
Pagi hari sepasang suami istri sedang melakukan sarapan pagi berdua di kamar hotel. Mereka sambil mengobrol di sela-sela makannya.
"Kita mau pulang apa jalan-jalan dulu sayang" tanya Max.
"Pulang saja, aku tak sabar ingin melihat reaksi Eva ketika dia tahu kalau berkas yang ada padanya ternyata palsu" sahut Emma sambil memasukkan makanannya kedalam mulut.
"Kau ini tidak sabaran sekali" decih Max sambil.
"Bukankah lebih cepat lebih baik, aku juga ingin membayar hutangku sama kamu" sahut Emma.
"Sayang, aku hanya bercanda aku tak serius mengatakan itu sama kamu, aku hanya mengerjaimu saja jadi kamu tak perlu membayar hutangmu" rengek Max.
Emma menahan tawanya, dia juga hanya bercanda ingin membayar hutangnya sama Max, sekarang dia sudah menjadi istrinya rugi sekali kalau dia masih membayar hutangnya, bukankah uang suami uang istri juga.
"Hutang tetap hutang Max, jadi aku akan membayarmu nanti" ucap Emma mmebuat Max menghela nafas panjang.
"Kau itu bisa tidak sih jangan panggil aku Max, panggil sayang kek, honey kek, supaya manis di dengarnya." protes Max dengan panggilan Emma kepadanya.
"Nanti aku akan pikirkan, aku akan mencari nama yang cocok untuk memanggilmu" ucap Emma.
"Apa begitu sulitnya mencari nama panggilan untukku sayang," kata Max.
Emma hanya membalasnya dengan mengendikan bahunya. Emma masih canggung memanggil Max sayang atau apapun itu.
"Kamu mau pulang memangnya kamu sudah berkemas sayang?" tanya Max sambil mengelap mulutnya dengan menggunakan tissu.
"Sudah dari semalam, setelah kamu tidur aku membereskan semuanya" sahut Emma yang juga baru selesai menyelesaikan sarapannya.
"Ck, ternyata kamu sudah niat dari semalam"
Max akhirnya mengikuti keputusan istrinya, karena istrinya itu tidak mau di ajak jalan-jalan.
Mereka berdua cek out, habis cek out langsung menuju ke bandara. Sepertinya istrinya memang sudah tidK sabar ingin sampai di kota J, bahkan dia juga tidak mau di ajak beli oleh-oleh terlebih dahulu.
Dalam perjalanan menuju ke bandara tiba-tiba ponsel Max bergetar.
"Ponselmu bergetar Max" ucap Emma yang merasakan ponsel suaminya bergetar.
"Siapa yang menghubungiku" kata Max seraya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Tuan Arsen, ada apa dia menghubungiku" gumam Max yang melihat nama Arsen muncul di layar ponselnya.
"Angkatlah siapa tahu penting" saran Emma.
Max pun akhirnya menganggkat panggilan tersebut.
"OM MAX KENAPA NDA PERNAH JEMPUT REVA HAH, APA GARA-GARA SUDAH ADA AUNTY CANTIK MAKANYA OM MAX TIDAK MAU JEMPUT REVA LAGI, KALAU BEGITU NANTI REVA AKAN AMBIL SEMUA HEWAN YANG ADA DI HUTAN OM MAX. Sekarang Reva di jemput sama sopir, sangat menyebalkan" teriak Reva mengomeli Max tanpa Jeda hingga di akhir kalimat dia menurunkan nada bicaranya karena sudah ngos-ngosan.
Max yang kaget langsung saja menjauhkan ponselnya dari telinganya yang terasa berdengung karena mendengar teriakan Reva.
"Jangan berteriak sayang, nanti tenggorokanmu sakit. Kalau untuk masalah jemput Reva bisa tanyakan sama papa atau om Nino kapan pulang liburannya" sahut Max lembut.
Begitulah Reva kalau Max menghilang pasti dia akan mencarinya.
"Yaudah nanti Reva akan memarahi om Nino supaya liburnya jangan lama-lama. Sekarang om Max kemana kenpaa tidak ada di kantor papa" ucap Reva menanyai keberadaan Max.
"Om Max baru mau pulang dari kota S sayang, ini masih dalam perjalanan menuju ke bandara" sahut Max.
"Cie.. cie.. om Max lagi liburan sama aunty cantik ya" ledek Reva sambil cekikikan.
Namun Max langsung mematikan panggilan telponnya secara sepihak. Sudah di pastikan di sana Reva sedang mencak-mencak di kantor papanya.
*
Setibanya di kota J Max langsung mengajak istrinya pulang terlebih dahulu, mereka juga butuh istirahat karena selama dua hari ini mereka berdua kurang tidur gara-gara terus membuat Max junior.
Emma bersandar di bahu Max sambil memejamkan matanya menuju ke apartemennya.
"Tadi aja semangat ingin langsung pulang, sekarang malah tepar" lirih Max sambil membelai wajah istrinya yang terlelap.
*
*
Sedangkan di tempat lain Clarissa mendatangi Eva yang ada di perusahaannya.
"Brakk... " Clarissa membuka pintu ruangan Eva dengan kasar.
Membuat Eva yang sedang mengerjakan pekerjaannya pun terlonjak kaget, ia mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang ke ruangannya dengan membuka pintu yang begitu kasar.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini?" tanya Eva sambil menatap sinis sang putri.
"Clarissa kesini mau minta uang, kenapa mama menyetop mentransfer Clarissa" prites Clarissa kepada Eva, pasalnya setelah perusahaan di pegang oleh Eva malah aliran dana ke rekeningnya justu di hentikan.
Dulu masih di pegang Emma dia selalu mengirimi uang ke rekening Clarissa.
"Oh, ternyata kamu masih membutuhkan uang dari mama, mama kira kamu tak akan pulang menemui mama" sindir Eva sambil tersenyum miring menatap sang putri.
Eva sengaja tidak mengirimi putrinya uang. ia tahu kalau putrinya akan mencarinya setelah kehabisan uang.
"Sebenarnya apa mau mama" tanya Clarissa yang tak mengerti dengan kelakuan mamanya.
"Pulang kerumah dan turuti semua kemauan mama, mama akan jodohkan kamu dengan pria pilihan mama yang lebih jaya dari kekasihmu itu" ucap Eva sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Apa? itu sama saja mama ingin menjual Clarissa seperti mama menjual kak Emma, sampai kapanpun Clarissa tidak akan menuruti kemauan mama" tolak Clarissa.
"Terserah kamu, pilihan ada padamu" ucap Eva santai.
Brakkk
Clarissa pun memilih meninggalkan ruangan mamanya dengan membanting pintu ruangan Eva, dia tidak mau mengikuti perintah mamanya yang gila itu.
"Lebih baik aku mencari kerja saja daripada mengikuti kegilaannya" gumam Clarissa sambil keluar dari perusahaan mamanya.
"Bagaimana Clar?" tanya teman Clarissa ketika Clarissa sudah masuk kedalam mobilnya.
Clarissa mengambil nafas terlebih dahulu lalu menghembuskannya.
"Dia sengaja tidak mengirimiku uang, dia ingin aku mengikutinya yang akan menjodohkan ku dengan pria kaya yang entah siapa, aku tidak tahu"
"Sabarlah, pasti nanti ada solusi" ucap teman Clarissa sambil menepuk bahu Clarissa, setelah itu ia menjalankan mobilnya meninggalkan perusahaan Eva.
Dari dulu Clarissa selalu sibuk dengan dunianya sendiri, dia tidak suka dengan Emma dan juga ayah sambungnya, namun Clarissa tidak mau mengusik Emma. yang terpenting kakaknya itu selalu megirimi uang, itu saja cukup.
Bersambung.
Sabar ya guys, othor lagi ngga enak badan, jadi tunggu aja othor akan up lagi nanti
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏
__ADS_1
Happy reading guys 🙏