
Langit baru saja ingin meletakkan bokongnya di kursi. Namun belum sempat, salah seorang mahasiswa terburu-buru menemuinya.
Langit melihat berkas yang ditanyakan mahasiswa itu sambil berdiri. Seusai mahasiswa itu pergi, Agung yang baru datang mendekat, mengusap pinggang Langit dengan niat bercanda.
“Aww, ngapain loe” Langit sewot.
“Kenapa, biasanya gue juga selalu nyapa, cape gue sibuk melulu. Mau ngobrol sama sohib Dosen sejarah yang suka arkeologi ini" Agung merangkul Langit.
Dengan cepat Langit melepaskan rangkulan Agung.
“Jangan, pinggang gue sakit, lain kali juga gak usah pakai acara nyentuh badan” Langit duduk.
“Kenapa sama pinggang loe” Agung merasa penasaran.
“Gara-gara Neeha” Langit masih melihat berbagai file miliknya.
“Gara-gara Neeha, artinya itu gara-gara istri Lo" Agung melihat pinggang Langit dengan pandangan menyelidik.
"Iya istri gue" jawabnya acuh.
“Ooo, sekarang Lo udah cukup terbuka dengan hubungan lo ya. Apa mungkin kalian..” Agung makin melenceng.
Langit segera berdiri.
"Tuh kan Lo mau ngehindar" Agung menunjuk batang hidung Langit.
"Ngehindar gimana, orang gue mau ngajar" Langit melihat jam tangan miliknya, "Udah telat nih gue"
Agung meminta penjelasan Langit mengenai sakit pinggangya. Tak lupa Langit menunjukkan memar pada pinggangnya, sambil menceritakan apa yang terjadi.
Agung langsung tertawa. “Loe sih, ngapain juga”
"Itu kan karena dia terus membesarkan jarinya yang luka. Memang manja sekali"
"Baru kali ini Lo ... Eh bukan .. Baru Neeha ini setelah bertahun-tahun mampu buat bikin Lo jadi ekspresif Ngit" Agung menepuk pundak Langit.
"Maksud Lo?"
"Ya selama ini Lo nggak akan peduli apapun itu. Lo bakal nunjukin wajah kaku Lo yang kayak orang habis Oplas itu. Tapi kalau nyinggung Neeha, Lo jadi...."
Belum selesai Agung berbicara Langit meninggalkannya. Agung mengejar dan berbisik “Kalau Lo udah cinta jangan lupa kasih tahu gue!” Agung mencoba merangkul Langit kembali tapi ditolak.
"Nggak akan, gue nggak akan jatuh cinta sama siapapun Gung" jawab Langit juga berbisik.
Lagipula, perbuatan Neeha ini membuat saya sengsara, saya tidak mau terlibat dengan wanita ceroboh itu seumur hidup saya.
Langit berjalan sambil menjaga pinggangnya agar tidak disenggol seseorang maupun membuat gerakan.
***
Neeha sudah duduk di meja makan cafe bersama Aca. Mereka memutuskan makan di cafe karena bosan di kantin Perusahaan.
"Hufft..." Neeha Membuang nafas panjang.
"Lah kenapa lagi?"
"Itu si Jordi, ngajak aku buat datang bareng dia aja ke acara Perusahaan"
Acara perayaan atas kerjasama antara anak Perusahaan dari Rinto Grup dengan salah satu Perusahaan terkenal.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena dia bilang, Suami aku yang Dosen pasti gak bakalan nyaman buat ikut acara Perusahaan"
"Maksudnya dia lebih nyaman gitu. Alasan dia pasti Nee, kamu jangan terpancing"
"Aku nggak terpancing Aca, tapi mengingat acaranya besok malam. Sementara Mas Langit kayaknya kesal sama aku..." Neeha menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Memangnya kenapa dia bisa kesal?. Ayo ceritakan!.” Aca menatap dalam.
Kini, cerita mengenai pernikahan sahabatnya adalah hal mengasyikkan bagi Aca. Lebih menarik sampai-sampai Aca bisa melupakan sejenak pekerjaan sulitnya di Perusahaan.
“Oke” Neeha bersiap menjelaskan.
Neeha lalu menceritakan kembali apa yang baru saja ia alami. “Udah jelas-jelas gak sopan, masih saja berkilah” Neeha masih kesal.
“Terus gimana kamu balas?” Aca penasaran.
“Sebenarnya ada lanjutannya" Neeha lalu tertawa.
Neeha menjelaskan apa yang terjadi dengan pinggang Langit. Aca langsung mengelus pinggangnya membayangkan apa yang terjadi dan betapa rasa sakit yang dialami.
Tetapi kemudian, Neeha dan Aca tertawa senang. Neeha memang merasa bersalah, tapi mengingat ketidaksopanan Langit membuat ia tak menyesali perbuatannya sendiri.
Mereka seperti wanita psikopat dibalik wajah polos tak berdosa.
"Eh ngomong-ngomong kalau suami kamu kesal ekspresinya gimana?"
"Tetep kayak taplak meja" Neeha berucap tanpa sadar.
"Hah?" Aca tak begitu jelas mendengar.
"Harusnya kamu bikin dia marah Nee!" Aca tersenyum.
"Lah kenapa Ca?"
"Biar kamu di mu mu muachhh...." Aca memonyongkan bibirnya.
Dicium??. Dasar Aca
"Tapi kalau dia udah kesal, memangnya dia bakal mau kamu ajak Nee?"
"Feeling aku sih dia bakal nolak. Dia mungkin bilang kita harus memisahkan urusan pribadi masing-masing"
"Ya mau gimana lagi, kalau kamu nggak ngajak Suami kamu. Pasti Jordi akan segera melancarkan serangan"
Cukup lama Neeha berpikir. Akhirnya Neeha memutuskan datang ke kampus Langit. Jika dia melakukan sesuatu, pasti Langit tak akan berkutik.
"Aku tahu Aca"
"Apa"
"Kalau aku ngancam demi kesepakatan awal kita untuk terlihat harmonis. Pasti Mas Langit mau"
"Bagus, kamu memang Neeha yang punya segudang Ide"
Ketika Neeha memasuki ruangan Dosen yang sebagian sudah pada pulang. Tampak Langit masuk ke kamar mandi.
Tanpa pikir panjang Neeha mengikutinya.
__ADS_1
"Neeha, ngapain kamu kesini?"
"Mau ngomongin sesuatu Mas, penting"
Neeha menjelaskan semuanya. dan sesuai dugaan, Langit yang kesal menolak.
"Apalagi kamu membuat pinggang saya sakit" Langit mengusap pinggangnya.
"Bukannya itu salah Mas Langit"
Dasar pendendam.
"Aku nggak mau kalau harus sama Jordi melulu, meskipun kita cuma makan dan minum sambil bersuka ria dengan anggota Perusahaan Lain"
"Itu bukan urusan saya" tutur Langit datar.
Neeha tidak tahan lagi, tujuannya adalah membuat Langit mau ikut dengannya tak peduli apapun. Akhirnya, Neeha menekan Langit ke dinding, menatap mata Langit yang tersudut.
"Ini urusan pernikahan kita Mas Langit"
"Kamu mengancam saya?"
"Aku nggak ngancam, ini termasuk dalam urusan pernikahan kita. Bukannya kita memang harus terlihat harmonis Mas?. Atau kamu mau kita pisah dan kamu akan dicarikan wanita lainnya lagi"
Langit terdiam. Kamu mengancam saya ya Neeha
saya berani mempermalukanmu.
"Ya sudah, buka baju kamu.!.”
“Disini?.” Neeha membelalakkan matanya tak percaya.
“Iya, kalau kamu mau saya akan langsung setuju tanpa syarat dan imbalan” Langit terus tersenyum jahil.
“Oke asalkan Mas Langit mau ikut” Neeha hanya perlu melupakan sejenak harga diri agar tidak mendapat kerugian.
Dia adalah suami kamu Neeha, lupakan rasa malu demi membuat Jordi paham dan menyerah.
Neeha menaikkan baju kaos yang ia pakai melewati leher dan kepala. Kini tersisa sebuah tanktop di badannya.
Gak mungkin dia nyuruh aku buka tanktop dan menyisakan pakaian dalam saja disini bukan. Neeha mulai ragu.
Neeha dengan perlahan menaikkan tanktop dari perutnya, tapi Langit dengan wajah tak peduli dan datarnya masih melihat Neeha. Langit tak menghentikan Neeha karena ia tau Neeha tak akan berani.
Terdengar bunyi Seseorang menurunkan pegangan pintu, membuat Neeha kaget. Langit dengan sigap menutupi tubuh dengan menarik Neeha ke dalam pelukannya sehingga bagian depan yang tidak tertutupi sudah dihalangi oleh tubuhnya.
Ternyata seorang Dosen yang sudah cukup berumur yang masuk. Ia hanya melihat kepala perempuan yang ada dalam pelukan Langit.
Ia segera bilang mau keluar dan meminta mereka menyelesaikan urusan mereka dengan cepat. Juga harus memperhatikan dimana mereka berada.
“Neeha apa kamu sudah tak waras. Kamu harus tahu untuk menjaga harga diri, bahkan jika kamu tak peduli setidaknya jaga harga diri saya sebagai Dosen disini” Langit melihat Neeha yang berada dalam pelukannya.
“Ini kemauan mas Langit, aku mau mas Langit ikut. Aku kan nurutin mas langit, ini bukan salah aku. Lagipula aku selalu punya harga diri. dan aku gak pernah berniat menghilangkan harga diri mas Langit” Neeha terdengar serius.
Benar, saya yang nyuruh. Saya yang salah. Mengapa setiap saya ingin mengerjainya malah saya yang kena sih.
“Ya sudah saya setuju, cepat pakai baju kamu.” langit menutupi tubuh Neeha saat sedang memakai Baju jaga-jaga jika ada Dosen lain yang masuk.
Bersambunggg...
__ADS_1