
Neeha mengunjungi Toko parfum kembali. Tidak seperti biasanya, Neeha tak berniat meracik parfum di tempat tersebut.
"Mbak Neeha mau ketemu aku?" Zizi berjalan menghampirinya.
"Iya, ini aku bawakan minuman. Lagipula parfum yang lama masih banyak"
Neeha melihat penampilan Zizi. Gadis muda itu tampaknya semakin dewasa, ditambah dengan nama di bajunya. Jabatan manajer sepertinya sudah dipegang Zizi.
"Selamat ya Zizi" ujar Neeha.
Awalnya Zizi bingung dengan ucapan selamat itu. Barulah ia sadar setelah Neeha memperjelas dengan senyuman usai melihat Name tag yang tersemat di bajunya.
"Oh terimakasih Mbak" Zizi menarik ujung rambutnya yang berantakan ke belakang telinga.
Tanpa banyak basa-basi Neeha langsung mengingatkan kembali pada Zizi. Bahwa Toko tersebut milik Ibu dari Aron, apapun yang terjadi ingatlah pesan Ibu pemilik toko.
"Zizi, kamu berhak memilih, untuk memihak siapa. Jangan sampai setelah Ibu meninggal. Toko ini di kelola oleh seorang yang bertentangan dengan Ibu!" Neeha mengusap bahu Zizi.
Rupanya Neeha tak mempermasalahkan Zizi memberitahu Aron tentang acara Camping. Ia hanya berharap Zizi tidak melupakan siapa dan apa yang harus ia lakukan.
Setelah Neeha pergi, tak terasa air mata Zizi jatuh tak henti-hentinya. Ia mengingat kembali dimasa ia diterima bekerja padahal usianya masih muda. Ia yang diajari step-by step karena memang punya potensi lebih. yang selalu melimpahkan curahan hati juga menerima curahan hati semasa sang pemilik masih hidup.
...************...
Sera menerima 2 buah amplop. yang satu berisi banyak sekali Cek yang berhak ia isi semaunya. dan yang satunya lagi berisi file terlarang yang harus ia masukkan ke bagian anak Perusahaan Rinto Grup tempatnya bekerja.
Ponselnya berdering beberapa kali, namun panggilan dari Lasmi tidak ia hiraukan. Di tempat yang jauh ini, Sera hanya sendirian tanpa ditemani oleh Lasmi.
"Jadi saya harus menjebak Neeha?" tanya Sera.
"Ini keuntungan bagi kamu. Laki-laki yang kamu suka akan kecewa pada Neeha" ujar pria berkacamata yang dengan jelas sengaja menyembunyikan identitas dirinya.
"Anda langsung to the poin saja rupanya. Bagaimana jika memperlihatkan pada siapa siapa anda dahulu!"
"Sepertinya tidak mungkin, saya hanya ingin membantu Anda. Atasan saya bisa memberi lebih banyak jika anda mau Nona Sera"
__ADS_1
"Nona Sera, Darimana anda Tahu saya ingin jadi Nona kaya. menyukai laki-laki yang naksir Neeha?" Sera berpura-pura memainkan rambutnya seolah tak paham.
"Anda tidak perlu tahu, silahkan terima ini dan lakukan apa yang harus dilakukan!"
Sera menutup dua amplop dan mendorongnya secara bersamaan ke hadapan Pria tersebut.
"Saya tidak akan melakukannya " ujar Sera.
"Anda bisa kaya raya dan memenuhi mimpi Anda. Silahkan bawa dulu dan pertimbangkan apa yang anda inginkan!" Si Pria berkacamata itu terus merayu.
"Saya mungkin tidak sebanding dengan Neeha. Apa yang jadi impian saya selalu ada padanya. Namun daridulu, saya tahu dia punya keunggulan dalam Perusahaan"
"Anda tahu bukan itu inti pertemuan kita Nona Sera"
Sera berdiri dari kursinya dan memukul meja. "Saya belum selesai bicara !. Jangan coba-coba meminta saya melakukan hal murahan ini!.
Sera berjalan pergi, sebelumnya ia habiskan dahulu minuman yang ia pesan " Biar saya bayar sendiri minuman ini" Tak jauh dari meja ia berbalik lagi, "Saya tidak akan mengambil simpati dari laki-laki yang saya cintai"
Dasar, apa dia pikir aku akan tergiur dengan Uang dan trik murahan itu?. gumam Sera sepanjang jalan keluar restoran.
Sera akhirnya diajak Jordi bertemu di sebuah Kafe. Seusai menjelaskan situasi pada Lasmi barulah Sera bisa duduk dengan tenang.
Seusai memilih menu, Sera meneguk air putih di gelas. Ia meminumnya hingga habis, yang membuat Jordi memanggil pelayan Kafe menambah minumannya.
"Jordi, kok tumben kamu ajakin aku makan. Biasanya kamu selalu nolak"
Jordi mengetuk meja di tempat mereka duduk dengan jarinya. Ketukan itu membuat irama bergantian ikut alur pikiran yang ingin dilontarkan Jordi.
"Saya sepertinya memang harus merelakan Neeha dan mencari wanita lainnya."
Mata Sera membesar mendengar ucapan Jordi. Itu artinya, ia semakin punya kesempatan.
Rupanya sebelum Sera mendapatkan tawaran. Jordi juga pernah didatangi secara diam-diam dan diminta melakukan pekerjaan kotor.
Jordi pun menolak sama seperti Sera. Melihat Sera yang selama ini selalu bersikap menyebalkan tapi tetap memilih jalan yang benar membuat Jordi kagum.
__ADS_1
Pelayan menghidangkan Desert Kue coklat lumer lembut dengan krim pasta di hadapan Sera. Serta Kue Vanila susu biasa di hadapan Jordi. Minuman bewarna Coklat untuk Jordi dan Minuman bewarna putih untuk Sera.
Perpaduan makanan Coklat dan putih itu mengehentikan pembicaraan mereka sejenak untuk mencicipinya.
Jordi menarik nafas, "Alasan saya karena takut dikambinghitamkan Sera. Orang seperti kita yang tak punya koneksi apapun. Lebih mudah untuk disingkirkan orang berkuasa"
"Itu benar Jordi" Sera mengangguk dan meminum minuman putihnya.
Neeha adalah putri dari Rinto Grup. Bagaimana juga tidak akan disentuh siapapun sebelum Tuan Rinto memberi izin terhadap putri kesayangannya.
"Kalau kamu?. Kenapa menolak?. Kamu dulu sering bersikap menyebalkan padahal" ujar Jordi.
Sera membersihkan mulutnya dengan tisu, "Walaupun aku sering menyebalkan, tapi Neeha tidak. Kadang mungkin juga Neeha membalas kami, aku dan Lasmi dengan bukti dan profesional kerja"
Sera tertawa sejenak mengingat betapa kesalnya ia dan Lasmi. Mereka berpikir Neeha masuk karena orang dalam. Dengan sengaja memancing senior lainnya membebankan tugas pada Neeha.
Setiap tugas tersebut justru mampu diselesaikan Neeha dengan baik. yang berakhir dengan Sera dan Lasmi menanggung malu.
Memikirkan masa lalu membuat Jordi ikut tertawa. Dahulu Jordi adalah pendukung Neeha seperti Aca.
"Sera, mari kita habiskan lebih banyak waktu untuk saling mengenal!"
Jordi hampir saja membuat Sera tersedak. Gadis itu membeku beberapa saat memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
Maksud Jordi adalah Pendekatan. Lebih sering bertemu agar bisa saling mengenal. Apakah Jordi benar-benar merasakan keberadaannya.
Sera memastikan, karena ia tahu apa yang disukai Jordi. "Tapi aku tidak cantik Jordi"
Jordi tersenyum, siapa sangka image baik yang tampilkan tetap tak menutup fakta siapa dia dan sifatnya.
"Saya memang sering melihat wanita dari tampangnya. Saya sadar itu kelemahan saya. Namun saya juga kadang temperamen, kamu kan sukanya...."
"Aku nggak masalah," Sera memotong ucapan Jordi.
Mereka lanjut menikmati hidangan manis-manis tersebut. Masih banyak waktu untuk pelan-pelan merubah kebiasaan buruk. Jika kita menyukai seseorang sepenuh hati, kita tidak akan tega menyakitinya.
__ADS_1
Bersambung....