Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 54


__ADS_3

"Kenapa kamu pulang, bukankah aku belum menjawabnya" ucap Emma dengan tiba-tiba.


Clarissa berhenti mematung dengan posisi membelakangi kakaknya.


"Aku memaafkanmu, tapi tidak dengan ibumu" tegas Emma membuat Clarissa menoleh menatap Kakaknya dengan berlinang air mata.


Ia tak menyangka kalau kakaknya begitu mudah memaafkannya. Clarissa tidak mempermasalahkan kakaknya yang amsih belum bisa memaafkan ibunya, ia sadar kalau kesalahan ibunya memang sudah fatal.


Emma merentangkan kedua tangannya, Clarissa menatap Emma ragu, Ema menganggukkan kepalanya saat melihat keraguan di mata snag adik.


Clarissa tersenyum saat melihat kakaknya mengangguk, ia berjalan menghampiri kakaknya dan memeluknya.


Mereka berdua menangis karena merasa haru, Emma tak menyangka kalau hubungannya dengan adiknya akhirnya membaik juga setelah sekian lama tak saling mengenal.


"Maafkan Clarissa kak" lirih Clarissa sambil menangis memeluk Emma.


"Kakak sudhah memaafkanmu, kakak berharap kamu bisa memperbaiki hidupmu" sahut Emma.


Clarissa melerai pelukannya dengan sang kakak, lantas dia menghapus air matanya.


"Iya kak, teman Clarissa juga sudah pada menjauhi Clarissa, mungkin karena sekaramg Clarissa sudah tidak mempunyai banyak uang seperti dulu makanya mereka pergi meninggalkan Clarissa" ucap Clarissa tersenyum getir.


Saat dia sedang susah seperti ini dia jadi tahu mana yang benar-teman dan yang bukan.


"Itu jauh lebih baik dari pada kamu berteman dengan manusia fake seperti mereka" ucap Emma menyemangati adiknya.


Clarissa tersenyum dan kembali memeluk kakaknya, dia merasa bersyukur di saat semua temannya menjauhinya dia masih mempunyai kakak yang masih mau menerimanya.


🍁🍁


Di tempat lain, Max sedang berada di markas Cosa Nostra, dia ingin melihat tawanannya.


"Bagaimana dengan mereka berdua Pau" tanya Max.


"Mereka masih belum sadarkan diri di tempat penyekapan" jawab Paul.


Max dan Paul menuju ke penjara bawa tanah, tempat tersebut merupakan temoat penyekapan para tahanan Cosa Nostra.


"Bangunkan mereka" titah Max saat sudah berada di tempat penyekapan Darso dan James.


Anak buah Max mengambil ember yang berisi air untuk membangunkan Darso dan James.


Byurrr....


Disiramnya air tersebut ke wajah Darsod an juga James, membuat mereka berdua gelagapan.


"Akhhh... " kaget James dan Darso membuat mereka berdua membuka matanya.


Prokk


Prokk

__ADS_1


prokk


"Sepertinya kalian berdua mulai menikmati hidup di ruangan ini" Ucap Max sambil tersenyum mengejek menatap keduanya.


"Tuan Joven" lirih James yang masih bisa di dengar oleh Max.


"Kau masih mengenaliku rupanya" ucap Max tersenyum menyeringai membuat siapapun orang yang melihatnya begidik ngeri.


"Ampun tuan, saya hanya di suruh sama dia" ucap James memohon, tentu dia tahu track record Max selama terjun di dunia bawah tanah.


Max diam mengabaikan rengekan James yang terus memohon.


Darso yang melihat itu merasa aneh, kenapa James yang notaben nya seorang ketua mafia menurunkan harga dirinya memohon seperti itu dengan Max yang ia tahu bukan siapa-siapa.


Di dunia bawah orang-orang selalu memanggil Max dengan sebutan Joven nama depan Max, saat berhenti dari dunia mafia Max merubah panggilannya menjadi Max yang di ambil dari nama tengahnya.


"Ambilkan saya pisau" pinta Max.


Anak buah Max langsung mengambilnya dan ia berikan kepada Max.


"Mari kita bermain" ucap Max menyeringai sambil memakai sarung tangannya.


Srett.....


Max menyayat pipi James membuat darah segar keluar deras dari pipinya.


"Akhhh... " jerit James kesakitan akibat sayatan di pipinya.


Jiwa Psikopat Max muncul saat sudah berada di ruang tahanan, dia lebih suka menyiksa korbanya dari pada langsung membunuhnya.


Max mencabut kuku James satu persatu tanpa ada rasa iba sedikit pun.


"Bunuh saja aku tuan" pinta James memohon, dia sudah tidak kuat dengan siksaan yang di lakukan oleh Max kepadanya.


"Tidak semudah itu! karena kau sudah berani membunuh bagian dari diriku." ucap Max dingin.


"Siramkan air jeruk itu kebagian lukanya" perintah Max kepada anak buahnya.


Gluk...


James menelan salivanya karena tenggorokannya terasa kering.


Byurrr....


Anak buah Max membubuhkan air perasan jeruk nipis ke luka sayatan yang ada di wajah serta di jari James.


"Aaaaaa...... " jerit James histeris akibat air jeruk yang mengenai kulitnya yang menganga lebar akibat sayatan.


Max tertawa keras mendengar teriakan James yang menggema memenuhi ruangan tersebut.


Max benar-benar menyiksa james dengan begitu keji, tidak ada ampun bagi mereka karena sudah berani menyakiti wanita yang di sayanginya serta merenggut janin yang ada di perut istrinya, padahal selama ini Max berharap bisa memiliki momongan dengan cepat.

__ADS_1


Tapi harapan itu seolah sirna saat dokter menyatakan kalau istrinya keguguran.


Tubuh Darso bergetar hebat akibat melihat Max yang terus menyiksa James tanpa ampun.


Max tersenyum miring melihat raut wajah Darso yang berubah menjadi pucat pasi.


Usai puas menyiksa James, Max meninggalkn ruangan bawah tanah tersebut, kali ini dia membiarkan Darso untuk bernafas sesaat sebelum dia mengeksekusinya.


Sebelum kembali ke rumah sakit Max membersihkan tubuhnya terlebih dahulu agar istrinya tak curiga.


🍁🍁🍁


"Ini sudah jam berapa? kenapa suamiku lama sekali balik kesininya" ucap Emma cemas.


"Tunggu saja sebentar kak, siapa tahu suami kakak masih dalam perjalanan kesini" sahut Clarissa.


"Semoga saja, aku hanya mengkhawatirkannya,dia sudah pergi dari sore tapi sampai sekarang masih belum kembali" ucap Emma.


Clarissa tahu kekhawatiran kakaknya, mungkin saja kakaknya itu masih takut kejadian kemarin akan menimpa suaminya juga.


Selang berapa lama Max masuk kedalam ruangan Emma bersama Paul.


Clarissa menyingkir dari brankar kakaknya dan pindah duduk si sofa yang ada di ruangan itu.


"Darimana? kenapa baru kembali? aku dari tadi menunggumu tapi kamunya tidak pulang-pulang" baru juga masuk istrinya itu sudah membrondongnya dengan pertanyaan.


Max menghela nafas panjang, semakin hari istrinya semakin cerewet.


"Maaf sayang" cuma itu yang keluar dari mulut Max sambil mencium kening istrinya.


Paul menghampiri mereka berdua dan menaruh buah-buahan yang ia bawa di atas nakas.


"Semoga cepat sembuh nyonya" ucap Paul.


"Terima kasih Pau" sahut Emma tersenyum.


Tak lama Clarissa meneneteng tas nya menghampiri kakaknya.


"Kak aku pulang dulu ya" pamit Clarissa kepada sang kakak.


"Kamu nginep aja, ini sudah larut tidak baik anak perempuan jalan sendiri malam-malam" ucap Emma tak mengijinkan adiknya pulang.


"Tapi besok aku harus kerja kak, kalau berangkat dari sini jarak ke tempat kerjaku terlalu jauh" ujar Clarissa dengan tampang memelas.


"Pau, antar dia sampai ke kerumahnya" titah Max kepada Paul.


"Kak, aku bisa pulang sendiri" cicit Clarissa.


"Iya atau tidak sama sekali" tegas Max membuat Clarissa mengerucutkan bibirnya.


Dengan terpaksa akhirnya Paul mengantar Clarissa pulang.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏


__ADS_2