
"Minggir ah, aku ingin membuat kopi dulu" ucap Emma sewot sambil menyingkirkan tangan Max dari atas dadanya.
Emma kembali memakai pakaian dalamnya dan berlalu menuju dapur.
"Kenapa tiba-tiba mukanya kesel begitu" gumam Max melihat wajah merengut Emma.
Di dapur ramai dengan suara panci yang sengaja Emma banting-banting, padahal dia hanya ini memasak air untuk menyeduh kopi tapi suaranya begitu gaduh di telinga Max.
"Dia ini kenapa, hanya membuat kopi kenapa ramai sekali, lagian kan ada mesin kopi ngapain dia masak air" ucap Max heran yang mendengar suara kegaduhan dari dapur.
Max akhirnya menghampiri istrinya di dapur, Max berdiri di belakang sang istri.
"Kau kenapa sayang? hanya memasak air kenapa ramai sekali" ucap Max menggoda istrinya.
"Sudah sana tidak usah menggangguku" ketus Emma sambil mendorong dada Max.
Emma menunggu air mendidih sambil mencuci piring kotor bekas mereka makan tadi pagi, namun gerakan Emma sangat kasar hingga ramai dengan suara dentingan piring, sendok, garpu yang saling bersahutan.
"Sayang kamu ini kenapa" tanya Max bingung.
"hmmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Emma, semakin membuat Max bingung dan frustasi.
"Hai nyonya, Bisakah kalau marah tidak mem**buat suamimu ini pusing? Katakanlah apa yang kamu mau, maka suamimu ini akan mendapatkannya untukmu" batin Max.
Max menunggu Emma hingga selesai menyeduh kopi. Lantas Emma membawa kopi tersebut ke ruang televisi.
Di taruhnya kopi tersebut dan duduk di sofa dengan posisi setengah tidur sambil menyambar remot televisi.
Di pencetnya remot tersebut dan mencari film yang bagus namun sejak tadi tidak berhenti, dia terus mencari entah film apa yang sebenarnya di cari sama istrinya.
Max merebut remot tersebut lalu membuangnya begitu saja.
Di raihnya tangan istrinya dan di tarik hingga posisi Emma saat ini duduk tegak sambil menghadapnya.
"Kamu kenapa? apa aku berbuat kesalahan hmm? Katakan kalau kamu diam saja mana aku tahu" ucap Max lembut.
Emma menundukkan mukanya kebawah, ia malu bilang kepada suaminya, masak iya harus bilang kalau dirinya ingin di sentuh.
"Katakan apa yang kamu inginkan" desak Max, ia ingin tahu apa yang diinginkan istrinya.
Emma tak langsung menjawab, ia justru memeluk suaminya dengan begitu erat, lantas membisikkan sesuatu di telingan sang suami.
"Akunya ingin tapi malu bilangnya" bisik Emma lirih di telinga suaminya
"Astaga sayang, kenapa tidak bilang dari tadi aku tidak menyentuhmu karena takut nanti menyakiti perutmu" ucap Max tersenyum geli mendengar kemauan istrinya.
__ADS_1
"Tapi aku ingin" rengek Emma.
Ahhh....sungguh istrinya sangat mengujinya, gimana Max bisa tahan kalau istrinya terus merengek minta di sentuh.
Max melepaskan pelukan istrinya pada tubuhnya. Di pandangnya kedua manik istrinya begitu dalam, dia sangat mencintai wanita di hadapannya ini.
Bersyukur tadi istrinya hanya memar saja tidak ada luka yang serius, ia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan istrinya ini.
Di dekatnya wajah Max ke wajah istrinya hingga bibirnya bertabrakan dengan bibir Emma, Emma yang sejak tadi sudah ingin di sentuh suaminya dia pun langsung menyambut ci uman suaminya.
Kedua tangan Max me re mas kedua melon milik istrinya, sambil terus me lu mat bibir Emma dan memasukkannya lidahnyan hingga memenuhi rongga mulut istrinya.
Max mendorong tubuh istrinya pelan hingga Emma terlentang di atas sofa. Max langsung menindih tubuh istrinya dan kembali menye sap bibir istrinya tak lupa tangannya juga me re mas kedua buah dada Emma.
"Akhhh...." suara de sahan lolos dari mulut Emma karena permainan tangan suaminya di kedua da danya.
Ci uman itu beralih ke leher jenjang Emma, membuat Emma semakin keenakan dan terus Men desah.
Max menggigit kecil leher istrinya hingga meninggalkan jejak kemerahan di lehernya.
Gigitan kecil itu kini turun ke dua gundukan kenyal milik Emma yang masih terbungkus oleh b*a yang tadi sempat ia lepas namun di pakai kembali oleh istrinya karena merajuk.
Tak tunggu lama Max langsung melepas b*a tersebut.
"Akhhh...." de sah Emma menikmati sensasi geli dari permainan lidah suaminya di buah da danya.
Emma membusungkan dadanya membuat Max semakin liar memainkan ujung da da milik istrinya.
Ci uman Max turun ke perut Emma hingga bermuara di bagian inti milik istrinya. Di lepasnya kain segitiga milik istrinya agar tak lagi menghalangi aktivitasnya.
Max membuka kedua pangkal paha istrinya dengan begitu lebar.
Dia menundukkan wajahnya hingga tenggelam di bagian inti milik istrinya. Max me nye sap milik istrinya.
"Ahhhh...Max" de sah Emma memanggil nama suaminya.
Sejenak Max menghentikan aktivitasnya di bawah sana dan melihat wajah sayu istrinya.
"Inikah yang kamu mau sayang" goda Max dengan tatapan nakal.
"Max...cepat lanjutkan" pekik Emma meminta suaminya untuk melanjutkannya.
Bukannya menjawab Max malah membuka boxer dan juga kaosnya lalu menaiki tubuh Emma dan memutarnya menjadi gaya enam sembilan.
Max kembali me nye sap milik istrinya begitu pun dengan Emma.
__ADS_1
Dia memasukkan tongkat sakti Max kedalam mulutnya. Emma me ngu lum dan memainkannya seperti makan lolipop.
"Ahhh...sayang terus sayang" Max di buat mengerang dengan kelembutan mulut istrinya yang bermain di senjata andalanya.
Max tak mau kalah, dia memasukkan jari tengahnya kedalam inti Emma, lidah Max juga kembali bermain di inti istrinya.
Mereka bermain selayaknya pemain profesional yang terus berlomba memuaskan pasangannya satu sama lain.
Hingga Max merasakan miliknya berkedut dan dia langsung menariknya dari dalam mu lut istrinya, ia tak mau terpuaskan hanya dengan menggunakan mulut istrinya saja, ia ingin langsung ke permainan inti.
Max duduk dengan posisi setengah berbaring sambil bersandar dengan sandaran sofa dengan senjatanya yang sudah tengak menjulang keatas.
"Sini naik sayang, kamu yang memintanya jadi yang harus memuaskanku" ucap Max sambil membantu istrinya bangun.
Emma langsung naik kepangkuan suaminya dan di raihnya milik suaminya dan di masukkan kedalam miliknya.
Bleshhh....
"Akhhh...."de sah mereka berdua ketika tubuh mereka sudah menyatu.
Emma mulai menggerakkan pinggulnya naik turun dengan di bantu oleh Max.
Membuat Max merem melek di buatnya.
"Kamu sungguh luar biasa nikmat sayang, ahh...." racau Max sambil menikmati goyangan istrinya.
Max me re mas da da istrinya yang naik turun seirama dengan gerakan Emma.
"Akkkhhh....Max aku tak ingin berhenti"
Max bangkit dari tempat duduknya sambil mengendong Emma seperti koala.
Max membawa Emma ke kamarnya tanpa melepas miliknya di dalam li yang istrinya.
Sampai tengah tangga menurunkan Emma, kini posisi mereka berdiri sambil berhadapan.
Max mengangkat satu kaki Emma dan kembali memasukkan tongkat saktinya ke li yang istrinya.
Max memompa istrinya dengan posisi berdiri di tangga apartemennya.
Bersambung
**sudah ah othor udah gak kuat, mana di temoat othor ujan guys😂
Jangan lupa like, koment, vote, gift 🙏**
__ADS_1