
"Neeha lekaslah turun!"
Semua barang telah dibawa oleh Langit. Ajeng dan Agung juga ikut menunggu bersama.
"Sabar Langit, namanya juga wanita ya butuh dandan dulu" tegur Ajeng.
Baru saja usai mendengarkan Ajeng. yang ditunggu muncul dan menuruni tangga. Pakaian kasualnya adalah rok pendek serta baju lengan panjang bewarna pink berbahan kaus yang lega.
"Neeha, baju kamu bagus. rok kamu ganti!"
"Kenapa Mas?"
"Kita mau ke tempat lama Agung. Kita menemui banyak anak-anak disana. Sebaiknya kamu lebih sopan"
Neeha mengganti rok mininya dengan celana panjang Longgar. Mereka menaiki mobil yang dikendarai Langit.
yang banyak bicara adalah Agung dan Neeha. Sesekali Langit ikut nimbrung dengan alasan ia harus fokus menyetir.
....
Di sepanjang perjalanan mereka. Dapat diperhatikan bahwa Ajeng menjadi lebih diam dari biasanya.
Neeha yang peka langsung bertanya apakah Agung membuat kesalahan. Sepatah-sepatah saja Ajeng menyungging senyum beralasan hanya sedikit lelah.
Neeha mendapatkan panggilan dari Aca yang tidak bisa hadir dan menyuruh Neeha melihat berita tentang Aron.
"What The...." Neeha membelalakkan matanya.
Aron membuat artikel sendiri bahwa ia akan berpartisipasi dalam Camping yang sama dengan mereka.
"Darimana dia tahu hal ini?" Agung melirik Neeha.
"Aku nggak pernah ngasih tau ya." Neeha membela diri.
Setibanya disana, Semua orang sibuk membangun tenda. Sementara Aron mengajak bertemu dengan Neeha.
Ternyata memang Neeha yang secara tidak sadar membicarakan perihal Camping pada Zizi. Aron berharap tiap acara seperti itu sebaiknya juga mengundangnya. Dia tak mau melihat saja banyak anak kesusahan yang memiliki mimpi terkurung di Desa.
"Aku tidak bisa mengajak sembarangan orang"
"Apa bagi kamu, saya hanya sembarangan orang Nee.?" tanya Aron.
"Aku nggak mungkin ngajak Lelaki lain. Aku harus izin sama Mas Langit" jawab Neeha.
"Saya tidak meminta kamu menyinggung suami kamu. Kalian hanya dijodohkan. Apanya yang spesial"
Darimana Aron tahu?.
Langit mencari Neeha, takut Istrinya merasa tak nyaman. Langit Melihat tatapan Aron dari jauh pada Neeha. Ia merasakan sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Ia merasa kesal setengah mati pada Aron.
__ADS_1
Neeha menyadari kedatangan Langit dan segera berlari memeluk Langit. "Balas pelukan aku Mas. Cepat!" bisik Neeha.
Segera Langit memeluk dan mengusap kepala Neeha. "Kamu darimana saja?"
"Aku nungguin kamu Mas, aku pikir nanti bisa saja tersesat"
"Apa kita harus bermain peran lagi Nee?" bisik Langit.
Neeha mengangguk.
Langit mengeraskan suaranya, "Ya ampun kasiannya istriku. Jangan berdiri jauh dariku ya"
"Iya Mas, pokoknya aku akan selalu menempel sama kamu. Kita bagaikan satu kesatuan pazel yang lengkap"
"Itu terdengar terlalu dibuat-buat Nee" bisik Langit lagi.
Neeha mencium bibir Langit. Walau sedikit terperanjat. Langit tidak berusaha mendorong atau melepaskan ciuman mereka.
Melihat adegan memuakkan tersebut. Aron pergi kembali ke kerumunan.
Untungnya disana, Aron hanya bertindak seperti orang kaya yang meraih simpati dengan mengundang banyak media.
Aron langsung balik dan pamit sembari terus menatap Neeha. Senyumannya mengartikan, lihatlah betapa dermawannya diriku.
Banyak anak-anak yang melepas kepergian Aron. Sementara Langit hanya berdiri sambil berpangku tangan memerhatikan apakah Neeha juga antusias dengan Aron.
Langit tersadar dengan apa yang barusan ia pikirkan. Kenapa dia bangga dengan fakta bahwa Neeha mencintainya.
......
Senyuman muncul lagi di wajah Langit melihat Neeha yang asyik dengan para anak-anak.
Apa saya linglung. Kenapa saya memperhatikan Neeha dan bukan tugas saya sendiri.
"Pak-pak" Seorang anak lelaki dengan tinggi sekaki menarik pakaian Langit.
"Ada apa?"
"Gimana caranya bisa mendapatkan istri seperti Bu Neeha?" tanya anak kecil tersebut dengan polosnya.
Caranya adalah dengan dijodohkan oleh orang tua.
Hampir saja ucapan tersebut keluar dari mulut Langit. Kemudian ia mengeluarkan sebuah permen dari sakunya.
"Kamu harus rajin belajar, bekerja seperti Bapak"
"Kalo gitu, apa aku harus jadi Dosen juga?" Anak kecil itu merubah bola matanya berbinar-binar.
"Lakukan apa yang kamu sukai. Wanita yang pantas adalah yang baik bukan hanya cantik!" ujar Langit .
__ADS_1
"Mungkin inilah yang dinamakan Jodoh cerminan diri ya pak?" tanya anak kecil itu lagi.
"Kamu tahu kata-kata itu juga?"
Anak kecil jaman sekarang. Pembelajaran umumnya cepat juga ya.
"Bu Neeha juga mengatakan hal yang sama. Tampan itu hanya pelengkap. Sifat yang baik adalah segalanya"
Anak kecil itu kini berlari bergabung dengan teman-temannya yang lain.
****
Usai acara mereka bersama anak-anak. Kini saatnya mengunjungi rumah Agung. Ajeng tampak lebih was-was dari siapapun.
"Ajeng kamu nggak apa-apa kan?"
"Enggak Nee, aku nggak Papa"
Setibanya di rumah Agung, barulah diketahui apa penyebab Ajeng selalu kurang fokus dan mengeluh lelah. Ia pasti berada dalam tekanan sebelum bertemu Ibu mertuanya.
"Harusnya kamu yang menikah dengan Agung!" ujar Ibu mertua Ajeng tersebut pada Neeha.
"Aku cintanya sama Mas Langit tante. Agung juga saling mencintai dengan Ajeng" Neeha berusaha menolak sehalus mungkin.
"Cinta?. Kalau dengan cinta saja bisa memiliki keturunan tentunya..." wanita paruh baya itu berhenti.
Neeha melihat Ajeng yang sesenggukan tak mampu menahan tangis. Ditambah lagi dengan rasa malu dan tersinggung Ajeng karena bahasan rumah tangga mereka didengar orang lain sekalipun itu Langit dan Neeha.
Agung memutuskan untuk tidak jadi menginap. Ia memohon pada Bibi untuk terus mengawasi Ibunya.
Sebelum pergi, Neeha izin ke toilet sebentar. Ia melihat Ibu mertua Ajeng yang juga menangis di sudut tak mau menatap kepergian menantu serta putranya.
Bukankah semua sifat ada alasan yang menyebabkannya. Sama seperti Wanita paruh baya tersebut. Dia hanya ingin memiliki cucu agar bisa pastikan Agung dan Ajeng mampu mempertahankan pernikahan mereka.
Sama seperti suaminya yang berniat pergi karena Ia tak bisa memiliki anak. Setelah Agung lahir, barulah suaminya mau menetap dan tidak pergi ke sana kemari. Ia takut jika Agung mewarisi sifat suaminya dan justru membuat Ajeng menderita.
Neeha justru memberikan penjelasan. Agung bukanlah ayahnya, dan Ajeng adalah wanita yang dicintainya.
Ketika akan pamit, Ajeng dan Agung meminta waktu bersama Ibu mertuanya. Rupanya sedari tadi mereka sudah menguping beserta Langit.
****
Di perjalanan pulang....
Dibalik Agung dan Ajeng yang tak henti-hentinya berterima kasih karena Neeha membantu mereka meluruskan permasalahan. Ada Langit yang melihat sisi dewasa dari Istrinya yang cengeng dan manja tersebut.
Saya tidak menyangka Neeha bisa bersikap seperti itu. Dia terlihat seperti Peri yang amat cantik Dengan kata-kata yang penuh kebijaksanaan.
Bersambung.....
__ADS_1