
Michele duduk termenung di sofa mewah rumahnya. suasana gelap dan basah selalu menyeruak ketika waktu sudah hampir tengah malam seperti saat ini. Namun apapun suasananya, waktu ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu olehnya. Menunggu suaminya pulang lalu mereka akan melakukan aktifitas di kamar.
Michele meminum wine yang sudah terbiasa ia minum sejak pergi ke luar negeri mengejar karirnya bersama orang yang ia cintai. Meninggalkan Langit yang begitu tulus dan rela memberikan nyawa untuknya jika diminta.
Gelas pun kosong setelah semua isinya berpindah melewati kerongkongan Michele. Ia tuang sekali lagi wine mewah mahal itu ke dalam gelas memutarnya dan kali ini hanya menghirup aroma wine tersebut. Ia letakkan gelas itu di meja hadapannya.
Menoleh kembali saat pertemuan reuni juga di museum yang dipimpinnya. Kata-kata dan ekspresi Langit terbayang jelas di benaknya. Langit tidak mau Michele mengganggu istrinya, merelakan masa lalu mereka adalah jalan yang paling mudah dan mampu mereka jalani sebagai orang dewasa dan memiliki logika.
Langit tak akan meminta penjelasan apapun lagi, tak ada yang perlu ia dengar. Langit memaklumi pilihan Michele perlahan-lahan.
Sepanjang obrolan Neeha dan Michele, tak sekalipun Michele mendapati Langit memandanginya seperti dahulu. Pandangan khawatir dan perhatian Langit sudah beralih seratus persen kepada Neeha.
Langit terus memastikan keadaan Neeha meskipun ia dan Neeha menjauh dari kerumunan. Langit memastikan tak ada laki-laki yang menatap Neeha berlebihan. Langit juga membawa Neeha pergi lebih dahulu agar Neeha merasa nyaman.
“Kamu bahkan nggak nanyain kabar aku bagaimana setelah 8 tahun tidak bertemu Langit. Yang kamu khawatirkan hanyalah agar aku tidak datang dan berniat merusak rumah tanggamu”
Selain itu juga sebelumnya di pertemuan alumni ucapan Langit seolah menjelaskan bahwa ia bisa datang kapanpun asalkan tidak mengungkit secara berlebihan tentang hubungan mereka yang berakhir dengan ambigu.
Langit mengakui bahwa ia sangat terluka dengan apa yang dilakukan Michele hingga menyalahkan diri sendiri dengan bodohnya. Namun setelah Neeha hadir dan membuka hatinya, meskipun kadang ceroboh, manja, cengeng dan tak bisa apa-apa, Ia justru tanpa sadar tergantung dengan Neeha.
Langit sadar bahwa masa lalu yang menyakitkan bukan untuk dihindari dan membuat ruang lain di hati yang harusnya disii terpaksa kosong dan terbelenggu. Tetapi membiarkan masa lalu itu menjadi kenangan dan ruang lainnya harus diisi kembali dengan cinta.
Langit tak pernah menyalahkan apa pilihan Michele waktu itu. Ia hanya berharap kedepannya mereka bisa berdamai dengan apa yang telah terjadi dan menjalani kehidupan masing-masing tanpa terikat rasa bersalah.
***
Sedangkan ketika menemui Neeha. Michele lebih tercengang lagi. Bukannya menyerangnya dengan kata-kata menusuk. Neeha justru mengagumi Michele, kagum dengan bagaimana Michele bisa membuat pria kaku dan dingin serta monoton seperti Langit menjadi romantis. Neeha juga iri dengan kebersamaan mereka dan berharap kedepannya ia adalah sosok yang akan mendampingi Langit.
__ADS_1
Michele terus bergumam pada dirinya sendiri. “Sepertinya aku lebih ke sadar diri untuk mencoba merusak hubungan mereka. Aku tak punya cara lainnya lagi. Benar seperti yang disampaikan istrinya Langit. Apapun yang terjadi di masa lalu, seharusnya aku tidak mengungkit dan menambah luka, melainkan men...”
Pintu terbuka, sosok yang ditunggu-tunggu pun datang.
Dia adalah Aron, selama ini Michele adalah istri dari Aron. Lebih tepatnya istri simpanan. Yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Yang hanya ia kunjungi beberapa hari dalam seminggu selama masih di luar negeri.
Mendengar Michele yang menolak menghancurkan rumah tangga Langit dan Neeha membuat Aron marah.
“Aku memberikan semua yang kamu mau, apakah kamu tidak berniat membantuku sedikit saja?”
Lagi, kata-kata itu lagi yang keluar dari mulut Aron pada Michele. Kata yang membuat Michele tak bisa menolaknya atau semua yang ia dapat dari dukungan Aron akan hilang.
“Aku sudah memikirkannya Aron”
Aron meremas rambutnya, “Apa yang kamu pikirkan hah?”
“Hanya ini, agar kamu bisa lebih bahagia”
“Aku yang bahagia atau kamu?. Kamu sudah kehilangan Ibu kamu apa lagi yang mau kamu buktikan?. Mengambil gadis yang Ibu kamu cintai?. Sadar Aron Ibu kamu juga ingin gadis itu bahagia. Dan kebahagiaannya bukan denganmu melainkan dengan Langit” cecar Michele pada suaminya.
“Michele” Aron berteriak murka. “Aku pernah merebut kamu darinya, merebut Neeha bukanlah hal yang sulit”
“Benarkah Aron?. Tapi kenapa aku merasa kamu sangat putus asa untuk mendapatkannya?. Kamu kehabisan cara hingga mencoba membuat konflik dengan sahabatnya hanya untuk membuyarkan perjuangan bisnis mereka”
Michele memutuskan untuk pergi namun Aron menahannya. Mereka terus berdebat tentang hal-hal di masa lalu. Hingga sampai pada keputusan Michele yang menerima Aron meskipun Aron sudah memiliki istri di luar negeri. Istri yang tak mencintai Aron dan hanya butuh seseorang untuk mengelola bisnis ilegal mereka.
Michele yang saat itu masih muda dan mencintai Langit. Tergugah hatinya untuk pria seperti Aron yang menyedihkan dan hanya ingin membuktikan pada ibunya bahwa kekayaan yang ia bawa akan membuat Ibunya bahagia dan melupakan ayahnya.
__ADS_1
“Bahkan meskipun aku diminta memilih apakah aku akan meninggalkan langit dan bersama kamu atau memutuskan untuk tetap tinggal. Aku dengan bodohnya akan tetap memilih hidupku yang kini Aron. Aku memang jahat dan aku sadar dengan semua yang sudah aku pilih ini.”
“Maka dari itu Michele, tak bisakah memilih pilihan salah sekali lagi. Kamu pasti juga bisa menerimanya ya!” Aron terdengar sedikit memohon.
Karena Michele terus menolak, Aron memutuskan untuk mengusir wanita itu dari rumahnya. Aron sepertinya juga semakin merasa bersalah jika ia terus memaksa.
Dengan berat hati Michele pergi, meskipun akhirnya ia harus melepas Aron. Michele tahu pilihan yang dibuat selalu memiliki konsekuensi tersendiri.
***
Di sisi lain...
Zizi sedang mempertimbangkan dana yang diberikan oleh Aron.
“Bagaimana ini Zizi, apa kamu akan menerimanya?.” Tanya salah seorang bawahan lainnya.
“Iya Zizi, kamu yang paling dipercayai Ibu, apakah Ibu akan menerima jika putranya yang sangat ia rindukan itu berpartisipasi dalam toko ini?” tanya yang lainnya.
Zizi menatap pajangan foto para karyawan dan Ibu pemilik ketika masih hidup dan toko yang belum sebesar sekarang. Ia menarik nafas panjang sebelum memutuskan.
Zizi juga mengingat peringatan dari Neeha, bahwa ia harus meyakini apa yang tepat dan pihak mana yang harus ia ikuti.
Zizi menatap anggota toko satu-persatu, “Sesuai yang disampaikan Ibu, aku nggak akan memakai dana pak Aron bahkan sepeserpun demi kelangsungan hidup toko ini. Kalian tidak boleh membocorkannya!”
“Tenang saja Zizi, kami mempercayaimu sama seperti kami mempercayai Ibu dahulu”
Bersambung....
__ADS_1