
Langit menaruh susu hangat di meja samping ranjang. Neeha meminum susu itu tapi belum sampai satu tegukan, Neeha mulai meneteskan air mata.
"Eeh eh kenapa kamu nangis?"
Langit mencoba susu hangat buatannya. "Rasanya enak kok?. Saya rasa takarannya pas"
"Bukan itu Mas"
"Terus apa?"
"Aku jadi ingat lagi Maas"
"Ingat apa?"
"Pemilik toko parfumnya..a a"
"Parfum yang kamu belikan untuk saya?"
Neeha mengangguk, setelah cukup tenang Neeha mulai bercerita. "Aku pernah dibikinin susu hangat juga sama Ibu itu"
"Terus kamu lupa bayar?"
"Dikasih Mas, gratis gak bayar"
"Ya terus?. Kamu membingungkan saya Nee"
Ngomong saja yang jelas. Kenapa pakai acara sedih segala
"Dulu aku cukup sering mengobrol dengannya Mas"
"Dengan Ibu pemilik toko parfum itu?" Langit membuat gerakan agar Neeha mengatur Nafas.
"Iya Mas, bahkan semenjak aku masih kuliah"
Neeha menerbangkan ingatan hangat bersama pemilik toko yang telah tiada itu. Sementara Langit mendengar sambil manggut-manggut.
"Mas Langit tahu nggak kalau toko parfum itu dulu, bahkan sempat mau tutup"
"Oh ya?" Langit berusaha terlihat memiliki ketertarikan dengan kisah Neeha dan pemilik toko meskipun sebenarnya dia tidak mau peduli sama sekali.
"Mm bener Mas, terus aku minta Papa buat kasih aku uang"
"Uang untuk?"
"Untuk ngeborong parfumnya. Walaupun Papa awalnya marah, tapi akhirnya Papa ketagihan dan minta aku nulis resep yang aku racik buat Papa. Mama juga" Neeha terlihat bahagia.
Tidak disangka walaupun Neeha manja tapi hatinya mulia juga.
"Mas Langit tahu nggak parfum sisanya aku kasih ke siapa?"
"Ke siapa?"
"Buat teman-teman kampus, sebagian dari mereka ada yang tertarik dan sebagian lagi nggak tertarik karena lebih mau parfum buatan luar negeri yang Brand Chaxxxl atau Gu*xx atau Bul*xx"
Saat mereka melakukan resepsi Si Ibu tidak datang karena sakiit.
"Ooh begitu"
"Aku ngerasa bersalah juga Mas, "
"Bersalah kenapa?"
"Aku nggak tahu kalau Ibu itu udah dimakamkan"
"Pasti dia punya alasan"
"Iya alasannya karena tidak mau mengganggu Minggu awal pernikahan kita Mas"
"Itu karena kamu juga nggak tahu kan. Jangan merasa bersalah"
Neeha mulai tersedu tapi ia berusaha menahannya.
" Jangan menangis!. Terus kamu mau gimana?" Langit menurunkan suaranya.
__ADS_1
"Datang ke tempat peristirahatan terakhirnya Mas" Neeha melihat Langit dengan wajah sendu.
"Ya sudah"
"Tapi Mas Langit harus ikut juga" Neeha membesarkan mata penuh keinginan.
"Kenapa saya juga ikut?" Langit tidak mengerti kenapa ia juga diharuskan untuk ikut meskipun ia tidak mengenal Si Ibu Pemilik toko.
"Aku akuuu" Neeha mulai mau menangis lagi
"Eh eh kok kamu nangis lagi?. Tahan!. Tahan! tarik nafas kamu dalam Neeha!"
Neeha menarik nafas, Ia mengontrol emosi kesedihannya. "Aku sempat bilang kalau mau ngenalin suami aku sama dia"
" Tapi kan kita nikahnya.." Langit tidak jadi meneruskan kalimatnya bahwa mereka menikah tanpa cinta.
"Mas Langit mau kan nemenin aku?"
"Hah?"
"Nemenin kesana, nggak besok kok, tapi sewaktu kita sama-sama ada waktu luang, waktu libur Mas " usul Neeha.
"Iya iya saya temani. Tapi kamu jangan nangis lagi!"
"Aku nggak nangis kok" Neeha mengusap pipinya.
Tapi kalau Mas Langit tiba-tiba nggak mau ikut gimana?. Nggak bisa nih
" Kalo gitu Mas Langit Janji !" Neeha menyodorkan jari kelingking
"Iya saya janji" Langit luluh karena Ia tidak mau mendengar suara tangisan atau suara ngik-ngik dari Neeha.
Namun suasana sendu haru biru itu hanya sesaat. Karena kini Neeha sudah terlelap di bahu Langit.
Langit mengusap wajah Neeha bekas air matanya. Beberapa saat yang lalu sedih, kini tidur lelap, suasana hati Neeha sangat cepat berubah.
Kamu Sangat kekanakan dan cengeng Neeha.
Neeha terbangun dan menyadari bahwa ia memeluk tubuh Langit erat. Neeha menatap wajah Langit, entah sejak kapan ia mulai merasa bahwa Langit memang sangat pengertian meskipun kadang sifatnya sulit ditebak dan mudah berubah.
"Ada apa?" Langit terbangun dan menatap istrinya.
"Eh enggak Mas" Neeha bangkit dan tanpa sengaja memukul dagu Langit dengan kepalanya.
"Aduh"
"Maaf Mas aku nggak sengaja" Neeha melihat dagu Langit tapi jarinya justru menusuk pipi Langit.
"Aduuh" sekali lagi Langit meringis.
"Maaf Mas aku lupa"
"Kamu ini tidak hati-hati Nee" Langit mengusap dagunya.
Neeha bangkit dan segera pergi mandi. Seperti biasa, mereka akan ke kantor dan ke kampus seusai sarapan bersama.
*****
"Hah?" Aca syok berat mendengar kabar tentang pemilik toko parfum itu.
"Iya Aca, aku juga baru tahu kemaren"
"Terus kamu mau ke pemakaman kapan Nee?"
"Pas Libur, aku kesana bareng Mas Langit aja"
"Ooh perihal kamu mau ngenalin"
"Iya Aca, aku tetap harus mengenalkan Mas Langit, terlepas dari kami menikah dengan atau tanpa cinta"
"Iya, aku juga harus menyesuaikan jadwal bareng Wili kalau mau kesana. Tapi aku usahakan secepatnya juga"
******
__ADS_1
Langit dan Neeha sampai di tempat Pemakaman Ibu pemilik toko.
"Aku datang Bu...Maaf nggak tahu dan baru datang sekarang"
Mereka menaburkan bunga dan wewangian. Lalu tak lupa Neeha mengenalkan Langit ketika akan pulang.
"Ini" Langit menyodorkan sapu tangan miliknya.
"Makasih Mas" Neeha mengusap wajahnya yang lembab.
"Kamu ini, air mata kamu mudah sekali jatuh"
"Kan ada istilah wanita itu ibarat air Mas"
"Kayaknya bukan berhubungan dengan mudah menangis atau tidak"
"Aku menangis karena ada alasannya juga Mas. Nggak sembarangan nangis aja"
"Ya sudah terserah kamu saja"
Saat berjalan Neeha tersenyum "Mas Langit"
"Mmm"
"Makasih loh Mas" Neeha merangkul lengan Langit.
"Buat apa?" Langit melepaskan tangan Neeha.
"Buat nemenin aku kesini"
"Iya kan saya sudah janji"
"Makasih lagi" Neeha berhenti berjalan dan tersenyum menatap Langit.
"Buat apa lagi?" Langit membuang nafas mulai kesal karena Neeha terus mengajaknya bicara.
"Buat ini" Neeha mengangkat kakinya yang memakai sepatu pemberian Langit.
"Ooh sepatu?" tanya Langit
Neeha mengangguk, ia terus berjalan membuktikan kekuatan sepatu pemberian Langit itu.
"Tapi bukannya itu sudah lama"
"Iya Mas, Karena pakai ini aku jadi nggak kerepotan lagi kalau lewat Medan yang sulit"
"Baguslah kalau gitu"
"Ya bagus, kalo bisa Mas Langit beli lagi yang..."
Langit memotong ucapan Neeha "Satu sudah cukup Nee, bukannya saya juga sudah membelikan sepatu olahraga"
"Iya nambah satu lagi juga boleh kali Mas"
"Dasar Boros" Langit berjalan cepat.
"Eh Mas Langit, tunggu!"
"Buruan nanti keburu gelap!"
"Gelap darimana Mas bahkan ini belum siang" Neeha berlari menyusul Langit.
***
Saat mereka berjalan pulang. Aron melihat mereka dari kejauhan.
"Dia wanita itu bukan?"
Aron membuka ponselnya, melihat foto Neeha. Iya, dia memang Neeha lebih dewasa dari yang terlihat di foto. Namun masih dengan aura yang sama, cerah dan bahagia.
"Ibu bagaimana cara saya bisa membalas jasanya Bu?" Aron tersenyum.
Bersambung....
__ADS_1