
Langit baru saja selesai Mandi, Handuk melingkar di pinggangnya. Neeha menutup matanya yang sudah ternoda melihat tubuh sixpack suaminya.
Perasaan dia Dosen yang cuma ngajar di kelas. Kok perutnya bisa kayak anak gym begitu
"Bukannya kamu sudah lihat semua bagian tubuh saya. Ngapain pakai tutup mata segala?" Langit mengeringkan rambutnya.
"Iya aku kan masih punya etika Mass, siapa tahu kamu nggak mau ngeliatin tubuh kamu buat aku"
"Udah terlanjur kamu lihat juga" balas Langit.
"Ih Mass, malas aku debat. Aku juga mau mandi Mass"
"Kamu mau mandi?. Mau Saya yang bantuin?" tanya Langit dengan ekspresi datarnya menatap Neeha sendu.
"Hah, enggak Mass. Cuma mau mintak kamu gendong ke Kamar mandi aja. Selebihnya aku bisa sendiri"
"Tapi kaki kamu nggak bisa kena air"
"Aku cuma mau keramas Kok Mas. Kalau mandi ya Kayak waktu kaki aku dibalut perban sama Ajeng, aku mandi cuma dilap pakai kain basah saja"
"Ooh begitu"
Tanpa Ba Bi Bu, Langit menggendong Neeha ke kamar mandi. Baru saja Langit ingin membuka Laptopnya, sudah terdengar suara gedebuk dan teriakan Neeha.
"Mass Tolongin!"
Dengan segera Langit masuk kamar mandi. Tampak istrinya sudah telentang masuk bak mandi yang sudah kosong, tidak bisa bangun.
Kenapa bisa kaya gini dia. Wanita aneh, dibantuin gak mau.
"Kamu itu ceroboh sekali Nee"
"Yang namanya nggak sengaja jatuh mau gimana lagi Mas"
Akhirnya, Neeha selesai mandi. Ia mengganti pakaian tidur di kamar mandi, Ia malu kalau Langit menatapnya mengganti pakaian. Meskipun Langit sudah jelas tahu penampakan tubuhnya, tapi itu kan karena ketidaksengajaan.
Neeha meletakkan Kruk di samping ranjang. Ia sudah mengantuk tapi tidak mau tidur duluan. Ia harus memberitahu Langit perihal Jordi.
"Mass" Neeha menatap Suaminya yang sedang asik mengetik di Laptop.
"Ada apa?" Langit tidak bergeming, terus mengetik.
"Ada yang mau aku omongin, yang tadi gak jadi"
"Ooh ya sudah apa?"
"Kamu tutup Laptop kamu dulu dong Mass. Ini penting"
"Bilang saja, saya dengar kok. Lagipula saya harus segera menyelesaikan tugas saya malam ini juga"
Sabar Nee, Ini orang emang ngeselin. Ya udah kalau dia bilang bisa dengar ya dengar nih.
"Mas ingat nggak laki-laki yang waktu itu datang kesini, yang namanya Jordi"
Langit mengingat-ingat, hanya ada satu laki-laki yang datang ke rumah mereka " Laki-laki yang waktu itu narik kerah baju saya?"
"Iya Mas, yang itu"
__ADS_1
"Bukannya dia rekan kamu di kantor"
"Iya Mas rekan kerja, Departemen yang beda"
"Terus apa masalahnya, apa dia narik kerah baju juga di kantor?"
"Bukan Mas, bukan itu"
"Lalu apa?"
Jujur dan to the point aja deh. Daripada belibet
"Dia kayaknya suka sama aku Mass" Neeha melihat Langit, penasaran dengan reaksi suami kakunya itu.
"Terus?" Tampak Langit tidak terkejut bahkan tidak peduli sama sekali. Langit masih mengetik juga.
"Terus dia curiga pernikahan kita itu tanpa ada rasa"
"Kan memang benar"
"Tapi Mass, bukannya kita harus terlihat harmonis di depan orang lain"
"Iya, tapi Kalau kamu menjalin hubungan dengan dia. Bukankah itu bagus" ujar Langit.
"Bagus maksudnya?"
" Kamu jadi punya alasan untuk meminta berpisah"
"Mass, jangan anggap mudah aja dong. Kalaupun aku mau jatuh cinta dengan seseorang ya harus orang lain dan Orang lain itu bukan Jordi" Neeha berkata penuh penekanan.
"Memangnya dia kenapa?"
"Aku pernah punya mantan Pacar dengan sifat yang sama Mas. Jenis lelaki yang Toxic. Mungkin dia cinta sama aku. Tapi ketika dia kecewa, pasti dia akan membalaskan kekesalannya sama Aku Mas"
"Kamu pernah menjalin hubungan dengan Lelaki seperti Itu?. Apa kamu tidak pikir-pikir dulu Nee?"
"Kalau dulu ya aku masih muda Mass, aku pikir dia gak kayak gitu. Baru tahu juga karena dia melampiaskan kemarahannya sama aku"
"Kamu masih muda?. Umur berapa?"
"17 tahun"
"17 tahun sudah punya pacar?" Langit tak menyangka.
"Waktu itu kan lagi musim punya pacar pas Sweet Seventeen Mas"
Benar wanita aneh. Hanya karena musim di pacaran dengan sembarang Pria.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Kita putus Mas, untungnya dia nemuin seorang wanita yang bisa membuat dia berubah. Sekarang mereka tinggal di L.A setelah dia menjalani perawatan "
Neeha meminta Langit berjanji agar dapat membantu Neeha membuat Jordi mengerti pernikahan mereka dan menyerah. Langit terpaksa setuju karena Neeha tidak mau tidur dan terus mendesak Langit.
*****
Sekitar pukul 1 dini hari....
__ADS_1
Neeha terisak-isak.. Ia berusaha menahan suaranya agar tidak mengganggu Langit tidur.
Namun Langit terbangun dan segera menghidupkan lampu. "Kamu kenapa Nee?"
"Maaf Mas, aku udah berusaha nahan suara. Maaf ganggu kamu"
"Saya nggak papa , kamu kenapa?"
"Kaki aku Sakit Mass... hiks hiks" Neeha menangis menunjuk kakinya yang di gips itu.
"Pasti efek biusnya sudah hilang. Kata Dokter tadi sekitar 2 harian ini kamu mungkin harus menahannya !"
"2 hari Mas?" Neeha mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Iya, atau saya tanya Ajeng dulu apa ada obat penghilang rasa sakitnya"
"Takutnya nanti Ajeng keganggu Mas"
"Nggak apa-apa"
Langit mengambil ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidur. Ia memanggil Nomor Ajeng.
"Halo siapa nih?" Suara serak laki-laki yang terbangun dari tidur nyenyaknya mengangkat panggilan.
"Ini Gue"
"Gue siapa?. Gue Agung" celoteh Agung yang nyawanya belum terkumpul.
"Buruan kasih Ponselnya ke Ajeng!"
"Lo siapa Hah, nyari istri Gue?" Agung segera duduk dan menghidupkan Lampu.
"Siapa si yang?" Ajeng terbangun.
"Ini Gue Langit" Langit bersuara di ujung.
Agung melihat nama yang tertera. Memang benar nama Langit tertulis disana.
"Ngapain Lo nelpon istri gue?"
"Ada perlu, buruan!" Langit terdengar kesal.
Akhirnya Ajeng menjawab panggilan tersebut. Langit menghidupkan pengeras suaranya agar Neeha ikut mendengarkan.
Ajeng meminta Langit mencari cara agar Neeha teralihkan dari rasa sakit tersebut. Takutnya jika minum obat lainnya akan menimbulkan reaksi dengan obat yang sudah diresepkan dokter Rumah sakit universitas yang mengobati Neeha.
Langit menutup panggilan. Ia melihat Neeha "Kamu mau makan Nee?"
"Makan?" Neeha melihat Langit aneh.
"Iya atau kamu mau dengar cerita?. Kamu harus teralihkan sementara"
" Nggak usah Mass, aku bisa tahan Kok"
Tetapi, Langit sudah bersiap bercerita. Karena Ia adalah Dosen sejarah, Langit menceritakan tentang prasasti peninggalan kerajaan. Namun, baru setengah jalan, Neeha sudah terlelap.
Baru juga awalnya, udah tidur aja. Kasihan juga dia pasti merasa sakit luar biasa. Apalagi kata mamanya Dia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua kembali tertidur. Kamar yang sama, ranjang yang sama. Tidur, hanya Tidur.
Bersambung...