
Clara memecahkan gelas di atas meja. Rambutnya berantakan ditarik sedemikian rupa olehnya. Ia dan Azkal barusan bertengkar hebat.
Clara meminta Azkal ikut memfitnah Neeha adalah wanita murahan. Clara ingin bekerja sama dengan Aron. Azkal menolak, ia tak mau lagi menyakiti Neeha.
"Kenapa kamu nggak mau Azkal?"
"Aku lebih memilih kamu apakah itu belum membuktikan bahwa aku tidak bersama Dia lagi"
"Tapi kamu masih mikirin dia kan?" tanya Clara penuh amarah.
"Aku memikirkan semata-mata perasaan bersalah yang tak bisa dilepas Clara"
"Itu pilihan kamu kan Azkal, kamu milih aku dibanding dia"
"Iya, kini aku pikir apakah seharusnya aku nggak milih kamu, apakah pilihan aku salah. Aku tersiksa Clara"
"Aku yang lebih tersiksa Azkal. Aku mencintai kamu seutuhnya"
"Utuh?. Bukan karena harta atau jabatan aku?" Azkal melempar Clara hingga terduduk. "Jangan pikir aku nggak tahu Clara, kamu tidak punya siapa-siapa sehingga kamu iri dengan banyak orang. Kamu tahu aku nggak bisa melihat seseorang merasa sedih dan kesepian sehingga kamu sengaja mendekati aku dan...." Panjang lebar Azkal menjelaskan.
Clara memang sengaja mendekati Azkal. Ia berpura-pura baik pada Neeha. Mencari tahu mengenai kebiasaan buruk Azkal yang diam-diam suka bermain wanita. Menjebak Azkal sehingga begitu menyukainya dan menjauhi Neeha akibat rayuannya.
Neeha adalah korban dari cinta yang sedari awal seharusnya dilepaskan oleh Azkal. Sedari awal mengakhiri hubungan antara Azkal dan Neeha namun Azkal masih ragu dan menuruti Clara untuk berhubungan dibelakang Neeha 'Berselingkuh'.
"Aku lebih iri dengan Neeha Azkal" Clara sesenggukan. "Aku memang hanya menginginkan posisi dan harta kamu, awalnya. Tapi aku secepatnya sadar dengan perlakuan kamu aku jatuh cinta lebih dari apa yang kamu miliki. Aku benci kalau kamu masih mikirin Neeha, lebih lagi aku benci karena aku tidak sesempurna Neeha"
Begitu pula Azkal yang seharusnya merasa sangat bersalah pada Neeha. Bukan karena masih mencintainya atau ingin kembali pada Neeha. Tapi Merasa bersalah memanfaatkan kebaikan Neeha untuk posisi dan kekayaan yang ia raih. Setiap hari, Azkal selalu merasa menyesal atas perbuatannya. Tidak akan ada Azkal yang sekarang tanpa bantuan dan semangat dari Neeha
Setelah cukup lama mereka berdebat. Akhirnya Azkal dan Clara berbaikan, Azkal yang sebelumnya juga dihubungi Aron sudah lebih dulu sadar ketika bertemu dengan Tuan Rinto.
Tuan Rinto tahu betapa sakitnya perlakuan Azkal pada putrinya. Namun ia meminta satu hal, jangan buat Putrinya terluka lagi. Lakukan lah hal yang pantas agar Neeha bisa sedikit berdamai dengan perlakuan mereka.
"Clara, Aron bukanlah orang yang dapat kamu atau aku, bahkan kita berdua tangani" Azkal mengusap bahu Clara.
"Lalu kita mau bagaimana lagi?. Azkal" Clara sesenggukan.
"Sebaiknya kita meminta maaf kepada Neeha. dan aku akan berubah, aku tidak akan bermain wanita lagi, aku akan cukup dengan kamu. mari kita menikah" Azkal serius.
"Azkal?" Clara terdiam.
"Aku sempat bertemu Neeha, dan hal pertama yang Neeha tanyakan adalah apakah aku sudah menikahi Kamu Clara. Neeha bilang kamu adalah gadis yang baik, sayangnya bertemu dan jatuh hati dengan lelaki yang memiliki hobi rendahan sepertiku, Lelaki semacam aku"
"Neeha bicara begitu?"
"Iya, dia bahkan berbicara kalau kamu bisa segalanya. Dia menjamin aku akan bahagia jika menikahi kamu"
Neeha, dia sangat baik. Mengapa dia masih baik padaku.
__ADS_1
Begitu lama Azkal memang berusaha untuk mencari cara untuk menebus rasa bersalahnya. Setelah ia pikirkan secara matang, satu-satunya cara adalah tidak mengganggu Neeha agar terus bersama Langit.
Laki-laki yang memang baik dan pantas untuk Neeha, mendampinginya.
"Kamu benar-benar ingin melakukannya Azkal?" tanya Clara masih tak percaya.
"Iya tapi mungkin aku akan melepaskan semuanya kembali Clara. Menjadi yang dulu, seorang Azkal yang biasa dan tidak gila jabatan maupun harta. Aku harus tinggalkan kota ini agar terhindar dari kebiasaan burukku. Kalau kamu bersedia, aku akan bawa kamu, dan kalau tidak ..."
"Aku bersedia, asalkan kamu orangnya Azkal" ucap Clara bersungguh-sungguh.
Setelah mereka beberes. Azkal mengajak Clara duduk lagi. Mereka menatap semua bagian yang pernah mereka nikmati di ruangan itu.
"Kamu nggak menyesal kan Clara?" tanya Azkal.
"Enggak sayang" Clara tersenyum. "Tapi kita akan kemana?"
"Sebaiknya kita pulang dan bekerja di kampung halaman aku. Disana aku pastikan tidak akan lagi terlibat dengan barang-barang seperti alkohol dan wanita malam. Tetapiii, Kamu mungkin akan menderita, tidak bisa lagi menikmati barang-barang Branded atau hal-hal seperti itu Clara"
"Aku akan ikut, kemanapun kamu Azkal. Aku nggak punya siapa-siapa, aku akan bersama kamu Azkal"
Mereka menemui Neeha yang baru pulang dari Rumah Tuan Rinto. Neeha tetap menyiapkan teh seolah tak terganggu.
Langit hanya memperhatikan mereka. Hawa berbeda terasa, ada kerelaan di masing-masing pihak.
Clara dan Azkal berlutut. Membuat Neeha kewalahan menyuruh mereka duduk.
"Kalian kenapa sih, aku kan udah sama mas Langit juga" Neeha menggenggam tangan suaminya.
"Jadi kalian akan pergi?"
"Iya. Aku akan menikahi Clara dan kita mungkin nggak akan ketemu lagi kedepannya"
"Bagus deh, selamat yaa, Akhirnya kamu bersedia bertanggung jawab atas cinta yang kamu pilih Azkal" Neeha tersenyum.
Clara berterima kasih dan memohon maaf berkali-kali sebelum pergi pada Neeha. Hingga mereka mengetahui bahwa Aron memang berbahaya, mereka diancam akan dipecat. Untungnya mereka lebih memilih berhenti sehingga mereka tak akan membuat kesalahan lainnya untuk Neeha.
...****************...
Azkal dan Clara sudah pergi....
"Kamu melupakan semuanya Nee?. Perbuatan mereka ?" tanya Langit terheran heran.
"Mana mungkin bisa lupa Mas"
"Loh jadi tadi kamu hanya pura-pura?" Langit membelalakkan matanya.
Sia-sia saya kagum kamu bisa memaafkan mereka Neeha.
__ADS_1
"Aku nggak lupa, tapi bukan berarti aku nggak maafin mereka Mas. Aku tahu Azkal memang mencintai Clara. Mungkin cara mereka salah, tapi cinta mereka tulus. Aku nggak mau jadi penghalang untuk kebahagiaan mereka. dan lagi siapa yang nggak pernah punya masa lalu sih Mas. Bagaimanapun sakitnya masa lalu, yang perlu kita lakukan adalah tidak terus menerus terjebak didalamnya, terutama masalah perasaan!"
Langit manggut-manggut, tak disangka Neeha mengucapkan kalimat sebagus itu.
"Mas Langit kok diam saja?"
"Saya setuju kok"
"Kalau Mas Langit setuju. Itu juga hal yang harus mas Langit lakukan. Berdamai sama masa lalu bukan mencari tahu siapa atau apa yang salah Mas!"
"Kenapa kamu malah membahas saya Nee?"
"Cuma ingetin Mas Langit aja, misalkan Michele balik. Aku nggak akan biarin Mas Langit goyah lagi. Kalau perlu aku ikat"
"Kamu mau ikat saya?. kejam sekali Nee" Langit bergidik.
"Hati Mas Langit maksudnya" Neeha mencium pipi Langit. Membuat Langit membeku sesaat.
Neeha berdiri berjalan menuju dapur.
"Kamu mau kemana Nee?"
"Dapur"
"Mau ngapain?"
"Masak makanan buat Mas Langit sebagai ketulusan hati aku"
Masak?. Tapi Rasa masakannya terlaluuuu
"Neeha kamu pasti lelah, sebaiknya kita pesan saja ya!"
"Nggak mau, aku maunya masak sendiri. Kan aku mau ngejar Mas Langit"
Langit mendekat ke dapur "Bagaimana dengan masalah Aron. Tampaknya dia memang berbahaya Nee"
Mas Langit sedang mengalihkan pembicaraan yaa
"Serahkan sama Papa dan ahlinya Mas. Dia udah punya banyak musuh masih berlagak lagi"
"Apa kamu tidak mau membahas tentang cara menanganinya?, Biar saya ikut mengawasi kamu memasak" Langit mencuci tangan di wastafel.
"Caranya hanya dengan bukti kalau aku cintanya sama Mas Langit saja" Neeha tertawa kecil.
"Itu cara paling bodoh Nee"
"Besok aja dipikirkan Mas!"
__ADS_1
Anehnya cara bodoh yang kamu pilih itu membuat saya tenang
Bersambung.....