
Neeha membuka matanya perlahan. Langit yang tidur dalam posisi tidur di samping ranjangnya ikut terbangun.
"Akhirnya kamu sadar juga"
"Mass"
"Iya, Apa Kamu sudah mendingan Nee?"
"Akuu"
Neeha melihat infus yang sudah ada di tangannya dengan kebingungan.
"Semalam kamu pingsan, Karena Saya panik Lalu saya meminta seorang Dokter datang"
"Makasih ya Mas"
"Iya, kamu tunggu sebentar... Saya sudah membuatkan bubur tadi"
Saat duduk, Neeha menyadari bahwa pakaiannya sudah ada. "Mas pakaian aku"
"Saya bawa kamu dengan keadaan kamu sebagaimana mandi. Tapi yang memasang Pakaian kamu adalah Bidan kenalan saya, tenang saja, dia wanita juga"
Langit segera keluar Kamar. Diiringi perasaan lega Neeha karena yang memakaikan ia Pakaian adalah wanita.
Namun tak beberapa lama, Neeha terbayang selintas Kejadian tadi malam. Ia merasakan tubuhnya digendong seorang.
Whatt, oke kalau yang memakaikan pakaian buat aku dokter Wanita. Tapi tetap aja kan dia gendong aku dariii....
Neeha tersadar lagi. Kalau bukan Langit yang membawanya dari kamar mandi. Mungkin sekarang ia sudah tidak ada di dunia.
Okee Neeha, anggap aja kamu lagi Kena sial.
*******
Ponselnya berdering....
Aca panik bertanya mengenai kabar Neeha. Ternyata, Langit sudah meminta izin agar Ia libur karena sakit.
"Mas Langit yang minta izin?" Neeha kaget.
"Iya Nee, suami kamu itu biarpun kaku tapi Sweet juga ya"
"Apaan sih Acaa"
"Udah ya Nee, aku sibuk nih. Istirahat yang banyak ya Nee"
Tutt,. tutt tuttt Panggilan terputus.
Neeha membawa mangkuk bubur keluar kamar. Ia melihat Langit sudah siap berangkat ke Kampusnya.
"Mas, mau berangkat?"
"Iya, kamu sudah selesai makan?"
"Sudah Mas, biar mangkuknya aku cuci"
__ADS_1
"Gak usah taro saja disana biar nanti saya yang cucikan"
"Gak apa-apa kok Mas. Tapi biasanya kamu pergi lebih pagi Mas, apa jadwalnya berubah?"
"Enggak, tadi saya sudah konfirmasi untuk memundurkan jadwal kuliah" Langit segera pergi, pintu menutup.
Apa dia mundurkan jadwalnya karena aku?.
Neeha yang tidak bisa apa-apa ini, karena bengong membuat mangkok itu jatuh ke lantai keramik. Saat mengambil tangannya luka. Tepat saat itu, bel berbunyi. Sehingga, Neeha yang menjadi ceroboh, menginjak lagi serpihan lainnya.
Seorang wanita cantik menunggu dibukakan pintu. Neeha membukakan pintu untuknya, karena ia adalah Bidan yang datang semalam.
Baru saja datang, Dokter itu langsung mengobati luka Neeha. Mereka duduk di sofa.
"Maaf merepotkan Bu Bidan"
"Ini kan memang tugas aku"
Bahkan Bidan itu membantu membersihkan pecahan yang tersisa. Ia kembali duduk bersama Neeha.
"Anda mau minum apa?. Biar saya buatkan"
"Gak usah, saya cuma mau periksa kamu. Lagian Langit itu dari semalam sibuk terus ganggu saya"
"Hah, ganggu Bu Bidan?"
"Iya, dia terus nanyain kenapa kamu gak bangun juga walau sudah dikasih infus. Bahkan dia bilang saya punya ijazah palsu sebagai Bidan. Padahal saya lulus lebih cepat karena hebat"
Neeha hanya tertawa segan mendengar celotehan Bidan di hadapannya.
" Oh ya, Jangan panggil Bu dong. Panggil saja nama saya, Ajeng" Sembari Ajeng menyodorkan tangannya.
"Gak apa-apa Kok. kamu kan istrinya Langit"
Ajeng dan Langit saling mengenal ketika kuliah. Suami Ajeng adalah sahabat Langit sendiri, yang kini menjadi Dosen Olahraga di kampus yang sama dengan Langit. Mereka menikah sudah 7 tahun namun belum mendapatkan keturunan.
*****
"Kamu tahu kan Nee, kenapa Langit bisa sekaku itu"
"Oh mengenai cinta pertamanya ya"
"Wanita itu bukan sembarang cinta pertamanya Langit Nee. Dia yang udah berhasil membuat Langit merasakan cinta tapi dia melukai Langit sedalam-dalamnya"
"Iya, aku sempat dengar secara singkat dari Ibu"
Dari Ajeng, Neeha mendapat cerita yang lebih lengkap lagi. Beserta nama mantan kekasih Suaminya, Michele.
Neeha baru tahu kalau mereka bertiga Sangat dekat sebagai sahabat. Saat resepsi pernikahan mereka, Langit sibuk dengan orang yang dikenalnya sendiri.
Sama seperti Neeha yang tak mau memperkenalkan Langit pada Aca sahabatnya. Karena mereka menikah tanpa ada perasaan cinta.
Panjang lebar Ajeng bercerita, tentang Langit. Tentang masa-masa muda mereka sebagai sahabat. Hingga sampai ke pembahasan soal cinta pertama Langit.
"Kamu tau nggak, Saking bucinnya Langit, hingga pernah Langit mengadakan konser hanya untuk kejutan anniversary mereka. Semua rekan seangkatan juga mengetahui hal itu" terang Ajeng panjang lebar.
__ADS_1
Orang kaku kayak Mas Langit bisa bikin acara seromantis itu ?. Pasti mereka benar-benar saling mencintai ya.
"Terus kenapa mereka pisah, kenapa wanita itu menghianati Mas Langit?"
"Waktu itu, dia bilang gak ngerasain perasaan cinta membara buat Langit, perasaan mereka cuma karena kebawa suasana aja"
"Maksudnya?" Neeha menaikkan dua alisnya heran.
"Aku pikir sih itu cuma alasan Michele aja. Soalnya dia ngaku sendiri kalau dia udah tidur sama laki-laki lain yang sudah beristri"
"Dia ngaku?"
"Iya, karena pengakuan dia itu. Langit nyalahin dirinya sendiri. Padahal kan emang si Michele itu yang nggak bener" Nada kesal Ajeng keluar secara alami.
"Iya, aku tahu rasanya. Orang yang kita cintai selingkuh dengan tampang tak bersalah"
"Maksud kamu Nee?"
Neeha menceritakan tentang kisahnya. Itu juga bukanlah rahasia umum lagi. Dibandingkan Langit yang tak mau bercerita tentang masa lalunya sehingga Neeha tahu dari orang di sekitar Langit.
Sebaliknya, Neeha merasa biasa saja saat ada yang ingin tahu mengenai kisah kelamnya. Hal yang wajar, karena Neeha cukup sering dicampakkan. Bahkan, orang yang tahu Neeha putus selalu mengira Neeha yang salah, padahal itu ulah Mantan Pacarnya yang menyebar kebohongan karena tidak berhasil terus memanfaatkan Neeha.
"Terus Wanita itu sekarang kabarnya gimana Ajeng?"
"Dia di luar negeri, dengar kabar sih dia lanjut kuliah dan sekarang udah sukses. Cuma ya itu, dia dikenal sebagai wanita simpanan"
"Tapi aku gak habis pikir Deh, Kok Mas Langit bisa nyalahin dirinya. Kan wanita itu yang salah"
"Makanya waktu Michele ngelakuin hal itu. Suami aku bahkan mau nyari dia ke luar negeri buat bunuh dia, eh waktu itu suami aku belum nikah ya" Ajeng geleng-geleng sendiri.
Tapi, Langit meminta agar tak ada yang menyalahkan Michele lagi. Mereka putus karena tidak cocok. Jika ingin menyalahkan seseorang, maka ia yang salah karena tidak begitu tulus dan tidak bisa memenuhi permintaan Michele.
*****
Langit keluar kelas. Ia langsung dihadang oleh Dara dan Romi.
"Pak, Bapak tumben banget minta mundurin jadwal" tanya Dara.
Karena Langit hanya diam, Romi langsung nyerocos bahwa Langit pasti sedang menjadi suami idaman. Takut istrinya kesepian.
"Saya sudah bilang kan, jangan ikut campur hal lain diluar urusan perkuliahan dan nilai kalian!"
"Iih kita cuma penasaran aja kok Pak" celetuk Dara.
"Kalo gitu saya juga penasaran kenapa kalian masih malas-malasan padahal harusnya kalian lebih berusaha untuk meningkatkan nilai"
"Bukan malas-malasan pak. Kita cuma berhenti sejenak dari hiruk pikuk tugas kuliah yang membabi buta pak" Romi berbicara sambil nyengir kayak kuda.
"HA Ha, kalau gitu saya bisa kasih nilai D biar sekalian kamu Berhenti kuliah"
Ucapan Langit membuat Romi berhenti nyengir. Langit segera berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Pak Langit itu sebenarnya gak sedingin itu kan Romi?"
"Iya, aku dengar dari Pak Agung, Dosen Olahraga yang emang sahabatnya Pak Langit"
__ADS_1
"Ya udahlah buruan ke kelas!"
Bersambung.....