
Begitu canggung Neeha hingga ia berhenti bicara ketika dalam perjalanan. Ia hanya memandang pepohonan saja.
"Nee"
"Iya" Neeha tidak menengok
"Sejak kita sarapan sampai sekarang pun kamu tidak mau melihat saya"
"Oh ya Mas" Neeha melihat Langit sekilas.
Ya nggak gitu juga Konsepnya Neeha. Serasa mau saya tarik saja leher kamu melihat saya. Eh tapi saya harus sabar.
"Kamu masih mengingat kejadian tadi?" celetuk Langit memecah keheningan kembali.
Entah mengapa ia lebih suka Neeha yang banyak bicara walaupun kadang hal yang dibahas Neeha begitu sepele dan tidak penting. Ia lebih suka menggoda Neeha agar wanita itu marah dibanding didiamkan seperti saat ini.
"Enggak, Mas enggak, enggak kok" tegas Neeha, "Lihat nih aku juga mandang Mas Langit kayak biasanya" Neeha melihat Langit agak melotot paksa.
"Ooh enggak, baiklah"
Jangan nyinggung masalah itu bisa nggak sih Mas Langit. Kenapa dia yang mulai bicara duluan Biasanya juga cuma hmm hmm aja atau jawaban monoton lainnya.
"Nanti malam kabari saya ya!"
"Kabari apa Mas?"
"Kamu pikun Nee?"
"Hah?"
"Makan malam Perusahaan kamu?. Kabari saya saat hampir selesai hingga saya bisa datang tepat waktu!"
"Iya Mas pasti aku kabari"
Tak terasa mobil mereka sudah berhenti di depan Perusahaan. "Neeha kalau..." belum sempat Langit menyelesaikan ucapannya.
"Iya Mas" Neeha segera bergegas turun tanpa dibukakan pintu.
Langit hanya melihat bayangan istrinya yang perlahan menghilang. "Kalau kamu butuh saya disana juga saya akan hadir"
Langit memutar kemudi, membelah jalanan berbalik menuju kampusnya.
...********...
Sera menghampiri meja Neeha. Akibat terlalu serius, Neeha tidak begitu peduli siapa yang datang.
"Neeha nanti aku ikut perjalanan bisnis lagi sama Jordi" Sera meletakkan sebuah permen di atas meja Neeha.
"Ooh gitu yaudah baguslah"
Aku nggak perlu tahu masalah itu kali. Mau pamer juga aku nggak iri. Lagipula meskipun nggak ada Jordi, Azkal dan Clara lebih memuakkan.
"Kamu nggak terimakasih?"
"Buat apa Sera?" tanya Neeha, ia melihat permen dari Sera, "Karena permen ini?. Yaudah makasih, aku nggak begitu suka permen juga karena Suami aku nggak suka yang banyak tambahan rasa. Kita sukanya yang sehat"
Tanpa ditanya Neeha lancar sekali membeberkan kebiasaannya. Sekaligus pamer betapa perhatiannya Langit atas kesehatannya.
"Bukan, buat hadiah kiriman aku dan Lasmi"
"Kiriman?. kiriman yang mana?"
"yang waktu itu, kita kirim ke kampus suami kamu loh"
__ADS_1
Neeha mengingat-ingat. "oo vitamin itu"
"Iya, gimana ?, kerasa kan?" desak Sera butuh jawaban.
"Apanya yang kerasa, orang belum dicoba juga"
"Yah belum, ntar kalau udah dicoba nggak perlu bilang makasih. Aku ikhlas dan turut bahagia" Sera meninggalkannya dengan senyuman.
Aneh banget cuman ngasih vitamin juga. Emang cocok sih dia sama Jordi. kalau mereka bareng pasti Jordi akan lebih baik.
...********...
Agung susah payah menahan suara tawanya agar tidak menggelegar. Mendengar Langit kewalahan atas satu wanita setelah sekian lama merupakan sebuah angin segar baginya.
"Mungkin punya Lo kecil kali?"
"Kurang ajar Lo. Mau gue bandingkan?"
"Sabar Ngit gue becanda"
"Terus elus-elus, apa dia anak-anak mesti dielus buat bikin akting yang bagus?" Langit menyeruput kopinya.
"Ya kan itu cuma saran istri Lo aja Ngit. Lo bisa ngelakuin sedikit aksi"
"Maksud Lo?"
"Ya Lo bisa cium dia. Lo itu kan pencium yang profesional"
"Pencium profesional apanya. Dia bilang nggak harus"
"Hidup Lo itu terlalu kaku. Kalau wanita bilang jangan itu artinya ayo lakukan. Kalo dia bilang enggak sebenarnya mau kalau dia bilang terserah artinya suruh Lo nebak. Itu makan Wanita Ngit!" Agung memberikan saran yang sekiranya berguna.
"Emangnya gitu?" Langit hanya mencoba berpikir sejenak.
"Iya. dan jangan samain semua wanita kayak Michele. yang selalu terus terang bilang apa yang suka dan enggak apa yang ia mau dan enggak. dan bikin Lo jadi super penurut"
"Udah gue bilang jangan sebut dia Gung!"
"Gue nyebut biar Lo lupa sepenuhnya Ngit. Lo nggak bisa kurung kisah cinta Lo selamanya!"
"Udahlah malas gue minta saran dari Lo" Langit berdiri.
"Mau kemana Lo Ngit?"
"Mau ngajar lah, Lo pikir gue ke kampus santai-santai"
...*********...
"Hahahaha" Aca cekikikan karena Neeha.
"Aku malu banget Aca"
"Iyalah kamu malu dan kepikiran banget pastinya karena itu sampai kebawa mimpi"
"Lah kamu malah ngetawain aku, bukannya kasih solusi"
"Solusi apa, orang dianya biasa saja. Kamu juga harus biasa aja"
"Mas Langit itu godain aku kayaknya, berkesan apa tuh"
"Iya dong berkesan. Punya Wili juga waktu awal awal pernikahan kita berkesan banget aku sampai ngelihat punya laki-laki di sekitar kantor" Aca mengingat pengalamannya.
"Buat apa Aca"
__ADS_1
"Ya tanpa sadar aku memperkirakan ukuran punya mereka sama punyanya Wili"
"Hah" Neeha tak habis pikir sempat-sempatnya Aca berbuat begitu.
"Kenapa kamu nggak lanjut aja sih Nee?"
"Lanjut apanya yang lanjut Acara?" tanya Neeha.
"Lanjut buat tes apa suami kamu nggak bergairah sedikitpun sama kamu. Dari semua tindakannya yang nyentuh kamu dan segala macam aku yakin 100 persen kalau suami kamu itu tertarik sama kamu Nee"
"Dia nggak mau mencintai Aca" Neeha melihat sekitar, untungnya mereka di cafe yang jauh dari Perusahaan.
"Dia cuma menutup hatinya sementara Nee, kamu tinggal putar kunci terus masuk deh!"
"Kamu kira segampang itu apa Ca?"
"Jadi kamu udah suka kan sama suami Kamu?"
"Kok kamu bisa tak....enggak kok Ca"
"Jangan ngelak lagi Nee, kita sahabatan udah berapa lama sih?. Aku udah tahu kamu mulai memandang Suami kamu berbeda"
Akhirnya Neeha jujur. Ia pernah bahkan sering berdebar-debar atas sikap Langit.
"Tuh kan apa aku bilang. Kamu pasti lambat laun akan jatuh hati sama Suami kamu. Karena perlakuannnya"
"Tapi kadang dia suka ngeselin juga Aca. Sampai aku nggak tahan"
"Justru itu yang bikin hubungan kalian akan erat. Kalau adem ayem aja ya ga bakal ada sensasinya dong"
"Terus aku mesti gimana Aca?. Dia nggak ada minat mencintai lagi"
"Kamu tes dia!. Atau kamu bisa pelan-pelan mancing dia!"
Setelah mendapat nasehat berguna dari Aca. Mereka akhirnya membahas perihal makan malam.
Tentang kemungkinan Clara dan Azkal akan membuat Neeha kesal. Karena pelaku lainnya tidak ada, Sera sudah melunak untuk Neeha.
"Satu lagi Nee"
"Apa Aca, ekspresi kamu kok berubah?"
"Aku dengar Aron juga datang"
Bruuuhhh....
Neeha memuncratkan minumannya. "Buat apa?"
"Dia dan Perusahaan Azkal itu udah kayak rantai Nee. Sejalan"
"Terus gimana?"
"Ya mau gimana. Pokoknya kamu jaga jarak aja dari dia. Selama sasarannya bukan kamu sih nggak apa-apa"
"Gimana kalau aku" Sekelebat masalah balas Budi menghantui Neeha.
"Kamu percaya aku kan?" tanya Aca.
"Iya aku percaya"
"Kalau gitu kmu juga harus percaya Wili. Apalagi semua kolega Wili punya jabatan yang nggak main-main Nee. Kamu tenang saja"
Bersambung....
__ADS_1