Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Kebersamaan Kita


__ADS_3

Neeha sengaja bangun lebih pagi. Rutinitas mereka yang monoton selama liburan adalah berolahraga di sekitaran lingkungan rumah.


Neeha bangun dari ranjangnya pelan-pelan. Ia harus memasak hari ini. Ketulusannya akan membuat Langit terkesima.


Saat membuka pintu Langit tampak merangkak menuju tangga.


"Mas Langit ngapain?".


"Saya?. Saya mau bangunin kamu. Soalnya kita mau olahraga kan"


"Kenapa Mas Langit terlihat seperti itu?" Neeha melihat suaminya dengan bingung sekaligus aneh.


"Saya ikut olahraga begini".


"Gaya baru ya Mas?"


"Mmmm"


"Terus kenapa guling ada disini?" Neeha menyentuh guling dengan kakinya tak jauh di depan pintu.


Guling tersebut terlempar secara tak sengaja karena Langit yang terkejut.


"Saya lempar barusan" ujar Langit berbohong.


"Mas Langit pasti tidur di depan pintu ya?" Neeha melihat suaminya dengan pandangan menyelidik.


"Tidak"


"Ya udah kalau gitu, aku masak dulu biar nanti kita nggak usah repot-repot masak" Neeha berjalan gontai sembari membuang guling ke dalam kamar.


"Eeh Nee, tidak usah. Biasanya juga kan kita beli"


"Kan itu karena aku males. Sekarang mah aku penuh semangat Mas"


"Kamu semangat saya enggak"


Terbayang telor dadar hangus dan masakan keasinan. terlalu hambar dan gagal total. Atau terluka dengan ceroboh. Itulah yang terjadi jika Neeha memasak sendiri tanpa pengawasan Langit.


"Mas Langit nggak mau ya" Neeha merubah ekspresinya kecewa


"Bukan begitu Nee"


Saya percaya beberapa orang ditakdirkan untuk tidak memasak seumur hidupnya. Saya yakin salah satu dari mereka adalah kamu Nee.


"Terus apa Mas, aku bahkan udah siap buat olahraga. Aku mau siapkan makanan biar kita .."


"Kita sekarang olahraga beda Nee. Takutnya tangan kamu kecapean" ujar Langit mengelak.


"Olahraga apa Mas, bukannya bersepeda. Aku kan udah lihai sepeda" Neeha menepuk dadanya bangga.


"Bukan, kamu tunggu saya ya. Biar saya buatkan minuman protein untuk kita"


Minuman siap, tetapi mereka tak kunjung berangkat. Ternyata Langit menyarankan agar mereka mandi dahulu dikarenakan tempatnya cukup jauh. Kalau tidak mandi takut menyebarkan aroma tidak sedap bagi pengunjung lainnya.


"Bukan arena tinju kan Mas?"


"Sejenis mungkin Nee. Kita jugabisa menguatkan tangan sekaligus kaki"


"Berenang ya Mas?".

__ADS_1


"Bukan"


Bilang aja langsung kenapa sih Mas. Bikin penasaran saja.


.......


Bersepeda menuju tempat tersebut. Neeha secara sukarela menawarkan diri. Ia duduk sembari memainkan jemarinya agar stang sepeda bisa tercengkeram dengan baik.


Langit duduk di boncengan memegang bagian belakang sepeda.


"Ayo Mas!"


"Ayo apa Nee. Saya kan sudah siap" Langit memastikan.


"Mas Langit pegangan kemana?"


Rupanya Langit masih saja lupa. Sejak Neeha memberitahukan perasaannya. Langit lebih suka berlari diiringi seoeda Neeha. Kini mereka berboncengan masa Langit memegang sepeda bukannya istri sendiri.


Neeha menarik tangan Langit agar memeluk pinggangnya. "Nah gini nih baru pas"


"Saya terpaksa" Gumam Langit


"Apa kamu bilang Mas?"


"Tidak ada" Langit tersenyum sumringah.


Setelah melewati jalanan yang cukup jauh bagi Neeha. Ia berhenti.


"Kenapa kamu berhenti?".


"Kalau diteruskan bisa-bisa kaki aku..."


"Nggak segitunya juga Mas" elak Neeha.


"Ya sudah biar saya saja yang bawa. Belum juga setengah perjalanan Nee"


Mereka berganti posisi. Neeha memeluk erat pinggang Langit. Menempelkan tubuhnya seperti lem pada suaminya tercinta.


...**********...


Rupanya tempat yang mereka kunjungi ini adalah untuk kegiatan panjang Tebing. Pantas saja Pakaian olahraga mereka sedikit berbeda.


Kalau tahu akan melakukan panjat tebing, Neeha pasti akan membuat berbagai alasan. Tujuannya agar semata tidak akan diajak ikut dan memasak saja di rumah menunggu Langit.


Namun bukan Neeha jika tak punya keluhan manja. "Aduuh, sayangnya aku lelah mengayuh sepeda..."


Neeha berniat duduk menonton saja. Ia perlahan menjauh sebelum ditarik Langit dan memasang tali pengaman bersama petugas disana.


"Mas Langit aku capek. kaki aku sakit"


"Nee, Jangan berlebihan!"


Mereka melakukan peregangan otot sesaat.


Saat Langit sudah berulang kali naik turun dan dengan mudah melakukan panjat tebing di arena. Neeha bahkan belum sampai di tengah-tengah.


"Jauh banget ini sumpah..."


Dia terengah-engah bahkan untuk memindahkan satu kaki saja. Akhirnya Neeha melepas pegangan dan terbaring ke matras yang disiapkan.

__ADS_1


"Susah...Ngapain kita manjat tebing. Manjat gunung aja sekalian!" ujar Neeha kesal.


"Lain kali saya ajak Mendaki gimana?" tanya Langit melihat Neeha yang terbaring.


"Mendaki??" Neeha syok bukan main.


"Saya sering mendaki dahulu"


"Nggak mau Mas, ini aja aku nggak sanggup Mas"


"Terus tadi kamu minta apa?" Langit balik menggoda Neeha.


"Cuma kesel aja Mas. Yaudah kalau gitu aku naik ini aja. Kalau aku berhasil sampai kita nggak akan mendaki gunung oke Mas. Oke .." Neeha bertanya dan menyetujui sepihak.


Namun sama seperti sebelumnya, kaki dan tangan Neeha terlalu berat. Langit tersenyum dan akhirnya mereka melakukan kegiatan tersebut bersama.


Neeha berpasrah diri pada Langit awalnya. Ia menatap pria tampan yang punya tubuh atletis karena rajin olahraga tersebut.


Namun karena diancam akan diajak mendaki gunung, Neeha langsung menjadi kuat. Walaupun harus tertatih, ia tetap berhasil mencapai puncak dan turun.


"Ah akhirnya.. kebersamaan kita membuahkan hasil Mas."


"Kalau saya tidak memegangi kamu, pasti kamu hanya sampai di tengah-tengah"


Langit pergi mengambil minuman yang sudah mereka bawa di sepeda. Neeha menunggu dengan duduk di bagian samping sembari menonton orang-orang yang semangat melakukan panjat tebing.


Seseorang tiba-tiba mendekatinya dan meminta nomor. Ia sangat terpesona dengan kecantikan Neeha, juga kecocokan mereka yang menyukai panjat tebing.


Langit datang dan menolak Pria tersebut. "Tidak lihat istri saya menunggu suaminya?"


Langit bahkan membuka sarung tangannya dan sarung tangan Neeha. Cincin pernikahan mereka yang berkilau terkena cahaya matahari membuat niat pria tersebut surut dan meminta maaf.


"Kalau Mas Langit cemburu, itu sangat lucu"


"Lucu darimana, makanya jangan suka berpakaian tipis Nee"


"Kan Mas Langit yang nyuruh" Neeha membalikkan pada Suaminya.


"Sebaiknya kita tak usah olahraga ini lagi"


Neeha menganggakat telunjuknya. "Kalau gitu aku bisa masak?"


"Masak juga sebaiknya saya Saja. Atau jika kamu benar-benar mau memasak, harus ada saya yang memgawasi. Anggaplah saya tak mau tangan kamu terluka oke !" Langit berubah serius.


Neeha mengangguk "Oke"


Beberapa saat kemudian Neeha tersadar. "Tunggu..."


"Apa lagi Nee?"


"Apa Mas Langit akan terus manggil aku Nee, apa Mas Langit mengakui kalau Mas Langit cemburu?. Cemburu itu tanda cinta Loh Mas"


"Apa yang kamu bicarakan, cepatlah minum!"


"Kenapa kamu nggak manggil lebih romantis lagi Mas?. Istriku misalnya?"


"Kalau nggak habis saya tinggal!" Langit berbalik pergi sembari menahan senyumnya dan mengatur nafas.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2