
Langit terbangun lebih dulu, ia menatap wajah istrinya. Yang begitu cantik meskipun masih menutup mata. Neeha terbangun beberapa saat kemudian, tangannya erat memeluk tubuh Langit. Ia meremas dada suaminya yang begitu ia sukai itu. Kali ini Langit tidak menggodanya atau menghindar lagi.
Langit tersenyum menggenggam tangan istrinya “Apa kamu belum puas setelah semalam Nee?”
“Mas Langit..” Neeha tersipu.
“Saya sangat mencintai kamu, apa kita..” Langit memajukan bibirnya hendak mencium Neeha.
Segera tangan Neeha menutup mulut Langit. “ Mas, kalo kamu nggak bergegas, kamu bisa terlambat mengajar loh. Belum lagi kita harus masak”
“Saya bisa memasak dengan kecepatan berlari seorang atlet Nee, kamu tahu kan saya paling suka olahraga. Semalam juga saya...” lagi-lagi Neeha harus menutup mulut suaminya itu.
“Aku percaya kamu kok Mas, sekarang kita harus bangun” Neeha bangkit dan segera berdiri menutup tubuhnya dengan selimut.
“Kenapa harus ditutupi, apa pengakuan saya sulit dipercaya Nee?” tanya Langit.
Kalau mas langit sudah menetapkan hati, memang sulit terbebas darinya. Lihatlah sekarang tak henti-hentinya menggodaku.
Neeha melepas selimut “Nih udah kan” dengan wajah memerah, Neeha segera berlari menuju kamar mandi.
Tanpa diduga Langit mengikutinya. “Saya juga mau mandi, kamu bilang takut saya terlambat kan. Kita mandi bersama saja”
“Tapi Mas?”
“Apa kamu malu dengan suami kamu sendiri?” tanya Langit.
Neeha menggeleng, mereka pun akhirnya mandi bersama.
Seusai mandi, Neeha mencium aroma yang sedari tadi mengganggunya. Bukankah ini aroma parfum limited yang ia pesan pada Zizi. Ia juga mencium aroma yang sama di tubuh suaminya.
“Akhirnya, suatu masalah penting bisa aku coba selesaikan” Neeha menjentikkan jarinya.
“Masalah apa?. Neeha kamu terlibat masalah?. Biar saya yang selesaikan” Langit menawarkan diri.
“Bukan Mas, aku masih harus membuktikannya dulu. Aku nggak mau ngerepotin Mas Langit”
“Apa kamu masih ingin bukti kalau saya mencintai kamu Nee, apa perlu kita ulang sekali lagi bagaimana hebatnya saya di ranjang” Langit membuka kancing kemeja bagian atasnya.
__ADS_1
Neeha segera memasangkan kembali kancing tersebut. “Nggak gitu Mas, aku percaya kamu kok Mas, kamu memang serigala di ranjang. Tetapi Ini tentang Michele”
“Michele?. Apa dia mencoba?”
Neeha memotong ucapan suaminya. “Mas Langit, aku akan cari tahu dulu, pokoknya Mas Langit tenang saja ya”
Langit mendekat dan menyentuh kepala Neeha, memperlihatkan wajah khawatirnya yang terasa lucu bagi Neeha “Saya nggak mau kamu saah paham Nee, saya benar-benar sudah”
“Mas Langittt, apapun itu aku percaya kamu”
Neeha melirik suaminya itu memang sifat monoton bawaaan lahir Langit masih suka kambuh meskipun kini ia lebih banyak bicara pada Neeha.
Langit dan Neeha memakan sarapan yang mereka buat bersama. Lebih tepatnya sarapan yang sebagian besar dikerjakan Langit dan Neeha bagian megang gagang spatula saja masih harus pakai pengawasan Langit.
Tapi suasana mereka sudah berbeda, kini lebih romantis karena mereka sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing bahkan memiliki malam yang tak terlupakan dalam keadaan sadar.
...*********...
Neeha menunggu Langit sambil menikmati udara di taman kampus. Ia menikmati beberapa buku yang ditinggalkan Langit agar ia tak bosan.
Neeha juga kepikiran dengan aroma parfumnya. Ia menelepon seseorang yang sangat profesional untuk menyelidiki Michele. Ada yang janggal dengan kepulangan mendadak dari Michele yang sudah jelas-jelas memutuskan pergi ke luar negeri dan mengakhiri hubungan dengan Langit.
Tetapi mengapa tiba-tiba acara pameran di kampus serta pertemuan reuni seolah sengaja membuat mereka bertemu. Setelah mendengar Michele saat mengobrol juga Neeha tahu tak ada keinginan dari Michele untuk merebut suaminya.
Aku yakin parfum yang dipakai Michele pernah aku cium di aroma tubuh Aron. Aku juga membuktikannya di tubuh mas Langit. Apakah Michele dan Aron.
Neeha menganga, ia kagum dengan analisanya yang tajam namun juga masih harus membuktikan sesuatu.
Hingga Agung menghampiri dan memberikan selamat atas hubungan mereka. “Saya bilang apa Meha. Saya pendukung kamu sejak awal”
“Iya Agung, nama aku Neeha aku juga sejak awal memberitahu kamu!”
“Iya Neeha, istri saya juga pasti senang”
“Oh ya Ajeng gimana keadaannya?”
“Dia baik, Dokter juga yakin program kami akan segera berhasil karena Ajeng selalu positif dan membuat kesehatannya mendukung”
__ADS_1
“Bagusdeh kalo gitu”
Belum sempat mengobrol leboh lama. Neeha mendapat panggilan dari Aca. Neeha menitipkan makanan pada Agung akhirnya.
***
Michele mendatangi museum benda bersejarah, tempat dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Aron dahulu. Dia menunggu Langit yang terlambat karena cuaca buruk sehabis menemani Agung.
Awal mula Michele mendapati laki-laki yang sama menyedihkan dengan dirinya. Yang ingin membuktikan diri bahwa memilki ketenaran dan kekayaan mudah digapai dengan menomorduakan apa yang sangat berharga.
Saat itu, Aron memilih meninggalkan ibunya dan Michele meninggalkan orang yang tulus mencintainya. Perlahan tapi pasti cintanya semakin dalam dengan pilihan salah yang tidak seharusnya dilakukan.
“Kalau saja kita tidak pernah bertemu, apakah aku dan Langit akan berakhir menikah sesuai perencaan?”
Michele terus berjalan mengelilingi museum yang lebih sering ia kunjungi bersama Aron dengan cara mencari alasan ketika masih berpacaran dengan Langit. Sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi meninggalkan Langit karena ia tahu akan semakin menyakitkan bagi Langit jika ia terus berbohong dalam hubungan mereka.
Aron datang dan memeluk tubuh Michele tiba-tiba. Sebelumnya bahkan terlihat dalam acara yang sama pun Aron menolak. Ia akan terlihat asing bahkan ketika berpapasan dengan istri simpanannya itu.
“Aron bagaimana jika ada yang lihat” Michele mencoba melepaskan diri.
“Biar saja, museum ini tidak terlalu dikenal. Tak banyak yang tahu tempat ini”
“Bukannya kamu sudah meminta kau buat pergi, nagpain kamu disini?”
Semakin kuat Michele mencoba melepaskan diri, semakin kuat juga Aron memeluknya. Meskipun Michele bestatus istri simpanan. Tetapi Aron lebih perhatian pada Michele. Karena istrinya sendiri yang berdarah asing tak pernah serius menganggap pernikahan kecuali untuk berbisnis. Disaat Aron merasa rapuh, Michele yang akan selalu menemaninya.
“Maaf karena marah dan berteriak semalam” Ujar Aron sembari melepas pelukan dan menatap istrinya.
“Meskipun kamu meminta maaf, keputusan aku akan tetap sama Aron. Aku tidak akan merusak cinta Langit untuk kedua kalinya.”
“Baiklah, aku paham, aku akan memikirkan cara lainnya. Kamu tahu kan Tidak ada yang tidak bisa didapatkan oleh Aron”
Sebelumnya Michele kembali bertanya, apakah Aron mencintai Neeha?. Tapi jawaban lelaki itu tak dapat dipastikan. Aron sepertinya lebih ke terjerat Neeha karena Neeha terkait dengan Ibunya.
Neeha, gadis ceria yang membuat ibunya bertahan bahkan selalu disinggung oleh ibunya ketika masih hidup. Namun tujuannya kini lebih mengarah kepada keserakahan dan ingin lepas dari keluarga istri asingnya yang begitu kuat.
Bersambung...
__ADS_1