Suamiku Mantan Mafia

Suamiku Mantan Mafia
BAB 77


__ADS_3

"kamu tidak turun hubby? " tanya Emma ketika mobil yang mereka tumpangi sampai di Mansion Max.


"Maaf sayang, ada hal penting yang harus aku urus" sahut Max sambil mengusap puncak kepala sang istri.


Emma mengangguk paham, Max sudah menceritakan perihal permasalahannya kepada dirinya saat di pesawat tadi.


"Kalau begitu hati-hati, dan jangan lupa istirahat" ucap Emma memperingati suaminya.


Max mengangguk dan mengecup kening sang istri, setelah itu Max menutup pintu mobilnya dan Paul langsung melajukan mobilnya menuju ke markas.


Setelah melakukan perjalanan satu jam lebih akhirnya mobil mereka sampai di markas. Max turun dari mobil dan di ikuti Paul di belakangnya.


"Selamat datang tuan" sapa para mafioso kepada Max mantan pimpinannya.


"Hmmm" gumam Max.


Max masuk kedalam dan menuju ke ruang bawah tanah.


"Gawat tuan" ucap salah satu mafioso menghampiri Max dan Paul panik.


"Ada apa?" tanya Max memicingkan matanya.


"Tahanan yang di bawa tuan Paul tadi siang tiba-tiba meninggal" jawab mafioso itu.


"Bagaimana bisa" sahut Paul kaget.


"Kita lihat sekarang Pau" ucap Max menepuk bahu Paul.


Mereka bertiga bergegas menuju ke ruang bawah tanah untuk melihat tahanan yang tadi dibawa Paul dari perusahaan Max.


Paul mendekati mayat itu dan langsung mengeceknya.


"****...ternyata didalam tubuhnya dipasang chip tuan, dan Chip itu sewaktu-waktu bisa di ledakan oleh pemiliknya" ucap Paul setelah selesai memeriksa mayat tersebut.


Max menghela nafas pelan. belum juga mereka mendapatkan informasi tapi orangnya sudah lebih dulu meninggal.

__ADS_1


"Selidiki lagi tentang Araster dan Red Blood Pau. Aku yakin ini semua ada kaitannya dengan mereka" titah Max.


"Untuk apa tuan? bukankah kita sudah melenyapkan kedua kelompok itu, kita juga sudah melenyapkan semua keturunan pemimpin mereka" tanya Paul.


"Lakukan saja tidak usah banyak tanya Pau" tegas Max.


Kali ini musuhnya tidak bisa diremehkan, mereka bahkan tak segan-segan membunuh anak buahnya yang tertangkap begitu saja.


"Baik tuan" sahut Paul patuh.


"Perketat penjagaan istriku dan juga orang terdekatku lainnya, termasuk keluarga Davidson" jangan sampai salah satu dari mereka menjadi sasaran balas dendam musuhnya.


"Baik akan saya lakukan tuan" sahut Paul patuh.


Mereka keluar dari ruang bawa tanah dan menuju ke ruang pribadi milik Paul.


"Bagaimana dengan perusahaan Pau? apa ada data rahasia kita yang bocor?" tanya Max sambil mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruangan itu.


"Data perusahaan aman tuan, saya tadi berhasil memulihkan datanya" jawab Paul ikut duduk dihadapan Max.


****


"Kak Emma sudah pulang? mana kak Max?" tanya Clarissa yang tak melihat keberadaan kakak iparnya.


"Kak Max pergi sama Paul" jawab Emma seraya menundukkan bokongnya di sofa ruang tamu.


"kebetulan ada kamu sekarang. Duduklah, ada yang ingin kak Emma sampaikan sama kamu" lanjutnya meminta Clarissa untuk duduk.


Melihat wajah serius kakaknya Clarissa pun patuh dan duduk di sebelah Emma. Emma berbalik menghadap adiknya dan menatap wajah adiknya. sejujurnya Emma merasa berat hati menyampaikan kabar Eva kepada adiknya, tapi sayangnya dia harus memberitahu kabar itu kepada adiknya karena dia tak mau melihat adiknya sedih dan selalu berharap bisa menemukan sang mama.


"Ada apa kak? kenapa wajah kakak terlihat sangat serius?" tanya Clarissa takut.


Emma mengambil nafas sesaat lalu menghembuskannya.


"Mamah Eva sudah meninggal. Max melihat mobil mamah mu terjun ke jurang dan terbakar" ucap Emma lemas.

__ADS_1


"Mamah? meninggal?" tanya Clarissa dengan nada bergetar menahan tangis.


Emma mengangguk sambil menundukkan kepalanya tak sanggup melihat wajah sang adik. meskipun bukan adik kandung tapi dari dulu Emma selalu menyayangi Clarissa meskipun Clarissa dulu tak pernah menyukainya.


Tubuh Clarissa langsung bergetar hebat, air matanya luruh begitu saja tanpa permisi. dia menangis tersedu-sedu mendengar kabar tentang mamahnya, selama ini dia selalu berharap bisa menemukan sang mamah dalam keadaan baik-baik saja, namun takdir berkehendak lain. Mamahnya yang selama ini dia cari ternyata sudah meninggal.


Emman mendongakkan kepalanya dan membawa tubuh adiknya kedalam pelukannya.


Emma hanya mengusap bahu adiknya, dia membiarkan adiknya menangis menumpahkan segala kesedihannya kepada dirinya.


"Mamah, hiks... hiks.... kenapa mamah tinggalin Rissa mah, Rissa sama siapa kalau mamah pergi, hiks... hiks" ucap Clarissa sambil menangis.


"Masih ada kakak yang akan menemanimu, selamanya kamu akan menjadi adik kakak" ucap Emma menenangkan Clarissa yang masih menangis di pelukannya.


"Maafkan mamah kak, selama ini mamah sudah jahat sama kak Emma" ucap Clarissa lirih, mengingat mamahnya begitu tega menjual Emma kepada seorang bandar judi, beruntung dulu ada Max yang menolongnya, sehingga Emma bisa lolos dari kejahatan mamahnya dan Darso bandar judi itu.


"Lalu dimana makam mamah kak" tanya Clarissa seraya melerai pelukannya lalu melihat wajah Emma.


Emma menggelengkan kepalanya. "Kak Emma tidak tahu, soalnya suami kakak tidak memberitahunya" jawab Emma.


Sudah pasti Emma tidak tahu, Max juga tidak menceritakan yang sebenarnya tentang kematian Eva kepada sang istri. Padahal Eva meninggal bukan karena kecelakaan dan jatuh jurang, tapi Eva meninggal karena di tembak oleh Max sendiri.


"Ada apa ini? kenapa kalian berdua menangis?" tanya Max yang baru saja pulang bersama Paul.


"Kak Max tahu dimana makam mamah ku?" tanya Clarissa tanpa basa basi.


Max tak menjawab, dia mencium istrinya lebih dulu dan menjatuhkan tubuhnya di samping Paul.


"Saya tidak tahu, waktu itu mobil mamah mu langsung meledak dan saya tidak sempat melihatnya, karena kebetulan waktu saya masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan" jawab Max tana sedikit pun membuat Emma dan Clarissa curiga.


Clarissa memejamkan matanya sesaat, dia tak bisa membayangkan mamahnya meraung minta tolong.


Bersambung


Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏

__ADS_1


__ADS_2