Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 81


__ADS_3

Suasana di Mansion Max nampak begitu tenang, sepasang suami istri itu sedang melakukan makan pagi bersama.


Hari ini mereka berdua mulai beraktivitas kembali seperti biasanya. Emma akan kembali ke perusahannya sementara Max kembali menjadi bodyguard Reva.


"Aku berangkat dulu sayang" pamit Max setelah menyelesaikan makannya.


"kamu tidak mengantarku, honey" tanya Emma heran, sebab biasanya suaminya itu akan mengantarnya lebih dulu.


"Tidak sayang, aku sedang terburu-buru, kamu bisa menggunakan mobilmu sendiri untuk pergi kekantor" sahut Max.


"Yasudah kalau gitu" Emma pun menyetujuinya.


"Hati-hati, kabari aku setelah kamu di kantor" ucap Max dan mencium singkat bibir sang istri.


Setelah itu Max pergi menuju ke rumah Arsen untuk mengantar Reva sekolah.


Sesampainya di rumah Arsen Max langsung masuk kedalam, kedatangannya langsung di sambut oleh Reva.


"Om Max kemana aja, kenapa tidak pernah antar jemput Reva lagi? Om Max sudah tidak sayang sama Reva lagi ya" amuk Reva sambil berkacak pinggang.


"Bukan begitu sayang, kemarin om Max habis bulan madu sama aunty cantikmu" jawab Max gugup


"Apa itu bulan madu? kenapa om Max tidak mengajak Reva? Reva kan juga ingin bulan madu" tanya Reva memicingkan matanya penasaran.


Max menepuk keningnya. Max hanya diam saja bingung mau menjawab apa, dia takut jawabannya malah akan membuatnya semakin pusing.


"Kenapa om tidak jawab" desak Reva.


Tak lama Arsen datang menghampiri mereka. Max tersenyum penuh maksud.


"Kamu tanya saja sama papah mu sayang" ucap Max.


Arsen mengerutkan keningnya, dia merasakan hawa yang tidak enak.


"Papah" panggil Reva.


"Maaf sayang, papah sibuk" sahut Arsen cepat.


"Sebentar saja, kalau tidak mau nanti Reva adukan mamah" ancam gadis kecil itu.


Kalau sudah begini Arsen hanya mampu menghela nafas pasrah.Sedangkan Max sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak meledak, dia senang melihat wajah tertekan Arsen, kapan lagi bisa mengerjai tuanya ini.


"Reva mau apa sayang" tanya Arsen lembut.


"Bulan madu itu apa papah? Apakah itu sangat menyenangkan?" tanya Reva melihat sang papah dengan mata bulatnya.


Arsen tercengang mendengar pertanyaan putrinya ia menatap tajam bodyguard putrinya itu.


Max yang di tatap malah pura-pura tidak tahu.


"Oh, tentu sayang, bulan madu memang sangat menyenangkan" jawab Arsen.


"Kalau begitu nanti Reva ajak Rey pergi bulan madu" ceplos Reva membuat keduanya menganga.


"Mana bisa begitu sayang, kamu harus besar dulu baru boleh bulan madu" seru Arsen.

__ADS_1


"Kenapa" tanya Reva.


"Sudah sana sarapan dulu, nanti kamu kesiangan" titah Arsen untuk mengalihkan pembicaraan.


"Huff... Orang dewasa memang aneh, memang apa salahnya kalau Reva pergi bulan madu sama Rey" dumal Reva sambil menghentakkan kakinya menuju ke ruang makan.


kemudian Arsen beralih menatap Max.


"Ikut keruang kerjaku sekarang Max" titah Arsen serius dan dibalas anggukan oleh Max, dia juga ada sesuatu yang penting yang ia ingin bicarakan kepada Arse.


Max mengikuti langkah Arsen dari belakang yang membawanya naik kelantai dua dimana ruang kerjanya berada.


CEKLEK....


Pintu terbuka, Arsen masuk di ikuti oleh Max.


"Siapa orang-orang itu Max, kenapa kau menempatkan banyak anak buahmu di sekitarku" tanya Arsen sambil duduk di kursinya.


Max sudah menebak kenapa Arsen memintanya ikut ke ruang kerjanya.


"Tidak cuma di sekitarmu, aku juga menempatkan orang-orang ku di sekitar istri serta anak-anakmu, aku takut kelurga mu menjadi sasaran balas dendam musuhku" sahut Max membuat Arsen kaget, apa situasinya membahayakan hingga keluarganya mesti diawasi juga?.


"Apa ini ada kaitannya dengan masa lalu mu Max" tanya Arsen.


"Aku tidak tahu, yang jelas sudah beberapa hari ini ada yang meneror ku, bahkan perusahaan aku pun tak luput mendapatkan teror dari mereka" sahut Max menghela nafas, dia belum bisa memastikan siapa musuhnya, karena dia sendiri belum mengetahuinya.


"Bagaimana dengan Reva?" tanya Arsen, karena putrinya itu sering bersama Max.


"Dia akan aman bersamaku" yakin Max.


Max mengangguk setuju, setidaknya fokusnya tidak terpecah.


Obrolan selesai, mereka keluar dari ruang kerja dan turun kebawah.


"Ayo kita berangkat" ajak Max.


"Iya om" sahut Reva seraya turun dari tempat duduknya.


Gadis kecil itu pamit dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu.


"Dadah... Mah, pah, Reva berangkat dulu" ucapnya sambil melambaikan tangan.


Max mengandeng Reva menuju ke mobilnya, Max membantu Reva masuk kedalam mobil dan memasangkan seatbelt ke tubuh kecilnya. Mobil melaju menuju ke sekolahan Reva.


"Sebelum om Max jemput kamu jangan keluar kelas dulu ya, dan ingat jangan percaya kepada siapapun, Mengerti" Max memberi peringatan kepada Reva.


"Siap bos" sahut Reva dengan sikap hormat polisi.


Reva turun dari dalam mobil lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah.


*****


Ditempat lain, nampak pria muda yang berumur sekita tiga puluh lima tahun sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Katakan" perintahnya kepada para anak buahnya.

__ADS_1


"Dia tidak bersama pengawalnya tuan"


Pemuda itu tersenyum menyeringai.


"Lakukan sekarang, tapi ingat, kalian harus hati-hati takutnya ini hanya sebuah jebakan untuk kita"


"Siap tuan"


Pemuda itu nampak menyeringai.


"Let's play the game" ucap pemuda itu dengan sorot mata penuh amarah.


****


Waktu cepat berlalu, Sore hari Emma telah menyelesaikan pekerjaannya, wanita itu merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Capek juga" keluh Emma setelah beberapa hari ini libur kerja.


Emma membereskan berkas yang berserakan di meja kerjanya, tak lupa Emma juga mematikan laptop miliknya.


Tak lama Tina masuk kedalam ruangan Emma.


"Ibu, sudah mau pulang" tanya Tina.


"Iya Tina, ada apa? Apa masih ada pekerjaan lagi?" tanya Emma.


"Tidak ada bu" jawab Tina.


"Kalau begitu mari kita pulang" Ajak Emma sambil beranjak dari kursi kerjanya. Emma berjalan sambil menenteng tas miliknya.


Tina dan Emma berjalan beriringan sambil mengobrol, sampai di parkiran mereka berdua masuk kedalam mobil masing-masing.


Emma masuk kedalam kursi kemudi, dia memakai seatbelt nya dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Emma menginjak pedal gas dan perlahan mobil melaju meninggalkan area gedung perusahaan.


Di tengah jalan tiba-tiba ponsel milik Emma berdering. Ema langsung mengangkatnya tanpa melihat nama siapa yang muncul dilayar ponselnya.


"Halo" sapa Emma ketika tersambung.


"....... "


"Aku sedang menyetir arah pulang, Hubby, kenapa?" tanya Emma, ternyata suaminya yang telah menghubunginya.


"....... "


Emma melihat spion mobilnya sambil mendengarkan suara Max lewat earphone miliknya.


"Iya, ada beberapa mobil hitam yang mengikuti ku" ucap Emma santai, ia mengira itu mobil anak buah suaminya.


"...... "


"What... Kenapa kamu tidak bilang, terus aku harus bagaimana" kaget Emma ketika suaminya memberitahunya kalau yang sedang mengikuti mobilnya itu bukan anak buah Max melainkan musuh.


Emma menjadi panik sambil sesekali menoleh ke spion mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2