
Makan malam Perusahaan?. Neeha meletakkan Ponselnya dengan malas ke meja di samping ranjang.
"Mas Langit"
"mmm" Langit mengetik di laptopnya.
"Aku nggak usah ikut makan malam Perusahaan kali ya" tanya Neeha ragu-ragu.
"Kenapa?" Langit masih melekatkan bola matanya ke laptop.
"Mas Langit kalau ngomong mulutnya aja. Akunya dicuekin"
"Saya kan meladeni kamu juga Nee"
"Gitu ya Mas. Aku Males Mas, ada Azkal. Nggak tahu kenapa itu Perusahaan jadi ngadain acara makan malam"
"Kamu nggak mau ketemu dia?. Ya sudah tidak usah pergi!"
"Bukannya nggak mau Mas, tapi males aja. Apalagi disana ada selingkuhannya eh maksud aku pacarnya si Clara itu"
"Kamu iri?"
"Enggak Kok Mas"
"Yasudah kamu pergi saja. Kalau kamu sudah tidak ada rasa. Mengapa kamu menghindar?"
Kalau kamu sudah tidak ada rasa mengapa menghindar?. Ejek Neeha di dalam kepalanya mengulang ucapan Langit yang sangat menyebalkan.
"Ih Mas Langit beneran deh. Gimana kalau Clara si lidah berbisa itu mengatakan sesuatu yang aneh. Dia kan mulutnya bisa bikin orang percaya. Dulu aja dia jual kisah sedih sama aku"
"Bukannya kamu juga suka jual kisah kesedihan?"
"Mas Langit kok samain aku dan Clara itu sih?" Neeha tak terima.
"Yasudah maaf. Kalau gitu kamu nggak usah pergi kalau nggak mau pergi!"
"Mas Langit. Aku kan nanya ke Mas Langit. Bukan pendapat aku sendiri"
"Kamu mau saya bagaimana Neeha"
"Ya aku nanya pendapat Mas Langit" Neeha balik bertanya.
"Kamu tidak usah pergi"
"Entar karyawan yang lain protes lagi" terang Neeha.
"Kalau begitu lebih baik kamu pergi!"
"Tapi aku malas kalau Clara mancing-mancing"
Heh benar-benar wanita sangat susah dipahami.
"Yasudah kalau gitu kamu nggak usah ikut dan karang alasan"
"Aku kalah dong dari Clara. Lagipula aku kan emang sudah nggak ada rasa sama Azkal Mas. Entar dia nyangka aku ngehindar lagi"
Langit hanya bisa mengangguk. Hingg setelah beberapa saat Neeha mendapatkan ide.
Wanita bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. kadang hanya butuh simpati dan meyakinkan pilihannya sendiri.
"Aku sudah memikirkannya Mas" Neeha mengangkat jari tanda idenya hidup.
__ADS_1
"Apa?"
"Mas Langit jemput aku tapi kali ini kita acting yang bagus Oke!"
"Acting yang bagus?" Langit menaikkan alisnya.
"Iya, kita mesra gitu Mas," papar Neeha.
"Oo kamu mau kita ciuman lagi?" tanya Langit dengan santainya diikuti wajah datar kek taplak mejanya
Lagi?. Seolah aku senang aja kita ciuman.
"Nggak harus gitu Mas"
"Terus gimana?"
Neeha berpikir sejenak. "Ya mesra kan nggak harus ciuman. Mas Langit dekap aku aja. Atau elus rambut aku gitu Mas"
Neeha menarik tangan Langit untuk mengelus kepalanya. "Kayak gini misalnya Mas"
"Seperti ini?"
"Iya Mas"
"Elus begini. Kamu mau cosplay jadi kucing lagi?"
Langit tidak bisa mengkondisikan matanya. Menatap dada Neeha yang waktu itu pakai baju seksi tanpa B** dengan bando kucingnya.
Neeha menurunkan tangan Langit dan segera menutupi dadanya. "Jangan mikir yang aneh-aneh ya Mas!"
"Saya nggak mikir dengan sengaja. Apalagi Insiden itulah yang melibatkan kekerasan" Langit memperlihatkan bekas gigitan Neeha yang masih ada.
"Tidak usah, bentar lagi juga hilang sendiri. Kalau kamu ambil kotaknya terus jatuh lagi gimana. Waktu itu kan ada saya. Kalau kamu jatuh sendiri dan kaki kamu patah gimana?"
"Mas Langit kok malah nyumpahin aku sih?" Neeha bergidik ngeri.
"Bukan nyumpahin Nee, pokoknya kamu tenang saja. Saya akan ikut acting kok Nanti. Sekarang Saya Mandi dulu" Langit pergi ke kamar mandi.
Seusai Langit mandi, tiba-tiba saja Lampu mati. Ia keluar sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
"Maass mati lampuuu" teriak Neeha dari lantai bawah.
Neeha?. Apa dia di bawah
"Sebentar biar saya lihat" balas Langit sambil meraba-raba ponselnya untuk menghidupkan senter.
Neeha meletakkan kembali gelas seusai ia minum. Untung saja ia masih membawa ponselnya sehingga bisa memakai itu sebagai pencahayaan untuk menemui Langit di kamar.
Tepat saat Langit berada dua langkah di depan pintu kamar. Neeha justru tersandung kakinya sendiri. Langit sudah berusaha untuk menangkapnya tapi kurang cekatan sedikit lagi.
Tampaknya Neeha meraih sesuatu dari hadapannya. Sebuah kain ia rasa, Lampu kembali hidup dan terlihatlah pemandangan yang tidak diinginkan itu.
yang ditarik Neeha adalah handuk dari pinggang Langit. Neeha terdiam beberapa saat dan membeku melihat junior Langit hingga akhirnya ia berteriak sambil menutup mata.
"Aaaa mesum"
Langit menarik handuknya yang masih digenggam Neeha "handuk saya Nee. Bukan saya yang mesum kamu yang menariknya"
Karena Neeha tidak berhenti berteriak dan juga tidak melepaskan handuk tersebut. Langit berbalik berlari ke dalam kamar sambil telan**Ng saja.
*******
__ADS_1
Sudah begitu lama, Neeha tidak mau masuk kamar. Ia begitu malu dengan kecerobohannya.
"Neeha mau sampai kapan kamu duduk di luar?" Langit memanggil.
"Aku tidur di kamar tamu aja deh Mas"
"Kenapa?. Kamu malu?"
"Akuuu..." Neeha berdiri "awww," ia meringis.
Secepat kilat Langit membuka pintu kamar dan menghampirinya. "Kenapa kamu Nee?"
"Enggak Kok Mas nggak Apa-apa"
"Nggak apa-apa gimana?. Lutut kamu memar begitu"
Lutut Neeha merah terlihat jelas karena ia memakai celana pendek. Langit membantunya turun dan menunggu di sofa.
Langit lah yang akhirnya mengoles obat dari kotak P3K untuk Neeha. "Bukankah kita sudah sering berolahraga dan makan makanan sehat Nee. Mengapa kamu masih ceroboh dan terjatuh?"
"Aku juga nggak sengaja jatuh kali Mas. Aku nggak lihat?"
"Terus gunanya Senter dari ponsel kamu apa?"
"Yaudah deh aku yang ceroboh. Bawaan lahir kali Mas"
"Iya sepertinya begitu" tutur Langit datar.
...*************...
Gara gara kejadian tersebut. Neeha sampai kebawa mimpi.
Esok harinya Neeha mengigau dalam tidurnya. Langit mendekat dan dalam keadaan telan***Ng juga.
"Jangan Mas jangaaan"
Langit terbangun dan mencoba membangunkan Neeha. Berbanding terbalik dari mimpinya, justru Neeha memeluk erat Langit bahkan kakinya menjepit kaki Langit.
"Mulut bisa bicara, tubuh tahu semuanya"ucap Langit datar.
"Apaan sih Mas Langit" Neeha melepas pelukannya.
"Mengapa kamu masih malu Nee, bukankah sebelumnya kamu sudah melihat dan merasakannya?"
Kenapa Mas Langit bicara dengan wajah kaku kek taplak meja Si Mas?.
"Merasakan?"
"Ya ini" Langit menunjuk bagian bawahnya dengan isyarat kepala.
Tanpa bantahan yang berarti langsung berlari ke kamar mandi.
"Jangan bilang kamu masih malu Neeha"
"Aku nggak dengerrr" teriak Neeha dari kamar mandi.
"Apa milik saya begitu berkesan?" Seulas senyuman muncul mendadak dari wajah kaku Langit.
Apa yang saya pikirkan?. Mengapa saya senang?.
Bersambung....
__ADS_1