Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 86


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, sebulan sudah kejadian itu berlalu. Pagi ini Max mencoba membangunkan sang istri yang masih terlelap dibawah selimut tebalnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi tapi wanita itu masih betah menutup matanya.


Max duduk di tepi ranjang mencoba membangunkan sang istri.


"Sayang, sampai kapan kamu akan tidur, ini sudah jam delapan aku harus kekantor" ucap Max samb menepuk pipi Emma pelan.


"Aku masih ngantuk, hubby" ucap Emma sambil merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi suaminya.


"Apa kamu tidak lapar hmm" tanya Max.


"Hubby" rengek Emma ingin tidurnya di ganggu.


Max menghela nafas panjang, sepertinya pria itu menyerah, dan dia akan membiarkan istrinya tidur.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi, kalau begitu aku kekantor dulu" ucap Max dan mencium pipi istrinya.


Max berjalan kearah pintu dan keluar dari kamarnya, dia turun ke bawah menemui pelayannya.


"Bik, kalau sampai jam sembilan pagi istriku belum bangun juga, tolong bibi bangunkan ya, suruh dia sarapan" pesan Max.


"Baik tuan" sahut sang pelayan.


Tanpa sarapan Max langsung berangkat ke kantornya, dia tidak antar jemput Reva hari ini, karena ada Arsen yang akan menggantikannya.


Sesampainya di perusahaan J'MO Max langsung naik keatas menuju ke ruangannya.


"Bagaimana Luk? Kau sudah menghancurkan perusahaan milik Richard belum" tanya Max sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Sudah tuan, pagi ini perusahaan itu dinyatakan bangkrut" jawab Lukas.


"Bagus, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu, aku akan menghubungi istriku dulu sebentar, pagi ini dia berubah menjadi pemalas" ujar Max seperti bapak-bapak komplek yang sedang ghibah masalah istrinya.


"Tumben nyonya Emma malas bangun tuan, biasanya jam segini beliau sudah ada di kantornya" sahut Lukas heran.


"Aku juga tidak tahu" jawab Max.


Max mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya nya, lalu dia mencoba menghubungi istrinya, dia ingin memastikan istrinya sudah bangun atau belum, jangan sampai istrinya tidur sepanjang hari hingga lupa mengisi perutnya.


Tut....

__ADS_1


Tut....


Tut...


"Ada apa? kenapa kau terus menggangguku" omel Ema dari sebarang sana.


langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lalu mengeraskan speakernya.


"Kau sudah bangun sayang" tanya Max hati-hati.


"Belum, sekarang yang sedang berbicara dengan mu itu setan" ketus Emma.


Max menggaruk kepalanya yang tak gatal, Max heran dengan istrinya, padahal dia hanya bertanya tapi kenapa istrinya malah memarahinya.


"Kamu sudah makan" tanya Max lagi


"Kau ini cerewet sekali, aku ini sedang makan, lebih baik kau matikan panggilanmu" kesal Emma.


Max pun langsung mematikannya, dia takut membuat istrinya semakin marah.


"Kau dengar sendiri kan, dia jadi marah-marah, padahal aku hanya bertanya saja, menurut mu istriku kenapa, Luk" tanya Max sambil menaruh ponselnya diatas meja.


"Kamu ini kenapa tidak menikah, kau harus segera menikah, supaya kau bisa menjawab jika aku tanya" sahut Max membuat Lukas cengok


Bukan hanya istrinya yang aneh, menurut Lukas Max juga aneh, kenapa harus menikah segala, kenapa tidak dia nya saja yang bertanya kepada istrinya langsung.


"Mungkin nyonya Emma sedang PMS tuan, makanya dia marah-marah" ceplos Lukas.


Lukas baru ingat, dulu tiap kali mantan kekasihnya mau datang bula dia selalu marah-marah.


"Apa itu PMS" tanya Max mengeryitkan dahinya.


"Itu lho tuan, mungkin nyonya Emma lagi datang bulan" sahut Lukas menghela nafas, percuma saja menikah kalau hal begitu saja tuannya tidak tahu.


"Kenapa bisa begitu, perasaan selama ini dia baik-baik saja meskipun sedang datang bulan" bantah Max.


Tak lama ponsel Max berdering, dan ternyata istrinya yang menghubunginya.


"Kau saja yang angkat Luk, bilang saja kalau aku sedang meeting" pinta Max takut mengangkat panggilan dari sang istri.

__ADS_1


"Tidak ah tuan, itu kan istri anda, jadi anda saja yang mengangkatnya" tolak Lukas, dia tak mau mencari masalah dengan nyonya bos nya.


"Tentu saja istri ku, tapi saat ini kondisinya sedang berbeda, lebih baik kamu saja yang angkat" bujuk Max.


Lukas kekekuh menggelengkan kepalanya tak mau, dia sudah pernah menghadapi wanita yang sedang PMS, makanya dia tetap menolak meskipun bosnya itu akan menghukumnya.


Mau tak mau Max pun mengangkat panggilan dari istrinya.


"Iya sayang, ada apa" tanya Max ketika panggilannya sudah tersambung.


"kenapa panggilannya di matiin, kamu sudah tidak sayang sama kau lagi ya" ucap Emma dengan suara bergetar, Max yakin kalau istrinya saat ini sedang menangis.


"Bukan begitu sayang, tadi kan kamu yang memintanya makanya aku matiin" ucap Max lembut.


"Harusnya kamu jangan mau, bukan malah mematikannya. Hiks.... Hiks" ucap Emma sambil menangis.


Max menghela nafas frustasi, dia bagai memakan buah simalakama. menolak salah, menurutinya lebih salah.


Sementara Lukas menahan tawa melihat raut wajah frustasi bosnya.


"Lalu aku harus bagaimana sayang" tanya Max lembut agar istrinya mau berhenti menangis.


"Pikir saja sendiri, aku tak mau bicara lagi padamu" sahut Emma lalu mematikan panggilannya secara sepihak.


Max mengacak rambutnya pusing.


"Kenapa jadi aku yang salah Luk?, bukankah tadi kamu juga mendengarnya, kalau dia yang menyuruhku mematikannya, lalu kenapa sekarang dia menangis seolah aku tengah menyakitinya" keluh Max sambil mengurut keningnya yang berdenyut.


"Lebih baik anda pulang tuan, siapa tahu setelah bertemu anda perasaan nyonya Emma jadi lebih baik" saran Lukas.


"Kamu benar, aku harus pulang sekarang juga" ucap Max seraya beranjak dari kursinya.


"Kau handle semua pekerjaan ku Luk" pinta Max.


"Baik tuan" jawab Lukas.


Max melangkahkan kakinya dengan tergesa keluar dari ruangannya, lalu dia masuk kedalam lift khusus turun kebawa menuju basemant.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏


__ADS_2