Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Vampir VS Kucing 1


__ADS_3

Neeha menekan tombol Pause dan memutar mundur dari terakhir ia menontonnya tadi. Saat kebahagiaannya berlangsung sesaat.


Neeha melihat layar kaca itu, namun ia terganggu dengan kehadiran Langit. Meskipun lelaki itu tak bicara sepatah kata.


"Mas Langit mau ikutan nonton?"


"Saya mau duduk disini saja memangnya tidak boleh?"


"Boleh Mas, nikmatin aja waktunya Mas Langit"


Tak berapa lama, Neeha bertanya lagi, "Mas Langit serius mau duduk aja nggak ngapa-ngapain?. Aku bisa mutar ulang dari awal kok Mas"


"Nggak usah, lagipula saya tidak suka film romantis. Bagusnya film klasik dan tentang sejarah...Kalau kamu.."


"Aja oke aku tahu Mas Langit suka film klasik dan bertema sejarah. Nggak usah Mas Langit perjelas lagi!"


Neeha berdiri.


"Kamu mau kemana?"


"Mau nambah air Mas" Neeha mengambil cangkir miliknya.


"Sekalian tambah punya saya!" Langit memberikan cangkir miliknya.


"Tapi airnya Mas Langit belum habis"


"Airnya sudah dingin, ganti dengan air panas!"


"Oke" Neeha mengambil cangkir itu dengan terpaksa.


Neeha mengisi air biasa untuknya dan mengisi air panas untuk Langit.


Mas Langit, kamu nyuruh-nyuruh aku Mas. Memangnya kamu majikan aku apa?


Neeha meletakkan dua cangkir pasangan di meja hadapan mereka.


"Neeha"


"Apa Mas?"


"Itu paket dari rekan kantor kamu, Ser" Langit menunjuk paket yang ia bawa dan letakkan di dekat rak sepatu.


Neeha mengambil paket itu dan membukanya. Ucapan terimakasih atas penolakan perjalanan bisnis. Sebuah botol dengan lambang vitamin belahan jiwa.


"Vitamin belahan jiwa?"


"Apa isinya Nee?"


"Vitamin Mas"


"Kamu letakkan saja di meja makan Neeha. Mungkin mereka juga khawatir dengan kesehatan kamu"


Mas Langit nyuruh aku jalan lagi?. Oke Neeha ini karena kamu juga


Neeha meletakkan vitamin itu di meja makan. Ia berjalan sambil memainkan kaki dan kembali duduk di sofa.


Langit mengatur nafasnya, Ia melihat televisi tapi tidak bisa fokus. Mata liarnya selalu melirik ke arah tempat yang salah. Langit mau bertanya tapi ia harus memikirkan kata-kata dahulu.


Saya adalah suaminya, wajar saja kan jika saya harus tahu apa maksud ia berpakaian begitu.


"Saya mau bertanya?" Langit menatap Neeha.

__ADS_1


Neeha melihat Langit, "Nanya apaan Mas?"


"Apa pakaian kamu biasanya Kucing begini?"


Aduh saya jadi salah ngomong kan


Langit salah bicara karena melihat bando kucing di kepala Neeha.


"Kucing?" Neeha kebingungan.


"Maaf, maksud saya apa kamu biasanya berpakaian seperti ini?"


Neeha melihat pakaiannya, sadar dengan apa yang ia pakai Neeha langsung menutupi dadanya. Neeha bahkan mengambil handuk Langit tadi dan meletakkannya di dada.


"Maksud mas Langit apa" Neeha mencoba untuk tidak panik.


"Saya hanya bertanya Nee..."


"Dasar mesum," potong Neeha.


"Mesum?. saya tidak bicara hal yang mesum"


"Itu tadi"


"Makanya dengarkan sampai selesai. Saya hanya bertanya Neeha. Kalau saya mesum itu karena kamu yang memancing kan"


"Aku memancing apa Mas, ini bukan danau"


"Terserah kamu saja, tapi Neeha, bahu kamu cukup indah, apa kamu mau menggoda dan merayu saya ?"


"Enggak kok. Karena aku pikir mas Langit gak pulang, lagian cuaca juga lagi panas" Jawab Neeha.


"Itu apa?" Langit menunjuk AC.


"Aku kan mau" Neeha ragu-ragu.


Kalau bilang biar hemat listrik pasti dia makin gak percaya. Apa aku bilang aja tadi mati lampu. Tapi kenapa aku ngidupin TV kalau Mati lampu.


Setelah lama berpikir, "Mas Langit, aku kepanasan, aku pikir sayang aja pakai AC, bagusan pakai Kipas angin aja" Neeha menunjuk kipas anginnya yang tak bersalah.


"Terus?" Langit menunggu kelanjutannya.


"Terus karena Mas Langit juga nggak pulang ya aku pakai baju yang sekiranya nyaman aja. Aku juga sekalian mau tes bando kucing ini, ternyata aku yang pakai bagus banget Mas"


Lebih baik jujur aja kan


"Iya benar, kamu yang pakai jadi kayak badut"


Padahal sudah jelas tadi Langit memuji bahwa Neeha cantik, lucu dan seksi. Malu-malu mau ngaku ih. Ngakunya Langit hanya saat ia tidak sadar dan merespon secara natural saja.


Mas Langit, mulutnya pedes amat kaya cabe.


" Apa kamu menyembunyikan seorang Lelaki Neeha?" Langit, tiba-tiba dengan pikirannya yang Absurd. Mencoba beralih dari kebohongan yang ia buat.


"Mas Langit, otaknya Mas Langit pintar apa bodoh sih. Memangnya aku wanita seperti itu apa?" Neeha berubah marah


"Oke saya minta maaf"


"Aku kan emang mau begini, biasanya aku di rumah begini kok?" Neeha menjelaskan secara sukarela.


"Memangnya tidak ada lelaki di rumah kamu dulu?"

__ADS_1


"Ada Kok Papa"


Langit menggeleng, "Selain Papa"


"Satpam?" Mereka jadi main tebak-tebakan.


"Satpam juga melihat kamu berpakaian begini?"


"Satpam nggak pernah masuk ke ruang utama, cuma ada asisten yang disewa Mama"


"Asisten lelaki?"


"Biasanya Mama cuma nyewa asisten wanita Mas"


"Ooh begitu" Langit manggut-manggut.


"eh kenapa Mas Langit jadi interogasi aku sih" Neeha menatap Langit masih marah.


"Saya hanya bertanya"


"Bertanya kok banyak banget?"


"Kamu tidak malu berpakaian begitu?"


"Kalau pakaian aku begini terus kenapa Mas. Memangnya mas Langit tertarik?"Neeha dengan nada bercanda berniat mencandai Langit.


Apa dia bisa dibuktikan dengan hal ini. Kan sudah terlanjur juga, aku pakai pakaian yang salah. Aca bilang aku harus buktiin, apa ini bisa disebut sebagai cara membuktikannya ya


"Saya tidak tertarik" imbuh Langit dingin.


"Oh yaudah"


Tuh kan, Mas Langit sama sekali nggak tertarik. Jangankan pakaian begini, setelah melihat tubuhku pun Mas Langit biasa saja


"Tapi kamu tahu, jika kamu menginginkannya saya bisa memberikannya pada kamu secara gratis" Langit balik menyerang Neeha.


"Apa yang gratis ?" Neeha bertanya.


"Apapun yang mau kamu minta, toh saya gak rugi kan" Langit tersenyum penuh makna tak terlihat sambil mengangkat tangannya tak peduli.


Neeha segera berdiri, tapi Langit menarik tangannya sehingga Neeha kembali terduduk. Langit mendekatkan wajahnya pada wajah Neeha membuat mereka bertatapan.


Jantung Neeha berdebar begitu kencang. Entah sejak kapan, ia mulai merasakan bahwa Langit begitu mempesona di matanya.


Neeha mencoba berdiri, namun tenaganya tak sebanding dengan Langit yang menahannya.


"Kamu tahu, pakaian kamu ini mengatakan kalau kamu mau digigit" Langit tersenyum datar.


"Digigit?" Neeha masih mencoba melepaskan tangan Langit.


"Bahu mulus kamu minta di gigit kan?" Langit tersenyum lebih sumringah sambil melihat Bahu Neeha yang terbuka.


Neeha berhasil melepaskan tangan Langit. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju kamar sambil berucap "Dasar VAMPIR"


Langit mendengar Ucapan Neeha. "Saya memang VAMPIR, tapi hanya buat kamu" Langit setengah teriak.


Dasar Bodoh memang otak kamu kecil ya Nee, sejak kapan Vampir suka bahu, Vampir itu sukanya leher. Tapi garis lehernya juga cukup indah.


Langit menepuk mulutnya sendiri. Tak sadar ucapan mesum yang ia tujukan pada Neeha. Langit menyadarkan dirinya tidak boleh tergoda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2