
Neeha ingin membantu Langit membuat sarapan.
"Mas Langit, yang lain aja deh syaratnya... Jangan harus bisa mengendarai sepeda"
"Apa lagi syarat yang bisa saya berikan?"
"Ya apa kek gitu Mas"
"Ngafalin buku tentang...."
Belum selesai Langit mengutarakan. Neeha memotongnya "Jangan deh Mas, jangan ngafal aku nggak bisa aku itu lemah banget di hafalan"
"Mmm masak..."
Lagi-lagi, belum selesai Langit berbicara, Neeha memotong ucapannya.
"Jangan Mas Langit, aku masih belajar buat masak"
Apa lagi, Meja riasnya juga sudah saya pesan Neeha. Tidak ada Gunanya mengganti syarat sekarang.
"Mas Langit?"
"Apa?" Langit menatap datar
"Mas Langit lagi mikirin apa?" Neha menebak "Mas Langit mikirin syarat susah lainnya ya?"
"Neeha, saya tidak habis pikir, mengapa sudah cukup lama belajar sepeda kok kamu masih belum bisa"
"Ya ampun Mas Langit, aku bahkan udah latihan di dekat kantor selama ada kesempatan" Neeha lalu berdiri dan mengangkat roknya.
"Kamu mau ngapain?"
"Mas Langit lihat Nih kalo nggak percaya, ini bukti kerja keras aku" Neeha memiliki banyak goresan di kakinya, yang diakui sebagai tanda usaha kerasnya dalam belajar sepeda.
...
Bel berbunyi....
"Cepat lihat sana Nee!” Langit menyuruh Neeha.
Neeha dengan malas melihat di layar digital.
Sekitar 3 orang laki-laki datang menunggu untuk dibukakan pintu.
Neeha segera berlari kembali pada Langit. Mentoel-toel tangan Langit. Langit yang sedang memakai sendok tangannya akhirnya meletakkan sendok kembali.
“Ada apa Neeha, itu siapa”
“Mas Langit ada 3 laki-laki depan pintu” Neeha terdengar cukup panik.
"3 laki-laki?"
"Iya Mas, tampang mereka cukup garang. Apa Mas Langit punya hutang?"
"Kok tiba-tiba nyinggung hutang"
"Iya, biasanya ini tu adegan debkolektor nagih uang ke peminjamnya"
"Mana ada, kalaupun ada pasti kamu penyebabnya"
"Terus gimana Mas?"
__ADS_1
"Ya sudah biar saya temui"
"Aku ikut, siapa tahu Mas Langit dipukul kan jadi aku bisa teriak"
"Saya lihat dulu siapa yang datang, kalau tidak kenal ya tidak usah kita bukakan pintu dan lapor polisi"
Langit lalu berjalan dengan Neeha bersembunyi di belakangnya. Neeha memegangi baju yang dipakai Langit sambil terus waspada.
"Kenapa kamu begini?"
"Gimana kalo mereka lompat ke pagar?"
Langkah Langit menjadi lebih lambat akibat ulah Neeha yang menarik bajunya. Bel itu terus berbunyi sementara ia tak juga mencapai pintu.
“Kalau kamu takut, pergi ke dapur lagi sana dan ambil centong sup buat mukul” Langit melepaskan tangan Neeha.
"Oke kalau gitu Mas Langit tunggu!"
Neeha segera kembali ke dapur dengan tergesa dan mengambil centong sup lalu kembali ke arah Langit mengikuti.
"Sudah jelas pagar dilengkapi sistem otomatis. Kalau ada yang lompat maka akan membuat bel bunyi"
"Semua butuh persiapan Mas Langit, gimana kalo mereka ternyata bisa mengelabui sistem yang ada"
"Terserah kamu saja" Langit tidak mau berdebat.
Saat melihat di layar digital, Langit langsung membuka gerbang otomatis dari dalam rumah. Ternyata orang itu tampak mengenal Langit dan masuk. Neeha yang sudah ambil ancang-ancang untuk memukul seperti pemain golf langsung terdiam.
3 Orang itu menatapnya aneh.
“Itu istri saya, lagi olahraga” Langit memberi isyarat pada Neeha.
“Iya saya sedang memikirkan bagaimana seorang pemain golf. Apakah mereka bisa bermain sambil juga memasak” Neeha masih mengayunkan centong itu dan tertawa canggung.
Langit keluar turun menemui Neeha. Meminta Neeha memesan 4 nasi goreng untuknya.
"Buat siapa Mas?"
"Buat saya dan 3 orang tadi. Karena saya nggak mungkin lagi buat sarapan"
“Tapi aku juga mau Mas.” Neeha tau Langit tak menghitung dirinya.
“Ya sudah pesan lima.” Langit berjalan kembali.
Neeha mendengar bunyi seperti memukul dan merekatkan. Tampaknya mereka sedang memasang sesuatu.
Neeha lalu merapikan meja dan sofa. Menunggu mereka selesai bekerja. Setelah semua keluar dari kamar, Neeha mempersilahkan mereka duduk.
Neeha meletakkan pesanan di depan mereka. Sementara pesanan Neeha adalah yang termahal dengan ukuran dua kali lipat. Ditambah juga Neeha memesan minuman yang ia letakkan di meja makan.
Ketiga orang itupun pamit.
Neeha memberikan kembalian uang pada Langit. Neeha berjalan ke dapur mengambil minumannya di meja makan.
Saat lagi asyik seruput minuman segar rasa Melon. Langit datang dan merebut minuman itu dari tangan Neeha. Neeha yang masih ingin minum, mencoba meraihnya tapi ia tidak cukup gesit dan Langit bisa sat-set sat set
“Mas Langit balikin, isinya masih banyak.” Neeha masih menatap minuman itu.
“Apa ini rasa yang kamu sukai?.” Langit melihat Neeha yang matanya tak lepas dari minuman yang ia rebut.
Neeha mengangguk-angguk sambil mencoba untuk meraihnya. Tapi tak bisa, percuma saja, fisiknya yang tak lihai olahraga tidak bisa menjangkau saat Langit berjinjit dan menghindar.
__ADS_1
“Bagus ya, kamu pesan minuman mahal dan ukuran besar, Kamu juga pesan Nasi goreng dengan varian beda kan?" Langit menyeruput minuman dengan sedotan bekas bibir Neeha.
“Mas Langit itu kan bekas bibir aku” Neeha memperlihatkan ekspresi tak suka.
“Rasanya terlalu manis” Langit memberikannya kembali pada Neeha.
Neeha mengeluarkan dan membalik sedotannya. Neeha lalu kembali menyeruput minuman yang ia sukai itu.
Langit hanya tersenyum melihat kelakuan Neeha. Setelah Neeha menghabiskan semua isi minuman dan membereskan ke tempat sampah, barulah Langit mengucapkan sesuatu yang membuat Neeha kesal.
“Kalau kamu tahu, setelah sendok dibalik maka bekas saya akan tercampur pada seluruh isinya pasti kamu senang” Langit menjahilinya.
“Ha, kenapa mas Langit baru bilang, udah habis lagi” Neeha mengusap kerongkongannya.
"Bukankah kita suami istri?. Meskipun tidak saling cinta"
"Bukankah kita juga harus punya batas? Meskipun tidak saling cinta" Neeha menekankan.
“Kamu sangat kekanakan"
"Biarin"
"Tadi kamu bilang apa?. Bermain sambil memasak. Itu bukan pemain golf profesional, tapi anak-anak. Cuma anak-anak yang main masak-masakan. Bisa main sambil masak” Langit mengejek kemampuan Neeha.
"Mas Langit kan yang nyuruh ambil centong. Mas Langit juga yang bilang aku lagi olahraga, kan aku nggak bisa mikir apapun kecuali pemain golf yang rada mirip"
Neeha sangat kesal, ia langsung naik ke kamar.
.....
Neeha membuka pintu, sebuah meja rias bewarna putih terletak mengisi kamar utama.
Neeha hampir tak percaya apa yang ia lihat. Neeha mengelus dan mengusap-usap meja rias itu beserta kursinya yang bisa memutar.
"Meja rias, apakah kamu untukku"
Lalu Neeha kembali ke meja makan bertanya mengenai meja rias pada Langit. Ternyata itu memang untuknya, membuat Neeha melompat kegirangan dan berterima kasih.
"Tapi aku masih belum mahir mengendarai sepeda Mas"
"Itu dia, saya pikir kamu sudah bisa di Minggu ini. Ternyata kemampuan kamu sangat dibawah rata-rata"
Neeha manyun "Ya mau gimana, kan aku udah usaha Mas. Nih, Mas Lihat nih!"
Neeha ingin mengangkat roknya lagi.
"Jangan diangkat lagi, saya sudah tahu"
Neeha kembali menurunkan roknya.
"Kalo gitu biarkan saja" ujar Langit.
"Beneran Mas?"
"Mmm, tapi kamu tetap harus giat berlatih!"
"Siap Mas" Neeha mengangkat tangan membentuk hormat sesaat.
Neeha masuk ke kamar merapikan meja rias, meletakkan make-up dan sebagainya. Kursinya bisa diputar sehingga Neeha berputar-putar menikmati pemberian suaminya itu.
Nggak nyangka Mas Langit tetap membelikan aku meja rias.
__ADS_1
Bersambung...