
"Setelah ini kita kemana Max" tanya Emma yang masih canggung dengan status baru yang di sandangnya.
"Kita ke kantor dulu baby, besok aku akan mengajakmu ke kota S jadi aku harus minta ijin dulu dengan tuan Arsen" sahut Max sambil mengajak istrinya memasuki mobil.
"Ngapain kita ke kota S? memangnya kita mau ngapain?" tanya Emma yang melupakan kabar tentang Dion.
"Apa kamu lupa baby, kalau pengacara Dion ada di kota S dan anak buahku sudah menemukan alamatnya" sahut Max sambil mengemudikan mobilnya menuju ke perusahaan Global Group.
Emma menoleh ke samping menatap wajah suaminya, ia tak percaya suaminya begitu cepat menemukan keberadaan pengacara Dion. Emma juga di buat kagum oleh suaminya yang diam-diam membantunya mencari pengacara Dion.
"Apa kamu serius Max" tanya Emma memastikan kalau suaminya tidak membohonginya.
"Tentu saja baby, mana pernah aku membohongimu, kalau mengerjaimu baru sering."
"Kau itu bisa serius dikit tidak sih" ucap Emma sambil memukul suaminya kesal.
Max menangkap tangan istrinya dan tertawa sambil menciumi tangan istrinya.
"Aku serius sayang, aku sudah menemukan keberadaan pengacara Dion" ucap Max.
"Terima kasih sudah mau membantuku Max" ucap Emma sambil menatap suaminya.
"Ini tidak geratis baby, nanti malam aku akan mengambil bayaranku" ucap Max sambil tersenyum menyeringai.
Emma bergidik ngeri melihat senyum Max yang menurutnya akan ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
"Kau selalu saja itung-itungan denganku, yang ada utangku terus menumpuk" gerutu Emma.
"Tenang baby, untuk yang satu ini beda bayarannya, aku tak meminta uang tapi aku meminta yang lain" ucap Max.
Emma mengerutkan keningnya, ia tak mengerti maksud dari ucapan suaminya itu.
"Tak usah di pikirkan sayang, nanti malam juga kamu akan mnegerti" ucap Max yang melihat wajah kebingungan istrinya.
Emma pun mengangguk, dia akan sabar menunggu hingga malam nanti.
Mobil yang di kemudikan Max masuk ke basment kantor untuk parkir.
"Ayo keluar sayang" ajak Max sambil melepas seatbeltnya.
Emma juga melakukan hal yang sama melepaskan seatbelt dari tubuhnya.
Lalu Emma keluar dari mobil menyusul suaminya.
Max masuk kedalam kantor sambil merangkul pingang istrinya.
Banyak karyawan Arsen yang bertanya-tanya melihat kedekatakan mereka berdua.
__ADS_1
"Itu kekasih tuan Max atau bukan sih, mereka sepertinya makin hari makin mesra aja" kata salah satu karyawan Arsen.
"Sepertinya sih iya, tapi wajah kaku seperti tuan Max memangnya bisa merayu wanita ya"
"Iya juga sih, tapi dia terlihat bucin dengan wanita itu. Aku acungi jempol sih kalau wanita itu bisa meluluhkan tuan Max yang sangat menyeramkan itu.
"Sudah jangan ngomongin dia terus, nanti kalau dengar bisa bahaya.
Sedangkan di ruangan Max, Emma sudah duduk di depan meja Max.
"Sini aku bantuin, biar kerjaan kamu cepat selesai" ucap Emma.
"Apa kamu tak apa bantuin aku kerja sayang" tanya Max.
"Tak apa Max, dulu kan aku juga bekerja di perusahaanku."
Max pun akhirnya menyetujuinya, dia memberikan beberapa berkas kepada istrinya, besok mereka berdua harus pergi ke kota S jadi sebisa mungkin Max menyelesaikan smeua pekerjaannya hari ini juga.
"Kalau kamu lelah bilang sayang" ucap Max penuh perhatian.
Emma mengangguk sambil tersenyum manis menatap Max, ia senang memperlakukan dirinya dengan begitu baik. Lalu Emma mulai mengerjakan pekerjaannya.
Menjelang jam istirahat Max memberikan beberapa berkas yang sudah ia selesaikan ke ruangan Arsen.
"Ini berkasnya tuan, besok saya ijin tiga hari karena ada suatu hal yang mesti aku urus di kota S" ucap Max dan meminta ijin kepada Arsen.
"Hah, lalu bagaimana bekerjaanmu" tanya Arsen kaget. bodyguardnya tiba-tiba minta ijin cuti.
"Baiklah, tapi ingat janjimu Max CUMA TIGA HARI" ucap Arsen lalu menekankan kata tiga hari.
Max mengangguk patuh, setelah itu ia keluar dari ruangan bosnya, dan kembali masuk kedalam ruangannya.
"Ck, ternyata aku di bodohin si bodyguard sialan itu, Revan kan masih bayi mana bisa membantuku di kantor" gerutu Arsen memaki Max.
Dia melihat sang istri tengah asik mengerjakan pekerjaannya, bahkan ia melupakan makanannya yang sudah ia siapkan di atas meja.
Max menghampiri istrinya lalu mengambil pulpen dari istrinya supaya istrinya berhenti mengerjakan pekerjaanya.
"Kenapa di ambil pulpennya" protes Emma sambil menoleh ke belakang.
"Nanti lanjutkan lagi, sekarang kamu makan siang dulu" sahut Max mengingatkan istrinya.
Emma pun menurut, dia bangun dari tempat duduknya, dan beranjak ke sofa untuk makan siang terlebih dahulu.
Emma dan Max kini tengah menikmati makan siang berdua, tak ada yang bersuara yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan memenuhi ruangan kerja Max.
Lima belas menit mereka menyelesaikan makanannya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Hingga menjelang sore Emma menyelesaikan pekerjaannya, ia merenggangkan ototnya yang terasa pegal.
"Punyamu sudah selesai sayang" tanya Max ketika melihat Emma merenggangkan ototnya.
"Sudah" sahut Emma sambil memberika. berkas yang sudah ia selesaikan kepada sang suami.
Max membuka berkas itu, ia melihat pekerjaan istrinya, Max begitu puas dengan pekerjaan istrinya.
"Sini sayang" pinta Max menyuruh Emma untuk mendekat.
Emma pun berdiri lalu mendekati Max. Max langsung menarik tangan Emma, membuat Emma kaget.
"Akkhhh... " pekik Emma kaget. Max terkekeh melihat istrinya yang kaget karena ulahnya.
"Kenapa tidak bilang sih" gerutu Emma.
Max merubah posisi duduk istrinya menjadi membalaknginya, Max memeluk istrinya dari belakang dan menaruh dagunya di bahu sang istri.
"Berikan aku semangat sayang, pekerjaanku masih lumayan banyak" pinta Max manja, Emma mengelus kepala suaminya.
"Sini aku bantu" ucap Emma sambil melihat pekerjaan Max.
Sedangkan Max malah sibuk menggerayangi tubuh istrinya.
Seperti sekarang tangan Max sudah masuk kedalam pakaian Emma dan memainkan gundukan bulat milik Emma.
"Kamu ini kebiasaan, selalu saja memainkan dadaku" omel Emma yang sebal dengan kebiasaan baru Max yang suka memainkan dadanya.
"Jangan berisik sayang, kau fokus saja mengerjakan pekerjaanku" ucap Max.
Tangan Max mulai Me re mas kedua daging kenyal milik Emma dan sesekali memilin pucuknya.
Emma menggigit bibir bawahnya agar tak men desah.
Max menjulurkam lidah ya mulai menjilati leher jenjang Emma, dia juga mnghisap leher jenjang Emma hingga meninggalkan noda merah di kulit lehernya.
Tak cukup di situ saja, salah satu tangan Max sudah turun ke bawah mengusap perut rata istrinya membuat Emma geli dan tak bisa duduk diam diatas paha Max.
Tangan Max semakin turun dan masuk kedalam rok Emma.
"Sayang" panggil Emma dengan suara yang terdengar manja.
"Hmmmm" gumam Max sambil mengusap inti istrinya yang masih tertutup kain segitiga.
Bersambung.
Lanjutkan nanti guys, othor mau nonton final piala dunia dulu guys😂
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
Happy reading🙏