
Di perjalanan pulang, Neeha terus membayangkan bibirnya yang beradu dengan bibir Langit. Sambil terus menyentuh bibirnya, Neeha merasakan kehangatan dan kenyal-kenyal yang tadi ia rasa.
Langit melihat Neeha sekilas, "Apa ciuman saya begitu berkesan Nee?"
Neeha mengangguk dan tersenyum. Namun ia sadar tak boleh seperti itu, harus tahu mengapa Langit melakukannya tanpa perencanaan.
"Maksud Mas Langit tadi apa?"
"Maksud saya yang mana?. Ooh ciuman tadi?"
"Iya Mas."Jangan pura-pura nggak terjadi apa-apa ya Mas"
"Loh saya nggak pura-pura seolah itu tidak terjadi Neeha. Kan saya duluan yang bertanya apakah ciuman saya berkesan atau tidak" Langit menahan senyum.
Aduuh kok jadi aku yang linglung sih. Kenapa Mas Langit jadi banyak omong.
"Nggak berkesan" jawabnya ketus.
"Mmm yasudah kalau begitu"
"Mas Langit nggak mau ngejelasin dulu?"
"Kan saya sudah bilang, itu sebagai ganti yang waktu itu. Kamu pernah marah kan karena saya..."
Neeha memotong ucapan Langit "Tapi kan itu udah lama Mas"
"Ya terus apa kamu mau saya mengembalikannya lagi?"
"Mengembalikan?. Pasti mau cium aku lagi kan. Jangan pikir aku nggak tahu ya Mas. Cari kesempatan dalam kesempitan kamu Mas. Nggak usah Mas, nggak perlu"
Siapa yang bilang begitu Neeha. Kamu terlalu pede. Tapi saya nggak mau dia nanti ngambek gara-gara saya menggodanya.
"Yasudah kalau begitu. Maaf saya mencium kamu tiba-tiba. Lagipula, kamu benar-benar tidak tahu cara berciuman ya Nee. Saya mungkin akan benar-benar percaya bahwa ciuman pertama kamu mungkin dengan saya" Kali ini Langit masuk ke tahap Nyengir.
Kalau nyindir Mas Langit jadi jago ngomong ya.
"Enggak kok Si siapa bilang. Aku pernah kok kan aku udah bilang. Pernah ciuman sama mantan aku" Nada Neeha meninggi dan terdengar agak gugup.
"Yasudah kalo begitu"
Ishh dasar Mas Langit monoton, daritadi yasudah, yasudah melulu.
"Tapi Neeha, apa kamu tidak berterima kasih secara Triple pada saya?"
"Buat apa Mas?".
"Ya buat ciuman tadi".
"Kenapa aku harus bilang makasihnya Triple Mas, kalo Mas mau aku bilang makasih ya udah Makasih" Neeha berkata judes.
Neeha lama memandangi suasana malam di tepi jalan. Juga kendaraan lainnya dengan berbagai jenis dan ukuran.
Karena begitu hening, Neeha menemukan ide "Gimana kalau kita nyetel lagu Mas?"
"Ciuman itu bukan hanya untuk satu orang" Langit berbicara setelah sekian lama terdiam.
Neeha tidak jadi menyambungkan Ponselnya dan menyetel lagu.
"Ooh iya, buat Azkal dan Jordi ya Mas, ya udah deh Doble makasih deh buat Mas Langit"
"Triple!!"
"Emang siapa lagi Mas? kan cuma buat mereka aja"
"Itu yang anak pemilik toko parfum tadi"
"Pak Aron?"
__ADS_1
" Iya"
"Dia nggak masuk Mas"
"Bukannya dia bilang berhutang Budi"
"Dia cuma berterima kasih kepada orang yang membantu toko ibunya Kok Mas"
"Dia hutang budi Nee"
"Oke Mas Langit, hutang Budi. Terserah dialah Mas, mau hutang budi atau tidak"
"Neeha, otak kecil kamu sepertinya belum paham. Ucapannya itu memang ditujukan buat kamu Nee. Tadi kalian sempat saling beradu pandang kan?"
"Ya terus kenapa Mas,?. Dia beradu pandang dengan semua orang kok"
"Rasa balas budi itu beda tipis dengan cinta Nee"
"Kok bisa gitu Mas?" Neeha bingung.
"Sama seperti saya yang sempat memiliki balas budi dengan Michele, yang membuat saya mencintainya dahulu"
Mendengar Langit menyebutkan nama Michele dengan tenang. "Lah itu Mas Langit yang nyebut namanya bukan aku ya"
"Iya memang saya, bukannya saya sudah bilang tidak akan terganggu lagi dengan Michele"
"Ooh gitu. Tapi kenapa bisa sama Mas?"
"Kalau dia merasa balas budi apalagi begitu lama pastinya itu bisa berkembang menjadi cinta"
"Kalau balas Budi dengan cinta itu dua hal yang sangat berbeda Mas. Balas Budi hanya sekedar perasaan berterima kasih, kalau cinta diiringi dengan perasaan sayang" Neeha merasa kesal.
"Kok nada bicara kamu jadi begitu Neeha?. Kamu marah?"
"Enggak kok"
"Maaf saya bilang otak kamu kecil. Itu hanya perumpamaan saja"
"Terus apa?".
"Mas Langit ngapain nyinggung si Michele itu?"
"Hanya perumpamaan saja Nee"
"Hah perumpamaan lagi" Neeha makin kesal. alesan
"Ya sudah maaf, sebaiknya kita jangan berdebat Neeha"
"Aku nggak mau berdebat kok. Aku cuma malas aja disamakan dengan Michele dan Mas Langit dahulu. Apa Mas Langit mau aku dan Pak Aron tadi jatuh cinta, apa Mas Langit mau aku berbuat hal yang sama ke Pak Aron"
Wah sudah mulai nih, Kamu ini mudah sekali merasa kesal dan marah Neeha. Sangat kekanakan.
Mendengar nama Michele membuat Neeha merasa aneh. Ada perasaan kesal di dadanya meskipun tidak pernah saling bertemu. Mungkin karena terbawa cerita tentang bagaimana sikap Michele pada Langit.
Langit memberhentikan mobilnya pada sebuah restoran di pinggir jalan di dekat sungai yang begitu dingin. Sudah terdengar suara riuh bahkan sebelum mereka memasukinya.
"Ini tempat apa Mas?"
"Tempat makan"
"Ngapain kita disini Mas??"
"Tempat ini cukup seru Neeha, sering mengadakan acara Game " Langit mendekat
"Mas Langit mau ngapain?"
"Mau memasangkan Jas dengan benar"
__ADS_1
"Mas Langit mau ngambil Jas milik Mas Langit?" Neeha segera melepaskan jas itu dari bahunya.
Dasar, nggak peka, disini dingin malah minta jasnya disini.
Langit memasangkan kembali Jas itu di tubuh Neeha. Tidak sekedar diletakkannya di bahu Neeha saja, tapi memakaikannya.
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu Neeha, Saya tidak Setega itu untuk melepaskan jas dari tubuh kamu yang memiliki kulit lebih tipis dari saya"
"ooo" Neeha mulai menahan senyum.
"Neeha, lain kali jangan pernah memakai gaun seperti ini keluar!"
"Kenapa Mas, cantik Kok. Aku dengar tadi Mas Langit muji aku sangat cantik di butik"
"Jadi kamu mendengarnya"
"Enggaklah"
"Terus kamu tahu dari mana?"
"Ya aku lihat bibir Mas Langit ngomong hal yang berbeda dari Mmm bagus juga, ya pasti itu kan ?"
Pede sekali kamu Nee
"Ya sudah ayo kita Masuk!" Langit meraih tangan Neeha.
"Eh mas Langit belum bilang kenapa aku nggak boleh Makai gaun kaya gini lagi!"
"Takut nanti leher kamu digigit Vampir"
Hah mana ada vampir Sih Mas
Setelah mereka masuk. Tempat makan itu dipenuhi dengan acara Game. Kini bahkan diadakan game khusus untuk pasangan karena banyaknya pasangan yang hadir pada hari itu.
"Ayo kita ikut Mas!" Neeha antusias.
"Saya ajak kamu kesini buat nonton bukan ikut berpartisipasi"
"Tapi keren Mas, yang menang dapat bungkusan makanan dari restoran ini"
Akhirnya, karena terus didesak oleh Neeha. Langit mau tidak mau harus ikut.
Game itu hanya dibagi 3, yang pertama adalah pengetahuan tentang pasangan. Karena sudah saling mengetahui, Neeha dan Langit lolos yang membuat Neeha jingkrak-jingkrak kesenangan.
"Pokoknya yang kedua kita juga harus menang Mas!"
"Saya tidak janji Nee"
"Kita harus bisa Mas!"
Game kedua adalah memakan stik coklat dengan pasangan. Langit ingin berhenti saat bibirnya hampir menyatu dengan Neeha. Namun hasrat ingin menang dari Neeha membuatnya melupakan rasa grogi, Bibir mereka menyatu membuat potongan stik coklat terkecil.
Mereka juga lolos di game kedua. Riuh penonton yang bergembira serta Neeha yang seperti anak kecil memenangkan lomba membuat acara itu begitu heboh dari biasanya.
Kebetulan pemenang akhir adalah pasangan yang sudah menikah. Neeha dan Langit serta pasangan lainnya, seorang lelaki berotot bak binaragawan dengan istrinya.
Game terakhir adalah yang paling lama menggendong istrinya.
"Neeha sebaiknya kita menyerah sekarang. Orang pintar selalu tahu kapan waktu menyerah"
"Aku nggak begitu pintar Mas, mari kita berjuang sampai akhir"
.....
"Neeha saya nggak kuat" Langit sudah meneteskan keringat.
Sementara lawan mereka yang seorang binaragawan tak bergeming sama sekali. Karena sudah tak bisa lagi menggendong Neeha, sampai tangan dan kaki Langit bergetar. Neeha diturunkan, membuat mereka menjadi nomor dua.
__ADS_1
Mereka mendapat kotak yg isinya bando kucing. Neeha tidak jadi kesal karena bando itu begitu imut dan sesuai dengan obsesi kucingnya.
Bersambung....