Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Bubur


__ADS_3

Langit menggendong Neeha turun untuk sarapan. Ia sudah membuatkan bubur untuk mereka.


Neeha menatap mangkok bubur yang terhidang di depannya lekat. Lalu Neeha memainkan sendoknya, dan tidak menyuap bubur itu ke mulut.


Langit memperhatikan istrinya. "Kenapa kamu nggak makan?"


"Mas, aku bosan banget makan bubuuur terus. Kamu nggak bisa bikin yang lainnya Mas?"


"yang lainnya?" Kening Langit berkerut.


"Iya, nasi goreng buatan kamu enak Mas atau Telor dadar yang waktu itu"


"Kalau kamu nggak mau nggak usah makan. Lagian kamu masih sakit harusnya makan bubur biar cepat sembuh. Orang sakit itu jangan makan yang banyak bumbu dan jangan makan sembarangan. Kalau nggak mau, Ya sudah sini saya buang" Langit berdiri ingin menyingkirkan bubur dari hadapan Neeha.


"eeh enggak Mas" Neeha mendekap mangkok buburnya. "Jawab yang enak aja bisa nggak sih Mas, Kamu bilang aja karena aku sakit makanya kamu buatin bubur. Kan aku jadi tahu kalau kamu perhatian, tahu maksud kamu"


"Saya pikir kamu pintar dan mampu menelaahnya"


"yang pintar kan Mas Langit. Aku kalau nggak dijelasin ya pasti mikir yang enggak-enggak"


"Ya sudah ayo makan sebelum keburu dingin!. Ini juga bentuk tanggung jawab saya sebagai suami kamu"


"Iya deh Mas, Iya" Neeha menyuap bubur ke mulutnya. "Mmm enak Mas, buburnya hambar"


"Hambar itu karena.."


Neeha langsung memotong ucapan Langit "Iya Mas, hambar biar mempercepat proses penyembuhan kan?"


"Bukan, saya memang lupa masukin garam tadi. Ini kamu tabur sendiri saja!" Langit menyodorkan tempat garam halus yang sudah ia siapkan.


"Ooh kirain Mas"


"Gimana kaki kamu?"


"Kayaknya udah sembuh Mas, cuma agak nyeri dikit"


"Kalau masih nyeri, berarti belum sembuh"


"Tapi aku nggak mau pakai Kruk ke kantor Mas, Ntar apa kata orang-orang"


"Itu kan karena kecerobohan kamu sendiri"


.....


Neeha menyusul Langit ke dekat pintu. Membuka rak sepatu, mencari sepatunya.


Neeha mengambil high heels terendah yang dimilikinya. Berniat memasangnya.


"Kaki kamu kaya gitu masih mau pakai sepatu tinggi?"


"Ini yang paling rendah Mas, udah bukan kategori tinggi ini"


"Pakai Sneaker saja"


"Aku nggak bawa Sneaker ke sini Mas"


"Kalau gitu pakai sendal saja!" usul Langit.


"Ya udah aku pakai sendal kamu aja Mas"


"Kok sendal saya, Sendal kamu kan ada"


Langit melihat di kaki Neeha nyantol sendal miliknya. Selama disana Neeha memang memakai miliknya yang lama yang sudah menipis tapaknya.


Apa saya memang benar-benar kurang bertanggung jawab sebagai suaminya?. Dia memakai sendal saya yang sudah usang bahkan saya tidak menyadarinya. Pantas saja Mamanya sangat kesal kemarin.


"Nanti saja di jalan kita beli sendal dan sepatu Sneaker untuk ukuran kamu"

__ADS_1


"Pakai uang siapa Mas?"


"Uang saya"


"Tapii, itu termasuk nafkah apa enggak Mas"


"Anggap saja sebagai hadiah"


"Ok Mas"


*****


Aca melihat Neeha sahabatnya yang kasihan sekali. Baru juga sembuh dari kaki yang terkena pecahan mangkok. Eh kini pakai tongkat ke Perusahaan akibat jatuh dari tangga.


"Nee, aku antara kasihan dan prihatin tahu nggak sama kamu"


"Sama aja kali Aca, kamu bilang aku menyedihkan kan"


"Makanya sifat ceroboh kamu itu ditinggal aja di rumah jangan dibawa kemana-mana"


"Iya Aca, lagian aku juga masih beruntung tahu cuma terkilir"


"Beruntung darimana?. Kamu udah buntung tahu nggak"


"Udahlah kamu balik kerja sana. Entar ketahuan sama manajer kamu awas Loh"


"Ya sudah aku balik dulu. Ntar pas makan siang aku bawain makanan kesini deh biar kamu nggak capek"


"Makasih ya Aca, emang kamu yang paling pengertian"


"Ou tentunya"


***


Langit duduk di mejanya seusai mengajar. Wajahnya berat banyak pikiran.


"Enggak ada"


"Makanya dulu gue bilang. Ambil jurusan olahraga aja sesuai hobi kita. Eh Lo melenceng milih jurusan sejarah. Sakit kan otak Lo mikir. Sekarang Lo udah tambah Tua. bentar lagi Lo bakal jadi sejarah"


"Apaan sih Lo"


"Jadi gimana keadaan istri Lo tercinta. Lo panik bahkan sampai nelfon istri Gue tengah malam"


"Untungnya dia bisa tidur"


"Bisa tidur, Untung deh kalian bisa lanjutin itu kan?"


"Itu apa?"


"Ya masak harus gue perjelas sih. Persatuan hati hakiki" Agung membuat gerakan tangan bertaut.


"Diam Lo, kita cuma tidur" Langit melihat sekeliling memastikan tak ada yang mendengar.


"Jadi kalian belum?" Agung menutup mulutnya.


"Jangan berpikir aneh-aneh deh. Kita menikah tanpa cinta"


"Tapi mau sampai kapan. Lo mau jadi bujangan lapuk yang nggak mau tersentuh cinta?"


"Itu urusan gue, Lo nggak usah ikut campur"


"Apa Lo masih mikirin dia?. Michele, gue nggak perlu sungkan sebut nama wanita sial... Maksud gue Mantan pacar Lo itu"


"Udah enggak"


"Terus kenapa Lo masih nutup pintu hati Lo?"

__ADS_1


"Gue nggak mau menjalin hubungan lagi Gung. Lo paham kan"


"Gue nggak akan paham dan nggak akan pernah paham. Hidup itu singkat Ngit, Lo nggak bisa terus nyalahin diri Lo"


"Gue nggak nyalahin diri gue"


"Kalau enggak, kenapa Lo nggak mau buka hati Lo?"


"Karena gue nggak mau ..."


"Syutt, gue muak denger alasan Lo. Udah gue bilang kan. Wanita bukan cuma dia aja Lo buka mata lebar-lebar"


"ogah"


"Iya sekarang Lo ogah boleh banget" Agung tersenyum.


"Kenapa?"


"Karena Lo udah punya istri. Pokoknya gue Doa in biar Lo bucin sama istri Lo kaya gue"


"Lo Mah Suami takut istri"


"Sayang istri Gue" Agung menepuk dadanya. "Eh iya kita makan siang di kantin apa gimana?"


"Makan siang?" Langit berdiri.


"Kenapa?"


*****


Aca terburu-buru membawa kantong makanan ke tempat Neeha "Ini Nee"


"Kamu pesan makanan kapan Aca?. udah nyampe aja"


"Hebatnya bukan aku yang pesan" ujar Aca


"Siapa?"


"Kamu baca aja sendiri"


Ternyata Langit yang memesankan makanannya. Tertulis untuk Aca dan Neeha.


"Dari Mas Langit?" Neeha tak menyangka.


"Suami kamu perhatian banget deh"


"Apaan sih Ca"


Neeha membuka kotak makanan tersebut. Isinya adalah bubur.


"Lah kok bubur sih. Siapa yang makan siang pakai bubur?" Aca menaikkan alisnya.


"Udahlah Ca" Neeha menyantap bubur itu.


Sembari makan Neeha tersenyum mengingat kembali kejadian tadi pagi. Langit membuatkan bubur agar ia cepat sembuh. Kalau sakit jangan makan yang banyak bumbu dan sembarangan.


Apa Mas Langit takut aku makan sembarangan. Makanya dia rela pesankan bubur ke Perusahaan.


"Selera kamu aneh Nee" Aca menggelengkan kepalanya.


Neeha terus memakan bubur itu hingga habis. Setelah itu, Neeha memfoto tempat bubur yang sudah habis. Lalu ia mengirimkannya pada Langit.


'Ini Bukti sudah dihabiskan... Terimakasih ya Mas walaupun nggak ada rasanya ^>^ '


Langit membuka pesan dari Neeha. Ia tersenyum, membuat Mahasiswa yang mau bertanya mengurungkan niat.


Bahkan Agung yang berada di samping Langit ikutan ngeri. Sahabatnya memang semakin hari semakin aneh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2