
Neeha mencari keberadaan Langit. Rupanya suaminya itu sedang menekuk kepala ke setir mobil. Tampaknya stress dengan apa yang terjadi. Ia tidak bisa datang mengajar sebelum penyelidikan usai.
Ketukan jendela berkali-kali membuat Langit mendongak. "Neeha?"
"Turun Mas!".
Neeha membuat posisi setir berada di kendalinya
"Mas Langit mau kemana?"
"Nee bukannya saya nyuruh..."
"Aku nggak bisa Mas, apa kamu mau aku berdiam diri saat suami aku terkena masalah?"
"Saya hanya ingin kamu tidak terlibat Nee. Ini masalah saya"
"Iya aku tahu, makanya Mas Langit bahkan kasih aku guci langka buat dijadiin gayung. udah Pecah Mas..."
"Pecah ???. Nee, itu amat langka Nee peninggalan yang bisa dikoleksi seharga...."
"Tuh kan...Mas Langit masih peduli dengan guci itu"
"Tidak Nee, saya"
"Mas, apa kamu masih belum mencintaiku?" tanya Neeha.
"Apa maksud kamu Nee, saya mencintai kamu. Sangat mencintaimu"
"Kalau gitu, aku mau menemani Mas Langit. Masalah Disertasi aku yakin Perusahaan akan segera punya solusi"
"Perusahaan?" Langit biingung.
"Iya Mas, ini rekayasa Aron. Makanya Mas Langit jangan pergi sendiri saja. Ini juga melibatkan aku. Aku juga tadi hampir dibawa paksa sama orang suruhan Aron"
"Apa?. Kamu nggak apa-apa Nee" Langit melihat tubuh istrinya memastikan.
"Nggak apa-apa kok Mas, aku harus tahu kalau mereka memang disuruh Aron. sejak tadi nggak mau ngaku. Aku bisa minta Tim dari Wiliam dan Papa buat nyelesaiin masalah Disertasi kamu Mas"
"Masalah Disertasi tidak penting. Kamu lebih penting"
"Mas, nggak ada lebih atau kurang penting. Masalah kita sama-sama penting"
...*********...
Seusai memberi kesaksian di kantor Polisi. Nampaknya orang-orang itu tak mau mengaku. Mereka memutuskan untuk ditahan.
Hampir malam hari, bahkan satu dari mereka tak ada yang berani membuka mulut.
"Nee, sebaiknya kita pulang saja. Mulut mereka terkunci rapat"
__ADS_1
"Tapi Mas..."
Ponsel Neeha berdering, Ponsel yang selalu berada di saku celana Langit itu akhirnya dikeluarkan. Nama Zizi tertoreh di layarnya.
Zizi meminta Neeha datang ke sebuah restoran mewah.
"Jangan lagi Nee!" pinta Langit.
"Aku harus pastikan Aron tahu kalau nggak semua cara ilegalnya bisa mempengaruhi orang lain. Apalagi dia melakukan hal ini karena Ibunya yang telah tiada Mas. Aku ikut terlibat"
"Saya antar ya?"
"Iya Mas,"
Langit diminta menunggu di mobil. Namun karena khawatir dengan Neeha Langit mengikutinya.
Disana ada Zizi dan Aron. Tanpa basa-basi panjang, Aron menawarkan posisi CEO pada Neeha. Aron juga memberikan file serangan yang akan membuat Perusahaan Rinto Grup jatuh dalam waktu semalam saja.
Neeha menolak dan membeberkan fakta yang ia dapat. Sebelumnya ia meminta Zizi menjauh dahulu.
Neeha meminta penjelasan mengapa Aroma Aron seperti Michele. Karena ia juga sudah mencobanya pada langit. Memang benar harus saling menempel baru bisa punya wangi yang sama.
"Itu hanya kebetulan Neeha" elak Aron.
"Tidak ada yang namanya kebetulan Aron. Meskipun aku tidak mengambil tempat di toko parfum. Tapi aku sudah cukup berpengalaman dan hidungku tajam serta sensitif terhadap wangi parfum racikan terutama dari Toko langganan selama bertahun-tahun"
"Benarkah, padahal aku ingin menjelaskan tentang Ibuku Nee" Aron membuat wajah menyedihkan.
Neeha tertawa.
"Aron, jangan pikir semua orang akan mudah berpaling jika ditawari sesuatu yang lebih menarik"
"Maksud kamu apa Neeha"
"Bukankah sudah jelas Aron. Aku tidak sama seperti Michele yang mudah luluh atau mudah berpaling dari laki-laki yang tulus mencintai"
"Langit masih mencintai Michele Neeha" ujar Aron.
"Lebih tepatnya, Langit mencintaiku. Apa aku harus jelaskan bahwa barusan kamu mengakui punya hubungan istimewa dengan Michele?" Neeha tersenyum.
"Neeha, Ibu saya..." Aron mulai meneteskan air matanya.
"Aku tahu bagaimana Ibu" tegas Neeha. "Tak perlu mendengarnya darimu"
"Neeha Ibu membenci saya, tapi ibu menyukaimu. Jika kita bersama Saya yakin Ibu..."
"Aron, jangan berpura-pura. aku tahu kamu meminta orang mencelakaiku. Bersiaplah membuat kesaksian. Kita lihat siapa yang akan jatuh karena kamu berani memfitnah suamiku"
"Neeha saya hanya ingin mereka membawa kamu kesini"
__ADS_1
"Kok pakai kekerasan?"
"Pasti mereka salah Neeha"
"Jelaskan saja di kantor Polisi!" Neeha pergi diiringi lelaki berbadan kekar yang diutus Tuan Rinto.
Memang yaa. Orang jahat nggak perlu di kasih hati. Dia harus merasakan sendiri akibat perbuatannya biar sadar.
Sebelumnya Neeha berbalik untuk menyampaikan sesuatu. " Ingat Aron, Tentang Ibumu. Kamu adalah anak yang masih dirindukannya meskipun berbuat hal jahat" Neeha benar-benar pergi.
Sembari menjelaskan di kantor polisi. Berita mengenai bisnis Ilegal dari Perusahaan Aron justru menyeruak.
Dalam bisnis, ada yang dinamakan siapa cepat dia dapat dan yang berkuasa akan menang. Istilah itu dapat membuktikan bahwa Rinto Grup bukanlah hal yang mudah disingkirkan.
Semua pemegang saham yang berpaling tak begitu memberikan dampak bagi Rinto Grup. Banyak sekali saham baru yang menggantikannya.
Kalaupun Rinto Grup akan kekurangan dana. Satu-persatu anak perusahaan dan partner setianya akan rela Sama-sama menanggung.
"Akhirnya..." Wiliam menghela nafas panjang.
"Kamu berhasil Honey?" tanya Aca pada suaminya.
"Tentu saja, analisisku tidak akan salah. Dia juga mencoba menjebak kita. Untungnya Tuan Rinto bertindak cepat"
"Apa aku harus hubungi Neeha dulu ya?"
"Jangan Honey, Dia pasti juga punya sesuatu yang mesti dibahas dengan suaminya. Jangan ganggu mereka okey!"
Aca mengangguk, ia membuang Ponsel dan mulai mencium bibir suaminya.
...*********...
Usai memberi kesaksian tentang orang suruhannya. Aron langsung ditahan untuk penyelidikan yang sukses membuatnya menegang.
"Saya hanya sebagai penjamin bahwa mereka tak berniat jahat oke"
"Kami tahu anda menolak berkata jujur. Untungnya ada kasus lainnya yang melibatkan anda Tuan Aron" ujar kepala Polisi disana.
Aron panik dan mencoba menghubungi orang-orang Perusahaan. Namun tampaknya mereka semua sudah menutup mata.
Sudah jelas, Aron akan menjadi kambing hitam apabila bisnis ilegal mereka terkuak. Istrinya yang berasal dari tanah asing sudah mengirimkan bukti cerai.
Tak ada siapapun yang bisa dimintai Aron lagi. Dia lupa bahwa ha yang ia mulai sudah salah. Dia lupa bahwa semua akan berbalik menyerangnya kapan saja apabila dia sudah tidak berguna.
Michele datang bersama pengacara. Apapun yang terjadi, ia berharap suaminya itu sadar.
"Kenapa kamu tidak pergi saja Michele. Sama seperti yang lainnya. Jangan terlibat denganku!"
"Aku yang dari awal dan sadar sudah memilih jalan ini bersamamu Aron. Aku tidak akan pergi" ucap Michele berkaca-kaca.
__ADS_1
Bersambung.....