
Neeha membuka pintu mobil...
"Mau apa ?, gak dingin buka pintu?"
Hah gak dingin buka pintu, Kamu aja kali..
"Aku mau turun" Neeha berbicara dengan nada tak senang.
"Kamu gila Nee, kamu mau basah kuyup kehujanan?" Langit berpikir logis.
"Kenapa?. apa masalahnya kalau aku kehujanan?
kan yang basah aku, yang rugi juga aku bukan Mass" ucapnya penuh penekanan serta air matanya yang sudah menetes.
"Masalahnya apa?. Memang Kamu yang kehujanan dan rugi, tapi kalau sakit gimana. Kalau nanti masuk rumah basah-basah gimana? Kan saya yang susah membersihkannya... Kamu Bodoh apa gimana Neeha?" terang Langit pada Neeha.
Iya emang aku bodoh, otak aku gak sepintar mas langit kenapa?"Aku sakit juga nanggung sendiri, Basah nanti biar aku yang bersihin..." Neeha jadi sesenggukan karena menahan tangis tapi ia sudah tak bisa.
"Ya sudah sana turun!, kalau bisa gak usah pulang ke rumah sebelum tubuh kamu kering!. Saya capek bersihinnya" Langit marah tak bisa menahan diri.
Neeha segera turun dari mobil, menutup pintu dengan hingga berbunyi. Langit menancap gas meninggalkan Neeha di bawah guyuran hujan. Dirinya lebih dingin daripada cuaca saat ini.
Neeha menatap kepergian mobil Langit. Ia menghentakkan kaki. Tega sekali lelaki dingin itu meninggalkannya, pantas saja masih jomblo di usia Tua.
"Siapa?. siapa yang bisa Nerima dan tahan sama suami Monoton kaku, dingin, es batu kayak diaaaaa" Neeha berteriak di bawah hujan.
Neeha membuka telapak tangannya. Melihat air hujan yang turun membasahi jemari. Lalu melihat Pakaiannya yang sudah ikutan basah dialiri air hujan.
Sambil tersedu-sedu ia meratapi nasibnya. Diremehkan mantan pacar dan selingkuhan. Bahkan tidak dibantu oleh suaminya sendiri ketika keadaan genting.
Saat ini lebih tepatnya mengatakan bahwa laki-laki semuanya sama. Tidak dapat diandalkan disaat butuh dan suka mengingkari perkataannya.
Neeha juga beberapa kali terkena cipratan air dari genangan yang dilindas roda mobil tanpa perikemanusiaan. Sehingga Neeha mengumpat sambil menunjuk-nunjuk mobil yang bahkan tidak diingatnya.
Woy sialan Loe, bawa mobil yang bener dong buta ya Loe... Bajinga** Woyyyy.....
Ah kampret gue basaaaahhh.....
....
Langit tiba di depan gerbang rumahnya. Tampak hujan yang belum juga reda, untuk membuka gerbang dari luar, terpaksa ia harus turun. Karena gerbang hanya bisa dibuka otomatis dari dalam rumah, dari luar harus menggunakan kunci yang terkoneksi dengan gembok.
__ADS_1
Sebelum turun ia melihat ke sebelah. Pada bangku kosong, tampak tas kecil yang biasa dipakai Neeha.
Wanita ceroboh, apa dia sengaja meninggalkan barangnya?. Tapi apa peduli saya, tadi juga sudah dibilangin agar tidak turun kan.
***
Langit sudah memakai baju tidurnya dan duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi panas. Sembari menghirup aroma kopi, sesekali Langit melirik layar di samping pintu utama.
Ngapain saya mengkhawatirkan dia.
Tetapi hingga kopinya habis, Langit belum juga beranjak dari sofa. Ia lalu menghidupkan Televisi, tetapi pikirannya tidak fokus pada tayangan layar kaca itu.
Langit kemudian mengambil Laptopnya menyiapkan bahan ajar untuk perkuliahan besok. Ia hanya melihat layar laptop karena tidak ada yang perlu dibuat ulang.
****
Neeha berjalan menuju rumah mereka. Karena tujuannya hanya satu itu, ia tidak mungkin pergi ke rumah Aca tanpa uang untuk ongkos dan tanpa kabar terlebih dahulu.
Apalagi pengalaman pahit yang pernah ia rasakan saat ia bertamu di rumah Aca, tidak dapat dihilangkan. Tanpa sengaja Neeha memergoki Aca yang sedang memakai baju Sexy dan menari erotis. Bahkan sempat Aca atraksi panas dan cocok untuk tayangan 19+.
Hal itu sangat memalukan, terutama melihat sisi lain sahabat sendiri yang berbeda. Neeha bahkan masih malu saat memikirkan masa itu.
.....
Saat Langit membuka gerbang, tampak seorang wanita yang telentang. Wanita itu adalah Neeha, yang sedari tadi duduk bersandar di pintu gerbang dan tak menekan bel.
Langit segera keluar dan berlari melihat Neeha....
"Nee"
Neeha sudah lemas, dan bergetar kedinginan. Badannya juga panas dengan bibir pucat tak ada tenaga.
"Kamu kenapa bisa duduk disini Nee. sejak kapan?". Langit menyentuh kening Neeha, panas. Ia menyentuh leher Neeha yang juga panas.
"Dari tadi. Aku gak punya tujuan lain karena kita udah nikah kan. Ini satu-satunya tujuan akuuu huh••uhh~uh..." Neeha berbicara sambil menggigil.
Awalnya Neeha hanya ingin dipapah oleh Langit. Namun karena Neeha begitu lemas, Langit segera menggendong Neeha.
"Kenapa kamu tidak menekan bel kalau ini memang tujuan kamu satu-satunya?"
Apa wanita ini takut dimarahi?. Atau ia gengsi, benar semua wanita sangat mementingkan harga diri dan ego semata.
__ADS_1
"Kan Mas bilang aku gak boleh pulang sebelum tubuh aku kering"
Langit agak terperanjat mendengar pernyataan Neeha. "Jadi karena itu kamu tidak menekan bel?. kamu berencana duduk di luar sampai kering?"
Neeha hanya menjawab dengan sedikit anggukan dan tarikan senyum tipis di bibir, sudah tidak sanggup berbicara.
Dasar wanita bodoh. Dia ini bodoh atau bagaimana.
...
Langit menggendong Neeha masuk ke kamar tamu. Kamar tempat istrinya itu biasa tidur.
"Kamu harus mandi!" perintah Langit.
"Aku sudah menggigil gini masih disuruh mandi" Keluh Neeha namun ia tidak sadar bahwa suaranya terdengar oleh Langit.
"Mandi agar tidak sakit, Kalau perlu pakai air panas..."
Langit keluar untuk menyiapkan teh hangat. Namun karena ia tidak tahu tingkat kemanisan seperti apa yang diinginkan Neeha. Ia meletakkan gula di sebuah mangkok kecil.
Nah begini saja, biasanya para wanita punya standar mereka sendiri kan
Langit mengetuk pintu. "Kamu sudah selesai mandi kan?"
karena tidak ada jawaban, Langit mengetuk sekali lagi. " Jangan salahkan saya kalau melihat hal yang tidak diinginkan ya"
Karena masih tidak ada jawaban Langit memanggil Neeha beberapa kali. Langit langsung masuk ke dalam meletakkan nampan teh di meja samping kasur.
Langit mengetuk pintu kamar mandi, memanggil namun masih tidak ada Jawaban. Pintu tidak dikunci sehingga Langit masuk.
"Neeha"
Tampak Neeha sudah pingsan di dalam bak mandi yang dipenuhi busa. Untung saja posisi Neeha masih duduk sehingga kepalanya tidak tenggelam ke dalam air bak. Atau jika terjadi, terpaksa Langit harus berurusan dengan ambulan.
Apa yang harus saya lakukan?. Tapi ini keadaan darurat. Apapun yang bisa dilakukan ya harus dilakukan.
Langit menggendong tubuh polos Istrinya dari dalam bak mandi, menghidupkan Shower dan membasuh tubuh Neeha. Lalu segera ia membawa Neeha ke kasur dan menutupi tubuh Neeha dengan selimut.
Langit lalu mengecek hidung Neeha. Terasa masih ada aliran udara yang berhembus pelan.
"Untung saja masih ada nafasnya." Langit mengusap dadanya.
__ADS_1
Setidaknya Neeha tidak mati, pikirnya.
Bersambung...