
"Kemana dia kenapa sampai jam segini belum balik ke kantor juga" tanya Clarissa sambil melihat kearah meja kerja Paul yang masih kosong.
Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi sampai saat ini Paul masih belum terlihat kembali ke kantor.
"Biarin saja lah, mungkin dia ada pekerjaan yang mendesak" gumam Clarissa sambil mencoba melanjutkan pekerjaannya.
Tak....
Tiba-tiba Clarissa menjatuhkan bolpoinnya, pikirannya terus melayang memikirkan keberadaan Paul, dia tak bisa fokus dalam bekerja.
"Hais.... Kenapa aku terus memikirkannya, memangnya dia pikir dia siapa sampai aku harus memikirkannya" gerutu Clarissa terus mencoba menepis pikirannya sendiri.
Clarissa mencoba kembali mengerjakan pekerjaannya tapi tetap saja pikirannya tidak bisa fokus.
"Kapan selesainya kalau begini terus" keluh Clarissa sambil memijit pelipisnya.
"Lebih baik aku sudai saja, aku kerjakan di rumah" putus Clarissa, akhirnya dia memilih membawa pekerjaannya pulang ke rumah.
Clarissa membereskan berkasnya dan ia masukkan kedalam tasnya, tak lupa dia juga mematikan laptop miliknya.
Ceklek....
Tina asisten Emma masuk kedalam ruangan Clarissa.
"Eh, kamu sudah mau pulang" tanya Tina.
"Iya kak, kepala ku pusing. Ada apa kakak keruang ku" tanya Clarissa.
"Aku hanya ingin minta tanda tangan, tapi kalau kamu sudah mau pulang, kamu bisa menandatanganinya besok pagi" jawab Tina sambil memberikan berkas kepada Clarissa.
"Biar aku bawa pulang saja kak, aku akan mengerjakannya di rumah" ucap Clarissa.
Tina mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu Rissa pulang dulu kak" pamit Clarissa.
"Iya hati-hati, salam buat Emma" ucap Tina tersenyum.
Mereka berdua keluar bersama dari ruangan Clarissa, di depan ruangan Clarissa mereka berpencar.
Clarissa meninggalkan perusahaannya dengan menggunakan mobilnya, dia tak pulang ke rumah Emma, dia memilih pulang ke kontrakannya guna menghindari Paul.
Clarissa menghentikan mobilnya di rumah kontrakannya, lalu turun dari dalam mobil dan langsung masuk kerumahnya.
Tanpa Clarissa sadari sejak tadi ia di ikuti oleh seseorang, orang itu terus menatap tubuh Clarissa yang sudah hilang di balik pintu.
"Ini saatnya aku membalas semua perbuatanmu Rissa" ucap Orang itu.
Dia memarkirkan mobilnya di samping mobil Clarissa, dia keluar dari dalam mobil dan mengetuk pintu rumah Clarissa yang ternyata terkunci dari dalam.
Tok
Tok
Tok
"Siapa? Tunggu sebentar" teriak Clarissa dari dalam rumah.
Orang itu masih diam tak menjawab pertanyaan Clarissa.
CEKLEK...
"KAMU" pekik Clarissa langsung di bungkam oleh orang itu, dia menyeret tubuh Clarissa masuk kedalam rumahnya dan menguncinya dari dalam.
"Em....... " Clarissa terus meronta sambil memukuli tangan orang itu, tapi percuma tenaga Clarissa tak sebanding dengannya.
"Diam lah cantik, mari kita bersenang senang" ucap orang itu menyeringai.
Clarissa terus meronta dengan wajah ketakutan, dia tak menyangka Leon mantan kekasihnya dulu masih mencarinya.
__ADS_1
Leon terus menyeret tubuh dan membawanya masuk kedalam kamar, lalu di hempaskan tubuh Clarissa begitu saja diatas ranjang.
"Mau apa kamu Leon? Tolong sadarlah Le" ucap Clarissa sambil beringsut ke belakang karen takut.
"Aku akan membalas mu Rissa, karena kau hidupku hancur, kau membuat orang-orang itu terus menagih ku" hardik Leon.
Dia menyalahkan Clarissa atas kesalahan yang dia perbuat sendiri, dia memiliki banyak hutang yang tidak bisa ia bayar, sehingga ia menjadi buronan para debt colector.
"Memangnya apa kesalahan ku padamu hah" tanya Clarissa mencoba memberanikan diri.
"Kau masih bertanya, si*lan. Kau tak pernah sekalipun mengirimi ku uang, kau pikir kau bisa lepas begitu saja dariku hah"
"Kalau kau pengen banyak uang harusnya kau kerja, bukan malah memeras ku brengs*k" sentak Clarissa.
Capek yang Clarissa rasakan menghadapi Leon yang tak pernah ada puasnya, dia selalu meminta dan terus meminta, dari dulu dia selalu meminta uang kepadanya hanya untuk memenuhi gaya hidupnya.
Plakk..
"Ahhh... " pekik Clarisa akibat tamparan yang di layangkan Leon di pipinya.
****
"Kamu pulang sendiri Paul? Dimana Clarissa?" tanya Emma saat melihat kedatangan Paul sendirian tanpa adiknya.
"Saya tidak tahu nyonya, saya sudah keluar kantor sejak dari jam satu siang nyonya. Memangnya Clarissa belum pulang?" tanya Paul.
"Belum, apa mungkin dia pulang ke rumah kontrakannya ya" tanya Emma yang mendadak cemas memikirkan adiknya.
"Bisa jadi nyonya, karena selama ini dia masih sering pulang kesana" sahut Paul.
Tak lama Max datang ikut bergabung dengan mereka, Max mengernyitkan keningnya ketika melihat wajah gelisah istrinya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu" tanya Max khawatir.
"Aku hanya memikirkan Clarissa, sampai sekarang dia belum pulang" jawab Emma.
"Ini masih jam lima sayang, mungkin Clarissa masih di jalan" ucap Max.
"Tapi perasaan ku tidak enak hubby, coba kamu hubungi dia dan pastikan dia baik-baik saja" pinta Emma.
Max mengangguk patuh, dia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, lalu menghubungi nomor Clarissa.
Tuttt...
Tutt...
Tutt...
Sudah berkali-kali Max mencoba menghubunginya tapi Clarissa tak kunjung mengangkatnya.
"Tidak diangkat sayang, mungkin Rissa masih dalam perjalanan" ucap Max agar tak membuat istrinya panik.
"Coba kamu hubungi lagi hubby, siapa tahu dia mengangkatnya" rengek Emma.
Max mencoba menghubungi nomor Clarissa lagi, tiba-tiba raut wajah Max berubah aneh.
"Gimana hubby" desak Emma.
"Nomornya tidak aktif sayang" jawab Max.
"Kenapa jadi tidak aktif" bingung Emma, dia semakin yakin kalau adiknya sedang dalam bahaya.
Max melirik kearah Paul, Paul yang paham pun mengangguk.
Paul membuka ponselnya dan melacak gps yang ada di mobil Clarissa.
"Clarissa ada di rumah kontrakannya tuan" ucap Paul sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Max dan juga Emma.
"Lalu kenapa nomornya tiba-tiba tidak bisa di hubungi" tanya Emma bingung, karena tak biasanya Clarissa seperti ini, sesibuk apapun Clarissa kalau di hubungi pasti dia akan mengangkatnya.
__ADS_1
"Paul, coba kamu datangi rumah kontrakan Clarissa, kamu pastika dia baik baik saja supaya istriku tenang" titah Max.
"Baik tuan, saya akan seger kesana mengecek keadaannya" ucap Paul dan pamit.
Paul mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. hanya butuh waktu lima belas menit mobil yang di kemudikan Paul sampai di depan rumah kontrakan Clarissa.
"Mobil siapa itu? Kenapa aku tak pernah melihatnya" tanya Paul ketika melihat mobil asing yang terparkir didepan rumah Clarissa.
Tak ingin terus penasaran, Paul turun dari dalam mobilnya, dia berjalan kearah rumah Clarissa yang terlihat sepi.
"Kenapa sepi sekali" aneh Paul.
Paul mencoba membuka pintu rumah Clarissa tapi ternyata di kunci, Paul semakin yakin kalau ada yang tidak beres.
Pyarr....
Terdengar suara benda pecah dari dalam rumah.
"Apa itu" tanya Paul penasaran.
Tok
Tok
Tok
"Clarissa, buka pintunya" teriak Paul sambil terus mengetuk pintunya.
Brakk....
Lagi-lagi terdengar suara aneh dari dalam rumah.
Tak ingin terjadi sesuatu dengan Clarissa , Paul memutuskan mendobrak pintu rumahnya.
1
2
3
Brakk....
Paul masuk sambil terus memanggil nama Clarissa. "Clarissa" panggil Paul.
Dia terus melangkah masuk hingga langkahnya terhenti didepan kamar Clarissa.
Paul mencoba menempelkan telinganya ke pintu kamar Clarissa.
"Emmm..... "
Paul seperti mendengar suara Clarissa yang sedang di bekap oleh seseorang.
"Rissa,... Clarissa" panggil Paul seraya mencoba membuka pintu kamar Clarissa yang terkunci.
"Shitt.... " umpat Paul, dia yakin ada orang lain didalam kamar Clarissa.
Paul mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Clarissa.
1
2
3
BRAKKK......
Bersambung
Jangan lupa like, komen, vote, gift 🙏
__ADS_1