
Neeha merasakan udara yang cukup panas. Ia ingin menaikkan AC, tapi rasanya sayang sekali.
Neeha mengingat ia membawa sebuah kipas angin mini di kopernya waktu itu. Neeha menghidupkan kipas angin mini sambil menonton TV
Dinginnnya gak kerasa, pasti baju aku salah nih
Neeha melihat lemari. Ada baju yang selalu terlipat. Ya, baju pemberian Ibunya Langit.
Neeha tak mau memakai baju itu karena talinya cukup kecil, hampir terlihat seperti tanktop namun versi seksinya. Kalau ia masih di rumah orangtuanya tidak apa-apa, sekarang ia sudah bersama Laki-laki, Langit suaminya.
Baju itu sepasang dengan celana yang ukurannya memang lebih pendek dari yang biasanya Neeha pakai. Neeha awalnya ragu mengganti pakaiannya, Namun karena hari ini kemungkian Langit tak akan pulang. Ia berani memakainya.
Karena tidak ada siapa-siapa, Neeha tidak memakai Br* miliknya. Kapan lagi bisa bebas melepaskan Br*, Bahkan di rumah. dan lagi lengan baju itu tampak sangat kecil, jadi tidak cocok jika memakai br*.
Tak lupa juga, Neeha memakai bando telinga kucing yang mereka menangkan saat itu dan mendapat nomor dua. Bando yang jika dilihat Langit, mungkin Langit akan mengejeknya kekanakan.
Neeha keluar kamar dan turun, lalu langsung melompat-lompat di sofa. Neeha mengekspresikan kebahagiaannya.
Akhirnyaaaa, Wuuuhuuu
Tak lupa Neeha mengambil camilan favoritnya yang sudah dibeli. Sudah sangat jarang ia makan camilan itu karena obsesi hidup sehat Langit.
Akhirnya kita bisa berpesta lagi camilan favoritku.
Setelah puas melompat, Neeha duduk merasakan badannya lega. Hembusan kipas angin kecil itu mengeluarkan udara yang pas hanya untuk Neeha.
Sebelum menonton TV, Neeha meyiapkan kerjaannya dahulu. Neeha mengetik dengan penuh semangat. Setelah pekerjaannya selesai, ia bersiap menonton Film yang sudah lama berada dalam list yang ingin ditontonnya.
Neeha menikmati menonton film sambil makan camilan dengan sesukanya, meminum air dari cangkir pasangan, dan bahkan menghambur-hamburkan cemilan. Saat sedang asik-asiknya menonton. Seseorang masuk membuka pintu tanpa menekan bel.
Kebahagiaan Neeha hanya berlangsung sesaat. Karena sudah jelas yang bisa masuk hanya Ia dan Langit. Neeha segera berdiri, melihat Langit sudah berada di rumah dan mengganti sepatunya dengan sandal.
"Bukannya Mas Langit gak jadi pulang ?" Neeha berdiri dengan raut wajah kecewa.
"Saya bilang telat atau mungkin akan menginap. Tapi itu kemungkinan, artinya tidak pasti"
"Yah" Neeha kehilangan semangat.
"Kenapa kamu terdengar kecewa?"
"Enggak kok aku cumaaa memastikan" Neeha tergagap dan memaksakan senyumannya.
Langit melihat Neeha dari atas sampai bawah.
Apa yang ia pakai, apa ia sedang cosplay jadi kucing hidup
__ADS_1
Langit mencoba berpaling ke arah lain. Melihat semuanya sangat berantakan.
"Apa ada tawuran di rumah ini?"
"Enggak Mas, aku- akuu"
Langit menyuruh Neeha membersihkan Meja. Ia ingin duduk di sofa, namun tidak suka meja yang berantakan karena camilan yang dimakan Neeha sudah beterbangan kesana kemari. Membuat pemandangan kotor yang tak terkira bagi Langit yang suka kebersihan.
Neeha membereskan meja. Tak lupa juga mengelapnya agar terlihat kinclong seperti semula.
"Udah bersih kok Mas"
Neeha mempersilahkan Langit duduk. Langit ingin marah, dan Neeha sudah bersiap untuk diomeli.
Saya harus tahu alasan dia terlihat begini. Tidak boleh marah Langit, kamu lebih dewasa dan harus lebih sabar. Dia manja ceroboh dan Hedon, kamu harap maklum.
"Ambilkan saya minum, saya haus" Langit duduk.
Kalau saja Neeha tidak terpergok makan camilan dan membuat berantakan. ia tak akan mau meladeni Langit.
"Oke, Mas Langit tunggu sebentar ya!"
Neeha berjalan menuju dapur, mengambil cangkir milik Langit dan menuangkan air ke dalamnya. Dengan hati-hati Neeha membawa cangkir itu untuk Langit.
Langit melihat Neeha meletakkan cangkir, Ia segera berdiri. "Ganti dengan air panas lalu taro di meja, saya mau mandi dulu !"
Tadi gak bilang, aku udah selesai menuang dan membawakannya air , eh bilang begini begitu, menyebalkan
****
Langit selesai mandi, Ia sengaja memakai pakaian tidur yang senada dengan Neeha berharap perempuan itu akan sadar. Neeha kembali duduk di sofa, tak peduli dengan apa yang dipakai Langit.
Melihat Neeha yang bahkan tidak meliriknya membuat Langit melemparkan handuknya ke muka Neeha. Neeha langsung tersandar ke sofa. Langit duduk di samping Neeha.
"kamu kenapa sih Mas?"
"Itu karena kamu tidak mengikuti anjuran saya untuk hidup lebih sehat"
"Sekali aja, maafin kali Mas, aku bahkan bawain air panas buat kamu, aku mau beresin setelah selesai Mas "
" Oke kali ini saja, lain kali meskipun saya tidak pulang, Kamu tetap harus makan makanan sehat, ini demi...
"Iya Mas Langit, aku janji deh Ini terakhir kalinya Oke"
"Janji - janji mudah sekali kamu mengatakan janji Nee"
__ADS_1
"Maafin ya Mas.." Neeha menelas.
"Alasan kamu membuang camilan dan membuat berantakan adalah karena saya tidak pulang?"
"Bisa jadi Mas"
"Bisa jadi?"
"Salah satunya itu Mas, tapi aku cuma rindu camilan aja Kok Mas, kebetulan Mas Langit nggak pulang"
"Kemungkinan Nee!"
"Iya maksud aku karena kemungkinan Mas Langit nggak pulang"
Dasar monoton dan bawel
Apa yang kamu lakukan?" Langit berbasa-basi.
“Nonton.” Jawab Neeha.
“Apa yang ada di kepala kamu itu?.” Langit melihat bando telinga kucing yang dipakai Neeha.
“Ini bando hadiah yang kita dapat waktu itu. Gimana? lucu kan,kan?.” Neeha mengangkat tangannya untuk menunjukkan bando telinga kucing itu.
Lucu, cantik dan seksi.
Tanpa sadar Langit memikirkan kata itu setelah melihat Neeha yang tangannya berada di atas kepala menunjukkan bando yang dipakainya.
Baju Neeha memperlihatkan tonjolan yang jelas, Jakun Langit bergoyang tanda ia kesulitan menelan ludahnya sendiri. Celana yang dipakai Neeha juga, walaupun Neeha memang sering memakai celana pendek, namun tak pernah yang sependek itu.
Apa dia bahkan tidak memakai Br*. Dan Apa-apaan celana super pendek ini. Pakaian tidur yang sangatt seksi dari biasanya. Apa seperti ini saat ia mencoba menggoda dan merayu pria. Apa dia latihan menjadi liar, makanya camilan pun terhambur-hambur
Langit tenggelam, tenggelam dalam semua teori yang ia pikirkan dan simpulkan sendiri. Langit pulang karena ia pikir Neeha akan berbuat yang aneh. Namun ia tak menyangka bahwa Neeha akan berbuat hal aneh di luar yang bisa ia bayangkan.
Mas Langit melihat apa sih, apa dia nyari camilan yang masih belum bersih
Neeha ikut melihat berbagai sisi sekitar, namun sudah bersih.
“Mas Langit.” Neeha membuyarkan pemikiran-pemikiran Langit.
“Apa?.”
“Lucukan?. Cocok gak bandonya sama aku?.” Neeha kembali bertanya.
“Tentu saja barang kekanakan seperti itu, untuk perempuan manja dan kekanakan seperti kamu serasi dan cocok.” Langit menjawabnya.
__ADS_1
“Bilang saja cocok tidak usah ditambah kata manja dan kekanakan karena gak ada hubungannya" Neeha menaikkan bibirnya sebelah.
Bersambung....