Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Hukuman Untuk Langit


__ADS_3

Langit mengajak Agung ke Taman. Membawa bekal yang disiapkan Neeha dari kotak.


Langit memberikan satu roti untuk Agung. Untung saja isinya hanya roti, kalau ada yang lain, pasti Langit tak mampu menelan semuanya.


Agung tidak jadi bertanya perihal Michele usai menceritakan pengakuan Neeha. Agung diam sebentar, ia mulai berpikir.


"Lo nolak?"


"Gue bilang nggak bisa Gung"


"Berarti Lo menggantung perasaan Dia Ngit" Agung menekan sahabatnya.


"Gue udah bilang nggak bisa" tegas Langit, tanpa semangat.


"Ya alasannya apa coba. Biasanya kalau ada yang nyatakan perasaan ke Lo. Lo nolak dengan dingin, maaf saya tidak mencintai kamu, bukannya Lo nggak bisa mencintai Ngit"


"Ya kan emang gue nggak bisa Gung"


"Dasar Monoton, ia tahu gue Lo bilang nggak bisa nggak perlu juga Lo ulang Ampe 3 kali Ngit"


"Ya kan emang nggak bisa Gung" ulang Langit sekali lagi.


"Alasannya kan karena Lo nggak mau nyakitin dia Ngit"


Langit mengangguk.


"Tapi Meeha tahu kalau yang salah itu bukan Lo. Meha lebih punya otak dibanding Lo Ngit"


"Neeha Gung, bukan Meha!"


"Iya Neeha. Terus Lo mau gimana?"


"Gue cuma bisa ngeladenin dia sampai dia Nyerah Gung. Kalau nggak bisa mungkin gue mau..."


"Lo mau pisah?" tebak Agung.


Langit mengangguk. Satu lagi yang sangat membuat Langit tak nyaman. Perihal ia melupakan sesuatu. Ia bangun dalam keadaan telanja** tapi ia tak tahu kapan ia membuka semua pakaiannya.


"Anehnya gue lupa kapan gue tidur, gue yakin gue minum teh racikan Ayah"


"Teh racikan om Sanjaya?"


"Iya, gue agak pusing dan blank"


"Emangnya itu teh apa?"


"Ya kata ayah buat penghilang stress"

__ADS_1


"Ooh gitu. Jadi Lo lupa, mabuk dong Lo Ngit"


"Mana gue tahu rasanya mabuk Gung"


"Gue pernah Ngit waktu kloroskopi dipaksa sama Ajeng. Lo juga kan pernah "


"Iya kayak gitu, kita nggak sadar kan apa yang kita lakukan. Ajeng ngerekam kejadian itu sampai-sampai gue malu banget"


"Iya, waktu itu Lo bilang Michele maafin aku. Michele" Agung memparodikan Langit


"Ajeng nikah yukk, Nikah yuk Jeng, walaupun aku nggak sempurna dan kadang suka godain cewek-cewek seksi, aku kan cinta matinya sama kamu" Langit juga ikut mengejek Agung.


Balik lagi ke peristiwa yang dialami Langit semalam. Setelah beberapa lama Agung berpikir ia menemukan suatu kemungkinan Absurd.


"Apa rasanya kayak Lo ngelakuin hal besar tapi justru Lo lupa apa itu" Agung mencoba menelisik sesuatu tapi ia benar-benar lupa.


"Rasanya ia Gung, kalau nggak kenapa gue bangun tanpa pakaian coba"


"Tunggu, Lo bangun dalam keadaan apa?"


"Telanj***" bisik Langit.


"Jangan jangan Lo ngelakuin itu lagi" Agung menutup mulut, memandang penuh selidik sambil melihat junior Langit.


Langit menutupi juniornya "Jangan mikir yang aneh-aneh Lo Gung, emangnya Apa?"


"Itu, di kamar mandi, masa mesti gue jelasin Lo kan udah dewasa Ngit. Tapi Lo justru ngelakuin hal memalukan itu di kasur. Makanya Meha marah sama Lo karena nggak ingat itu sampai dia yang harus membersihkan hal kayak gitu" Agung membuat ekspresi nakal.


"Iya, Siapa tahu kan Lo udah nggak tahan tapi nggak tersalurkan"


"Agung, diam Lo ya...!"


"Tunggu apa lagi...cobain aja sama istri Lo. Kalian juga udah sah kan. Ditambah lagi Dia istri Lo udah ngasih pengakuan. langsung gassss aja Bro!"


"Gas Bro pala Lo Gung. Gue nggak bisa Nerima perasaan dia. Masa gue masih mau manfaatin dia Gung. Gue nggak sejahat itu"


Langit menahan suaranya agar tidak menggangu orang lain. Meskipun posisi mereka ada di Taman. Hampir tidak ada orang kecuali dalam jarak 10 meter.


"Kenapa?. Lo mulai ragu lagi karena Michele bakal balik?" Agung tak tahan lagi, dia harus menyinggung Michele.


"Kenapa mesti bahas Michele sih?"


"Iya awalnya gue emang mau bahas dia. Semalam Lo matiin Ponsel karena itu kan"


"Itu hanya karena gue capek temen-temen yang nggak pernah berhubungan tiba-tiba nelfon gue. Terus gue dimasukkan ke banyak grup baru Gung"


"Iya gue yang masukin Lo"

__ADS_1


"Sialan, ngapain Lo masukin gue Gung?"


"Daripada mereka nanya sama gue. Mending sama Lo langsung kan Ngit"


"Mau kemana Lo?"


"Mau ngajar"


"Tuh kan ngajar lagi, jurusan Lo langka sih mesti ngajar full"


"Biarin daripada Lo, bau keringat Mulu"


"Lah kan gue emang guru olahraga"


Langit merapikan tempat makannya.


"Ingat ya Ngit, buruan terima atau buaya bisa ngincar..m" Langit memasukkan roti ke mulut Agung agar ia berhenti bicara.


...************...


"Pokoknya karena kamu lupa dan nggak mau menerima perasaan aku. Aku punya syarat !"


Pindahkan barang dari gudang ke dekat garasi, buat ruangan itu menjadi tempat untuk tas Neeha juga sepatu bermerek miliknya. Neeha bahkan meminta Langit agar tidak menceraikannya sebelum setahun atau ia akan mengadu agar Langit dinikahkan lagi.


Terakhir, Neeha ingin Langit lebih bisa memahaminya. Neeha meminta waktu sebelum mereka berpisah, untuk mengejar Langit.


Langit menyetujui itu semua, Langit hanya butuh Neeha tenang. Ia juga ingin memberi tahu sesuatu, Michele akan kembali. Entah mengapa rasanya berat memberitahu hal sesepele itu pada Neeha.


Iya saya akan menuruti keinginannya, agar dia tidak mempermasalahkan Michele lagi.


Begitu sibuknya Langit, selain memasak, ia juga mencuci dan mengurus tempat untuk barang dan tas kesayangan Neeha. Bahkan Neeha menyuruhnya menunda jika ingin membicarakan sesuatu yang lain di luar kejadian malam itu jika pekerjaannya tidak selesai.


"Neeha apa kamu tidak berniat memberitahukan saya saja tentang malam itu?"


"Nggak mau Mas, takutnya kamu nggak percaya"


"Saya percaya, dibanding kamu tidak mau membantu pekerjaan rumah. Saya juga lelah Nee, beberapa hari ini kerja nggak berhenti-henti"


"Aku juga lelah Mas, lelah banget ngadepin Mas Langit "


Untungnya Neeha punya cara menaklukkan orang seperti Langit. Ajeng memberitahu kalau Langit tidak mau dinikahkan lagi, Langit bisa diancam karena itu.


Langit juga tidak tahan dengan perasaan bersalah, Neeha bisa memanfaatkan pengakuannya yang tidak diterima Langit sebagai bahan. Bahan hukuman yang baik hingga Neeha bisa leluasa memberikan syarat sekaligus memiliki waktu untuk membuat Langit menyadari perasaannya.


"Itu salah Mas Langit karena lupa. Anggap sebagai hukuman atas perbuatan Mas Langit karena nggak Nerima perasaan aku secepatnya!"


Neeha meminta Langit mencoba masakannya yang super asin atupun gosong demi menyadari hatinya. Neeha bahkan berlatih sepeda meskipun ia tak berani menaikkan dua kakinya. Sehingga Langit harus terus memegangi bagian belakang boncengan sepeda.

__ADS_1


Dia sangat menyebalkan. Mengapa saya harus menikah dengannya. Tapi hanya dia yang bisa menerima kesepakatan semacam itu. dan hanya dia yang tidak mempermasalahkan bahwa saya tidak bisa mencintainya .


Bersambung....


__ADS_2