
Clarissa keluar dari mansion dan menyusul Paul yang sedang duduk termenung sendirian di saung. Clarissa menghampiri Paul lalu duduk di sebelahnya.
"Kenapa keluar? sudah malam tak baik kalau masih di luar" ucap Paul tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku belum ngantuk" sahut Clarissa sambil menatap kurus ke depan melihat gelapnya malam.
Mereka berdua saling diam. Suasana malam terasa semakin sunyi tanpa adanya obrolan dari mereka berdua.
Hembusan angin malam mulai menusuk ke tulang hingga membuat tubuh keduanya sedikit menggigil.
Paul melepas jaketnya dan ia gunakan untuk menutupi tubuh Clarissa.
"Kenapa" tanya Clarissa memecah keheningan.
"Kenapa apanya" tanya Paul balik.
"Jelaskan! Kenapa kau tidak suka melihat ku berkenalan dengan orang lain" jawab Clarissa tegas.
Paul hanya diam belum mau menjawab.
"Sikap mu yang seperti ini semakin membuatku bingung Pau, apa salahnya kau berkata jujur kepadaku. Selama ini kau melakukan ku selayaknya aku kekasihmu, tapi sampai sekarang kau tak pernah sekalipun menyatakan perasaanmu, aku ini perempuan, aku butuh kepastian untuk hubungan kita"
Clarissa menjeda ucapannya sebentar sambil menghirup nafas dalam.
"Kalau kau memang tak menyukai ku maka berhenti memperlakukan ku seperti kekasihmu. Jauhi aku, anggap kita tak pernah kenal" putus Clarissa.
Perlakuan manis yang sering Paul lakukan padanya membuat Clarissa berharap lebih pada pria itu, alih-alih di jadikan kekasihnya, Paul malah menggantungnya hingga sekarang.
Clarissa beranjak dari saung. ia melangkahkan kakinya hendak masuk kedalam mansion.
Grep....
Langkah Clarissa terhenti karena Paul secara tiba-tiba memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan aku, tolong jangan menjauhi ku Rissa, aku sangat mencintai mu" ucap Paul akhirnya mau menyatakan perasaanya pada Paul.
"Maukah kamu membatalkan pertemuan itu? Hatiku sangat sakit saat melihatmu bersam orang lain"
Deg....
Jantung Clarissa berdebar, hatinya merasa berbunga ketika tahu orang yang ia cintai ternyata mencintainya juga.
"Tapi aku tak yakin kau mau menerimaku setelah tahu semuanya tentang ku" lirih Paul.
Clarissa semakin bertambah bingung, semua orang seperti sedang mengajaknya bermain teka-teki.
Clarissa membalikkan tubuhnya dan membuat keduanya saling berhadapan, netra keduanya saling menatap dengan dalam.
"Jangan membuatku bingung Paul, katakan semuanya padaku karena aku ingin tahu semua tentangmu" tegas Clarissa.
"Kau yakin ingin mengetahuinya" Paul memastikan.
Bahkan dulu Emma yang notabene nya yang sudah menjadi istri Max saja sempat ragu untuk melanjutkan hubungannya, apalagi dirinya yang belum ada ikatan apa-apa, ia ragu Clarissa akan bertahan setelah tahu yang sebenarnya tentang identitas asli dirinya.
Paul menghela nafas dalam, ia tak yakin sepenuhnya dengan jawaban wanita itu, bisa saja setelah ia mengatakannya wanita itu berubah pikiran.
Tapi Paul harus tetap mengatakan yang sebenarnya, dia akan menguatkan hatinya menghadapi resiko yang ada.
Paul menggandeng lengan Clarissa dan membawanya duduk kembali di saung.
Paul mengambil nafas dalam terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Saat umurku sepuluh tahun ayahku meninggal karena telah melindungi Max, ayahku merupakan salah satu orang kepercayaan orang tua Max saat itu"
"Sebelum meninggal ayahku sering melatihku dengan sangat keras, ia ingin aku menjadi kuat agar kelak aku bisa menggantikan tugasnya menjaga Max, dan lima tahun setelah ayahku meninggal aku akhirnya bergabung di organisasi yang Max pimpin, aku menjadi anggota Cosa Nostra salah satu organisasi mafia terbesar di daratan Eropa"
"WHAT" kaget Clarissa dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
"Mafia" tanya Clarissa.
"Iya aku merupakan anggota mafia" jawab Paul sambil melihat wajah Clarissa intens.
Clarissa menggigit bibir bawahnya, sekarang ia bingung harus bagaimana, di sisi lain dia takut hidup bersama dengan seorang mafia yang ia yakini juga seorang pembunuh.
"Apa kak Emma tahu kalau kak Max juga seorang mafia" tanya Clarissa.
"Awalnya nyonya Emma tidak tahu kalau tuan Max seorang mafia, tapi tanpa sepengetahuan kita ternyata nyonya Emma mencurigai kita dan mencari tahu tentang kita. Sampai akhirnya nyonya Emma bisa mengetahui identitas asli tuan Max, nyonya Emma sempat marah, bahkan dia berniat pergi meninggalkan suaminya, tapi dengan kegigihan tuan Max beliau mampu meyakinkan nyonya Emma, dan akhirnya nyonya Emma mau menerima suaminya itu" jelas Paul.
Clarissa menjadi berpikir, haruskah dia bertanya kepada kakaknya itu, dia penasaran dengan kakaknya yang memutuskan hidup bersama seorang mafia, kenapa kakaknya itu tidak takut, bisa saja dia menjadi target musuh kakak iparnya itu.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kamu pasti takut hidup dengan orang seperti ku. Aku tidak memaksa kamu untuk menerimaku Rissa, aku cukup sadar diri akan hal itu, aku juga sudah siap jika kau ingin pergi dari ku"
"Bisakah kamu berhenti dari dunia itu?" tanya Clarissa.
"Bisa, tapi bukan berarti bisa lepas begitu saja dari dunia hitam itu, para musuh pasti akan tetap memburuku untuk membalas dendam" jawab Paul.
Clarissa bergidik ngeri mendengarnya. Lalu dirinya harus apa? Dia tidak mau menjadi sasaran musuh mereka.
Paul menghela nafas, melihat kearah Clarissa yang sedang terbengong.
"Masuklah, tak usah terlalu di pikirkan, ikuti saja apa kata hatimu" ucap Paul sambil mengusap kepala Clarissa.
"Eum, aku masuk dulu" pamit Clarissa.
Sebelum mengambil keputusan Clarissa akan memikirkannya terlebih dahulu, agar kelak dia tidak merasa kecewa dengan keputusannya sendiri.
Paul menatap punggung Clarissa yang semakin lama semakin menjauh, hingga tubuhnya hilang di balik pintu.
Paul menghela nafas dalam, dengan langkah gontai Paul masuk kedalam mobilnya.
Mobil Paul bergerak pergi meninggalkan Mansion Max.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏