Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Kesalnya Langit


__ADS_3

Neeha duduk sambil menonton TV. Biasanya tiap pagi sekitar dua hari sekali mereka mencuci sebelum berangkat.


"Neeha apa kamu tidak terlalu melebihkan luka di jari kamu?"


"Ya tapi ini masih perih Mas..."Neeha memelas, dengan suara manja andalannya. "Ya udah kalau Mas Langit maksa aku tetap nyuci.."


"Nggak nggak usah lebai sekali kamu. Tapi libur besok kamu sudah bisa mencuci kan!"


"Iya iya, lagian kenapa nggak mencucinya pas libur aja Mas sekali seminggu"


"Kita kan nggak tahu sama cuaca, kalau misalkan butuh setelan ternyata semuanya kotor gimana?"


"Eh iya juga ya, emang mas Langit pinter" Neeha bertepuk tangan.


"Iya saya memang pintar kamu yang bodoh" gumamnya.


"Mas Langit ngomong apa?"


"Nggak kok silahkan kamu Nonton saja yang nyaman!"


Langit masuk ke kamar mandi kini mencuci pakaian. Bunyi mesin cuci dihidupkan, Neeha gatal ingin mengganggu suaminya yang kaku dengan ekspresi taplak meja itu.


Neeha mematikan Televisi, ia berdiri dan ikut berjalan ke kamar mandi. Langit tahu Neeha datang meskipun mengendap-endap terlihat dari bayangan di cermin.


"Ngapain kamu ikut?"


"Ah nggak asik. Kok Mas Langit bisa tahu akai datang?"


"Sayang sekali saya amat pintar Neeha" Langit menunjuk ke arah cermin.


"Oh iya ya, ngapain juga aku ngendap-ngendap tadi"


"Ngapain kamu kesini lagi?. Udah baik hati lebih dari sehari saya ngerjain ini tanpa dibantu kamu. Padahal janjinya cuma sehari"


"Maklum kalo Mas, kan jari aku.."


"Jari kamu sudah sehat, kalau dibuka plesternya mungkin udah sekuat baja itu jari kamu"


"Ya udah deh aku bantuin mas Langit"


"Baguslah kalau kamu sadar"


Tetapi bantu dalam pikiran Langit dan kenyataan nya, merupakan perbedaan antara siang dan malam. Neeha menjadi seorang suporter, heboh menyemangati Langit.


"Daripada kamu melakukan hal itu lebih baik kamu nonton aja sana!"


"Nggak bagus Mas, pagi-pagi gini udah disuguhi gosip artis, nggak ada manfaatnya buat aku Mas"


"Ya udah kalo gitu kamu berangkat saja duluan"


"Nggak Ah, kan Mas Langit yang biasa ngantar aku"


"Kamu pakai saja mobil kamu yang sudah ngefreeze di garasi itu"

__ADS_1


"Nggak bisa Mas, Nanti kalau Jordi lihat gimana?. Pasti dia akan merasa ada yang aneh kalau aku bawa mobil sendiri padahal biasanya diantar Mas Langit"


"Ya sudah, tapi tolong jangan ganggu saya oke, Ini nanti kalau lama kelarnya saya terlambat ke kampus"


"Iya Mas, aku juga nggak mau telat ke kantor"


Tapi hanya sesaat Neeha diam, Ia menyemangati Langit kembali. Meskipun tidak seheboh sebelumnya, suaranya terus menggema memekakkan telinga.


Langit hanya bisa bersabar, tapi tiba-tiba terlintas sebuah Ide dalam benak Langit. Melihat pakaian dalam Neeha. Jiwa jahilnya yang bangkit secara acak berniat menggoda Neeha.


Neeha, tidak mau berhenti bukan. Mari kita lihat apakah hal ini akan membuat kamu diam.


“Neeha, kamu suka model pakaian dalam ini ya. Yang saya beli tampaknya lebih cocok untuk kamu pakai" Langit mengangkat pakaian dalam bewarna abu-abu dan mengibarkannya bak sebuah bendera.


Sesuai dugaan, Neeha langsung berhenti bersuara “Mas Langit, tau gak itu adalah tindakan mesum.” Neeha mengambil pakaian dalam miliknya dan meletakkan ke tempatnya.


“Tapi apa itu pakaian dalam kamu, ukurannya sesuai dengan dugaan saya, saya beli ukuran itu juga.” Langit tersenyum jahil.


“Mas Langit, jangan bahas itu lagi Mau aku komen juga ukurannya Mas Langit hah?” Neeha semakin kesal.


“Kamu bisa komen sepuasnya, lagipula kita sudah menikah, sudah sewajarnya saya tahu milik kamu dan kamu juga ” Langit berhenti dan mengedipkan matanya tapi dengan ekspresi wajah datar.


"Tahu nggak sekarang kalau Mas Langit kayak gitu jadi seorang yang benar-benar mesum" Neeha bergidik.


"Oh ya, saya nggak merasa" Langit menanggapi santai.


“Kalau mas Langit gak niat nyuci tinggalin aja!" Neeha mencoba mengambil alih cucian dari mesin cuci tersebut.


“Gak usah saya hanya bercanda” Langit menghalangi Neeha.


"Mesum gak tau diri"


Neeha marah tak terkendali dan mendorong Langit. Pinggang Langit terantuk ke sudut dari mesin cuci, membuat Langit kesakitan mengusap pinggangnya.


"Aduuh Neeha"


" Rasain, Mas Langit sih gak sopan"


Neeha keluar dengan penuh amarah. Kemudian Langit keluar seperti kakek-kakek. Ia mendekat pada Neeha, membuat ekspresi menyedihkan.


“Neeha, saya sudah mengobati luka kamu, kali ini kamu yang obati luka saya. Tadi saya benar-benar tidak sengaja”Langit memohon.


“Gak sengaja lagi” Neeha tak perduli.


“Kamu bisa lihat luka memar saya, saya gak akan balas kamu.” Langit mengangkat bajunya.


Neeha lalu melihat pinggang bagian belakang Langit itu, memang memar dan membiru.


Apa aku mendorong dengan sangat keras


Saat Langit ingin mengambil kotak P3K kembali, Neeha langsung inisiatif membantu. Neeha masih ada salah karena membuat orang yang sudah mengobatinya terluka terlepas dari ketidaksopanannya.


"Biar aku aja Mas yang ngambil"

__ADS_1


"Tapi kotaknya saya pindahkan ke atas"


"Ya udah aku ambil kursi dulu Mas, tunggu sebentar"


Neeha sudah mengambil kursi dengan sigap untuk mengambil kotak P3K. Langit berbalik ingin menunggu di sofa saja.


Tapi entah kenapa, kotak itu terlepas dari tangan Neeha dan terjatuh. Lalu dengan bantuan takdir, maka kotak itu jatuh menimpa Langit, pas sekali mengenai pinggang Langit di sisi lainnya. Langit tersungkur dengan posisi menelungkup.


"Mas Langit awaaas" Neeha memperingati walau sudah telat.


"Ini udah terlanjur menimpa saya Neeha"


"Maaf Mas maaf"


Saat Mencoba Langit Bangun, ternyata Neeha yang ceroboh membuat tubuhnya tak seimbang. Lalu kursi itu bergoyang dan Neeha ikut jatuh, sekali lagi menimpa tubuh Langit yang belum sempat berdiri.


Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin kenyataannya, sudah jatuh tertimpa Neeha.


"Aduuh" Lagi-lagi Langit mengaduh kesakitan. "Kamu ini bukannya ngobatin saya tapi malah tambah nyiksa saya Neeha. Kamu ada masalah apa sebenarnya sama saya"


“Maaf Mas,aku...” . Neeha melihat Langit tanpa menoleh, berdiri dan duduk di sofa. Tampaknya Langit kesal, namun ditahannya.


Mas Langit pasti marah. Tapi biasanya Mas Langit kan nggak pernah marah. Kalau Marah kan kayak taplak meja juga, dan marahnya cium bibi....Hush masalah itu kan udah selesai Neeha.


Neeha segera membereskan isi kotak P3K dan membawanya pada Langit. Lalu ia menempelkan kompres tempel di tempat memar setelah Langit meluruskan pinggangnya sendiri.


Setibanya di depan Perusahaan. Langit tidak turun untuk membukakan pintu.


"Pinggang saya sakit, kamu turun sendiri saja bagaimana?"


"Enggak apa-apa kok Mas, Aku turun sendiri saja"


......


Neeha turun dan melihat kepergian Mobil Langit.


"Mas Langit kok kayak kesal gitu"


" Hai Neeha" Suara seseorang yang tak diinginkan memanggilnya


"Hai Jordi" Neeha menjawab malas.


"Mau saya bawakan tas kamu nggak?"


"Enggak usah, ini ringan kok. Seringan bulu"


"Kamu berangkat sendiri?. Gimana kalau kita sewa taksi barengan atau naik bus yang sama?"


Jordi masih usaha.


"Enggak nggak perlu. Aku diantar suami aku Kok Jordi Jadi nggak perlu bayar taksi apalagi naik bus"


"Ooh gitu"

__ADS_1


"Ya udah aku duluan ya" Neeha berjalan cepat meninggalkan Jordi. Walaupun Jordi tetap bisa menyusulnya.


Bersambunggg...


__ADS_2