
"Ngapain kita ke arah hutan" tanya Clarissa takut saat mobil yang ia tumpangi mulai masuk kedalam hutan.
"Memang kesini arah menuju kerumah Darso, karena rumah dia berada di sekitar hutan dan jauh dari pemukiman warga" sahut Paul tetap dengan wajah datarnya.
"Dasar tua bangka aneh, bikin rumah bukannya cari yang ramai malah di tengah hutan" gerutu Clarissa kesal.
Paul menghela nafas, sebenarnya ia pusing dari tadi mendengar ocehan Clarissa yang tak mau diam.
Untung adik nyonya nya, kalau bukan sudah ia lempar keluar dari mobil, persetan mau di makan binatang buas atau tidak bukan urusan dia, yang penting kupingnya adem.
"Masih lama" tanya Clarissa.
"Sebentar lagi" sahut Paul.
"Kau terus bilang sebentar lagi tapi dari tadi kita tak sampai-sampai" kesal Clarissa.
"Diamlah atau aku akan melemparmu keluar dari mobilku" ancam Paul yang sudah tidak tahan dengan rengekan gadis yang ada di sebelahnya.
Clarissa mencebikkan bibirnya kesal, dia melengoskan wajahnya menatap kearah luar jendela. Dalam hati Clarissa tetap mengkhawatirkan keadaan mamahnya yang belum terdengar kabarnya sampai sekarang.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam lebih akhirnya mereka sampai di rumah yang terlihat cukup besar namun banyak penjaganya.
Mobil Paul tak langsung bisa masuk kedalam, dia harus melewati penjaga yang da di pintu gerbang terlebih dahulu.
"Anda siapa?" tanya penjaga yang terlihat sangar.
Clarissa beringsut takut, dia bersembunyi di balik tubuh Paul.
"Saya rekan bisnis tuan Darso, saya ada kepentingan dengan beliau" jawab Paul dengan wajah meyakinkan.
Pejaga tersebut mencari kebohongan di wajah Paul namun tak menemukannya.
"Tuan Darso tidak ada" ucap penjaga tersebut.
"Kalau begitu saya ingin bertemu dengan istrinya, ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan kepada beliau" ucap Paul sedikit memaksa.
"Sebentar saya akan tanyakan dulu kepada nyonya" ucap penjaga.
ia menghubungi salah satu istri Darso dari telpon yang ada di pos jaga.
"Ada apa" tanya seseorang yang tak lain istri Darso yang ada di sebrang.
"Ada tamu ingin bertemu dengan anda nyonya, dia rekan bisnis tuan Darso" beritahunya.
__ADS_1
"Suruh dia masuk"
"Baik nyonya"
Lalu penjaga mematikan panggilannya, kebetulan istri Darso juga ingin menanyakam sesuatu kepada rekan bisnis suaminya itu.
"Silahkan masuk tuan" ucap penjaga.
Namun sebelum Paul masuk penjaga lebih dulu memeriksa mobil Paul, ia takut Paul membawa sesuatu yang akan membahayakan mereka semua.
Dirasa mobilnya sudah bergerak Clarissa kembali menegakkan tubuhnya.
"Serem sekali penjaga rumah di sini, ini bukan seperti rumah tapi seperti markas penjahat" lirih Clarissa bergidik saat melihat pria bertubuh tegah berlalu lalang di rumah Darso.
Paul menghentikan mobilnya tepat di pekarangan rumah Darso, terlihat seorang wanita yang di taksir berusia sekitar 40tahunan berdiri di depan pintu dia seperti sedang menyambut kedatangan Paul dan Clarissa.
"Cepat keluar" ucap Paul.
"Yang benar saja, ini tidak terlihat seperti rumah, tapi terlihat seperti markas penjahat" ucap Clarissa mengeluarkan unek-unek nya.
"Apa kita tidak jadi mencari mamahmu" ucap Paul yang mencoba sabar menghadapi Clarissa.
"Tentu saja jadi, ayo" sahut Clarissa langsung membuka pintu mobilnya dan keluardari dalam mobil
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke rumah Darso.
"Kalian rekan bisnis suami saya" tanya wanita itu yang tak lain istri Darso yang nomor dua.
"Iya Nyonya.. " Sahut Clarissa.
"Nama saya Inggrid, kalau begitu silahkan masuk" ucap Inggrid memperkenalkan diri, tak lupa dia juga mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam rumahnya.
Inggrid meminta mereka berdua duduk di ruang tami, tak lama datang Laela istri ketiga Darso membawa minuman dan juga cemilan untuk mereka. setelah itu Laela ikut duduk di sebelah Inggrid.
"Silahkan di minum terlebih dahulu, pasti kalian haus karena sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai disini" ucap Inggrid.
Clarissa mengangguk, ia dan Paul pun meminum minuman yang di suguhkan untuknya.
Setelah meminumnya mereka kembali meletakkan gelas tersebut diatas meja.
"Ada maksud apa kalian datang mencari suami saya" tanya Inggrid membuka obrolan.
"Sebenarnya tujuan kami kemari untuk mencari mamah saya yang bernama Eva, sudah hampir sebulan lebih mamah saya menghilang tidak ada kabarnya. Saya mencari kesini karena sebelum menghilang mamah saya sering bersama dengan tuan Darso" jawab Clarissa mengutarakan maksud kedatanganyan.
__ADS_1
"Jadi kaliam bukan rekan bisnis suaminya saya" tanya Ingrid.
"Bukan, saya Clarissa putri nyonya Eva." jawab Clarissa jujur.
"Sebenarnya bukan nyonya Eva saja yang menghilang, tujuan saya menerima kalian kemari karena saya juga mau menanyakan keberadaan suami saya" ucap Inggrid.
"Jadi tuan Darso juga menghilang" tanya Clarissa memastikan.
Inggrid mengangguk mengiyakan, Paul sejak tadi hanya diam saja tanpa ingin sedikitpun ikut campur masalah mereka.
Tanpa mereka ketahui sebenarnya pria yang di hadapannya lah dalang dari menghilangnya Darso dan juga Eva.
"Kapan tuan Darso menghilang" tanya Clarissa.
"Sama seperti nyonya Eva, sudah sebulan lebih suami saya tidak pulang kerumah, sampai sekarang nomor ponselnya juga tidak bisa di hubungi, bodyguatd yang selalu mendampinginya pun ikut menghilang" ucap Inggrid.
Clarissa mencoba mencerna ucapan Ingrid, ini terdengar aneh tapi apa mungkin mamahnya pergi sama tuan Darso dan sengaja bersembunyi agar semua orang tidak mengetahui keberadaanya. tapi yang jadi masalahnya mereka bersembunyi dari siapa bukankah selama ini mamahnya yang suka lebih dulu mencari gara-gara.
"Apa mungkin mereka berdua bersembunyi" tanya Clarissa.
"Tidak mungkin, suami saya paling tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama apalagi meninggalkan tempat casino miliknya" sahut Laela.
"Hah suami? anda istrinya juga?" tanya Clarissa kaget.
Paul menghela nafas mendengar pertanyaan Clarissa, bukankah seharusnya ia sudah tahu kalau Darso meang memiliki banyak istri, lalu untuk apalagi dia bertanya.
"Iya, saya istrinya nomor tiga" sahut Laela.
"Oh saya baru ingat, mamah saya pernah bilang kalau tuan Darso memiliki lima istri, bnar begitu"
"Benar nona".
Baru Clarissa paham, tentu saja Darso tidak bisa meninggalkan pekerjaanya terlalu lama, memangnya dia mau kasih makan apa semua istrinya kalau dia malas bekerja.
"Terus sekarang kita harus mencari mereka kemana" tanya Clarissa dengan menatap sendu mereka berdua.
"Saya tidak tahu nona, karena saya tidak begitu kenal dengan orang-orang yang dekat dengan suami saya" ucap Inggrid.
Clarissa menghembuskan nafas kasar, ia juga bingung harus mencari mamahnya kemana lagi, Darso harapan satu-satunya ternyata juga ikut menhilang, dan sekarang dia tidak memiliki petunjuk lain untuk mencari keberadaan mamahnya.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
__ADS_1
Happy reading guys🙏