
Pagi-pagi sekali Neeha sudah berangkat. Ia berusaha agar tidak ketahuan Langit yang tidur di kamar tamu.
Neeha memastikan Langit masih tidur, lalu mengecek kamar tamu. Namun Langit tidak berada disana.
"Cari saya?"
"Aaa"
Langit yang muncul tiba-tiba dari belakang membuat Neeha berteriak dan terduduk. Langit melihat mata panda Neeha yang begitu jelas.
Pasti dia tidak bisa tidur. Ini semua salah saya
Neeha merangkak menjauh. Ia ingin segera pergi. Namun Langit menahannya.
"Neeha dengarkan saya!"
Neeha langsung membayangkan bagaimana Langit menahan tangannya dan menciumnya paksa. Neeha langsung menyatukan tangannya.
"Enggak Mas, ampun aku nggak akan nyebutin nama itu lagi Mas aku mohon. Aku yang semalam itu udah gila mas aku mohon"
Pasti dia takut saya melakukan hal itu lagi.
"Maafkan saya" ujar Langit tiba-tiba. " Maaf atas kejadian semalam, saya harusnya lebih bisa mengendalikan emosi dan tidak seharusnya melakukan itu"
Hah Mas Langit minta maaf?. Jarang banget ada laki-laki yang langsung mengakui kesalahannya. Terutama semua mantan aku yang brengsek. Tapi nggak mungkin juga membandingkan dengan mantan.
"Kamu mau maafin saya nggak?. Saya nggak mau kita bersikap canggung satu sama lain kedepannya"
Neeha berpikir sejenak. "Aku ada syarat, nggak bisa dong aku maafin Mas Langit gitu aja. Kerugian yang aku terima sungguh luar biasa"
Lihat apa dia mau bertanggung jawab atas kesalahannya Neeha.
"Ya sudah apa syaratnya?"
"Hah"
Neeha biasanya hanya akan dapat pujian-pujian dari mantannya jika mereka melakukan kesalahan-kesalahan. Jarang sekali yang langsung setuju dengan persyaratan yang diberikan Neeha.
Mmm apa ya syaratnya. Haa waktu itu Mas Langit marah karena aku nggak bisa hemat uang belanja. Itu aja kali ya.
"Kasih aku kartu kredit Mas Langit!" Neeha menyodorkan tangannya.
"Buat apa?"
"Mas Langit masih curiga?. Kerugian aku bahkan nggak sebanding dengan..."
"Enggak kok ..ini." Langit segera mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan kartu kredit miliknya ke tangan Neeha.
"Okee" Neeha mengantongi kartu kredit tersebut. "Sandinya?"
Langit menyebutkan angkanya. Lalu mereka sarapan dan berangkat seperti biasa. Langit mengantarkan Neeha ke kantornya barulah ia pergi ke kampus.
*****
Aca terburu-buru menemui sahabatnya Neeha di kantin. Aca mengatur nafas ingin memberi tahu perihal info mengejutkan yang ia dapat.
"Atur nafas dulu Aca!"
"Okeh okeh... Huft"
"Itu si Jordi udah balik"
"Ooh"
"Kamu udah tahu Nee?"
__ADS_1
"Gampang buat tahu kalau Sera dan Lasmi sudah bersikap mencurigakan"
"Mencurigakan gimana Nee?. Mereka gangguin kamu?"
"Enggak kok. mencurigakan karena mereka terlihat jelas sedang menggali informasi sama hubungan pernikahan aku. Aku yakin mereka bakal gunain itu buat Jordi. Mereka akan lebih bermanfaat kedepannya buat ngatasin masalah Jordi ca"
"Manfaat maksudnya apa Nee?"
"Dengan adanya mereka. Pasti akan lebih mudah meyakinkan Jordi kalau hubungan aku dan Mas Langit itu harmonis, kayak kemarin malam"
"Kemarin malam?" Aca mengangkat alisnya.
"Kemarin malam mereka datang ke rumah aku"
"Ngapain mereka datang?"
"Balikin kardigan"
"Hah udah selama itu baru dibalikin?. Tapi untung aja sih masih dibalikin nggak dijual"
"Udah Ca, bukan itu yang penting"
"Terus apa Nee?"
"Mereka kebetulan datang pas aku dan Mas Langit lagi pakai pakaian Couple kita. Niatnya sih cuma mau nyoba aja. Pasti mereka akan berpikir betapa romantisnya hubungan kami"
"Tunggu, kalian pakai pakaian Couple?
"Iya Aca, bukan cuma pakaian. Tapi gelas, sendal juga"
"Hah?"
"Tenang Aca, itu cuma buat meyakinkan Mama kalau kita itu udah makin lengket"
"Ooh gitu. Bagus juga sih Sera dan Lasmi. Sikap ikut campur mereka emang pas buat bikin Jordi Nyerah. Tumben kamu pintar Nee"
"Maksud aku pintar dalam kehidupan"
"Jadi selama ini kamu ikut bilang aku bodoh"
"Bukan gitu Nee, emang siapa lagi yang ngomong kaya gitu"
"Mas Langit tuh"
Sampailah pembahasan mereka mengenai ciuman semalam.
"Oh my Gosh Nee. Itu ciuman pertama kamuuu" Aca antusias.
"Ciuman Pertama apanya ca, aku hampir kehabisan nafas tau nggak"
"Itu karena kamu belum ahli. Coba aja terus pasti kamu akan ikut menikmatinya" Aca mesem-mesem.
"Coba aja terus?. Kamu itu ngedukung aku apa Mas Langit sih ca?"
"Ya kamu dong Nee"
"Itu harus jadi yang terakhir"
"Kok gitu sih Nee"
"Iya lagipula Mas Langit udah minta maaf kok"
"Perasaan kalau aku dengar ceritanya. kayaknya kamu yang salah deh Nee"
"Acaaa, kamu itu Sahabat aku apa bukan sih"
__ADS_1
"Iya iya sahabat kamu"
"Sekarang aku akan bales perbuatannya dengan apa yang tidak disukainya" Neeha mengeluarkan kartu kredit milik Langit.
"Kartu kredit?"
"Mm, aku akan ngehabisin uang dia. Waktu itu dia marah aku pakai cuma 2 juta sekarang aku akan pakai lebih hahahaha" Neeha tertawa.
"Jahat kamu Nee, dia kan udah minta maaf"
"Aku udah maafin kok. Ini buat ganti rugi kerugian mental yang aku dapatkan ca"
Aca bingung bagaimana menasehati sahabatnya yang keras kepala itu. Ia tahu Neeha bersikap kekanakan, tapi ia juga tak mau ikut campur keputusan Neeha. Sudah berulang kali ia ingatkan tapi Neeha masih kekeuh.
"Kalau kamu nanti menyesal aku udah ingatkan ya"
"Aku nggak akan nyesal Aca"
****
Langit meremas buku yang baca dan juga berpindah meremas kain meja. Melihat notifikasi bertubi-tubi yang masuk ke ponselnya.
Neeha kamu itu istri atau pencuri. Sekali transaksi satu juta.
"Langit Lo mau BAB?" Agung yang merasa risih melihat Langit meremas buku dan bahkan kain meja.
"Hah enggak, kenapa emang?"
"Ngapain Lo kayak gitu?"
"Gue abis dicuri" Langit melihat Agung datar.
"Hah dicuri?. Siapa, dimana?. Kapan, apa aja yang dicuri?" Agung langsung panik.
"Tenang aja, gue tahu pelakunya. Gue tahu semuanya dan gue yang kasih salah karena kasih dia kesempatan buat mencuri"
"Maksud Lo?" Agung kebingungan melihat ekspresi bias Langit.
"Udahlah nggak usah dipikirkan"
Sementara itu, Neeha sudah asik memilih tas-tas yang ia mau. tas dengan harga jutaan sudah ia kantongi.
****
Langit meminta kartunya kembali. Neeha memberikan kartu dengan ragu-ragu.
"60 juta Neeha, satu hari saja kamu mampu menghabiskan 60 juta rupiah?"
"Cuma 60 juta kan mas, Lagipula biasanya aku habis ratusan juta kok dari Papa"
"Papa?. Kamu memang hidup manja dan Hedon sejak kecil. Tapi sekarang kamu sudah dewasa Neeha. Kamu sudah menikah seharusnya kamu lebih bisa berpikir"
"Kita kan nikah sementara Mas"
"Iya, tapi harusnya otak kamu dipakai mikir dong. Saya bukan pengusaha kaya raya seperti Papa kamu. Gaji saya bukan untuk foya-foya"
"Bukannya Mas Langit yang ngasih kartunya ke aku. Kok sekarang protes" Neeha menampakkan ekspresi kecewanya.
Benar juga, saya yang memberikan kartu kredit tanpa ingat betapa borosnya dia. saya harusnya menetapkan pengeluaran. Otak Neeha ini kecil dan kadang seperti tidak berpikir. Saya harus lebih sabar.
"Ya sudah, lain kali jangan terlalu Boros ya!" Langit memaksakan senyumnya.
"Ok Mas Langit"
Rasain kamu Mas. Makanya jangan pernah bikin gara-gara sama aku.
__ADS_1
Bersambung....