Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 58


__ADS_3

"Hari ini kamu jangan ke kantor dulu sayang" larang Max sambil menyantap makanannya.


Mereka sedang melakukan makan pagi bersama, Max melarang istrinya berangkat kerja, apalagi istrinya baru kemarin keluar dari rumah sakit, jadi dia ingin istrinya istirahat dulu.


"Kenapa? aku sudah sembuh honey" sahut Emma.


"Lusa saja kamu ke kantor ya, kamu baru keluar dari rumah sakit sayang, nanti kalau kamu lelah terus sakit lagi gimana? untuk kali ini nurut ya" ucap Max sambil mengelus pipi istrinya lembut.


"Baiklah, tapi nanti siang aku ingin ke apartemen ya" sahut Emma dan minta ijin.


"Boleh, tapi jangan sampai lelah, kalau ada barang yang ingin kamu ambil nanti suruh Paul yang mengangkutnya" ucap Max tersenyum menatap netra istrinya.


Emma menganggukkan kepalanya. Mereka berdua menyelesaikan makan paginya.


"Ayo aku antar sampai depan" ucap Emma sambil bergelayut di lengan suaminya.


Max mengangguk, lantas mereja berdua menuju ke depan rumah.


"Aku berangkat kerja dulu, nanti kalau sempet aku jemput kamu ke apartemen" ucap Max dan mengecup kening istrinya lalu mencium bibirnya.


Max me lu mat bibir istrinya lembut. Cukup lama mereka berdua berciuman, Max pun melepaskan tautan bibirnya dan menempelkan keningnya ke kening istrinya.


Emma memeluk tubuh suaminya posesif, perempuan itu seperti tidak ingin di tinggal suaminya bekerja.


"Lepas nyonya, suamimu ini mau bekerja" ucap Max yang merasakan pelukan istrinya begitu erat di tubuhnya.


"Tidak mau" tolak Emma manja sambil menempelkan kepalanya di D4d4 suaminya.


"Minta apa hmm" tanya Max, biasanya istrinya itu akan manja kalau sedang menginginkan sesuatu.


"Kangen hubby" lirih Emma.


Max menghela nafas panjang, menahan gejolak ha*rat di dalam tubuhnya, jawaban istrinya langsung membuat yang bawah langsung bangun.


Tapi Max tidak bisa melakukannya sekarang, karena dokter melarang dirinya menyentuh istrinya kurang lebih selama dua minggu.


"Hufff.... Nanti aku usahakan pulang cepat untuk menemani kamu" ucap Max sambil Menghela nafas pelan.


Akhirnya Emma melepaskan pelukannya dari tubuh Max, sekali lagi Max mencium bibir iatrinya dan masuk kedalam mobilnya.


Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Arsen.


"Aku harus ke apartemen sekarang, ini kesempatan untuk menyelidiki pekerjaan suamiku yang sebenarnya, aku tak yakin dia hanya seorang bodyguard" gumam Emma sambil menenteng tasnya menuju ke mobilnya.


Emma menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya menuju ke paartemen milik suaminya yang dulu mereka tinggali.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Mobil yang di tumpangi Emma sampai di apartemen Max.

__ADS_1


Emma melangkahkan kakinya masuk kedalam apatemen, lantas naik ke lantai 30 menuju kekamar miliknya.


Klek...


Pintu apartemen terbuka setelah Emma memencet nomor sandinya.


Emma masuk kedalam menuju ke ruang kerja suaminya.


Ceklekk....


Pintu terbuka, Emma masuk dan menyalakan lampu ruangan tersebut.


Emma memulai membuka laci kerja suaminya, Emma meneliti satu persatu benda yang ada di laci kerja suaminya, namun dia tidak menemukan benda yang mencurigakan, laci tersebut hanya berisi berkas-berkas.


Emma mengecek satu persatu lemari yang ada di ruang kerja suaminya, namun dia masih belum menemukan apa-apa.


Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, netranya berhenti pada sebuah lukisan yang beada di dinding ruangan kerja Max.


Ia merasa aneh dengan lukisan tersebut yang menurutnya tidak menarik sama sekali.


Di dekatinya lukisan tersebut oleh Emma, dia meraba lukisan tersebut tapi tidak menemukan sesuatu yang aneh.


Emma mengambil lukisan itu dari dinding dan di letakan dibawah. Emma memperhatikan dinding yang tapi sempat tertutup oleh lukisan.


Seperti ada tombol kecil di dinding tersebut, Emma yang penasaran langsung merabanya.


Emma memencet tombol tersebut dan dindingnya langsung terbelah menjadi dua, Emma kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang.


ternyata di balik dinding tersebut ada ruangan tersembunyi.


"Ruangan apa ini, kenapa gelap sekali" gumam Emma sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.


Belum sempat dia masuk ke ruangan itu Emma mendengar suara teriakan suaminya yang memanggil namanya.


"Sayang..."


Emma langsung buru-buru menutup ruangan itu dan kembali menaruh lukisan itu ke tempat semula dan keluar dari ruang kerja suaminya.


"Hubby kamu sudah di sini" ucap Emma saat sudah berada di dekat suaminya.


"Kamu darimana sayang" tanya Max.


"Aku dari kamar" sahut Emma langsung mendudukan tubuhnya di atas pangkuan suaminya.


Reflek Max langsung memegangi pinggang istrinya karena takut jatuh.


"Kamu cepat sekali pulangnya" tanya Emma sambil mengusap rahang tegas suaminya.

__ADS_1


"Reva mau di jemput papinya nanti" jawab Max.


"Bikinin aku kopi sayang, aku haus" lanjut Max minta di buatkan kopi sama istrinya.


Tapi bukannya melepaskan istrinya itu Max justru memeluk erat istrinya, dan memasukkan kepalanya masuk kedalam baju istrinya.


Emma menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.


"Terus gimana caranya aku bikin kopi kalau kamunya kek gini" ucap Emma jengah, suaminya itu sedang asik memainkan d4d4nya.


"Sebentar sayang, aku kangen sama benda bulat ini" sahut Max sambil memasukkan ujung d4d4 Emma kedalam mulutnya.


"Aaaaa... sakit hubby" pekik Emma saat Max menggigit d4d4nya.


Max mengeluarkan kepalanya dan menatap istrinya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Awas aja kalau sampai lecet" dumel Emma sambil mengelus elus d4d4 nya yang terasa perih akibat ulah suaminya.


"Biarin saja, ini kan punyaku" ucap Max sambil me re mas kedua bukit kembar istrinya.


"Awas! aku mau buat kopi" ucap Emma galak sambil menepis tangan suaminya yang bertengger di d4d4nya.


Setelah Max menarik tangannya lantas Emma beranjak dari pangkuan suaminya, ia menuju ke dapur untuk membuatkan kopi suaminya.


"Wanita itu selalu saja membuatku hilang akal" gumam Max sambil menatap punggung istrinya yang kian menjauh.


Max membuka ponselnya dan melihat beberapa email yang masuk kedalam ponselnya, email tersebut berisi tentang permintaan kerja sama baru dan sebagainya.


Meskipun Max tidak selalu berada di perusahaan, tapi tetap yang memutuskan semuanya adalah Max.


Setelah selesai memeriksa pekerjaanya, Max berdiri dan menyusul istrinya kedapur.


"Sayang kamu lapar tidak" tanya Max sambil memeluknya dari belakang.


"Aku belum lapar hubby, kamu kalau mau makan biar aku buatkan makanan" sahut Emma.


"Buatkan aku pasta sayang" pinta manja.


"Lepasin dulu. aku susah geraknya kalau begini" titah Emma karena suaminya itu terus memeluknya.


"Tidak mau, aku mau seperti ini, kamu kalau mau masak ya masak aja" tolak Max men ci umi leher istrinya.


"Sayang" rengek Emma yang merasakan geli di lehernya.


"Apa?" tanya Max pura-pura tidak tahu.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏


__ADS_2