
Neeha sudah benar-benar sembuh. Kakinya bisa digerakkan dengan lincah. Tentunya hal itu tidak terlepas dari kerja keras Langit sebagai suami yang bertanggung jawab.
Hari ini... Langit membuka pesanan onlinenya yang baru datang. Ia membukanya, melihat sepatu sneaker olahraga dua pasang.
Agung yang baru balik mengajar mendatangi meja Langit. Walaupun meja mereka sebelahan, tetap saja jiwa kepo Agung mengharuskannya untuk berada di dekat Langit tak kurang dari 2 inci.
"Waduh sepatu baru nih"
"Mm iya sepatu baru, nggak mungkin kaya gini bentukannya justru berubah jadi topi baru"
"Wah hebat ya anda garing sekali"
"Nggak niat becanda" Langit memasukkan kembali dua pasang sepatu itu ke dalam kotak.
"Buat siapa?"
"Agung, Lo makin lama karena sering ngobrol dengan Romi jadi ketularan virus Kepo ya?"
"Nanya doang Langit, Gue ini sahabat Lo. Kalaupun mahal nggak akan gue curi juga"
"Buat Gue dan Neeha" Langit menjawab dengan malas.
"Neeha? Istri Lo?" Agung menatap sahabatnya sambil memegang wajah Langit.
"Mm"
"Lo nggak kesambet kan?. Atau Lo kena benturan sesuatu gitu?"
"Enggak, Gue Normal. Lepasin tangan penuh keringat Lo" Langit melepaskan tangan Agung dari wajahnya dan segera mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya.
"Bukannya waktu itu udah pernah beliin dia sepatu dan sendal. Pas kakinya di Gips?"
"Itu sepatu biasa"
"Lah sekarang sepatu?"
"Sepatu olahraga"
"Lo mau ngajak dia olahraga?. Padahal dia baru sembuh dan baru selesai pakai gips dan Kruk?. Kejam banget Lo Ngit"
"Gue juga mau tanggung jawab buat Dia"
"Tanggung jawab gimana?. Itu Lo mau nyusahin namanya. Lo, seorang Langit yang hobi olahraga ngajak orang biasa olahraga, pasti melelahkan. Nggak kebayang betapa menderitanya Istri Lo itu"
"Gue juga tahu batas kesanggupan orang biasa Kok. Lo tenang aja"
"Bukan gue yang harus tenang tapi istri Lo. Jawab pertanyaan Gue, tanggung jawab gimana maksud Lo"
"Tanggung jawab buat jagain dia selama kita menikah"
"Bukannya Lo cuma mau dia menderita" Gumam Agung dengan jelas.
"Dia menderita biar bisa bikin dia lebih sehat lagi"
"Maksudnya?"
"Neeha itu mudah banget ngejatuhin benda atau terjatuh, dia juga gampang sakit "
"Jadii?" Agung melempar tatapan bingungnya.
__ADS_1
"Huhh" Langit membuang nafas. "Jadi, Gue lihat itu penyebabnya karena kurang fit, tubuhnya kurang aktivitas seperti olahraga. Ajeng nyaranin buat gue ajak dia olahraga biar tubuhnya lebih kuat"
"Ooh kalau saran dari istri gue mah bagus itu"
"Dasar Lo, suami takut istri. Sekali aja gue nyebut nama Ajeng langsung manut"
"Gue bukan takut istri, tapi sayang Istri"
"Ah alasan"
"Eh tapi, sejak kapan Lo peduli sama Istri Lo. Bukannya kalian nikah tan..."
"Syutt,.. suara Lo Gung"
"Iya sorri, kenapa Lo peduli sama dia. Apa setelh cukup lama bersama Lo mulai ada getaran jiwa sama dia?"
"Getaran jiwa apanya?. Getaran kesal yang ada karena dia nggak bisa apa-apa"
"Tenang, kan ada Mas Langit yang bisa apa saja"
****
Langit memberikan sepatu yang ia beli buat Neeha "Coba dulu, itu pas buat kamu atau tidak. Kalau tidak bisa ajukan pengembalian dan minta ditukar"
Neeha memasang sepatu itu di kakinya. Ukiran yang sangat pas, tidak sempit dan tidak kebesaran.
"Pas Mas, Lihat Nih, Makasih Loh Mas udah beliin ukuran pas buat aku" Neeha berdiri dan berjalan di depan Langit.
"Bagus kalau gitu"
"Tapi buat apa kamu beliin ini Mas, kamu juga pakai ya?" Neeha melihat satu pasang lagi sama model tetapi untuk Pria.
"Buat olahraga, mulai besok. Sebelum kita berangkat kerja, harus olahraga dulu!"
"Olahraga itu penting, terutama untuk kamu"
"Untuk aku?. Memangnya Kenapa Mas?"
"Kamu harus lebih sering olahraga Nee, tubuh kamu itu lemah dan gampang sakit karena kurang fit. Makanya kamu sering menjatuhkan benda-benda dan bahkan menjatuhkan diri sendiri"
"Hah, apa hubungannya?
"Ada, pokoknya. Lagipula, ini juga termasuk saran dari Ajeng"
"Ooh dari Ajeng. Ya udah"
Bagus ya, baik Agung dan Dia . Nggak percaya kalau itu saya yang ngomong. Kalau bilang nama Ajeng aja langsung setuju.
Neeha berjalan ke ruang makan. Melihat tidak ada makanan. Karena beberapa hari ini makan bubur ia sangat merindukan masakan berbumbu. Masakan yang memiliki rasa.
"Mas, makan malam kali ini boleh makan yang ada rasanya kan Mas?"
"Kenapa kamu nanya begitu?"
"Yaa aku udah bosan Mas makan bubur. Maksudnya bukan karena nggak enak. Aku tahu kok itu buat penyembuhan, Tapiii"
"Boleh, tapi kamu yang masak!"
"Ya udah biar aku aja " Neeha berjalan mendekati kulkas.
__ADS_1
"Emangnya kamu bisa?"
Neeha baru mau membuka pintu kulkas, Eh Langit meremehkannya
" Sekarang nggak bisa masak juga banyak cara yang bisa diakali kan Mas, Ibarat pepatah, Nggak satu jalan ke Roma. Bisa pakai aplikasi You**be dan lainnya"
Tinggal klik aja langsung ada step by step. Emang kamu doang yang aku harapkan buat masak.
"Untung juga otak kamu bisa berfungsi Nee, jadi nggak ngerepotin saya" ujar Langit
"Iya Mas, aku nggak mau ngerepotin Mas terus" Neeha menaikkan bibirnya sebal.
Namun ternyata, isi kulkas sudah kosong. Hanya tersisa beberapa potong sayuran dan minuman kaleng serta minuman botol.
"Mas, sejak kapan isi kulkas kosong Mas?"
Langit mendekati Kulkas, melihat isinya yang miris.
Tidak ada yang bisa diolah lagi. Bahkan sayuran hanya sisa sedikit sekali.
"Karena kita makan bubur dan sering pesan antar bubur, saya lupa isi kulkas sudah habis"
"Terus gimana dong Mas?"
"Nggak usah aja makan malam, nggak akan mati kan?"
Keeerreeuukk.... Perut Neeha berbunyi. Kenapa mesti bunyi sihh??
Neeha mengusap perutnya, isyarat perut udah bilang Lapar. Mau ngasih tahu kalau dia sangat lapar tapi Malu, alhasil Neeha hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Sepertinya perut kamu nggak bisa nahan" Langit menutup pintu kulkas, ia berjalan menaiki tangga.
"Makanya aku bilang beli makanan ringan dan makanan instan Mas. Kan bisa makan itu dulu"
"Itu nggak sehat"
"Tapi bisa Nunda lapar Mas"
Neeha berjalan untuk mematikan lampu. Tapi Langit melarangnya dan menyuruh tunggu sebentar. Tak lama kemudian, Langit turun sudah memakai sebuah Hoodie.
Kenapa Dia tiba-tiba pakai Hoodie.
"Cepat pakai baju yang lebih tebal kita belanja ke supermarket!"
"Sekarang Mas?"
"Iya lah sekarang, ntar perut kamu demo nunggu makan sampai besok"
"Kenapa nggak bilang dari tadi Mas, kan kita bisa barengan naik ke atas"
"Kamu mau ikut nggak?"
"Mau-mau Mas" Neeha segera bergegas menaiki tangga. "Tunggu aku Mas, jangan ditinggal!"
Perasaan saya nyuruh dia pakai baju yang lebih tebal kan karena emang mau ngajak dia.
"Hati-hati, nanti jatuh lagi!"
"Iya Mas, Iya"
__ADS_1
Mereka sudah siap. Berjalan menuju Supermarket yang buka selama 24 jam tersebut.
Bersambung....