Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Demi Meja Rias


__ADS_3

Beberapa hari terakhir Neeha menyinggung perihal Meja Rias pada Langit. Neeha menginginkan meja rias di kamar utama agar ia tidak kesusahan saat berdandan.


Biasanya Neeha ikut berdandan menggunakan gaya Langit. Membawa alat make-up lalu sambil berdiri bedakan dan menaruh riasan wajah. Karena Cermin yang ada di kamar Langit hanya ada di kamar mandi dan di sudut ruangan. Cermin yang memperlihatkan biasan seluruh tubuh.


Kenapa sih laki-laki nggak punya meja rias. Kenapa harus bercermin sambil berdiri. Aku harus berusaha mencari cara agar Mas Langit mau membelikan meja rias. Atau aku cari di Goo**e aja kali ya.


Akhirnya, Setiap ada kesempatan, Neeha pasti membahas atau mengatakan sesuatu yang mengarah ke meja rias. Saat Langit memasak, saat cuci piring, atau saat membaca buku.


Kali ini, Langit tersedak saat Neeha tiba-tiba saja mengatakan bahwa sinetron di TV menampilkan adegan menarik.


"Adegan apa sih Nee?. Apakah perlu kamu menyampaikannya sekarang" Langit meletakkan kembali gelas berisi air putih untuk menenangkan kerongkongannya yang tersedak.


"Adegan waktu pemeran utama wanita berhias dengan cepat dan ia...."


"Kamu berbelit-belit atau membicarakan sesuatu


Pasti mau bahas tentang meja rias lagi kan?" Langit melepas sendok di tangannya.


Neeha mengangguk. Neeha menatap Mata Langit dengan penuh pengharapan.


"Kamu sudah menghabiskan puluhan juta untuk tas-tas kamu Nee. Masih ingin saya membelikan meja rias?. Tagihan kartu kredit saya belum pernah sebesar itu. Kamu tidak pikir saya juga harus bayar tagihan listrik dan air"


"Wanita kalau mau dandan ya butuh meja rias Mas Langit, masa aku harus bersabar buat dandan sambil berdiri atau dandan pakai kamera Ponsel"


"Kalo kamu memang butuh, kan kamu juga punya uang. Lagian gaji kerja kamu buat apa sih Nee, kan bisa pakai itu"


"Gaji aku buat beliiii..." Neeha sedikit ragu "Beli tas" lanjutnya.


"Tas lagi?" Langit mengusap kepalanya. "Selain punya obsesi dengan model kucing kamu juga punya hobi mengerikan mengenai tas ya?"


Tas-tas yang dimiliki Neeha sangat banyak. Termasuk tas-tas lama yang ia punya sebelum menikah diletakkan di ruang perpustakaan. Dimana tempat tersebut juga menjadi ruang baca dan ruang kerja yang dipakai Langit sesekali.


"Mengerikan dari mana mas?" Neeha tidak merasa itu mengerikan. "Kan aku nggak ngebunuh atau melakukan kejahatan"


"Saya lihat tas kamu bahkan banyak yang sama persis. Kenapa nggak pakai yang sudah ada saja? Itu ruang baca saya bukan hanya penuh koleksi buku tapi juga koleksi tas kamu"


"Aku pakai semua kok mas, bukan buat di koleksi saja"


"Kamu pakai sih boleh-boleh saja, tapi ya kamu bisa kurangi dengan memilih satu dari model yang sama persis itu !"


"Itu nggak sama persis Mas, ada bedanya. Mas Langit nggak akan ngerti"


"Apa yang saya nggak ngerti?" Langit mengangkat alisnya.


"Ada yang campuran putih ke hitam ada yang hitam ke putih" Neeha menjelaskan seolah ia adalah seorang profesional.


"Bukannya itu sama saja. Lagipula nggak akan ada yang memperhatikan kalau kamu pakai model yang sama"


"Beda Mas, warnanya beda. Terus ada yang talinya cuma bisa mencapai 25 cm ada yang bisa diganti dan ada yang punya aksen berliannya. Itu beda Mas. Kalaupun nggak ada yang memperhatikan. Tetap saja aku maunya memakai tas yang sejalan dengan pakaian atau sejalan dengan suasana situasi kondisi yang ada Mas"


"Okedeh terserah kamu saja. Kalau kamu bilang itu beda saya akan anggap itu beda. Kalau kamu punya alasan anggap saja saya percaya"


" Ish Emang beda kok. Itu bukan alasan Mas, itu beneran. Lagipula Mas Langit bahkan punya satu ruang lainnya berisi benda yang hampir punah mas. Aku cuma numpang di ruang baca nggak boleh" Neeha berpangku tangan.


"Saya juga kadang kerja disana, mata saya keganggu Sama penampakan tas kamu"


"Ya mas Langit tutup mata dong biar nggak ngelihat !" Suara Neeha berubah nyaring.

__ADS_1


Ya ampun bagaimana saya harus menyikapi wanita kekanakan inii.


Akhirnya, setelah berpikir lama. Langit menyimpulkan sesuatu.


"Ya udah kalau kamu berhasil mengendarai sepeda, saya akan belikan meja rias"


"Beneran?


"Mmm"


Setidaknya saya bisa dapat gaji dulu sebelumnya.


Meskipun Langit punya simpanan uang. Namun ia tidak bisa mengeluarkan sembarangan biaya-biaya mendadak. Apalagi, Neeha juga sudah memakai puluhan juta untuk membeli tas-tasnya. Langit harus lebih memperhatikan pengeluarannya.


"Yakin kan Mas Langit beneran mau?" Neeha memastikan.


"Mmm" Langit menyetujui dengan malas.


"Ya udah kalo gitu Mas Langit harus janji ! " Neeha menyodorkan jari kelingking


"Kekanakan"


"Iih ayo Mas!" Neeha tidak mau menarik jari kelingkingnya.


"Ya sudah saya janji"


Tak lama kemudian... Ponsel Neeha berdering. Setelah melihat nama yang tercantum, Neeha langsung mematikannya.


"Ngapain sih" Senyum Neeha berubah lagi jadi cemberut.


"Jordi, Mas"


"Sini biar saya yang angkat"


"Mas Langit emangnya mau ngomong apa. Jordi itu pintar sekali cari topik dan alasan Mas"


"Saya juga pintar sekali meladeni orang seperti itu"


Akhirnya Langit mengangkat panggilan itu. Cukup satu kata, Jordi Langsung Skakmat.


"Jangan menelfon istri saya. Apalagi jika hal itu tidak penting dan tidak terkait dengan pekerjaan. Kalau tidak, kamu bisa saya laporkan ke polisi karena mengganggu waktu privasi orang lain"


Panggilan ditutup...


"Beneran Mas, Nggak ditelpon lagi"


"Tuh kan .."


"Kok Mas Langit bisa sih. Emang ada hukumnya Mas. Kalo ganggu waktu privasi"


"Anggap saja ada"


Jadi dia nggak benar-benar tahu itu. Biar aja deh dari pada Jordi nelfon aku terus.


*****


Libur hari ini, sesuai kesepakatan mereka. Neeha belajar mengendarai sepeda. Sepeda baru itu harus bisa dikuasai demi keinginan Neeha.

__ADS_1


Neeha menaiki sepeda. "Kamu pegangin ya Mas. Nanti aku jatuh!"


"Tenang saja, saya akan memeganginya sampai kamu bisa"


Namun mengajari Neeha adalah bagai tes kesabaran lainnya tanpa batas.


...


"Injak pedalnya Nee, kayuh dengan kaki kamu. Jangan diam, saya hanya membantu memegangi bukan mendorong"


"Iya Mas, lupa"


.....


"Lihat ke depan saat mengendarainya jangan lihat setang sepedanya!"


"Iya-iya Mas Langit. Aku tahu"


...


"Atur arahnya jangan dibiarkan saja!"


"Iya Mas Iya..."


....


"Saya lepas yaa?"


"Jangan Mas Langit jangaaan!"


Langit melihat Neeha yang kelabakan masih belum bisa mengendarai sepeda. Ia terus menghembuskan nafas kasar dan berusaha mengontrol emosi.


"Tunggu sebentar!"


Langit berbalik badan lalu meninju udara di sekitarnya.


"Kamu ngapain mas?" Neeha melihat Langit dengan tatapan bingung.


"Enggak kok kamu lanjut saja!"


"Pegangin dong Mas. Kalau nggak pegangin gimana bisa lanjut "


"Iya ini saya pegang" Langit kembali memegangi bagian belakang sepeda.


"Aduuh aw aw. Susah banget siih. Aku harus bisa buat dapetin meja rias"


"Mungkin kamu harus menunggu lama untuk mendapatkan meja rias Neeha"


"Kenapa Mas?"


"Saya baru lihat ada orang yang begitu bodohnya nggak bisa mengendarai sepeda walaupun dia mampu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi"


"Sepeda dan mobil beda mas"


"Terserah kamu"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2