Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
3 Lelaki lainnya


__ADS_3

Azkal menyetir mobil dengan tenang. Clara masih ngambek karena kejadian tadi.


Akhirnya mereka sampai di Hotel, tempat tinggal Clara. Azkal membukakan pintu.


"Aku masih ngambek Loh" ucap Clara.


"Aku ada urusan sebentar"


"Kenapa kamu nggak turun dan naik dulu"


"Kapan-kapan ya aku sibuk"


"Sayang kamu udah nggak pernah lagi loh datang ke sini"


"Tenang aja aku udah bayar kok. Kamu bisa tidur lebih lama"


"Nggak aku mau pindah"


"Loh ini baru aku bayar Clara"


"Clara?. Kok kamu nggak manggil aku sayang?"


"Aku udah bayar sayang, Kamu tinggal lebih lama disini ya!"


Kalo aku marah, takutnya nanti Azkal mutusin aku lagi. Nggak mau, aku nggak mau diputusin


" Kalau gitu, kamu antar aku sampai ke depan kamar aja gimana?"


"Ya udah kalo gitu"


Azkal mengantarkan Clara ke depan pintu kamar. Namun bukannya masuk, Clara langsung mencium leher Azkal.


"Clara aku mau pergi dulu"


Clara melepaskan ciumannya yang berbekas. "Kamu nolak aku sayang?"


"Nggak sekarang ya!"


"Kamu mikirin wanita itu lagi ya?"


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Neeha mantan kamu itu"


"Enggak kok, aku kan udah punya kamu sayang"


"Terus kenapa kamu nggak mau masuk?"


"Kita udah sering disini, nanti digerebek"


"Ya aku nggak keberatan kok di tempat lain"


"Oke nanti aku kabari ok, Nggak sekarang. aku benar-benar sibuk sayang"


Azkal mencium bibir Clara. Lalu pamit pergi.


Tanpa sepengetahuan Azkal, Clara mengikutinya dengan taksi.


"Pak tolong ikuti mobil yang itu!"


"Baik Non"


Azkal mengendarai mobil begitu jauh. "Non apa kita harus terus mengikuti mobil itu?"


"Kenapa pak?"


"Ini sangat jauh Non"


"Ikuti aja gimana sih. saya bayar mahal" Clara meninggikan suaranya.


"Baik Non, baik"

__ADS_1


Azkal berhenti di tepi jalan. Tanpa menyadari bahwa sebuah taksi mengikutinya dan ikut berhenti di jarak yang agak jauh.


Azkal Membuka laci di sampingnya. Ada sebuah parfum disana yang isinya tinggal sedikit.


Azkal teringat kembali akibat Aron menyampaikan tentang toko parfum. Azkal mendapatkan parfum itu dari Neeha ketika ia berhasil naik jabatan.


Flashback on....


"Ini buat kamu" Wajah cerah Neeha menghampiri Azkal.


"Kok kamu bisa datang kesini?"


"Aku tahu kalau kamu berhasil naik jabatan"


"Makasih ya kamu udah datang"


Azkal ingin mencium bibir Neeha. Namun Neeha segera mundur dan mengeluarkan sebuah kotak.


"Ini buat kamu"


"Ini apa?"


"Hadiah, kamu buka aja!"


"Ok aku buka ya"


Sebuah parfum dengan aroma yang cukup unik. Azkal menyemprotkan ke tangan dan mencium aroma manly yang segar.


"Gimana kamu suka nggak?"


"Suka kamu beli dimana?"


"Di toko parfum langganan aku" Tak lupa Neeha menceritakan toko parfum yang ia senangi itu.


"Ooh begitu"


"Azkal"


"Kalau kita nikah, aku akan meracik parfum buat kamu selalu"


"Oke" jawab Azkal.


Aku udah mancing-mancing. Apa kamu nggak mau ngajak atau bahkan berencana untuk menikahi aku Azkal.


"Neeha ayo!"


"Kemana?"


"Aku harus traktir kamu, ini juga berkat koneksi Papa kamu Nee"


"Oke"


Flashback off...


....


"Tidak ada lagi yang akan meracik parfum dengan wangi seperti ini buat aku Neeha"


Azkal seketika terbayang gambaran Neeha yang begitu cantik di acara tadi. Neeha yang dahulu pernah sangat mencintainya dengan tulus dan selalu tersenyum hanya padanya.


Kini bahkan Neeha tak menyadari kehadirannya. Neeha bahkan berciuman dengan orang lain di hadapannya.


"Andai saja, aku yang menikah dengan kamu Nee, andai saja aku tidak membuat kesalahan. Pasti aku yang berada di posisi itu, dimana kamu memberikan segalanya untukku"


Azkal meninju setir mobil. Ia meremas jemarinya kuat-kuat.


Ia benar-benar marah, hanya demi kenikmatan sesaat dan kebiasaannya. Ia mengabaikan perasaan tulus dari Neeha.


Azkal memutar setir mobilnya. Ia pergi ke tempat dimana ia bisa mabuk-mabukan dan melakukan aktivitas *** dengan wanita semalam.


Clara melihat mobil Azkal dari taksi.

__ADS_1


Kamu lebih memilih tempat ini daripada sama aku Azkal. Aku kurang apa lagi sih, udah ngasih semuanya.


"Maaf nona, apakah anda mau turun disini?"


"enggak pak, kita putar balik lagi aja!"


"Baik Nona"


Clara masuk ke kamarnya di hotel. Ia duduk di ranjang sambil memikirkan kejadian di acara antar Perusahaan.


Neeha, semua ini pasti gara-gara kamu. Udah jadi istri orang masih berani godain Azkal.


Clara membuka lemarinya. Mengambil pakaian yang sengaja ia pakai pada saat itu, ketika Neeha datang ke hotel.


"Ini dari kamu juga kan"


Clara menggunting baju itu hingga tak berbentuk. Sampai-sampai tangannya ikut lecet.


Aku nggak akan ngelepasin kamu Azkal. Bagaimanapun, aku butuh uangnya, aku nggak mau jadi gadis yang miskin dan tidak memiliki barang mewah lagi.


*****


Aron tiba di rumahnya yang super besar dan sepi. Walaupun banyak pelayan disana, ia terus merasa sepi. Aron meminum wine yang sudah disiapkan.


Seorang pelayan bertanya apakah perlu menyiapkan air panas untuk mandi. Aron menolak, sebentar lagi ia akan memanggil.


Pelayan itu kembali ke tempatnya.


Aron memutar gelas dan menikmatinya. Aron membuka ponselnya dan memandangi wajah Neeha.


"Jadi wanita ini sudah menikah"


Aron kembali memikirkan cara apa yang bisa ia lakukan. Untuk membalas Budi, awalnya ia ingin membuat Neeha menjadi miliknya dan memberikan segalanya untuk wanita itu.


Tapi jika sudah menjadi istri orang lain. Bagaimana ia bisa menjalankan rencananya tersebut.


"Eh tapi ciuman tadi, sepertinya Wanita itu tak begitu membalasnya, apa mungkin mereka hanya sekedar menikah?"


Aron menelpon sekretarisnya. Meminta mencari tahu mengenai kehidupan percintaan Neeha. Ia hanya tahu bahwa Neeha bekerja di anak perusahaan Rinto Grup saja sehingga ia memutuskan melakukan kerjasama.


Tak butuh waktu lama, sebuah surel masuk. Neeha menikah tak begitu lama setelah putus dengan mantan pacarnya yang selingkuh.


"Pantas saja mereka terlihat kaku, pasti hubungan mereka belum terlalu jauh"


Aron menyiapkan rencana lainnya lagi. Dimana ia harus membuat Neeha membutuhkannya.


Apa yang harus saya lakukan ya. Akan lebih mudah jika dia bukanlah putri tunggal dari Rinto Grup. Rinto Grup adalah perusahaan yang cukup besar, saya harus berhati-hati, apalagi dahulu kami adalah saingan.


Sebuah nomor asing memanggil. Ia adalah istri Aron, seorang wanita asing yang dinikahinya.


Aron berbasa-basi dan mengatakan ia akan segera tidur. Istrinya tanpa ada rasa curiga menutup panggilan.


Aron juga mengirim sejumlah uang pada nomor rekening. Lalu ia berdiri, bersiap untuk mandi.


*****


Sementara itu, Jordi terpaksa mengantarkan Sera dan Lasmi. Sera bahkan memohon dengan alasan ia sangat pusing.


"Makasih ya Jordi"


"Nggak apa-apa kok. santai aja"


"Kalau kamu mampir dulu gimana?"


"Nggak usah sudah malam"


Bukannya tadi dia sangat pusing. Tapi pas berdiri malah lebih duluan dari Lasmi.


Jordi memutar mobilnya dan pergi membelah jalanan besar.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2