
Bunyi bel membuat Langit menyuruh menyuruh Neeha melihat siapa yang datang. Padahal Neeha sudah hampir menaiki tangga ke kamar. Neeha langsung panik melihat layar digital, yang datang adalah Ibu Mertuanya.
"Mas Langit" Neeha mengaitkan gigi atas dan bawahnya.
"Apa?. Siapa yang datang malam-malam begini. Rekan kamu lagi?"
"Ada Ibu Mas, Ibuuu"
Langit segera berdiri, berjalan menuju pintu. Ternyata memang benar dilihat dari layar digital, Ibunya datang dan masih menekan bel.
"Ya sudah ingat, kita harus tampak serasi okee!"
Langit melihat Neeha, tetapi wanita itu sudah mulai melatih wajahnya agar tampak tersenyum dan ramah tanpa sebuah beban.
Kamu memang sesuatu ya Neeha.
Langit menemui Ibunya di gerbang dan membawakan barang Ibunya, bingkisan buah. Nyonya Sanjaya masuk dan mengatakan bahwa ia sangat ingin berkunjung tapi suaminya terlalu lelah, makanya ia datang sendiri. Sebagai permintaan maaf, Suaminya mengirim teh.
"Lebih baik sendiri juga Bu" Langit bergumam jelas, membuat Neeha meliriknya.
Nyonya Sanjaya melihat pakaian mereka. Lalu tersenyum sumringah melihat Neeha.
Gawat, pakaian akuu.
Neeha mencoba pergi, tapi Nyonya Sanjaya tahu Neeha ingin mengganti pakaian, sehingga ia langsung memuji pakaian mereka yang cocok sekali. Ia juga bersyukur Neeha memakai pemberiannya.
Setelah duduk di sofa, tanpa basa-basi Nyonya Sanjaya langsung memilki ide. yang datang dari perasaan spontan melihat kecanggungan antara Langit dan menantu perempuannya.
"Kalian sebentar lagi mau 3 bulan kan?" Nyonya Sanjaya langsung tertawa dan menepuk bahu Langit Putranya.
“Memangnya kalau 3 bulan kenapa ya Bu?.” Neeha menggaruk tengkuknya merasa bingung.
Neeha melirik Langit agar Langit bisa menjelaskan padanya. Langit yang dilirik ikutan bingung sambil mengangkat dua tangannya pertanda kalau ia juga tak tahu.
“Kalian harus ngasih ibu CUCU” Mendengar pernyataan Nyonya Sanjaya, serentak Langit dan Neeha terbatuk.
"Tapi Bu"
Nyonya Sanjaya menyela putranya, "Kalian harus ke rumah Ibu dan Ayah. Ke rumahnya orang tua suami karena kalian kan tinggalnya gak sama ibu dan Ayah" Sambung Nyonya Sanjaya menjelaskan.
"Aku kurang tahu sih Bu" Jawab Neeha jujur dan bingung lagi.
"Ini memang dari keluarga kami ya kan Langit" Nyonya Sanjaya melihat Langit.
Mau Dibantah tapi ini maunya Ibu.
Langit manggut-manggut seolah mengiyakan Ibunya. Neeha bercerita banyak hal dengan Nyonya Sanjaya. Obrolan mertua menantu itu nampaknya cukup baik dilihat dari kacamata Langit.
Saat obrolan mengarah pada hubungan mereka. Neeha tampak sangat lihai mengelak, karena Neeha takut kalau nanti bohong malah akan merepotkan ke depannya. Beberapa kali juga Neeha dan Langit saling lirik dan mencoba menyatukan pemikiran mereka.
__ADS_1
Nyonya Sanjaya curiga kalau mereka memang sebenarnya tidak harmonis dan hanya berpura-pura. Tampaknya ia harus menunggu lebih lama untuk menimang cucu.
Langit pergi ke Kamarnya sebentar untuk mengangkat telepon dari salah satu Dosen yang dahulu juga Dosennya di kampus. Neeha dan Ibunya masih mengobrol tentang hal-hal yang sederhana.
Neeha menyimpulkan satu hal dari perkataan Nyonya Sanjaya Ibunya Langit.
Mohon maklumi sifat Langit yang kaku dan kadang aneh. Jika sudah saling memahami maka akan membuat ia mengerti.
Neeha sangat mengantuk. Beberapa kali Neeha menguap dan mencoba melebarkan matanya.
"Neeha kamu mengantuk?" Nyonya Sanjaya melihat mata sayu Neeha yang sudah menyipit.
“Enggak kok Bu” Neeha tersenyum paksa.
"Ya sudah, ibu mau ambil air dulu ya, Ibu haus" Nyonya Sanjaya membuat Neeha langsung ingin berdiri.
"Biar aku yang ambilkan Bu" Neeha menawarkan, hitung-hitung mengurangi rasa kantuknya.
“Tidak usah, kamu pasti capek, lagipula Ibu mau lihat sendiri isi kulkas kalian. Sekalian meletakkan teh dari Ayah" Nyonya Sanjaya memaksa Neeha agar menunggunya.
Saat di dapur, Nyonya Sanjaya melihat tempat gelas, tampak semua gelas terlihat biasa dan bening. Nyonya Sanjaya mengingat dua cangkir yang tergeletak di meja tadi sambil tersenyum.
Mereka memakai sendal pasangan, dan bahkan pakai cangkir pasangan. Bukan hanya untuk mengambil gambar agar orangtuanya percaya tapi itu nyata. Neeha benar-benar merubah Langit yang kaku, datar dan monoton jadi lebih bewarna, seperti manusia normal lagi.
Neeha menantuku, kamu akan tetap jadi menantuku.
Kenapa dia tidur dengan posisi begitu, nanti dia bisa sakit leher.
Langit mendekati Neeha mencoba melihat sekeliling mencari Ibunya. Saat Neeha perlahan bergerak ke samping, Langit langsung menahan kepala Neeha dengan pelan agar tidak membangunkannya.
Langit terpaksa menggendong Neeha. Berniat memindahkannya ke dalam kamar. Nyonya Sanjaya yang melihat Langit bersembunyi di balik dinding.
Saat Langit sudah masuk ke dalam kamar, Nyonya Sanjaya bergegas menuju kamar tamu. Ia berpura-pura tidur.
Langit kembali keluar untuk mematikan lampu dan memastikan Ibunya. Setelah Langit melihat Ibunya tertidur, ia mematikan lampu dan kembali ke kamar.
***
Langit mau merapikan selimut untuk Neeha. Baru mengembangkan selimut, Neeha menggeliat, membuat Langit secara tak sadar melihat seluruh Tubuh Neeha.
Baju dengan lengan tali super kecil, Neeha yang tidak memakai Br*. dan celana super pendek yang memperlihatkan paha Neeha yang mulus.
Apa pakaian di tubuhnya tidak jadi diganti. Saya memang tak tertarik, tapi saya juga laki-laki normal. Oh ya karena kedatangan ibu kami jadi lupa
Langit mengatur deru nafasnya. Menghentikan juniornya di bagian bawah yang tidak bisa diajak santai.
Hentikan hey-hey ingat saya gak boleh tertarik sama dia. Perempuan manja ini tak bisa menarik perhatian saya. Saya tidak berhak jatuh cinta dan merasakan cinta lagi, hushh hushhh
Langit menutupi seluruh Tubuh Neeha dengan selimut rapat-rapat. Ia melihat Neeha kembali, kemudian geleng-geleng sendiri.
__ADS_1
Tidak mungkin saya tergoda dengan Neeha. Dia sama seperti perempuan lainnya. Ingat Langit, dia itu hanyalah istri sementara kamu, jangan tertarik sedikitpun.
Langit menepuk pipinya mencoba sadar.
*******
Neeha terbangun lebih dahulu dari Langit. Neeha merasakan ada sesuatu yang janggal dari tubuhnya. Ternyata itu ulah Langit, tangan Langit berada di tempat yang salah. Langit memegang buah da** Neeha.
"Mas Langit" Neeha membuat Langit terbangun.
Langit juga merasakan sesuatu yang janggal dari. Langit mengumpulkan kesadaran, ia melihat Neeha menatapnya penuh amarah berapi-api. Langit melihat letak tangannya, ia menelan ludah.
Dasar mesum, gak tertarik gundul mu. Main-main ? bukan dengan aku.
Neeha yang tak bisa menerima hal itu langsung melepaskan dan menggenggam lengan Langit. Neeha menarik nafasnya mengumpulkan kekuatan.
"Apa yang mau kamu lakukan Nee?. Saya gak senga.." Belum selesai Langit meneruskan permintaan maafnya.
Neeha langsung menggigit lengan Langit dengan sekuat tenaga. Langit hanya bisa menahan sakit sampai Neeha merasa puas. Jika ia berusaha melepaskan, mungkin Neeha akan melakukan hal ekstrim bahkan anarkis.
"Neeha kamu manusia atau kucing?"
"Kalo kucing kenapa?" Neeha turun dari ranjang dengan perasaan kesal.
Langit mengelus lengannya yang berdenyut setelah Neeha melepaskan gigitannya. Gigitan yang menyisakan bekas begitu jelas
****
Mereka memutuskan untuk tidak olahraga, Langit duduk di meja makan. Nyonya Sanjaya dan dibantu Neeha menyiapkan semuanya.
"Sepertinya aku harus suntik rabies Bu" Langit berucap tiba-tiba.
"Kenapa, kamu kena rabies?" Nyonya Sanjaya menatap Putranya.
"Kali ini belum kerasa sih Bu, tapi nanti mungkin bisa nyebar" Ucap Langit dengan santainya.
"Apa yang kamu lakukan? apa kamu digigit anjing liar?" Nyonya Sanjaya merasa khawatir.
Jangan bilang Mas Langit mau ngadu sama Ibunya.
"Bukan anjing liar bu, Tapi kucing, kucing liar"
Langit tersenyum melihat Neeha sekilas.
"Dimana kamu digigit kucing liar. Semalam baik-baik saja kan" Nyonya Sanjaya terheran-heran.
"Tempatnya gak terduga Bu, kucing liar itu lumayan besar" Langit masih tersenyum sambil memakan sarapannya.
Bersambung...
__ADS_1