
Langit terbangun dari tidurnya. Kepala agak pusing, menyadari bahwa ia tidur di kasur tanpa sehelai benangpun.
Ia melihat ke sebelahnya, Tidak ada siapa-siapa. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Kain sprei tidak ada, beberapa barang, tampak habis dirapikan dengan tidak benar.
Langit turun seusai bersiap, Neeha duduk tersenyum sambil mengisyaratkan ia datang melihat.
Mengapa Neeha bersikap begini? apa karena pengakuannya semalam?
" apa kamu merapikan kamar di atas? Langit menghampiri istrinya.
"Iya Mas"
"Kamu tampak pucat, apa kamu sakit?" Langit mengusap kening Neeha mencoba mengukur suhu.
"Enggak kok Mas, Silahkan duduk!"
Langit duduk di meja makan. Hanya ada dua piring berisi telor dadar gosong sebelah dan sepotong kue.
"Ini kamu yang masak Nee?"
"Ini buatan aku Mas, aku masak sejak tadi walaupun aku kelelahan"
"Kamu kan bisa minta tolong saya, tumben biasanya juga kamu nggak mau bantu pekerjaan rumah. Apa kamu mulai sadar?"
"Iya berkat Mas Langit " Neeha tersenyum di dalam wajah pucatnya
Langit mencoba rasa makanan yang dibuat istrinya. Sangat asin hingga Langit hampir menggigit lidahnya sendiri. Bagian belakang telor dadar yang gosong menyebabkan rasa hangus yang aesthetic.
Dia begitu kentara berubah demi saya. Saya harus berusaha mengalihkan topik dari pengakuannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba melakukan hal ini?. Oo karena tasnya, kamu taro dimana?" Langit melihat sekeliling.
"Bukan itu, apa Mas Langit lupa?
Ah susah sekali mengibulinya.
"Lupa apa?" Langit mengeluarkan tatapan bingung.
"Tentang....semalam Mas" Neeha tersipu, wajahnya bahkan merah.
"Saya tidak lupa, saya harap kamu juga mempertimbangkannya sekali lagi!"
"Mempertimbangkan apa Mas?" Neeha berbinar
"Mempertimbangkan bahwa saya tidak bisa menerima perasaan kamu, saya tidak bisa mencintai siapapun lagi"
"Loh kok gitu Mas?"
"Iya Nee, makanya sesuai kesepakatan kita, sebaiknya kita hanya menikah sampai kamu menemukan pasangan yang....."
"Tunggu Mas" Neeha memotong ucapan Langit.
"Mas Langit bahas masalah apa?"
__ADS_1
Sepertinya apa yang mereka permasalahkan agak berbeda.
"Tentang pengakuan kamu?" Langit berbicara tanpa ekspresi.
"Whattt??" Neeha syok setengah mati.
Teriakan Neeha membuat Sendok yang dipegang Langit terjatuh. Ia mengganti dengan sendok baru. Saat mengambil sendok, tanpa sengaja Langit melihat kaki yang sengaja diselonjorkan Neeha.
"Apa kamu terjatuh ?"
"Iya Mas, selain itu juga" Neeha sengaja mengibaskan rambutnya membuat Langit melihat bekas merah yang jelas.
"Mengapa tubuh kamu memar sampai ke wajah, kamu jatuh dengan posisi yang bagaimana?.
"Posisinya emang Mas Langit nggak tahu?"
Masa aku yang mesti jelasin posisi kita yang amat memalukan itu Mas.
"Biar saya oleskan salep buat kamu" Langit berdiri dan mengambil kotak P3K.
Neeha menghentikan Langit meletakkan kotak itu di meja dekat mereka. Langit merasa heran dengan Neeha, seharusnya mereka bersikap canggung tapi Neeha justru bersikap tidak seperti biasanya. Lebih berani, meski memang biasanya begini, tapi hawanya agak aneh.
"Mas Langit beneran lupa?. Aku diserang Mas"
Neeha membuat Langit panik "Diserang? Siapa ?"
Ternyata kamu benar-benar lupa perbuatan kamu Mas. Mirisnya aku ingat semuanya.
Neeha berdiri, "Serigala" Neeha berlalu meninggalkan suaminya yang kebingungan.
"Nggak nafsu, Mas Langit habiskan semuanya biar aku yang oles salep sendiri ! , satu lagi, buang sampahnya!" Neeha mengambil kotak P3K dan membawanya ke meja dekat sofa.
Kenapa dia jadi nyuruh-nyuruh saya?. Saya jadi ngerasa habis melakukan kesalahan. Saya bahkan belum sempat mengomentari masakannya, telor dadar ini gosong sebelah dan garamnya terlalu banyak.
Seusai menghabiskan dua piring sarapan dengan susah payah. Langit membawa bungkusan sampah ke tong sampah.
Ikatan kantongnya ternyata tidak benar, sehingga Langit membenarkannya. Ia melihat bungkusan teh dan juga vitamin dari teman kantor istrinya.
"Apa dia meminumnya dan membuangnya karena rasa yang tidak enak?"
Sekilas Langit terbayang saat ia meminum teh. Setelah itu justru ia lupa berbagai hal. Apa ia bangun telanjang ada kaitannya dengan kejadian semalam.
Sayangnya saat bertanya pada Neeha. Langit mendapatkan umpatan dari mata istrinya, isyarat : jangan tanyakan padaku !! pikirkan semuanya sendiri !! Pikirkan kesalahan apa yang sudah kau lakukan semalam. Mengapa kau melupakannya begitu mudah.
...****************...
Neeha mohon izin tidak menyelesaikan pekerjaannya. Tubuhnya begitu lelah. Saat ini cukuplah Ada Aca sebagai pendengarnya yang setia.
Aca bersiap, getaran aneh sudah terasa sejak saat Sahabatnya mengajak bertemu. Membicarakan sesuatu yang penting.
Dari nada bicara Neeha yang begitu lemas. Pasti ada masalah yang cukup serius.
Aca mengambilkan pesanan mereka. Restoran pribadi lagi, Neeha pasti ingin membicarakan hal yang serius atau paling-paling hal yang mengusik pikirannya.
__ADS_1
Dahulu Aca masih khawatir jika Neeha tak peduli gajinya habis untuk foya-foya atau sekedar memesan restoran pribadi hanya untuk membicarakan sesuatu yang mengusik pikirannya. Karena itu sekali-kali Aca ikut patungan membayar tagihan mereka. Kini karena Sahabatnya memang sangat kaya raya, Aca akan ikut dimana saja tempatnya.
"Hahahaha" Aca mengusap perutnya kesusahan menahan tawa.
"Bisa-bisanya dia bersikap seolah nggak terjadi apa-apa Aca"
"Ya kamu juga kenapa harus ngerapihin semuanya coba Nee, biarin aja kasih tanda biar di ingat sama suamimu !"
"Kan aku juga syok sama yang terjadi Aca, itu pertama kalinya dan yaa gitulah..."
"Kamu juga oles salep sendiri?" Aca melihat samar tanda merah dari tubuh Neeha.
"Iya Aca, karena kesel"
"Makanya Nee, harusnya kamu tungguin Langit bangun!"
"Terus?"
"Terus pas suami kamu bangun, kalian lanjut deh ronde selanjutnya!" Aca mengeluarkan lidah.
"Iih Aca..." Neeha ngeri dengan sahabatnya sendiri.
"Kenapa?. lagipula Aku sama Wili make love tiap hari"
"Kalian mah terlalu panas" Neeha meneguk minumannya.
"Nggak apa apa Neeha yang penting kita menikmatinya"
" Mas Langit lupa mungkin karena efek 2 obat kuat itu kali Aca"
"Nah obatnya mana, suruh dia coba lagi!. Mana tahu dia bisa ingat" Aca mengedipkan matanya.
"Udah aku buang Aca"
"Yaahh, terpaksa deh kamu jelaskan pakai mulut"
"Nggak mau Aca, ntar jadi aku yg kelihatan begitu berharap lagi. Padahal dia juga mau, aku dengar dengan jelas yang mas Langit bilang itu Nee, nama aku, bukan mantannya. Dia minta aku pergi biar aku nggak kenapa kenapa"
"Pasti dia berusaha ngendaliin diri begitu keras Nee"
"Iya Aca, sampai tubuh suami aku itu bergetar. Dia melawan hasratnya sendiri"
"Tapi kamu nyerahin diri?"
Neeha mengangguk " Ya sama seperti pikiran kamu, Kita kan udah sah. Karena aku juga udah mulai suka"
"Terus apa lagi rencana kamu?"
"Aku akan tunggu sampai dia ingat sendiri semuanya. Secara detail"
Sesuai rencana awal, Neeha akan menempel pada Langit suaminya. Neeha begitu bertekad akan membuat suaminya mengakui bahwa dia juga mecintainya tapi gengsi tidak mau mengaku.
"Kamu tenang aja Nee, aku akan jadi pendukung kamu" Aca menepuk pundak Neeha.
__ADS_1
Mereka saling mendukung satu sama lain.
Bersambung....