Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 82


__ADS_3

"Gimana Pau, kau sudah mendapatkan informasinya atau belum?" tanya Max lewat earphone miliknya.


"Aku melihat tatto huruf A di belakang telinganya tuan" lapor Paul.


Saat ini Paul sedang memantau keberadaan orang-orang yang sedang mengincar Emma dengan menggunakan teropong.


"Sial, itu simbol dari Araster Pau, bagaimana bisa organisasi itu beroperasi kembali?" umpat Max, sepertinya dia melewatkan informasi tentang organisasi itu.


"Sepertinya ada yang mengaktifkannya lagi tuan" sahut Paul.


"Segera selidiki orang itu Pau" titah Max geram.


Max tak menyangka organisasi yang sudah lama ia hancurkan kini kembali berdiri lagi.


"Dimana istriku, dia sudah keluar dari kantornya atau belum" tanya Max sambil fokus mengemudikan mobilnya hendak menjemput Reva yang sedang les bela diri bersama Reynand.


"Mobil nyonya baru saja keluar... " belum selesai Paul berbicara dia melihat mobil Emma di ikuti oleh empat mobil hitam. "****.... Mobil nyonya Emma di ikuti tuan" seru Paul.


"Tetap awasi, biarkan mereka berhasil menangkap istriku Pau, aku ingin memancing orang itu keluar dari persembunyiannya" ucap Max tak masuk akal.


Meskipun terkesan kejam, tapi inilah satu-satunya cara agar membuat musuh keluar dari persembunyiannya. Percuma dia menyerang sekarang, karena yang mereka hadapi anak buahnya bukan pimpinannya.


"Tuan, bagaimana kalau nyonya Emma celaka" seru Paul tak setuju.


"Tidak akan terjadi apa-apa dengan istriku Paul, kita akan menyelamatkannya nanti" sahut Max yakin. "tetap pantau GPS milik Emma, jangan sampai kita kehilangan jejak istriku" titah Max tegas.


Max memasang GPS di liontin yang ia berikan kepada Emma.


Terdengar helaan nafas dari sebarang sana. Gila, sungguh diluar dugaan, bisa-bisanya tuannya menumbalkan istrinya sendiri. Paul tidak tahu jalan pikiran tuannya saat ini.


Max mematikan panggilannya secara sepihak, dia mencoba menghubungi sang istri.


Tut.....


Tut...


Tut...


"Halo.. " terdengar suara sapaan dari sebrang.


"Kamu lagi dimana sayang" tanya Max pura-pura tidak tahu.


".... "


"Coba kau lihat kearah belakang sayang" saran Max.


"...... "


"Itu musuh bukan anak buahku sayang" ucap Max memberitahu istrinya.


Terdengar suara pekikan dari Emma.


"..... "


"Tenanglah, kau harus tetap fokus mengemudikan mobilmu" ucap Max.


Tidak ada lagi suara sahutan dari sebrang sana, sepertinya istrinya sedang fokus mengemudikan mobilnya agar tak tertangkap oleh mereka.


"Maafkan aku sayang, aku janji akan menolong mu" lirih Max lalu mematikan ponselnya.


Max melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menjemput Reva.


Terlihat gadis itu sedang duduk bersama Reynand menunggu jemputan.


"Kau dijemput tidak Rey" tanya Reva.

__ADS_1


"Aku dijemput sopirku" jawab Reynand.


"Memangnya daddy Reagan kemana? Kenapa dia tidak menjemputmu?"


"Daddy pasti sedang menemani mommy mengasuh Cia" jawab Reynand, meski begitu dia tidak marah dengan orang tuanya, karena dari awal dia yang lebih dulu meminta adik.


"Ck, kasihan sekali, sepertinya mereka melupakanmu" ejek Reva sambil menggelengkan kepalanya.


Reynand hanya berdecak kesal dengan ejekan sahabatnya itu.


"Ayo pulang" ajak Max menghampiri mereka berdua.


"Ayo om, tapi Rey belum di jemput" ucap Reva.


"Kamu mau nunggu sopir mu atau ikut pulang bersama kita Rey" tawar Max, dia tak tega meninggalkan anak kecil itu sendirian.


Reynand nampak diam memikirkan tawaran Max.


"Aku ikut kalian saja, nanti Om Max kasih tahu sopir Rey ya" putus Reynand. Bocah kecil itu memutuskan untuk pulang bersama Reva, dia merasa jenuh menunggu sopirnya sendirian.


Max mengangguk mengiyakan, Reynand dan Reva masuk kedalam mobil dibantu oleh Max.


*****


Emma terlihat panik ketika musuh berhasil menghimpit mobilnya di kedua sisinya. Emma mencoba melawan, dia membanting setirnya ke kiri hingga membuat mobilnya berbenturan dengan mobil musuh, Emma terus melakukan itu untuk melawan mereka.


"****... Aku lupa menyiapkan senjata dimobilku" umpat Emma, tidak ada sama sekali senjata di mobil Emma, mobil Emma jarang di pakai sehingga Max tak kepikiran menaruh senjata di mobil sang istri.


Cittt.....


Bunyi ban mobil yang bergesekan dengan aspal, Emma mengerem mendadak ketika mobil musuh berhasil memblokir laju mobilnya.


"Arrggghhh... " kesal Emma sambil memukul setir mobilnya.


Tok


Tok


Tok


kaca mobil Emma di ketuk dari luar. Hal itu semakin membuat Emma panik.


"Buka pintunya atau kami akan menghancurkan mobil ini sekarang juga" ancam orang itu.


Emma tak bergeming, wanita masih belum mau membuka pintu mobilnya. Hingga terdengar terdengar suara kaca pecah.


Pyar...


Orang itu memukul kaca bagian belakang mobil Emma.


Tak ingin membuat mereka semakin brutal menghancurkan mobilnya, akhirnya Emma memberanikan diri membuka pintu mobilnya.


"Cepat keluar" desak mereka.


Perlahan Emma keluar dari dalam mobil sambil mengangkat kedua tangannya keatas seperti seorang tahanan.


"Siapa kalian" tanya Emma memberanikan diri.


"Kau tak perlu tahu siapa kami. Lebih baik sekarang kamu ikut kami, karena bos kami ingin berkenalan dengan mu" ucapnya.


"Cih.. Aku tak sudi ikut dengan kalian" tolak Emma sambil meludah kearah mereka.


"Sialan, dasar wanita ja*ang" marah mereka akibat ludah Emma mengenai mukanya.


Musuh hendak melayangkan tangannya ingin menampar Emma, akan tetapi langsung di tendang tangan itu sebelum mengenai wajahnya.

__ADS_1


"Hiyaaa..... "


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Terjadi perkelahian antara Emma melawan semua musuh yang berjumlah sekitar lima belas orang, Emma tahu dirinya akan kalah, tapi sebisa mungkin Emma melakukan perlawanan kepada mereka, dia menendang dan juga memukulnya secara membabi buta.


"Hoshh.... Hosshhh... Hosshhh"


Emma mulai kelelahan, tenaga Emma terkuras habis untuk melawan mereka semua.


Bugh..


"Akhh... "


Emma lengah, membuat salah satu musuh berhasil memukul bagian belakang tubuh Emma, membuat wanita itu seketika langsung tak sadarkan diri.


Mereka ditugaskan untuk menculik Emma dalam keadaan hidup-hidup, mereka juga tidak boleh membuatnya babak belur.


"Cepat masukkan wanita itu kedalam mobil" titah sang ketua.


Merek mengangkat Emma dan memasukkannya kedalam mobil.


Di tempat lain yang tak jauh dari situ terlihat seseorang sedang memantaunya, orang itu yang tak lain adalah Paul.


Sejak tadi Paul menyaksikan pertarungan itu, dia mencegah anak buahnya untuk mengelamatkan sang nyonya sesuai intruksi dari Max.


Paul segera menghubungi Max.


"Mereka berhasil menangkap Nyonya tuan" lapor Paul.


"Cepat ikuti mobil mereka Paul" titah Max.


"Baik tuan" ucap Paul mematikan ponselnya dan memasukkanya kedalam kantong celananya.


"Ayo kita kejar mereka" ajak Paul kepada seluruh anak buahnya.


Anak buah Paul langsung memasuki mobionya masing-masing, mereka mengikuti mobil yang menculik Emma dengan jarak yang lumayan jauh.


****


"Anak-anak, kita tidak langsung pulang ke rumah, ada hal penting yang harus om Max lakukan sekarang" ucap Max, dia terpaksa membawa mereka berdua ikut serta bersamanya.


Max tak ingin mengambil resiko dengan mengulur waktu memulangkan mereka lebih dulu.


"Apa itu" tanya Reva memiringkan kepalanya.


"Tante cantikmu di culik, om Max harus segera menyelamatkannya" jawab Max.


"Baik, kami akan ikut menyelamatkan tante cantik" putus Reva tanpa meminta persetujuan lebih dulu kepada Reynand, membuat bocah kecil itu merotasi bola matanya malas.


Max memberikan mereka pistol hanya untuk berjaga-jaga.


"Apa kalian siap" tanya Max.


"SIAP" seru mereka semangat.


Max geleng-geleng kepalanya melihat tingkah mereka berdua, bukannya takut mereka justru terlihat antusias.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2