Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 78


__ADS_3

"Kak, tolong antar aku ke lokasi kejadian itu, aku ingin melihatnya" pinta Clarissa dengan tatapan memohon, setidaknya meskipun dia tidak bisa mendoakan mamahnya di makamnya minimal dia masih bisa mendoakan di lokasi kejadian sebagai penghormatan terakhir untuk mamahnya.


"Besok aku dan Paul akan mengantarmu kesana" jawab Max.


"Terima kasih kak" ucap Clarissa dengan wajah berbinar.


Dalam hati kecil Clarissa dia berharap kalau orang tuanya akan baik-baik saja, tapi setelah mendengar cerita kakaknya dia jadi ragu. Clarissa tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya sang mamah yang terpanggang hidup-hidup didalam mobilnya.


"Aku ikut sayang, aku tak mau sendirian di rumah" sela Emma ingin ikut, sejujurnya wanita itu juga ingin melihat lokasi kejadian Eva meninggal.


Emma tidak tahu aja kalau ternyata suaminya membohonginya, Eva meninggal karena di tembak mati oleh Max karena sudah menyebabkan istrinya keguguran.


"Kamu tidak sendirian sayang, di rumah ada banyak maid yang bisa menemanimu" Max tak menolak istrinya untuk ikut, dia takut istrinya kelelahan karena mereka baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Tidak mau, pokoknya aku tetap mau ikut, kalau kamu tidak mau mengajakmu lebih baik malam ini kamu tidur diluar saja" Emma memberikan sedikit ancaman kepada suaminya, dia tahu suaminya tidak akan bisa tidur tanpanya.


"Ok, aku akan mengajakmu, tapi tarik dulu ancaman mu sayang, karena itu terdengar sangat menakutkan" ucap Max pasrah, dia lebih baik menghadapi banyak musuh daripada tidak bisa tidur dengan istrinya.


"Ck, dasar suami-suami takut istri" cibir Paul.


"Kau akan tahu setelah menikah nanti Pau" kesal Max sambil beranjak dari tempat duduknya.


Max mengulurkan tangannya kepada sang istri. "Ayo kita istirahat, besok kita akan melakukan perjalanan yang cukup melelahkan" ajak Max.


Jarak dari mansion Max ke lokasi kejadian cukup memakan waktu yang lumayan lama hingga empat sampai lima jam perjalanan, oleh karena itu Max mengajak istrinya untuk istirahat lebih awal agar besok kondisi badannya fit kembali.


Emma menyambut uluran tangan suaminya dan ikut beranjak dari tempat duduknya.


"Kami akan istirahat lebih dulu, kalian berdua kalau sudah tidak ada lagi yang mau di bicarakan lebih baik istirahat juga" ucap Emma.


"Iya kak" jawab Clarissa.


Emma dan Max menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


CEKLEK....


Pintu dibuka oleh Max, mereka berdua masuk kedalam kamar.


"Aku mau mandi dulu, hubby" ucap Emma.

__ADS_1


"Aku ikut" sahut Max modus.


"Tidak, kalau sama kamu nanti lama" ucap Emma tak memperbolehkan.


"Aku janji hanya mandi sayang, aku tidak akan melakukan sesuatu sama kamu" ucap Max.


"Tapi aku tidak janji tidak akan menyentuhmu sayang" lanjut Max dalam hati.


Akhirnya Emma mengangguk mengijinkan suaminya untuk ikut mandi bersama.


Hampir satu Jam Emma baru keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut.


"Dasar maniak, selalu saja menyentuhku, padahal tadi dia sudah janji tapi tetap saja menyuruhku berpose" gerutu Emma.


Max keluar dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya, pria itu tertawa melihat istrinya yang menggerutu.


Mana mungkin dia bisa melewatkan tubuh istrinya begitu saja, bagi Max tubuh Emma sudah menjadi candu untuknya.


"Tidak usah marah sayang, bukankah tadi kamu juga menikmatinya" goda Max sambil menaik turunkan alisnya.


"Tentu saja aku menikmatinya, siapapun pasti tidak ada yang bisa menolaknya" ucap Emma keceplosan, dia menutupi mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya.


Emma mengerucutkan bibirnya lalu berjalan sambil menghentakkan kakinya masuk kedalam ruang ganti pakaian


"Gengsi sekali dia" ucap Max sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


Lalu Max menyusul istrinya masuk kedalam ruang ganti, usai memakai baju tidur mereka naik keatas ranjang. Max merentangkan kedua tangannya untuk alas kepala istrinya.


Emma dengan senang hati memeluk suaminya dan menduselkan wajahnya mencari kenyamanan di dada suaminya.


Max mengusap usap punggung istrinya agar Emma cepat terlelap, tak lama terdengar dengkuran halus dari nafas istrinya, Max melihatnya ternyata sang istri sudah tidur terlelap.


Max pun ikut memejamkan matanya menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk kedalam mimpinya.


****


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Emma dan Max sudah bangun, setelah mandi mereka berdua turun menuju ke ruang makan yang ada di lantai dasar.


Terlihat dimeja makan sudah ada Paul dan juga Clarissa yang sudah menunggunya.

__ADS_1


"Selamat pagi" sapa Emma sambil mendudukkan bokongnya.


"Pagi kak" jawab Clarissa mewakili.


"Ayo kita sarapan dulu" ajak Max.


Emma mengambil piring Max dan mengisinya dengan nasi dan juga lauk lalu memberikannya kepada sang suami.


"Terima kasih sayang" ucap Max sambil menerima piring yang sudah terisi oleh nasi dan lauk.


Mereka berempat mulai menyantap makanannya masing-masing.


Hanya butuh waktu lima belas menit merek berempat sudah menyelesaikan sarapannya.


Mereka masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh Paul, mobil anti peluru yang dipilih Paul untuk menemani perjalanan mereka kali ini.


"Bagaimana Pau? apa mereka sudah siap" tanya Max.


"Sudah tuan, mereka berjumlah dua mobil yang akan mengikuti kita" jawab Paul.


"Kerja bagus" Max selalu puas dengan kinerja asistennya.


Sebelum musuhnya tertangkap Max akan terus memberikan penjagaan extra ketat untuk istrinya, kali ini dia tidak ingin kecolongan seperti dulu yang mengakibatkan calon anaknya meninggal.


"Ada apa? kenapa ada pengawalan segala" tanya Emma sambil menoleh kebelakang melihat dua mobil hitam yang mengikuti mobilnya.


"Situasinya lagi tak memungkinkan sayang, aku harus memastikan keselamatanmu" jawab Max.


Max tahu kalau istrinya tak begitu suka dikawal, makanya dia lebih memilih latihan bela diri daripada harus di kawal. Tapi Max terpaksa melakukan ini demi menjaga keselamatan istrinya.


"Sampai kapan harus ada pengawalan" tanya Emma lagi.


"Sampai situasinya aman aku akan menariknya sayang" jawab Max.


Emma mengangguk patuh dengan pengaturan suaminya, karena suaminya yang lebih tahu dengan situasi saat ini.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2