Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Rumah Mertua


__ADS_3

Pak Tejo membukakan pintu. Begitu antusias melihat anak majikannya yang sudah bawa gandengan alias istri setelah bertahun-tahun mirip mayat hidup tanpa gairah.


"Akhirnya kalian datang juga"


"Sehat Pak?" Langit berbasa-basi dahulu.


Kemudian mereka memasuki Rumah tergolong besar namun dengan gaya tradisional yang mengingatkan waktu pertama kali Neeha datang. Saat itu Ia begitu canggung hingga tidak menyadari indahnya rumah mertuanya ini.


"Aku nggak sadar Loh Mas gaya rumah ini begitu unik"


"Den Langit, Non Neeha silahkan masuk!" Bi Inah mempersilahkan mereka.


"Makasih ya Bi," ujar Neeha.


Sementara Langit langsung memeluk Bi Inah. Bertanya kabar dan bertukar rindu.


Selanjutnya Barulah Tuan dan Nyonya Sanjaya muncul dari dalam Rumah menyambut menantunya. Mereka bersama menuju ruang tamu.


Baru saja duduk, Tuan Sanjaya langsung memberikan janjinya mengenai uang pada Neeha. Mereka sudah membuat Deal tanpa BaBiBu dahulu.


Sebegitu percayanya Ayah mertua pada menantu perempuannya. Tuan Sanjaya bahkan tidak bertanya alasan lagi karena ia sudah rela memberikan apapun yang diminta menantu satu-satunya.


"Baru juga kita datang Yah" Langit geleng-geleng kepala melihat ayahnya yang antusias.


"Ini urusan ayah sama menantu Ayah!" Tuan Sanjaya mengeluarkan wajah seriusnya.


Apa Ayah dan Mas Langit marah karena uang ini?. Neeha menjadi kebingungan diantara mereka.


"Ayah nggak marah, memang mereka itu laki-laki kaku dan super serius Nee" Nyonya Sanjaya mencairkan kebekuan.


Iyasih, Ayah dan Mas Langit mirip kalau lagi ngomong santai dengan ekspresi serius dan kaku begini.


"Iya Bu, aku juga udah cukup terbiasa menghadapi Mas Langit" Neeha ketawa tipis.


"Bagus deh kalau begitu" Nyonya Sanjaya ikutan ketawa tipis, ia tahu bagaimana perasaan menantunya.


Bi Inah menghidangkan Jus buah segar dan potongan buah apel dengan tusukan lidi untuk merek. Memang terlihat bahwa keluarga Langit adalah tipe keluarga yang mencintai kesehatannya.


"Berapa lama kalian nginap disini?" tanya Nyonya Sanjaya.


"Sekitar 2 hari Bu, Aku sama Mas Langit menyiapkan jadwal yang kebetulan ada tanggal merahnya," jawab Neeha langsung.


"Yah sebentar saja dong" Nyonya Sanjaya sedikit kecewa.


"Saya harus ngajar dan Neeha harus bekerja Bu" tambah Langit.

__ADS_1


"Nggak apa-apa yang penting kalian sudah kesini. Ini juga pertama kalinya sejak kalian menikah kan Neeha kesini" Nyonya Sanjaya mengingat kembali.


"Ya Bu, karena Putra kita langsung bawa kabur istrinya ke rumah mereka sendiri Bu" Tuan Sanjaya mengeluarkan pendapatnya.


"Yah kan itu memang tempat tinggal kita, kenapa Ayah bilang kabur?" Langit tak terima.


"Sudah kalian jangan berdebat tentang hal kecil !" Nyonya Sanjaya segera bertindak.


"Neeha kamu harus maklum karena mereka melakukan hal tidak berguna itu karena perhatian satu sama lain"


"Iya Bu"


Baik Langit dan Ayahnya tidak mau mengakui. Neeha jadi ingat betapa bawelnya Langit dan mengatakan bahwa semua demi dirinya. Langit tiba-tiba marah nggak jelas juga mungkin karena perhatian padanya. Hanya saja emosinya terlihat lebih simpel dan susah dipahami oleh orang awam seperti dirinya.


Setelah membawa barang bawaan mereka ke kamar Langit. Nyonya Sanjaya ingin berbicara dengan Neeha berdua, Langit disuruh keluar sendiri menemani Ayahnya.


Langit hanya bisa menurut sambil mengusap tengkuknya. Akhirnya menemui sang Ayah di ruang tamu. Tentunya ia mendapat petatah petitih kembali.


Jangan sampai melukai perasaan menantunya. Lebih berusaha untuk mendapatkan keturunan juga.


****


"Nee, apa teh herbal yang waktu itu sudah kalian minum? Ibu bilang bagusnya Malam kan?" tanya Nyonya Sanjaya.


"Sepertinya kami belum menyentuh minuman itu Bu. Baik aku dan Mas Langit nggak terlalu suka ngeteh Bu. Kami Sama sama suka ngopi"


"Gitu ya Bu"


"Kamu mau tahu rahasia nggak?" Nyonya Sanjaya berbisik.


Ternyata teh itu mengandung zat perangsang. Mertuanya serius ingin segera menimang cucu.


"Gi gitu ya Bu, bukannya Ibu bilang itu buat bikin pikiran tenang dan mencegah Stress"


"Iya mencegah stres dengan hhhhh" Nyonya Sanjaya cekikikan dengan pikiran kotornya.


Hingga tak lama kemudian Bi Inah masuk dan bergabung. Bi Inah bagaikan Ibu kedua bagi Langit, makanya mereka sangat akrab. Sampai-sampai orang mengira Ayah Langit punya dua istri dan sukses membuat Pak Tejo suami Bi Inah ngambek.


Mereka menceritakan bagaimana Langit yang dulu. Langit yang mirip Ayahnya dan kadang kuno perihal kesehatan.


*****


Setelah Ibu mertua dan Bi Inah keluar. Neeha melihat sekeliling kamar Langit.


Banyak sekali koleksi buku sejarah. Gambar benda arkeologi. dan segala macam yang membuat kamar itu terlihat seperti bagian dari musium seni klasik dan retro.

__ADS_1


Langit masuk kamar dan menarik Neeha ke dinding. Neeha hanya bisa menatap suaminya kaget tak tahu apa yang terjadi.


"Ada apa Mas?"


"Kenapa kamu masih menerima uang dari Ayah?"


"Kan Ayah yang ngasih Mas"


"Cepat kembalikan lagi uangnya!"


"Enggak mau Mas"


"Kamu tahu tidak, Ayah bilang uang itu akan membuat semuanya mudah. Kita hanya perlu memberinya cucu, Ayah saya bahkan mengingatkan agar kita jangan sampai bercerr...BBB"


Neeha yang menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka langsung mencium bibir Langit. Hingga seseorang tak sengaja membuka pintu, Bi Inah segera pamit undur diri dan minta maaf mengganggu mereka.


Neeha melepaskan bibirnya, "Kamu lupa ngunci pintu ya Mas?"


"Saya lupa karena kebiasaan" Langit berjalan mengunci pintu.


"Aku tidur di ranjang Mas"


Langit ikut masuk ke selimut "Ini kan ranjang saya"


"Tapi Ibu nyuruh aku tidur disini"


"Seingat saya kita juga sudah lama tidur seranjang"


Langit kembali berdiri untuk mandi, ia berbalik dan mendekat pada wajah Neeha "Berapa kali harus saya jelaskan Nee, Kecupan dan ciuman itu berbeda, mau berapa lama pun bibir kita menempel jika tidak ada gerakan tetap saja itu kecupan, dan lagi jangan lupa bernafas santai jika berciuman, atau kamu akan kehabisan nafas saat menahannya"


Neeha terdiam membeku. Ekspresi yang sukses membuat Langit menampakkan giginya yang kinclong terlihat dari biasan cermin.


Langit bahkan bingung sendiri mengapa ia bisa tersenyum selebar ini sambil menyentuh bibirnya.


Neeha berjanji tak akan menyentuh uang tersebut jika Papanya sudah mengatasi semua Dana. Begitulah isi pesan yang dikirim Neeha pada Langit. Terlalu lama menunggu Langit mandi ia keburu mengantuk.


Langit melihat posisi Neeha sudah miring-miring. Namun sepertinya Neeha tidak tidur, matanya seolah ditekan.


Melihat Neeha yang berusaha memejamkan matanya. Langit merasa kasihan sekaligus berniat menggoda istrinya. Namun hal itu ia urungkan.


Bilang saja kalau kamu tidak bisa membantah ucapan saya Neeha.


"Kalau tidak bisa tidur jangan pura-pura tidur, saya nggak akan bahas apapun"


Mendengar ucapan Langit, Neeha segera bangkit. Ia begitu bersemangat ketika tahu bagaimana sikap Langit dahulu.

__ADS_1


Setelah asyik bercerita, Neeha kelelahan dan tertidur. Ia tertidur di bahu suaminya, hingga Langit membenarkan posisi tidur Neeha.


Bersambung...


__ADS_2