
Neeha masuk ke dalam kamar tamu. Dimana ia akan tidur?. Apakah di atas tumpukan tas-tasnya yang bermerek?
Kreeeuuukk... drrrr
Ternyata Perut Neeha memang meminta untuk diisi. saking semangatnya menemui Langit usai bertemu Papanya saat jam makan siang, Neeha sendiri sampai lupa makan siang.
Oke aku makan dulu, tidur mah urusan nanti. Aku nggak ngebuat-buat kalau lapar, tapi emang sejatinya aku beneran lapar.
Neeha menghabiskan dua porsi nasi sup yang ditolak Langit karena pengakuannya yang tiba-tiba. Ia lalu mandi dan mengganti Pakaiannya dengan pakaian bermerek yang datang bersamaan dengan tas-tas kesayangannya.
Pakai ini aja kali ya, Mas Langit juga nggak akan ngelihat aku. Mungkin dia bakal ngehindar, lihat saja besok.
Sementara itu, barusan Langit mendapat berita bahwa Michele akan kembali. Desas desus dan rumor yang beredar bahwa ia menjadi salah satu pengurus pameran museum mewah yang bekerjasama dengan universitas tempatnya mengajar.
Langit mengusap kepalanya "Kenapa, kenapa sekarang?" sakit kepala karena berita mendadak lainnya membuatnya stress.
Langit mematikan ponselnya karena Agung juga beberapa teman seangkatannya mulai memberikan panggilan beruntun.
Saya sudah menikah, saya tidak mencintainya. Apa kaitannya dengan saya?.
Langit kembali mengingat wajah Neeha pada saat ini. Apalagi pengakuan Neeha yang begitu tiba-tiba.
Akhirnya ia turun, mengendap-endap memperhatikan Neeha di sekitar. Ia melihat dua bungkus sup yang sudah ludes.
Dia menghabiskan semuanya?. Sungguh tidak dapat ditebak bahkan setelah membuat pengakuan yang membuat saya stress. Neeha-Neeha, tapi dia sedang apa?. Pasti sedang mandi. Apa peduli saya, mau dia mandi atau langsung tidur atau mau begadang sampai besok pun.
Langit membuka kulkas, hanya ada beberapa minuman dingin. Ia membuka lemari untuk mencari bubuk kopi kesukaannya. Hingga ia melihat bungkusan teh herbal yang dibawakan Ibunya.
Ayah bilang ini bisa membuat tenang dan mengendalikan stress yang datang tiba-tiba.
Langit menyeduh dan meminum teh racikan Ayahnya tersebut. Sampai tegukan terakhir, Neeha keluar kamar karena tidak bisa tidur dalam keadaan ruangan yang sumpek banyak tas.
"Mas Langit?"
Langit diam dan berjalan menaiki tangga. Ia bahkan tidak menganggap istrinya ada yang tengah memandanginya.
Dasar kakuuu, kayak perempuan aja kalau nggak senang, marah. Semarah itu ya Mas kamu dengar pengakuan aku sampai diam begitu.
Neeha duduk di sofa menghidupkan Televisi dengan suara yang keras. Berharap bisa mengganggu Langit.
Hingga beberapa saat, Langit kembali turun dengan keadaan baju tidur yang urakan.
"Mas Langit?" Neeha tergagap dan berdiri.
__ADS_1
Ia pikir suaminya marah karena suara TV. Ia menurunkan volumenya. Tetapi Langit tidak menghiraukan dan justru mengubah Suhu AC menjadi lebih dingin.
"Mas Langit mau aku kena hipotermia?" Neeha merebut remote AC dan menjadikan suhunya seperti biasanya.
"Neeha saya merasa sangat panas, AC di kamar sepertinya rusak" Langit ngos-ngosan.
"Hah? rusak?" Neeha mengecek ke kamar, ia terkejut dengan suhu AC. "Mas Langit mau mati kedinginan ya?"
Langit sudah berada di pintu usai Neeha menurunkan Suhu AC kamar. Langit mendekati Neeha terengah-engah.
"Neeha mengapa kamu begitu seksi?" tanya Langit mendekat.
Langit menarik pakaian Neeha yang reflek mundur hingga lengannya sobek. Memperlihatkan bahunya yang indah.
Dasar baju murahan. Harga selangit kualitas jelek banget langsung sobek.
Langit mencium bahu Neeha, namun Neeha kesakitan, bahunya terkena Gigi Langit. "Aww Sakit Mas"
"Maaf Nee, sepertinya saya Stress berat, sayaaa" Langit mengurut Dadanya yang berdebar.
"Mas Langit sakit?" Neeha mendekat namun Langit menjauh.
"Jangan Nee, sebaiknya kamu pergi, turun dan kunci kamar. Jangan biarkan saya masuk, cepat!" perintah Langit.
"Kenapa Mas?. Kamu sakit? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa mas"
Neeha ingat perkataan Ibu Mertuanya. Neeha segera keluar dan berlari turun.
"Aaa" Situasi yang tidak tepat, justru Neeha terjatuh dan berteriak tanpa sengaja.
Langit kembali menemuinya, "Kamu nggak apa-apa Nee?" Langit berusaha mengendalikan diri karena melihat bahu Neeha.
"Mas lebih baik kamu beri pengalihan Mas, ramuan seperti itu biasanya akan membuat kamu penuh semangat"
Neeha meminta Langit olahraga, push up dan lari namun Masih belum bisa. L Neeha tetap tidak tega dengan suaminya, bagaimana jika Langit menurunkan suhu AC lagi, dan mati karena hipotermia. Ia tidak mampu melewati hari mengerikan tersebut.
Hingga, ia mengambilkan air menyiram wajah Langit. "Air tetap nggak manjur rupanya"
Neeha melihat vitamin yang diberikan Sera dan Lasmi di meja ketika ia meletakkan teko.
"Minum ini mas, khasiatnya bisa bikin merasa segar, sesegar serigala rimba" Neeha menyodorkannya pada Langit. "Tapi kenapa serigala merasa segar?" Neeha kebingungan sendiri dengan ilmunya yang tak seberapa.
Diluar dugaan, Langit justru tidak mampu mengendalikan diri. Ia tertatih dan menyuruh Neeha pergi karena ia tak kuat lagi. Neeha memapah suaminya ke kamar.
__ADS_1
"Neeha keluar !"saya tidak tahu apa yang salah dengan saya"
Nada suara Langit bergetar, ia menggenggam jemarinya kuat, matanya merah. Langit menurunkan suhu AC.
Kenapa Mas Langit makin parah. Apa vitamin ituu??
Neeha baru ingat kalau Sera bahkan tak meminta terimakasih. Pasti vitamin juga memiliki zat yang aneh.
Neeha begitu kasihan, yang ia tahu, jika Langit tidak melakukan apapun. Justru Langit bisa dalam bahaya.
Langit membuka pakaiannya karena merasa panas. Neeha merebut kembali remote AC dan merubah suhu.
"Neeha" kini bahkan suara Langit ikut bergetar. Bagian bawahnya terlihat Meneg***.
Neeha mengambil nafas, ia melepas bajunya yang sudah sobek, menyisakan sebuah tanktop tipis dan pakaian dalamnya.
Neeha menyibakkan rambutnya ke belakang. Memperlihatkan garis lehernya yang begitu indah. Ia mendorong Langit hingga ia berposisi di atas tubuh suaminya.
"Nee, saya tidak tahu apa yang salah?" Langit memandangi istrinya, "Leher yang indah" Langit mulai setengah sadar.
"Siapa wajah yang kamu lihat Mas?" tanya Neeha.
"Nee" gumam Langit pelan.
Neeha mencium bibir Langit, Langit perlahan melepaskan genggaman tangannya yang menyentuh kasur. Ciuman mereka begitu lama, karena Neeha tidak menahan nafasnya mereka menikmati ciuman tersebut.
Langit berhenti "Apa kamu menginginkannya?" tanya Langit.
"Aku bukannya menginginkannya Mas, aku tahu kamu belum membalas perasaanku" Neeha mulai berkaca-kaca.
"Silahkan keluar Nee, saya mohon, atau saya akan..." Langit menggenggam kasur melawan nafsu emosinya sendiri.
Neeha mengecup bibir Langit. Ia tersenyum dengan rasa dari hatinya.
Karena yang kamu lihat adalah aku, aku yakin kamu sebenarnya juga memiliki rasa Mas.
"Aku...... mengizinkan kamu melakukannya !" ujar Neeha berbisik di telinga Langit.
Bisikan Neeha membuat jiwa Langit makin terangsa**. Ia membalik posisi, membiarkan istrinya berada di bawah.
Langit Mencumbui leher Neeha begitu lama, menyisakan bekas merah yang begitu jelas. Neeha juga menerimanya karena tidak terpaksa. Ia mencintai suaminya.
Lalu kini mencumbui bibir dan seluruh inci dari tubuh istrinya. Tanpa kata, Selimut ditarik hingga menutupi tubuh mereka berdua. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan.
__ADS_1
Malam ini begitu panas, bagi mereka berdua. Malam ini, adalah malam pertama pernikahan mereka yang tertunda.
Bersambung.....