
Kebetulan hari ini weekend, siang hari Emma sedang bersiap-siap untuk bertemu Tina mantan asistennya yang masih bekerja di perusahaannya untu memata-matai Eva.
"Kau mau kemana sayang" tanya Max ketika melihat istrinya baru selesai mandi sambil berdiri di depan cermin.
"Aku ingin ketemu Tina Max" sahut Emma sambil menyisir rambutnya. "Kalau kamu mau kemana sudah berpakaian rapih seperti itu. Jangan bilang kamu mau selingkuh" lanjutnya bertanya dengan suaminya sambil memicingkan matanya.
Tuk
"Aww... kenapa kamu malah menjitakku hah" marah Emma sambil mengusap kepalanya yang di jitak oleh suaminya.
"Makanya kalau ngomong jangan asal. siapa juga yang mau selingkuh aku tuh mau jemput Reva dia ngajak aku ke hutan lagi" sahut Max tak terima di curigai istrinya.
"Kan bisa bilang. Ngga usah pakai menjitakku" Emma terus menggerutu sambil mengusap kepalanya.
Max menahan tawa melihat istrinya yang tak mau berhenti mengoceh, Emma terus saja menggerutu hingga dia selesai memakai baju.
"Kenapa kamu memakai baju kurang bahan seperti itu hah, ganti atau aku akan merobek bajumu sekarang juga" protes Max ketika melihat Emma yang hanya memakai tangtop dan celana jeans saja, dia berencana ingin memakai jaket namun suami posesifnya itu keburu marah.
"Tidak, karena aku akan terlihat seksi jika memakai ini" tolak Emma sambil mengerlingkan satu matanya nakal.
"Kalau begitu kamu harus tanggung akibatnya" ucap Max.
Emma yang merasakan sinyal bahaya dari suaminya pun ambil ancang-ancang ingin kabur, namun belum sempat di kabur suaminya sudah menangkapnya dan menggendongnya seperti koala.
"Dasar nakal" ucap sambil menepuk bokong istrinya sambil membawanya duduk di sofa dan memangkunya.
hanya pemanis saja guys
Mereka duduk di sofa sambil tertawa bersama, dunia Max serasa begitu indah dengan adanya Emma di sisinya.
Max yang dulu jarang tertawa sekarang dia sering tertawa jika bersama istrinya.
"Ganti ya, aku tak mau semua orang melihat dadamu sayang" pinta Max sambil menduselkan wajahnya ke dada Emma.
"Kamu ini kenapa posesif sekali, aku tidak hanya memakai ini saja, nanti aku akan memakai jaket" sahut Emma sambil membelai kepala suaminya.
Max menurunkan Emma dari pangkuannya, setelah itu dia berjalan menuju ke ruang ganti.
Setelah mendapatkan yang ia cari barulah Max menemui istrinya dan memakaikan sweater miliknya ke tubuh istrinya.
__ADS_1
"Begini kan lebih cantik" ucap Max tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala istrinya, membuat Emma mencebikkan bibirnya sebal.
Emma keluar dari kamarnya sambil menghentak hentakan kakinya. Max hanya terkekeh melihat tingkah kekanakan Emma.
Max meyusul istrinya yang sudah lebih dulu keluar dari kamarnya.
"Kamu ingin ketemu dengan temanmu dimana sayang" tanya Max sambil memakai jam tangan mahalnya.
"Di restoran X, mungkin aku agak lama karena sudah lama aku tidak bertemu dengannya" sahut Ema.
Max mengangguk mengerti.
"Kamu bawa mobil yang warna hitam saja, dan nanti jangan lupa selalu megabariku" ucap Max seraya mencium singkat bibir sang istri.
"Aku berangkat dulu" ucap Max pamit kepada sang istri.
Max sengaja memberikan mobil yabg tingkat keamanannya tinggi, mobil itu anti peluru hingga ke bannya juga, dan juga di lengkapi dengan GPS untuk melacak keberadaan istrinya.
Setelah Max berangkat tak lama Emma juga ikut berangkat, karena Tina sudah menghubunginya kalau dia hampir sampai di tempat janjian.
Emma turun ke basment mengambil mobilnya, setelah mendapatkan mobilnya Emma langsung menyalakan mesinnya dan melajukan mobilnya menuju ke restoran.
Tak sampai satu jam Emma sudah sampai di lokasi, Emma langsung masuk kedalam restotan dan menuju ke ruang ViP.
Ceklek.....
"Maaf Tin, aku baru sampai" sapa Emma lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Tina.
"Tak apa bu, saya juga baru sampai" sahut Tina sopan, bagaimanapun Emma pernah menjadi atasannya.
"Jangan terlalu formal, panggil nama saja" pinta Emma di balas anggukan oleh Tina.
"Bagaimana kabar perusahaan setelah di pegang Eva, Tin" tanya Ema langsung sambil meminum minumannya.
Tina mengambil nafas lalu mengembuskannya lewat mulut.
"Aku sarankan kamu cepat ambil alih perusahaan itu Em, karena tidak akan lama pasti perusahaanmu akan bangkrut" ucap Tina.
"Kenapa bisa begitu" tanya Emma sambil mengeryitkan dahinya.
"Kemarin aku mengecek pembukuan perusahaan dan banyak transaksi yang janggal yang masuk kedalam rekening pribadi bu Eva, banyak juga tender yang gagal kita dapatkan, tidak seperti dulu saat di pimpin kamu Emm" jelas Tina.
__ADS_1
Emma menghela nafas berat, ia sudah menduga kalau perusahaannya akan berantakan di pegang oleh Eva, karena ibu sambungnya itu tidak punya basic di dunia bisnis, dia hanya tahu foya-foya saja makanya ayahnya sebelum meninggal menyerahkan perusahaanya kepada Emma.
"Kamu datanglah keperusahaan,karena lusa akan di adakan rapat para petinggi pemegang saham" lanjut Tina memberi tahu Emma, mungkin itu cara terbaik untuk Emma mengambil kembali perusahaan.
"Terima kasih atas informasinya Tin, aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa" ucap Emma.
"Nyonya Eva juga berhenti mentransfer non Clarissa, bahkan kemarin lusa dia datang kekantor sambil marah-marah"
"Dasar wanita rubah itu, pantas saja dia begitu tega denganku, sama anak kandungnya sendiri saja begitu" kesal Emma.
Setelah cukup mendapat informasi dari Tina mereka berdua memutuskan untuk pulang.
Emma mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menikmati alunan musik yang ia nyalakan di mobilnya.
Tak sengaja Emma melihat ke spion belakang, dia melihat kalau ada dua mobil yang mengikutinya.
"Shittt... sepertinya mereka sedang mengikutiku" umpat Emma menambah kecepatannya.
Sedangkan di sisi lain Max baru saja akan memasuki area hutan namun tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata istrinya yang menghubunginya.
"Max, tolong aku mobilku di ikuti" suara Emma panik meminta tolong kepada suaminya.
"Jangan panik sayang, kau sebisa mungkin ulur waktunya aku akan menyuruh anak buahku menyusulmu" sahut Max sesantai mungkin karena Max tak ingin istrinya ikutan panik.
Emma langsung mematikan panggilannya semakin membuat Max khawatir.
"**** ternyata mereka mulai bergerak" umpat Max menaruh ponselnya.
"Kencangkan sabuk pengamanmu sayang, kita harus putar balik karena aunty Emma dalam bahaya" tegas Max.
"Apa penjahat yang waktu itu mengejar aunty Emma om" tanya Reva sambil mengencangkan sabuk pengamannya.
"Mungkin" jawab Max singkat. Reva pun mengangguk dan tak bertanya lagi.
"Di bawah kursimu ada pistol, jika sewaktu-waktu keadaannya mendesak kamu bisa menggunakannya" beritahu Max kepada Reva.
Inilah salah satunya alasan Reva kenapa sering mengajak Max ke hutan, Awalnya Max melatih Reva untuk alasan berjaga-jaga, karena Reva selalu ikut dengan Max dan sewaktu-waktu bisa saja ada musuh Max yang menyerangnya.
Namun siapa sangka, Reva malah ketagihan dan dia selalu antusias jika di ajak pergi ke hutan
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏