menurut pada Suaminya.


Ya walaupun biasanya juga dia serius dan kaku begitu juga sih


"Nee, apa ada yang kamu sembunyikan dari saya?"


"Kok Mas Langit bisa tahu?" Neeha kebingungan.


Apa Mas Langit tahu aku mau nanyain soal uang.


"Kamu tiba-tiba berubah begini pasti ada alasannya kan. Jangan tutupi apapun!"ujar Langit.


"Sebenarnya aku lagi butuh duit Mas"


Apa dia benar-benar sakit parah. Jadi dia tidak mau merepotkan orangtuanya


"Saya punya simpanan yang lumayan banyak. Apalagi saya sering memenangkan berbagai kejuaraan baik penelitian maupun cabang atletik. Kamu ada masalah apa?" Langit penuh tatapan perhatian.


"Aku mau...." Neeha berpikir sejenak.


"Mau apa? berobat??" Langit mencoba menebak.


Neeha geleng-geleng "operasi...Sa..." belum selesai Neeha menjelaskan.


Langit mengeluarkan semua bentuk simpanan yang ia miliki, Tabungan dengan berbagai judul untuk masa depan.


Waah ternyata simpanan Mas Langit banyak juga. Udah bisa mendirikan perusahaan kecil-kecilan nih.


"Mas Langit yakin mau pakai itu semua?"


"Iya, meskipun tidak tahu kapan kamu akan mencintai orang lain. Selagi saat ini saya masih suami kamu. Saya akan bertanggung jawab untuk kamu"


"Makasih ya Mas" Neeha segera mengantongi semua simpanan Suaminya.

__ADS_1


"Yasudah sekarang kamu sudah bisa jujur kan. Operasi apa?"


"Saham," ucap Neeha sambil berbinar-binar.


"Saham?" ulang Langit membenarkan pendengarannya.


"Mmm Saham Mas...akuu..."


Belum selesai Neeha menjelaskan semuanya. Langit segera meminta kembali semua simpanannya.


"Loh kan Mas Langit udah kasih ke aku"


"Saya pikir kamu sakit parah dan tidak mau memberatkan orang tua kamu. Ternyata apa ?. Saham ?. Apa hidup kamu hanya tentang uang?. Apa kamu berencana ingin membeli hal yang lebih mewah dan nggak berguna lagi?. Buat apa kamu jual cerita sedih kalau gitu?"


"Mas Langit.. Aku nggak pernah jual cerita sedih. Mas Langit yang sedari awal nggak dengar aku dengan jelas"


"Saya dengar kamu bilang operasi?. iya kan" Langit dengan nada meninggi.


"Iya aku bilang operasi Mas, operasi saham. Biar kamu ngerti aku pakai istilah gampang. Kenapa kamu nuduh aku jual cerita sedih Mas?" Neeha mulai berkaca-kaca.


"Tuh kan sudah jelas kamu yang salah. Kamu mau nangis lagi. dasar cengeng"


Plak....sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Langit. Neeha ingin menampar sekali lagi, namun masih bisa ditahan oleh tangan cekatan Langit.


"Kalau Mas Langit nggak mau bantu nggak usah. Aku kan nggak pernah maksa. Mas Langit yang salah paham malah nyalahin aku" Neeha mulai sesenggukan. Jiwa cengengnya kembali bangkit.


Neeha masuk ke kamar dan mengunci pintu. Apakah segitu tidak bergunanya ia dimata Langit suaminya yang kaku dan Monoton itu.


Langit begitu lama merenungi


Apa karena saya bertanggung jawab sebagai suaminya atau karena Saya ada rasa sama dia?


****


Disaat yang tidak tepat ini. Justru Nyonya Sanjaya sudah menanyakan kapan mereka akan datang.


Aduuh kenapa harus sekarang sih. Aku lagi males ngomong sama Mas Langit.


Tetapi pada saat yang tak tepat itu pula timbul ide cemerlang dari Neeha. Bukankah ayah mertuanya adalah pemilik klinik tradisional terkemuka?. Pasti memiliki banyak simpanan juga karena hanya punya satu putra.


Akhirnya Neeha beraksi, suasana hatinya yang barusan sedih sudah berubah menjadi pejuang. Bagaimana juga, ia adalah penyelamat bagi Perusahaan Papanya.


Bagai pahlawan wanita, Neeha keluar kamar dan menuruni tangga. Ia menemui Langit yang masih terduduk di sofa.


"Mas Langit" Neeha duduk di samping suaminya.


"Nee saya minta maaf"


Iya Mas Langit yang monoton ini, tidak menjelaskan apa kesalahannya dan langsung meminta maaf. Monoton sekali


"Aku punya syarat," ucap Neeha


"Syarat apa?"

__ADS_1


"Aku boleh dong minta Dananya Sama Ayah"


Brrttt.....lagi pancingan pertengkaran adu mulut berikutnya.


Langit ingin sekali menarik ucapan permintaan maaf yang barusan ia lontarkan. Ia pikir Neeha tak akan menyinggung perihal uang lagi.


"Apa kamu masih mau menyinggung uang Nee, kali ini Ayah saya?. Segitunya kamu mau mandiri dan membuktikan bahwa kamu tidak butuh Papa kamu. Sekalinya manja ya manja. Kamu hanya mau memakai uang orang di sekitar kamu untuk kebahagiaan kamu seorang. Kamu egois"


"Mas, Kok Mas Langit jadi banyak omong banget sih?. Ini bukan buat aku aja. Tapi juga buat masa Depan"


"Masa depan siapa?. Kamu sendiri?" Langit menebar pandangan meremehkan.


"Aku nggak minta sama Mas Langit kok jadi Mas Langit yang marah sih?"


"Karena ini ibaratnya kamu tidak mendapat nafkah yang cukup dari saya Neeha"


"Itu cuman buat cadangan Mas Langit, kalau misalkan uang dari koleganya Papa nggak mencukupi" Neeha berusaha memaparkan.


"Kalau kamu masih kekeuh melakukan hal itu, lebih baik kita..."


Ponsel Langit berdering...Ibunya memanggil.


cerai?? Apa Mas Langit akan mengatakannya?.


Tak berapa lama, akhirnya Langit terdiam. Bahkan orang tuanya sendiri tahu mengenai rencana Neeha.


"Jadi kamu sudah memberi tahu Ibu?"


"Iya Mas, aku akan balikin lagi kok. Itu untuk cadangan Mas"


"Kenapa kamu tidak bicarakan baik-baik Nee, say juga paham kok istilah Investasi saham"


"Ya kan biar Mas Langit Paham aja aku pikir. Aku lupa kalau Mas Langit sudah S3"


"Yasudah jika begitu kamu bisa...." Langit mengeluarkan simpanannya kembali.


"Enggak usah Mas, aku tahu Mas Langit nggak paham mengenai saham. Lebih baik aku nggak pakai uangnya Mas Langit" Neeha menolak.


"Apa kamu marah?"


Bukan marah Mas, lebih tepatnya aku takut kamu menyinggung masalah Cerai. Entah kenapa aku nggak bisa Nerima hal itu.


"Nggak Mas, biar aku pikir-pikir lagi. Lagipula tadi Ayah udah langsung setuju kan"


"Lain kali katakan dengan jelas pada Saya ya Nee!"


Mas Langit kan yang langsung esmosi tadi Mas.


"Iya Mas"


Akhirnya dengan kesalahpahaman dan pertengkaran mereka. Baik Neeha dan Langit sama sama memikirkan tentang satu sama lain.


Langit masih ragu sebenarnya mengapa ia begitu khawatir dengan Neeha. Sementara Neeha ia juga ragu bagaimana perasaannya pada Langit dan mengapa ia takut apabila Langit ingin bercerai.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2