
"Begitulah ceritanya, semenjak orang tuaku meninggal kelompok Cosa Nostra menjadi tanggung jawabku. aku di didik dengan begitu keras pada saat aku berumur dua belas tahun aku sudah di ajarkan membunuh oleh paman Dion. aku pun melakukannya karena aku ingin menjadi kuat demi bisa membalaskan dendam atas kematian kedua orang tuaku"
"Seriring berjalannya waktu akhirnya aku bisa membalaskan dendam orang tuaku, aku menghancurkan markas kelompok mafia Araster dan Redblood, dan setelah itu aku bertemu dengan Arsen dia memintaku untuk berhenti dari dunia gelap itu, usai aku berfikir akhirnya aku berhenti karena aku ingin hidup normal tanpa dihantui rasa dendam terus menerus, Lalu Arsen memintaku untuk menjadi bodyguard untuk Reva putrinya" jelas Max panjang lebar.
Emma menghela nafas panjang, ternyata kehidupan suaminya sangat rumit dan menyeramkan, ia tak bisa membayangkan anak dua belas tahun sudah berani membunuh orang, apa nanti kalau dia melakukan kesalahan suaminya itu akan membunuhnya seperti dia membunuh orang-orang yang melakukan kesalahan kepadanya?, hanya membayangkan saja sudah membuat Emma bergidik ngeri.
"Lalu ada hubungan apa kamu dengan perusahaan J'MO?" tanya Emma.
Sudah bisa di tebak kalau istrinya tahu banyak hal tentang dirinya, tapi tahu darimana? sepertinya dia harus menyelidikinya, pikir Max.
"Perusahaan J'MO merupakan perusahaan Owen company yang dulu milik orang tuaku, namun aku ganti nama menjadi J'MO" jawab Max.
Emma memejamkan matanya menahan emosi, berapa banyak lagi rahasia yang suaminya sembunyikan darinya.
Pantas saja dia dengan mudah bisa bekerjasama dengan perusahaan itu, kecurigaannya semakin bertambah ketika dia melihat berkas perusahaan J'MO di ataa meja suaminya.
"Apa masih ada rahasia lagi yang kau sembunyikan dariku?" tanya Emma penuh selidik.
"Tidak, aku sudah menceritakan semuanya sayang" sahut Max.
"Apa kamu masih mau menerimaku yang banyak dosa ini? atau kamu malah akan meninggalkan ku? " tanya Max tiba-tiba sambil menatap kedua netra istrinya dengan begitu dalam.
Emma hanya menunduk bimbang, dia tidak tahu harus jawab apa, dia sangat mencintai suaminya tapi disisi lain dia juga kecewa dengan suaminya yang sudah menyembunyikan banyak hal darinya.
"Kenapa kamu hanya diam saja sayang? jawablah tak apa, aku siap dengan semua jawabanmu" tanya Max lagi ketika melihat istrinya diam seribu bahasa.
"Aku tidak tahu, aku takut" lirih Emma sambil meremat jemarinya.
Max menghembuskan nafas pelan, ia tidak akan memaksa istrinya untuk menjawabnya sekarang, pasti istrinya butuh waktu untuk mencerna semuanya.
"Ayo aku antarkan kamu kekantor, bukankah tadi kamu bilang ingin berangkat ke kantor" ajak Max hanya di balas anggukan kecil oleh Emma.
Mereka berdua beranjak pergi meninggalkan rumah dan langsung menuju ke perusahaan Emma.
****
Tiba di perusahaan Emma langsung keluar begitu saja dari mobil suaminya, Max hanya bisa mendengus kesal.
Emma masuk kedalam kantornya dan langsung menuju ke ruangannya, kedatangannya sudah disambut oleh Tina asistennya.
"Ini semua berkas yang perlu di tanda tangani nyonya" ucap Tina memberikan berkas tersebut kepada Emma.
__ADS_1
"Terima kasih Tina" sahut Emma.
Tina mengangguk lantas berbalik ingin berjalan kearah pintu namun langkahnya terhenti karena mendengar panggilan dari Emma.
"Tina" panggil Emma.
"Iya bu" sahut Tina menoleh.
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu kekasihmu seorang mafia?" tanya Emma tiba-tiba.
"Tentu saja aku akan menikahinya, bukannya itu akan terlihat keren" jawab Tina berpikir membuat Emma menganga.
"Kamu tidak takut? takut dibunuh mungkin" tanya Emma lagi.
"Apa yang harus di takutkan, kalau dia menyayangi saya tentu dia tidak akan berani membunuh saya kecuali kalau saya menghianatinya, saya rasa orang biasa pun akan membunuh saya jika saya menghianatinya" jawab Tina.
"Tapi dia sudah membunuh banyak orang Tina" ujar Emma.
"Tidak mungkin dia membunuh tanpa sebab, bisa saja mereka melakukan kesalahan makanya di bunuh" balas Tina.
Emma diam sejenak, kalau di pikir secara logika ucapan Tina cukup masuk akal, tidak mungkin suaminya membunuh orang tanpa sebab.
"Apa tuan Max seorang mafia" tanya Tina sambil mengerutkan dahinya.
"Pantas saja tuan Max sangat keren, meskipun wajah ya terlihat menakutkan tapi tuan Max masih tetap tampan" puji Tina.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Tina, yang kau sebut tampan itu suamiku, bisa-bisanya kau memujinya di depanku" seru Emma tidak terima.
"Awas saja kalau kamu berani jadi pelakor" ancam Emma.
Tina bergidik melihat tatapan tajam dari bos nya, lagian bos nya ini ada-ada aja siapa juga yang berani menjadi pelakor.
"Mana berani saya menjadi pelakor Nyonya" cicit Tina.
"Bagus kalau begitu, sekarang kamu boleh keluar" ucap Emma.
Setelah melihat Tina keluar Emma menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, ia menatap langit-langit ruanganya.
"Arrgggg.... pusing" teriak Emma mengacak rambutnya frustasi.
"Sepertinya aku harus pergi liburan supaya aku bisa berpikir jernih" gumam Emma sambil menelungkupkan wajahnya diatas meja.
__ADS_1
*****
Disisi lain Max sedang menemui Paul di markas, wajah Max yang terlihat kusut membuat Paul bertanya-tanya.
"Kau kenapa tuan? wajahmu terlihat kusut" tanya Paul sambil duduk di hadapan Max.
Sebelum menjawab Max menghembuskan nafas terlebih dahulu.
"Istriku mengetahui aku mantan mafia" jawab Max.
"Bagaimana bisa? apa ada yang mengatakannya pada Nyonya?" tanya Paul kaget.
"Tidak ada yang mengetahui identitas ku selain anggota Cosa Nostra dan Arsen, tapi rasanya tidak mungkin kalau Arsen yang memberi tahu, aku tahu dia bukan tipe orang yang suka ngadu, istriku juga jarang bertemu dengannya kecuali membicarakan tetang progres pembangunan Villa di Bali yang sedang di kerjakan oleh perusahaan Emma" sahut Max.
"Apa ada musuh atau anggota kita yang berkhianat?" tanya Paul lagi.
"Aku rasa tidak" jawab Max.
"Sebentar, sepertinya aku tahu sesuatu" lanjut Max membuat Paul bingung.
Max beanjak dari tempat duduknya dan berlari bergitu saja menuju ke mobilnya, mobil Max melesat dengan kecepatan penuh menuju ke Apartemennya.
Ia baru ingat banyak rahasia tentang dirinya yang ia simpan diapartemen miliknya.
Max memarkirkan mobilnya di basment, ia masuk kedalam lift untuk sampai di apartemennya.
Ting.
Lift sampai di lantai apartemennya, Max langsung keluar dan menuju ke apartemennya.
Ceklek...
Pintu apartemen terbuka setelah Max memencet kata sandinya.
Max masuk kedalam Apartemen dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
"Aku yakin Emma mengetahui sesuatu di apartemen ini" gumam Max.
Max meraih laptopnya yang ada di laci meja kerjanya kemudian menyalakannya, ia ingin mengecek CCTV yang ada di apartemennya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏