
"Rissa keluar kamu" teriak Leon.
"Bagaimana ini" tanya Clarissa panik sambil melihat kearah Paul.
"Rissa keluar atau aku akan pecahkan kaca mobil ini" gertaknya sambil menggedor-gedor kaca mobil Paul.
Paul geram dengan kelakuan Leon yang terus menerus mengetuk kaca mobilnya.
"Shitt... mengganggu saja" umpat Paul.
"Tunggulan disini, jangan keluar" peringatnya kepada Clarissa, Clarissa mengangguk patuh ia juga takut bertemu Leon.
Lantas Paul keluar dari mobilnya menghampiri Leon.
"Ada apa? kenapa kau menghalangi mobilku" tanya Paul dingin sambil melipat tangannya di depan dada.
"Jangan ikut campur. Aku tidak ada urusan denganmu, tapi urusanku dengan wanita yang ada di dalam mobil ini" sentak Leon.
"Kau memang tidak ada urusan denganku bung, tapi asal kau tahu mobil ini mobilku dan kau menghalanginya, jadi mau tidak mau kau akan berurusan denganku" sahut Paul santai.
"Kalau begitu suruh wanita itu keluar dari mobilmu dan aku akan membiarkan mobilmu lewat" pinta Leon mengajak Paul bernegosiasi.
__ADS_1
Paul yang sudah malas berdebat pun mengeluarkan pistolnya dari balik punggung dan menodongkannya di dahi Leon.
"Pergi atau aku akan melubangi kepalamu dengan pistol ini" gertak Paul membuat tubuh Leon gemetar, wajah pria itu berubah pucat pasi padahal sebelumnya pria itu terlihat menggebu-gebu.
"Ba-Ba-iklah, sa-ya akan pergi" ucap Leon gagap, ia memilih pergi dari pada mati konyol di tangan Paul.
Paul tersenyum miring melihat muka Leon yang ketakutan, tangan kanan Max itu menurunkan pistolnya dan Leon langsung lari terbirit-birit menuju mobilnya.
Sementara di dalam mobil mata Clarissa membulat sempurna melihat Paul yang menodongkan pistol ke dahi Leon. wanita itu tak menyangka kalau Paul memiliki senjata.
"Dia seperti mafia yang ada di film-film" gumam Clarissa bergidik ngeri.
"Terima kasih sudah menolongku" ucap Clarissa ketika Paul sudah masuk kedalam mobil.
"Hum" gumam Paul sambil fokus menyetir.
Suasana di dalam mobil berubah hening, hingga Clarissa menyadari kalau mobil Paul mengarah kejalan yang berbeda yang biasa ia lewati.
"Ini bukan arah ke kontrakan ku" tanya Clarissa ketika melihat jalan yang mereka lewati berbeda dengan jalan menuju ke kontrakannya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah tuan Max" sahut Paul sambil fokus menyetir.
__ADS_1
Paul tidak membawa Clarissa kontrakannya karena khawatir pria itu akan menemui Clarissa di kontrakannya, Paul memilih mengantar Clarissa ke rumah Max yang ada banyak penjaga, dan itu akan membuat Clarissa aman pikir Paul.
"Kenapa tidak ke kontrakan ku" tanya Clarissa melihat kearah Paul.
"Karena sekarang keselamatanmu menjadi tanggung jawabku, jadi aku tak mau ambil resiko meninggalkanmu di kontrakan seorang diri" ucap Paul datar.
Clarissa menghela nafas, dia yakin kalau ini pengaturan dari kakaknya, mau tak mau dia pun mengikutinya dia juga takut kalau Leon datang ke kontrakannya.
Mereka berdua sampai di rumah Max.
"Terima kasih" ucap Clarissa dan keluar dari dalam mobil Paul.
Setelah memastikan Clarissa masuk Paul turun dari mobilnya, ia menuju ke rumah yang biasa ia tempati ketika menginap di rumah Max, rumah tersebut berada di belakang rumah utama.
Hari sudah mulai larut membuat Max malas pulang karena besok pagi dia juga harus mengantar Clarissa ke tempat kerjanya.
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏
Happy reading
__ADS_1