Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 85


__ADS_3

Tanpa rasa takut kedua bocah kecil itu terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas Araster, sesekali kakinya tersandung mayat yang tergelat di lantai, meski begitu tak menyurutkan niatnya untuk mencari sang bodyguard kesanyanganya.


Kaki kecilnya terus melangkah menaiki lantai demi lantai hingga tak terasa sampailah mereka di lantai atas dimana Max berada.


Tiba-tiba mata Reva membulat sempurna dan berteriak sekencang mungkin.


"OM MAX AWAS" pekik Reva ketika matanya tak sengaja melihat Richard hendak membidik Max dari belakang.


Dor...


Dor...


"Aaaa... " jerit Richard.


Peluru Reynand langsung melesat mengenai tangan Richard, membuat pistol itu jatuh.


Max yang sedang memeluk istrinya pun menoleh, dia tercengang melihat kedua bocah kecil itu menyusulnya.


"Kalian berdua ngapain kesini, disini sangat berbahaya" panik Max seraya melerai pelukannya dari tubuh sang istri.


"Huff... Untung Reva dan Rey datang tepat waktu, kalau tidak om Max pasti sudah tertembak" oceh Reva.


"Lain kali kalau mau berpelukan lihat dulu situasinya om" tegur Reynand di angguki oleh Reva.


Max jadi salah tingkah, Max menoleh dan melihat Richard yang sudah terkapar tak berdaya.


"Kau selesaikan dulu urusanmu hubby, aku akan mengajak mereka keluar dulu dari sini" ucap Emma.


"Ayo Aunty, kita harus segera obati luka aunty, biar ngga infeksi kata mamah Reva" ucap gadis kecil itu mengingat ucapan sang mamah.


Emma mengangguk setuju, lalu menggiring mereka turun ke lantai bawah dan mengajaknya keluar dari markas.


Jujur Emma salut dengan mental kedua bocah itu, kalau anak biasa tentu sudah menangis histeris bahkan bisa saja trauma melihat mayat yang berserakan di lantai, tapi mereka berdua terlihat biasa saja. Entah apa yang sudah di ajarkan oleh suaminya Emma tidak tahu.


Sampai di dalam mobil mereka langsung membantu Ema mengobati luka di wajahnya.


"Sakit ya Aunty" tanya Reynand sambil meniup luka di wajah Emma.


"Kamu ini bod*h sekali Rey, namanya luka pasti sakit" omel Reva.


Reynand merotasi bola matanya malas, selalu saja marah-marah.


"Kamu harusnya langsung tembak saja kepalanya Rey, biar penjahat itu tahu rasa" oceh Reva.


Emma bergidik ngeri mendengarnya, sadis sekali pikirnya.


Di dalam Markas.


"Paul, kau bawa dia ke markas dan segera ledakkan gedung ini" perintah Max.


"Siap tuan" jawab Paul.


Paul menyuruh anak buahnya membawa Richard dan membantu rekannya yang terluka keluar dari markas Araster, karena akan meledakkan gedung tersebut guna menghilangkan barang bukti.


"Sekarang Pau" perintah Max.


Setelah memastikan semua anggotanya keluar Paul pun langsung memencet tombol dan seketika.

__ADS_1


DHUARRRR....


Markas Araster meledak dengan daya ledak yang cukup besar.


Emma bersama dua bocah yang ada di mobil pun terlonjak kaget.


Namun sedetik kemudian Reva langsung bersorak heboh.


"Wow keren... " ucap Reva sambil bertepuk tangan heboh


Emma menganga melihatnya, Emma pusing melihat tingkah gadis kecil itu, benar-benar ajaib.


"Aunty jangan kaget, dia memang rada aneh" ucap Reynand yang seolah tahu isi kepala Emma.


"Eh, iya boy" sahut Emma.


Reva tak menghiraukan mereka berdua, dia justru tengah asik melihat api yang membumbung tinggi melahap bangunan itu.


Max datang menghampiri mereka, di bukanya pintu mobil bagian penumpang dan di lihatnya keadaan sang istri. Dia merasa bersalah melihat wajah babak belur istrinya, dia terlalu yakin dengan kemampuannya sehingga melupakan resiko yang akan di hadapi sang istri.


"Bagaimana kondisimu sayang" tanya Max sambil mengusap kepala istrinya.


"Sakit sayang" jawab Emma yang merasakan sakit di seluruh mukanya.


"Kamu tahan sebentar kita akan segera ke rumah sakit" ucap Max dan mencium singkat bibir istrinya. Max seolah melupakan keberadaan kedua bocah kecil itu yang saat ini sedang melihatnya


"Tolong hargai kami yang masih kecil ini om" sindir Reva.


Max hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, sementara wajah Emma sudah terlihat merah seperti kepiting rebus.


Mobil melaju dengan cepat menuju ke Rumah sakit.


*****


Sampai di rumah sakit Emma langsung ditangani oleh dokter, beruntung lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu di jahit, hanya di bersihkan saja lalu di obati dan dibalut dengan perban agar tidak terinfeksi bakteri.


Max tak langsung pulang, mereka mampir ke rumah Arsen dulu untuk mengantar Reva dan juga Reynand.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam mobil Max sampai di depan rumah Arsen.


"Ayo turun" ajak Max.


"Baik om" sahut mereka berdua.


"Ini om pistolnya Rey kembalikan" ucap Reynand sebelum keluar dari dalam mobil, berbeda dengan Reva yang langsung melesat keluar dari mobil.


Max turun dari dalam mobil dan langsung mengejar Reva.


"Eitss.... Mau kabur kemana kamu? Kembalikan dulu pistol om" pinta Max sambil memegangi tas punggung Reva.


"Haiss.... Selalu saja ketahuan" dumal gadis kecil itu.


Dengan perasaan kesal dia membuka tas miliknya kemudian menyerahkan pistol itu kepada Max.


"Ingat, jangan bilang sama papah mu kalau kita habis berburu penjahat, mengerti" peringat Max, bisa di bunuh oleh Arsen kalau ketahuan membawa putrinya perang.


Reva tersenyum penuh maksud, otak licik langsung konek.

__ADS_1


"Boleh, dengan satu sarat" sahut Reva.


"Apa itu" tanya Max memicingkan matanya.


"Berikan dulu pistol itu kepada Reva, janji Reva tidak akan bilang sama papah" jawab Reva sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Licik, benar-benar licik, gadis ini sangat pinter memanfaatkan situasi.


"Tunggu hingga kamu besar, nanti om akan berikan pistol yang lebih bagus dari ini" putus Max, benda itu terlalu berbahaya kalau di berikan sekarang kepada gadis kecil itu.


"Baiklah, Reva setuju" angguk gadis kecil itu.


Max menghela nafas lega.


"Kau kalah, hubby" ledek Emma menahan tawa.


Bisa-bisa suaminya yang notabene nya mantan ketua mafia bisa di buat tak berkutik oleh gadis kecil berusia tujuh tahun.


"Awas kamu sayang" ancam Max tak terima di ledek istrinya.


Emma hanya mengendikkan bahunya acuh sambil menggandeng tangan Reynand masuk kedalam rumah Arsen.


"Darimana saja kalian? Kenapa jam segini baru pulang" tanya Arsen sambil berkacak pinggang.


"Lihatlah mah, Reva baru pulang sudah di marahi sama papah, huff" ucap gadis itu drama.


Alisya hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan putrinya.


"Jangan banyak drama kamu, cepat jawab papah, kamu di ajak kemana sama om Max mu itu" tegas Arsen.


"Reva jenguk Aunty Emma, lihatlah wajah aunty Emma" jawab Reva sambil menunjuk kearah Emma.


Alisya dan Arsen terkejut melihat kondisi wajah Emma, ada beberapa perban yang menempel di muka Emama.


"Kenapa dengan wajahmu Emma" tanya Alisya prihatin.


"Hanya sedikit luka Al, tadi sudah dibawa ke rumah sakit" jawab Emma. "Maaf, sudah membawa mereka hingga larut malam" lanjutnya meminta maaf.


"Tak apa Em, yang penting mereka sudah pulang dengan selamat" ucap Alisya.


Kini Alisya beralih melihat kearah Max.


"Lekas pulang, istrimu perlu istirahat Max" titah Alisya.


"Tapi sayang, urusanku belum selesai sama dia" protes Arsen tak setuju.


Alisya menggelengkan kepalanya.


"Jangan dengarkan suamiku Max" ucap Alisya.


"Baik nyonya, saya pamit pulang dulu" ucap Max lega, akhirnya dia lolos dari Arsen.


Arsen menatap Max tajam seolah sambil berkata kalai urusannya belum selesai.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2