Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Ciuman Pertama


__ADS_3

Selagi Langit memasak, Neeha mandi. Neeha memikirkan bagaimana ciuman pertamanya jatuh pada Langit. Lelaki yang tidak dicintai juga tidak mencintainya. Lebih parahnya lagi, ciuman itu karena kesalahannya sendiri.


Mau itu ciuman pertama aku atau bukan. Mas Langit pasti nggak peduli. Manusia kaku macam Mas Langit akan bilang itu bukan urusan saya.


Neeha turun ke bawah saat Langit baru saja selesai memasak dan menghidangkan makanan.


"Wah kebetulan sekali, kamu turun pas saya selesai. Kamu sengaja mandinya lama? Kamu mandi di rumah ini dan bukan di rumah tetangga kan Nee? Kamu nggak mencoba menghindari turun agar saya masak sendiri kan?"


"Mas Langit banyak tanya, nanti kalau aku udah bisa masak aku masakin mas Langit sendiri tanpa bantuan"


"Oh ya, saya nggak sabar nunggu saat itu. Semoga saya masih hidup ya"


"Iis Mas Langit ngeremehin aku. Aku pasti bisa masak kok Mas, tapi nanti"


"Iya semoga tutorial aplikasi itu bermanfaat buat kamu"


Seusai makan, seperti libur biasanya. Langit dan Neeha akan bersih-bersih sepanjang hari.


"Akhirnya selesai" Neeha bersandar pada Sofa.


"Siapa bilang selesai. Kita harus mencuci"


"Bukannya tadi udah dicuci semua pakaian kotornya mas?"


"Bukan itu, tapi sprei"


"Hah? Kasih ke laundry aja Mas!"


"Kita saja, itung-itung buat tambahan olahraga kamu" Langit naik ke lantai 2 menuju kamar mereka.


"Olahraga ? Bilang aja dia mau nyiksa aku. Ini Romusha tahu Mas, Romusha"


Langit mendengar ucapan Neeha yang keluar tanpa sengaja tersebut. "Kamu beruntung nggak hidup pada masa Romusha itu, atau perempuan malas kaya kamu nggak akan tahan"


Dia dengar akuu. Iiih nyebeliinn.


.....


Mereka mencuci Kain sprei secara manual. Memasukkan kain di baskom dan menginjaknya.


Tanpa sengaja tubuh mereka sangat dekat. Neeha berhenti dan menatap Wajah Langit tanpa sadar. Neeha melihat bibir Langit, bibir yang tidak sengaja ia cium.


"Apa saya tampan?" tanya Langit tiba-tiba membuat Neeha terperanjat.


Langit memegang pinggang Neeha agar ia kembali seimbang. Hal itu membuat mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Mengapa wajah kamu merah?. Sakit lagi?" Langit ingin menyentuh kening Neeha.


"Enggak Mas, ini karena gerah, karena gerah" Neeha segera keluar dari baskom itu.

__ADS_1


"Eh ini belum selesai Nee"


"Udah Mas aja yang selesaikan" Neeha berlari masuk ke dalam rumah.


Dasar Perempuan aneh. Pasti ingin melewatkan pekerjaan.


Terpaksa Langit yang harus menyelesaikan menjemur kain sprei itu. Niat hati ingin membuat Neeha olahraga, justru dia sendiri yang kerepotan.


*****


Saat makan siang dan makan malam. Neeha tak berani menatap Langit. Ia membayangkan yang aneh-aneh saat melihat bibir Langit. Neeha merasa ia sepertinya sudah gila.


"Neeha mari kita mengobrol sebentar"


Mereka duduk di sofa. Begitu lama diam hingga Langit mengawali pembicaraan.


"Apa ada yang salah Nee?"


"Hah enggak kok nggak ada"


"Kamu marah saya suruh olahraga, padahal itu demi kebaikan kamu?"


"Enggak kok Mas"


"Atau kamu marah saya suruh cuci kain sprei. Padahal itu saya yang selesaikan. ya sudah lain kali sprei di laundry saja"


"Kenapa kamu nggak mau menatap saya ?"


"Kan kalau ngomong nggak harus bertatapan Mas" Neeha mengalihkan pandangannya pada sekeliling ruangan.


"Jujur saja Nee, saya jadi merasa aneh"


Akhirnya setelah lama, Neeha memberanikan diri mengatakan apa yang membuat ia tak mau menatap wajah Langit. "Mas nggak kepikiran gitu sama hal tadi pagi?"


"Jadi kamu gugup terus saat menatap saya karena hal itu?"


"Gimana nggak gugup coba. Itu kan ciuman pertama aku"


"Ciuman Pertama?. Itu hanya kecupan yang tidak disengaja Nee. Tidak usah dipikirkan" Langit berucap datar seperti biasanya.


"Tidak usah dipikirkan?" Neeha tak habis pikir.


Sengaja atau tidak, bibir mereka menyatu apakah itu tak perlu dipikirkan.


"Iya, jangan bilang kamu nggak pernah merasakan bagaimana ciuman itu. dan yang tadi pagi bukanlah ciuman, hanya kecupan. Kamu punya banyak mantan pacar kan. Pasti kamu sudah sering melakukannya, itu bukanlah rahasia umum lagi pada zaman sekarang. " Langit merasa lucu saja jika Neeha mempermasalahkan hal sepele menurutnya.


Namun entah mengapa. Setiap ucapan Langit selalu terdengar memprovokasi bagi Neeha. Ditambah senyuman miring yang ditampakkan Langit, ia sangatlah kesal dan jengkel.


"Mas Langit emang monoton kaku banget ya. Ooh pasti karena Mas udah terbiasa dengan ciuman bibir. Aku memang punya banyak mantan tapi nggak pernah sekalipun tuh ngelakuin ciuman bibir. Memangnya itu salah?. Aaah masalah mantan pacar, aku juga lihat ciuman mesra Mas Langit sama wanita bernama Michele itu di video.. Kalian mesra banget. mmm.."

__ADS_1


Langit menutup mulut Neeha sigap dengan tangannya untuk memberhentikan ucapan Neeha yang seperti kereta api. Neeha berusaha melepaskan tangan Langit tapi kekuatannya tak setara.


"Jangan sebut nama Michele lagi. Saya sudah membuang semuanya, jangan pernah bahas barang itu lagi!" Langit terlihat menahan amarah.


Neeha akhirnya bisa melepaskan tangan Langit karena kekesalannya. "Mas Langit bilang mantan aku banyak aku nggak masalah tuh. Aku cuman nyebut Michele Mas Langit kok nggak terima"


"Saya peringatkan dari sekarang jangan pernah sebut nama itu lagi!"


Neeha berdiri dan berteriak, saatnya berbalik membuat orang ini kesal. "Biarin aja aku sebut, memangnya Mas Langit siapa?. Michele, Michele, Michele Micheeeeeele" teriak Neeha.


"Kekanakan sekali kamu Nee" Langit menggenggam jemarinya ingin sekali meninju mulut perempuan ini. Tapi tidak mungkin ia meninjunya. Ia adalah laki-laki yang punya otak tak boleh mengasari wanita.


"Mas Langit ciuman mesra sama Michele. Michele, Michele Michele" Neeha terus menyebut nama itu.


Langit marah, ia berdiri. Neeha sadar dan segera berlari untuk menyelamatkan dirinya. Namun ia sanggup dikejar Langit yang jago olahraga itu.


Langit menarik dan menjatuhkan tubuh Neeha ke sofa. Menahan kedua tangan Neeha.


"Mas kamu mau ngapain?"


"Saya sudah peringatkan bukan. Jangan menyebutkan namanya lagi. Ambil ini sebagai hukuman"


Langit mencium bibir Neeha. Neeha berusaha berontak tapi ia tak bisa.


Lidahnya masuk??. Aaa ini menjijikkan


Neeha yang menahan nafas membuat Langit berhenti. Neeha mengusap bibirnya kasar, syok dengan apa yang terjadi.


"Kalau kamu menyebutkannya lagi, saya bisa berbuat lebih dari ini"


Neeha bergidik ngeri ia tak bisa berucap sepatah katapun. langsung bergegas naik ke lantai dua dan masuk kamar. Neeha mengunci pintu kamar dari dalam.


Kenapa Mas Langit ngelakuin hal itu.


Langit mengetuk pintu kamar setelah beberapa lama ia merenungkan diri di sofa. Tapi Neeha hanya diam di dalam kamar, berpura-pura tidur.


"Neeha, kamu tidur?. Kalau begitu saya tidur di kamar tamu saja"


Langit turun dan pergi ke kamar tamu. Neeha mendengar suara pintu menutup. Lalu Neeha duduk bersandar di ranjang. Ia tidak bisa memejamkan matanya.


Bagaimana dengan besok. Bagaimana cara ia menghadapi Langit. Neeha tahu itu kesalahannya karena terus menyebut nama Michele walaupun sudah diperingatkan.


Tapi aku juga seharusnya marah dengan apa yang dilakukan Langit. Setelah bilang ciuman tidak sama dengan kecupan. Justru bagaimana ciuman yang nyata langsung dipraktekkan. Ciuman Pertama aku tetap diambil sama Mas Langit


Neeha jingkrak-jingkrak di kasur. Menyalahkan dirinya menyalahkan semuanya yang telah terjadi.


Langit mendengar suara riuh dari kamar Neeha. Ia juga menyadari kesalahannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2